Poros Jodoh

Poros Jodoh
AKU PERCAYA KAMU


__ADS_3

Keriuhan tiba-tiba saja terjadi di ruang kerja pak Firman.


"Ma ... bangun, Ma!" Ricky menepuk lembut pipi ibunya.


Pak Firman yang melihat istrinya tergeletak di lantai segera mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan nya di sofa.


"Inilah sebabnya Papa tidak memberi tahu Mama." Pak Firman mengusap rambut istrinya.


"Lihat ulahmu, *Bo*y !" Pak Firman menoleh pada Ricky yang masih berusaha membangunkan bu Rika.


"Tapi yang Papa katakan itu ...." Ricky menahan ucapannya ketika melihat mata ayahnya yang masih di penuhi amarah.


"Maaf, Pa," ucap Ricky akhirnya.


Ayah dan anak itu saling bertatapan. Dan seperti memiliki hati dan pemikiran yang sama, mereka berdua sama-sama menghela nafas dalam.


"Permisi, Pak, saya mendengar ada suara keributan di sini. Maaf ada apa, Pak?" Deta datang dengan nafas terengah-engah.


Seketika Ricky mengalihkan pandangannya pada Deta. Di lihatnya wajah Deta yang khawatir.


'Sepertinya dia berlari. Keningnya berkeringat.


Dia terlihat sangat menggairahkan!!!'


Pikiran liar Ricky menguasainya.


Menyadari tatapan nakal putranya, pak Firman lantas menyuruh Deta pergi.


"Istri saya pingsan. Tolong bawakan minyak angin dan air hangat!"


"Baik, Pak." Deta mengangguk dan berjalan kembali ke dapur.


Mata Ricky terus menatap Deta hingga bayangannya menghilang.


"Kamu sangat mesum, *Bo*y." Pak Firman menatap Ricky dan menggelengkan kepalanya.


"Hanya padanya, Pa." Senyuman nakal mengembang di wajah Ricky.


Pak Firman berdecak melihat tingkah putranya itu.


"Anak siapa kamu, Boy? "


"Anak Papa tentunya."


***


Di dapur, Deta dengan tergesa-gesa mencari kotak obat dan mengambil minyak angin serta menyiapkan air hangat di atas nampan.


Ia berjalan terburu-buru menuju ruang kerja pak Firman.


Sesampainya di pintu, Deta melihat Ricky yang sedang tersenyum aneh kepada ayahnya.


Dia bahkan bisa tersenyum di situasi seperti ini? Sepertinya dia memang tidak pernah serius.


Deta merasakan kekecewaan di hatinya.


"Permisi, Pak."


Suara Deta dan ketukan pintu membuat Ricky dan pak Firman seketika menoleh dan menatapnya.


"Masuk saja, Deta! Mana minyak anginnya?" Pak Firman mengulurkan tangannya.


Deta melangkah maju dan tidak menghiraukan Ricky yang sedang berlutut di bawah sofa dekat ibunya.


'Gadis nakal!!! Dia mengacuhkan aku.'

__ADS_1


Sungut Ricky ketika Deta melewatinya.


"Ini, Pak." Deta menyerahkan minyak angin yang di bawanya pada pak Firman yang sedang duduk di sofa.


Segera pak Firman menyodorkan minyak angin ke dekat hidung bu Rika dan menggoyang-goyangkan tubuh istrinya itu.


"Ayo, bangun, Ma! Jangan buat Papa takut!"


Deta menatap nanar sepasang suami istri yang sudah lama bersama itu namun masih di selimuti dengan cinta.


Berbeda dengan orang tuanya yang selalu berselisih dan berperang dingin setiap waktu.


Tak terasa air matanya menetes merasakan keharuan. Dengan segera ia menyeka air matanya.


Namun Ricky sempat melihat hal itu.


'Gadisku yang cengeng.'


***


Setelah beberapa lama, akhirnya bu Rika sadarkan diri dan mulai membuka matanya.


Dengan sigapnya pak Firman membantu bu Rika untuk duduk.


Deta yang masih berada di ruangan itu segera menawarkan air hangat untuk bu Rika.


"Terima kasih, Ta." Senyum Bu Rika lembut saat Deta menyodorkan segelas air hangat untuknya.


Karena merasa keadaan susah membaik, Deta mundur dan berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu, Ta!" Bu Rika yang baru saja meneguk airnya segera memanggil Deta saat melihat gadis itu hendak keluar.


"Iya, Bu?" Deta kembali mendekat.


"Duduk, Ta!" Bu Rika menatap sofa di sebrang nya.


Tanpa menjawab Deta langsung duduk dan menatap bu Rika dengan bingung.


"Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu. Saya benar-benar tidak menyangka kalau putra saya akan melakukan hal ini kepada kamu." Bu Rika menatap wajah Deta dan di liputi perasaan bersalah.


Berbeda dengan bu Rika, Deta justru terlihat bingung. Tapi ia paham bahwa yang di maksud bu Rika adalah Ricky. Segera ia melihat ke arah Ricky yang ternyata tak kalah bingungnya dengan dirinya.


'Ada apa ini? Kenapa bu Rika meminta maaf?


Apakah karena ucapan pak Ricky saat di ruang makan tadi**?'


Deta menatap lekat-lekat wajah bu Rika.


"Tidak masalah, Bu, saya sudah memaafkan-" ucapan Deta terputus.


"Jangan memaafkannya, Deta! Sebagai seorang wanita kamu harus membela kehormatan mu." Pak Firman menyela ucapan Deta.


Semua orang di ruangan itu langsung memusatkan perhatian pada pak Firman.


'Papa benar!' Bu Rika.


'Kenapa jadi seperti ini?' Ricky.


'Sebenarnya apa yang di bicarakan oleh pak Firman.' Deta


"Kami akan bertanggung jawab, Deta. Saya tidak ingin gadis baik seperti kamu harus mengalami nasib buruk ke depannya. Bagaimana jika kamu hamil dan harus mengurus anakmu seorang diri?" Bu Rika meneteskan air mata memikirkan kemungkinan terburuk jika Ricky menolak menikahi gadis malang itu.


Deta sangat terkejut mendengar ucapan bu Rika. Ia langsung membelalakan matanya dan menatap Ricky yang kini juga sedang menatapnya.


'Apakah benar yang di katakan olah bu Rika?

__ADS_1


Bukankah kami tidak melakukan apapun?


Atau mungkin sebenarnya ....'


"Sampaikan kepada orang tuamu. Kami akan datang besok dan melamar kamu." ucapan Bu Rika menarik Deta kembali dari pusat lamunannya.


"Tapi, Bu ... sepertinya Anda sudah salah paham." Deta mencoba meluruskan hal yang menurutnya salah.


Bagaimana ini? Aku bahkan belum mengatakan apapun pada papa dan mama.


Pikiran Deta sudah semakin kalut.


Baik bu Rika dan pak Firman. Keduanya mengerutkan kening mereka mencoba memahami maksud Deta.


"Bukankah kalian pergi ke pantai kemarin?" tanya pak Firman.


Ricky menoleh pada ayahnya. Kemudian dengan cepat beralih menatap Deta.


"Iya, Pak."


"Dan kalian juga menginap di hotel malam itu. Benar, kan?" tanya Pak Firman lagi.


Jawaban yang sama keluar dari mulut Deta. "Iya, Pak."


"Itu artinya, kalian memang melakukannya, kan?" Tuduh Pak Firman yang membuat Ricky dan Deta sama-sama terkejut.


"Tidak, Pak, bukan seperti itu." Dengan cepat Deta menyanggah nya.


Namun Ricky hanya memperhatikan Deta dan tak terlihat akan menolak pernyataan ayahnya.


"Kami memang menginap di hotel, Pak. Tapi kami menginap di kamar yang berbeda." Deta mencoba menjelaskan.


"Itu memang benar. Tapi Ricky keluar dari kamar kamu saat tengah malam. Dan itu pun karena dia sudah berada cukup lama di kamarmu. Apakah kamu yakin kalian tidak melakukan apapun?"


Pertanyaan pak Firman membuat Deta ragu. Ia kembali menatap Ricky dan melihat wajah pria itu yang tetap tenang walaupun sudah tersudut seperti ini.


Menyadari Deta menatapnya. Ricky segera menoleh dan mempertemukan matanya dengan mata bulat Deta.


'Matanya masih sama. Masih ada cinta dan kehangatan di sana.'


Deta merasakan sesuatu menelusup di hatinya.


Deta segera menundukkan pandangannya dan memutuskan kontak matanya dengan Ricky.


"Saya yakin, Pak , saya percaya pak Ricky tidak akan melakukan hal serendah itu." jawab Deta yakin.


Semua orang terkejut mendengar jawaban Deta. Termasuk Ricky sendiri.


Ia berpikir gadis itu akan mudah di perdayai oleh ayahnya. Tapi ternyata Deta justru begitu mempercayainya.


'Aku mencintaimu, Deta ku sayang.'


"Aku akan menikahinya."


Apa???


***


Hallo semuanya🤗


Semoga kalian menikmati cerita Deta dan bang Ricky ya 🥰


Jangan lupa dukung aku dengan meninggalkan jejak 👣 kalian di sini ya 😘


I ❤ U readers kesayangan kuuhh 😍

__ADS_1


__ADS_2