
Benar saja, di dalam restoran Deta sama sekali tidak menyentuh makanannya sedikit pun.
Begitu juga dengan Angga, dia hanya terus menatap Deta yang terlihat kebingungan.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Angga tanpa melepaskan pandangannya dari Deta.
"Makanan." jawab Deta singkat.
Mendengar jawaban singkat Deta membuat Angga bingung tapi sedetik kemudian ia terlihat menahan tawa nya.
"Makanlah!!!" perintah Angga.
"Tidak, terima kasih." tolak Deta halus.
Angga menyentuh piringnya kemudian memotong daging yang sedari tadi sudah menanti untuk di lahap.
Deta hanya memperhatikan apa yang di lakukan Angga sembari sesekali pandangannya berkeliling.
'Makanan di sini pasti mahal.' Batin Deta.
Deta kembali menatap Angga yang kini menukar piringnya dengan piring Deta.
"Katakan!" Angga mengejutkan Deta.
"Bolehkah saya bertanya?" tanya Deta ragu.
"Hemm ...."
"Apakah anda tidak takut untuk menghabiskan gaji anda hanya untuk satu kali makan di sini?" Deta sedikit berbisik sembari sebelah tangannya menghalangi bibirnya karena takut ucapannya di dengar oleh pengunjung yang lain.
'Dia tidak berpikir bahwa aku ini pria miskin kan?' Batin Angga merasa terhina.
"Kalau begitu, cepat habiskan makanannya agar uangku tidak terbuang percuma!" Angga menatap tajam Deta yang sedang menatapnya.
'Aneh! Aku berani menatapnya. Tapi kenapa aku tidak berani menatap pak Ricky?' Deta teringat permintaan Ricky yang memintanya untuk menatap pria itu.
Angga menjentikkan jarinya karena melihat Deta yang sedang termenung.
Seketika Deta mengerjapkan mata dan membawa kembali kesadarannya.
"Habiskan!!!" Angga menyodorkan piring Deta agar lebih dekat dengannya.
"Maaf, Pak," Angga mengernyit mendengar Deta tidak merubah panggilannya.
"Maksud saya, Angga. Saya sedang tidak ingin makan. Bolehkah saya pergi?" Deta tidak terbiasa memanggil Angga dengan namanya saja.
"Tidak! Temani aku makan!!!" pinta Angga kali ini namun tanpa menatap Deta yang sudah berdiri hendak pergi.
Karena rasa hormat terhadap gurunya, Deta kembali duduk di kursinya dan melihat Angga mulai memakan satu persatu potongan daging di piringnya.
"Kenapa tidak makan?"
"Sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak ingin makan."
"Dan sudah ku katakan sebelumnya, temani aku makan!" Angga meletakkan garpu dan pisaunya di meja.
"Sedang saya lakukan, saya duduk di sini untuk menemani anda menghabiskan makanan anda."
__ADS_1
Angga menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau begitu, bantu aku menghabiskan semua makanan ini." Angga menuju makanan di meja dengan ekor matanya.
"Maaf, saya tidak bisa." tegas Deta.
'Penolakan lainnya.' Batin Angga mulai kesal.
"Kenapa?" Angga menyandarkan tubuhnya di kursi dan melipat kedua tangannya di dada.
Melihat sikap Angga yang seperti itu, membuat Deta sedikit merasa bersalah karena selalu menolaknya.
Deta menarik nafas dalam. "Saya tidak bisa memakan makanan yang lezat di sini. Sementara keluarga saya sedang menunggu saya untuk makan bersama di rumah."
***
"Itu rumahmu?" Angga menunjuk sebuah rumah yang berada tepat di hadapannya.
Sebuah rumah kecil namun terlihat sangat bersih terurus. Pagar kayu bercat putih mengelilingi rumah tersebut.
Ada sebuah pohon besar di sudut pekarangan rumah. Menambah kesan rindang yang membuat nyaman berada di rumah itu.
"Benar, terima kasih sudah mengantar saya." Deta tersenyum kemudian membuka sabuk pengaman yang melilit tubuhnya.
"Kamu tidak menawarkan aku untuk masuk?" Angga bertanya begitu Deta membuka pintu mobil.
"Kalau anda tidak keberatan." Deta mengangkat kedua bahunya.
Dengan senang hati, Angga keluar dari mobilnya. Dan mengambil beberapa bungkus makanan yang ia pesan di restoran tadi.
"Saya tidak bisa memakan makanan lezat di sini. Sementara keluarga saya sedang menunggu saya untuk makan bersama."
Pernyataan Deta di restoran tadi membuat Angga kehilangan selera makannya dan memilih untuk membungkus semua makanannya.
"Kakak!" Gadis itu menubruk Deta dan memeluknya erat.
'Jadi gadis kecil ini adiknya.' Angga tersenyum melihat gadis kecil yang cantik itu.
Angga berlutut untuk menyamai tinggi gadis kecil itu.
"Halo, Cantik,"
Gadis kecil itu menoleh dan melihat pria tinggi nan tampan sedang menyapanya.
Ia mendongak kepada Deta. Mengerti sikap adik kecilnya, Deta tersenyum dan mengusap rambut Dania.
"Tidak apa, Dania, ini guru kakak. Namanya Pak Angga." Deta tersenyum kepada Angga.
Angga melambaikan tangannya kepada Dania. "Halo." Terdengar suara kecil dari mulut Dania.
"Kakak membawa sesuatu untuk ...," Angga menatap Deta dan melirik ke arah Dania.
"Dania."
"Iya, untuk Dania."
Angga menyerahkan beberapa bungkusan yang kemudian di terima Dania dengan wajah yang ceria.
"Terima kasih." Katanya sebelum berlari masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Menggemaskan seperti kakaknya." gumam Angga.
"Iya?" Deta ingin memastikan apa yang ia dengar.
"Ah ... tidak." elak Angga.
"Baiklah, terima kasih untuk hari ini." Deta tersenyum dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah.
Tapi, Deta merasakan tangan Angga menahan tangannya.
Deta mengerutkan keningnya kemudian menoleh. Benar saja, Angga sedang menggenggam tangan Deta dan menatapnya.
Entah mengapa, Deta merasa tatapan Angga kali ini sangat berbeda. Bahkan Angga mencengkram tangan Deta dengan kuat.
Angga melangkah maju mendekati Deta, namun Deta tidak bergeming karena masih bingung mengartikan tatapan mata Angga.
Tiba-tiba saja Angga sudah berada di hadapannya.
Deta menatap Angga dengan polosnya. Mencoba menerka yang di pikirkan pria itu.
"Kakak!!!" Dito keluar dari rumah dan meneriaki kakaknya.
Suara Dito sangat kencang hingga membuat Angga terkejut tapi tidak dengan Deta.
"Tolong kecilkan suara kamu, Dek!" Deta membuat gerakan seolah sedang memutar volume radio.
"Mama mencari Kakak." Dito berbicara kepada Deta namun pandangannya tidak lepas dari sosok asing yang tidak ia kenal.
Deta mengangguk paham.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar saya dan terima kasih untuk makanannya. Hati-hati di jalan." Deta berbicara kepada Angga seraya melangkah ke dalam rumah mengabaikan Angga yang mengharapkan salam perpisahan yang lebih manis.
Terdengar Dito berdehem. Mencoba menarik perhatian pria asing di hadapannya yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari kakaknya.
Angga beralih menatap Dito yang kini sedang menatapnya tajam. Seolah sedang menyelidiki sesuatu.
'Siapa pria ini? Dimana kakak mengenalnya?Sepertinya dia tertarik kepada kakak. Apakah dia pria yang baik?' pikir Dito.
Batin Dito sedang memberi penilaian terhadap Angga.
"Angga." Angga mengulurkan tangannya, namun tidak di hiraukan Dito.
"Aku tidak berniat buruk kepada kakakmu. Aku hanya ingin -" kalimat Angga di teruskan Dito. "Menciumnya?"
Angga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Membuat Dito tersenyum sinis.
"Dia kakakku. Jangan pernah memikirkan hal yang buruk tentangnya!!!" Dito menekankan kalimatnya, berharap hal itu bisa menggertak Angga.
Dito berbalik dan berjalan masuk kedalam rumah, membiarkan Angga tetap berdiri mematung di luar rumahnya.
'Kenapa kakakku bodoh sekali.' Dito terus memaki Deta dalam hatinya.
Sementara Angga yang terus melihat Dito berjalan hingga hilang dari pandangannya mulai tersenyum.
'Aku suka tantangan!!!'
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak 👣 kalian ya biar aku tahu bahwa karyaku di apresiasi dan aku jadi lebih semangat 😊
Semoga kalian suka ceritanya 🥰