
Angga tersenyum saat melihat Deta, tapi ia langsung muram saat tahu siapa yang berdiri di belakang Deta.
"Pergilah! Jangan pernah mendekati Deta dan juga Dania!" bentak Angga.
Deta merasa bingung melihat reaksi Angga yang seperti itu terhadap Mika.
Ia pun segera memeluk Mika dan membisikkan sesuatu. "Ayo, kita bicarakan baik-baik!"
"Bisakah kamu ikut bersama kami, Angga?" tanya Deta pada Angga yang sedang menatapnya.
Angga menatap Deta, hal yang sudah lama tidak ia lakukan karena janjinya terhadap Ricky.
Persahabatan baginya jauh lebih penting daripada rasa cinta yang baru saja tumbuh, tapi entah mengapa saat melihat Deta pertahanan dirinya pun runtuh.
Deta mencoba mengambil Dania yang berada di dalam gendongan Angga. Namun saat tak ada lagi jarak antara dirinya dan Angga, tiba-tiba saja pria itu mencium puncak kepala Deta.
Sontak saja Deta sangat terkejut, ia menatap Angga sesaat lalu langsung menggendong Dania.
Mika yang sejak tadi memperhatikan pun ikut membelalakan matanya. Pasalnya, seorang Angga Pratama tidak pernah seagresif itu pada gadis manapun kecuali pada dirinya.
"Angga!" teriak Mika.
BUG!!!
Satu pukulan mendarat di wajah Angga untuk menemani teriakan Mika.
Mereka semua terkejut, termasuk asisten Angga yang langsung pasang badan untuk dirinya.
Tapi saat melihat siapa yang melakukannya, ia pun membungkuk hormat dan mundur secara teratur.
"Siaalllaaannn!!!" bentak Angga seraya mengusap sudut bibirnya yang terluka.
"Itu hukuman karena kamu berani menyentuhnya!" ucap Ricky penuh emosi.
Angga dan Ricky saling menatap seperti dua ekor singa yang akan bertarung. Namun anehnya, tak ada yang mencoba untuk melerai mereka.
Deta memeluk Dania dengan erat dan membenamkan kepala gadis kecil itu di pelukannya.
Ia menoleh pada Mika yang sepertinya habis menghubungi seseorang.
"Aku bosan melihat adegan seperti ini terus," gumam Mika kemudian melangkah mendekati Angga dan Ricky.
***
Nino meninggalkan semua pekerjaannya begitu mendapat panggilan dari Mika.
"Ricky dan Angga mulai lagi. Kami di mall xx dan aku sedang tidak ingin melerai mereka."
"Shit! Kapan mereka menjadi dewasa?" Nino memukul kemudinya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Angga dan Ricky masih saling menatap tanpa mengatakan apapun.
Deta merasa apa yang terjadi ini adalah karena dirinya. Ia mencoba mendekati kedua pria itu, namun tangannya langsung di tahan oleh Mika.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mika.
__ADS_1
"Ini semua hanya kesalahpahaman dan aku harus meluruskannya." jawab Deta.
"Tapi ...," Mika terlihat ragu.
Melihat keraguan di mata Mika membuat Deta sedikit gentar, tapi ia mencoba meyakinkan Mika untuk percaya padanya.
"Mereka tidak akan menyakitiku, kan?" Deta terkekeh mencoba mencairkan suasana.
Mika menatap Deta ragu, namun akhirnya ia menyetujui keinginan Deta.
Deta menurunkan Dania dari gendongannya. " Dania diam disini dulu, ya! Kakak ingin bicara pada -" Deta belum selesai bicara.
Tiba-tiba Dania langsung berlari ke arah Ricky yang masih di kuasai amarah.
"Pangeran!" teriak Dania seraya berlari mendekati Ricky.
Mendengar suara kecil Dania membuat Ricky menoleh dan mengendurkan kepalan tangannya.
Ia tersenyum melihat Dania dan langsung berlutut untuk merentangkan tangannya.
Seperti sebuah besi yang tertarik magnet, Dania langsung masuk ke dalam dekapan Ricky dan memeluknya dengan erat.
"Apa kabar, Tuan putri?" tanya Ricky seraya mengangkat tubuh kecil Dania.
Wajahnya berubah menjadi sangat ceria, tak ada lagi guratan amarah yang terlihat di sana.
Deta bernafas lega. Begitupun dengan Mika dan juga asisten Angga yang sedari tadi berdiri di belakang pria itu.
"Aku baik, aku senang melihat Pangeran. Cup." Satu kecupan mendarat di pipi kanan Ricky.
"Ternyata sudah sedekat itu kamu dengan Deta," ucap Angga di barengi dengan seringai di wajahnya.
Wajah Deta memerah seperti tomat matang karena merasa sangat malu menjadi pusat perhatian orang banyak.
"Dan ini!" Ricky mengangkat tangan Deta yang sudah tersemat cincin pemberian darinya. "Aku sudah mengikatnya." sambungnya.
Angga berdiri mematung, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Aku akan mengirimkan undangan padamu secepatnya." tutur Ricky seraya menggandeng Deta dengan sebelah tangannya.
Mereka berjalan menjauhi Angga yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Baru beberapa langkah berjalan, Ricky melihat Nino setengah berlari kearahnya.
"Hei, apa yang terjadi? Kenapa kalian bertengkar lagi?" tanya Nino langsung ketika dirinya berhadapan dengan Ricky.
"Mika yang menghubungimu?" Ricky balik bertanya.
Nino hanya mengangguk kemudian matanya menatap Angga dan Ricky bergantian.
"Dan dengan bodohnya kamu langsung datang kesini? Ternyata Mika masih punya tempat di sana." ucap Ricky kemudian melanjutkan langkahnya.
***
Mika menatap Angga dengan pertanyaan yang sudah berjejalan di kepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Nino muncul tepat di saat Mika ingin mendekati Angga.
"Kenapa kalian bertengkar lagi? Bukankah kalian sudah berdamai? Apakah tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan selain menyusahkanku!!!" Nino memberondong Angga dengan kekesalannya.
Angga berdecak dan menatap Nino sinis. "Aku hanya menyentuhnya sedikit. Tapi Ricky sangat berlebihan. Lihat ini!" Angga menunjuk wajahnya yang dipukul oleh Ricky.
"Hahahaha ...." Nino justru terpingkal-pingkal melihat memar di wajah Angga.
"Putuskan kontrak kita dengan penyanyi Nino Ferdinan!" perintah Angga pada asistennya.
"Baik, Pak," jawab asisten Angga kemudian mencoba menghubungi seseorang.
"Hei, jangan begitu!" Nino merampas ponsel asisten Angga. "Ayolah, aku hanya bercanda." bujuknya.
Angga mendengus dan meninggalkan Nino sendirian. Ia sempat berhenti saat berhadapan dengan Mika.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Tapi begitu Mika membuka mulut hendak bicara, Angga langsung melangkah dan tak memberikan Mika kesempatan sedikit pun.
***
Ricky membawa Deta dan Dania ke rumah pribadi miliknya.
"Kenapa kita ke istana, Pangeran?" tanya Dania saat mereka melewati gerbang utama rumah itu.
"Tuan putri tidak menyukainya?" tanya Ricky sembari menatap Dania di pantulan kaca spion.
"Suka!" jawab Dania senang.
Berbeda dengan Dania, sejak tadi Deta hanya diam tak bersuara.
Mereka turun dari mobil dan memasuki rumah dengan di sambut oleh beberapa pelayan.
"Kosongkan rumah utama selama aku disini dan tolong bawa Nona muda bermain!" perintah Ricky pada bu Sri yang langsung mengangguk paham.
"Tuan putri, bermainlah dengan mereka!" Ricky berlutut dan mengusap rambut Dania.
"Baik, Pangeran," Dania langsung berlari dan di ikuti oleh para pelayan.
Ricky beralih menatap Deta yang masih berdiri di tengah-tengah ruangan. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana.
Raut wajah Ricky kembali berubah, kemarahan kembali menguasainya menggantikan keceriaan yang di tunjukkannya di hadapan Dania.
Ia melangkah mendekati Deta dan langsung mengangkat tubuh mungil Deta tanpa peringatan.
"Turunkan saya, Pak!" Deta memukul-mukul dada Ricky.
Ricky tidak bergeming sedikitpun. Ia tetap berjalan menuju kamar tidur utama dan membaringkan tubuh Deta di atas tempat tidur.
"Aku akan menerakan segel untukmu."
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka dengan ceritanya ya🥰
Jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum membaca dan tolong tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar ya 😘😘
__ADS_1
Dan yang paling aku harapkan vote dari kalian semua 🤭 pleaseee...
I ❤ U readers kesayangan kuhh