
"Kakak, sudah sadar?" tanya Dania, ketika ia melihat Deta membuka matanya.
"Dania?" Deta melayangkan pandangan sayunya pada sosok Dania yang berada di sisinya. "Kita ada dimana, Dania?"
"Kita di kamar hotel, Kak, tadi Kakak pingsan." jelas Dania, ia mengambilkan segelas air putih untuk Deta.
Tubuh Deta yang masih lemah membuatnya kesulitan untuk bangun.
"Biar Dania bantu, Kak," ucap Dania, ia segera membantu Deta untuk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
"Dania?"
"Iya, Kak,"
"Apa pernikahannya sudah selesai? Atau mungkin di batalkan?" tanya Deta lemah.
"Tidak, Kak! Kak Angga sedang menunggu Kakak untuk melanjutkan pernikahan kalian." jawab Dania, ia merasa takut untuk menatap wajah kakaknya.
Rasanya, Deta ingin sekali menjerit. Namun, apa dayanya. Ia telah terjebak dalam lingkaran kehidupan yang di kuasai Angga.
"Bantu Kakak merapihkan riasan dan juga gaun ini!" pinta Deta, matanya menunjuk ke gaun yang sedikit berantakan akibat ia pingsan sebelumnya.
Dania menatap bola mata Deta. "Kakak yakin? Mungkin saja Tuhan sebenarnya ingin Kakak membatalkan pernikahan ini. Itu sebabnya Kakak pingsan."
Deta terkekeh lemah mendengar kesimpulan Dania. "Kakak pingsan karena Kakak belum makan sejak pagi, Dania, bukan karena Tuhan ingin membatalkan pernikahan ini."
"Tapi, Kak -"
"Sudahlah! Ayo, bantu Kakak sebelum para tamu pergi karena bosan menunggu mempelai wanita." canda Deta, ia beringsut turun dari tempat tidur dan duduk di depan cermin.
Pantulan wajah Deta di cermin terlihat begitu pucat dan sangat menyedihkan. Ia lebih terlihat seperti seorang wanita yang di tinggalkan oleh suaminya, daripada seorang pengantin.
Air mata menetes di pipi Dania. Dengan lembut ia merapihkan riasan kakaknya yang kini hanya diam mematung tanpa berkata sepatah katapun.
'Aku sudah tidak tahan!' batin Dania. "Kakak, sebenarnya -"
"Apa kamu sudah siap?" tanya Angga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Dania menoleh ke arah suara Angga, tapi Deta tetap mematung dan hanya menatap nanar pantulan wajahnya di cermin. Angga yang menyadari hal itu pun lantas melangkah dan mengulurkan tangannya di hadapan Deta.
"Ayo, waktu pernikahan sudah tiba!"
***
Di ballroom hotel, semua orang sudah menunggu kehadiran sepasang kekasih yang akan mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
Langkah kaki Deta beriringan dengan langkah kaki Angga yang menggandengnya. Senyuman ceria dan penuh kebahagiaan begitu terpancar di wajah Angga, tapi tidak dengan Deta. Ia hanya berjalan tanpa tahu kemana kakinya melangkah.
Begitu mereka memasuki lokasi pernikahan, gema tepukan tangan menyadarkan Deta dari lamunannya. Ia mengerjap dan melihat semua orang sudah menunggunya. Pandangan Deta berkeliling mencari sosok yang sangat ingin ia lihat untuk terakhir kalinya, tapi sosok yang ia harapkan itu tak ada di antara para tamu yang hadir.
"Siapa yang kamu cari?" tanya Angga datar.
"Kebahagiaan." jawab Deta dingin, bahkan tanpa menoleh pada Angga.
Suara helaan nafas Angga nyaris tak terdengar karena keriuhan yang di ciptakan oleh para tamu undangan.
'Aneh! Kenapa semua orang nampak sangat bahagia?' batin Deta, ia memperhatikan wajah-wajah yang sebelumnya penuh kesedihan dan ketegangan.
__ADS_1
Angga terus menuntun Deta dan membawanya ke tempat pernikahan dan mendudukkan Deta di sebuah kursi yang berhadapan dengan penghulu, tapi Angga tidak ikut duduk di sebelah Deta. Ia justru berbalik dan hendak meninggalkan podium.
Deta yang terkejut dengan sikap Angga pun langsung menahan lengan pria yang sudah menemaninya selama lima tahun itu. "Kamu mau kemana?"
"Kesana!" Angga menuju barisan kursi para tamu.
"Tapi, bukankah seharusnya kita menikah? Jika kamu duduk disana ... lalu, siapa yang akan menikah denganku?" tanya Deta bingung.
"Karena aku yang akan menikahimu, Sayang," lontar seseorang yang sudah menduduki kursi di sebelah Deta.
Mata bulat Deta terbelalak ketika melihat Ricky yang sudah dengan tenangnya duduk berhadapan dengan Dito.
"Kamu? Tolong, jangan berulah di pernikahanku, Tuan Sanjaya!" tegas Deta, ia hendak berdiri untuk meninggalkan Ricky.
"Aku tidak berulah, Sayang, aku hanya ingin menyelamatkan anakku dari nasib buruk." sergah Ricky yang langsung membuat Deta membeku di tempatnya.
"Anak?" lirih Deta.
"Iya, anak yang ada di kandunganmu."
Beberapa saat yang lalu...
"Deta!!!"
"Kakak!!!"
Teriakan terlontar dari Dania dan Dito, juga beberapa tamu yang hadir termasuk orang tua Ricky di karenakan tubuh Deta yang tiba-tiba ambruk dan hampir saja tersungkur jika tangan Ricky tak menahannya.
Dengan sigap Ricky membopong tubuh Deta dan membawanya ke dalam kamar hotel, karena lokasi pernikahan yang di adakan Angga ini terletak di sebuah hotel bintang lima.
"Sayang ... aku mohon, bukalah matamu!" Ricky mengusap pipi Deta dengan lembut.
"Kakak ...."
"Tenanglah, Tuan putri, kakakmu akan baik-baik saja!" ucap Ricky, ia membelai rambut panjang Dania.
"Dimana kak Dito?" tanya Ricky ketika ia tak melihat sosok tinggi tegap Dito di ruangan itu.
"Aku disini, Kak," lontar Dito yang baru saja memasuki ruangan bersama seorang dokter cantik dan juga Angga.
Ricky segera berdiri dan memberikan ruang bagi dokter untuk memeriksa keadaan Deta. "Silahkan, Dokter!"
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Angga, yang mewakili kegelisahan Ricky.
"Dia baik-baik saja." Dokter cantik itu tersenyum dan melirik sekilas ke arah Dito sebelum berkata pada Angga. "Selamat! Anda akan menjadi seorang ayah." ucapnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu begitu terkejut hingga tak ada satu pun yang berani untuk membuka mulut.
"Maksudmu ... Deta hamil?" tanya Angga ragu.
"Benar, Tuan!" jawab dokter itu penuh keyakinan.
"Tapi -" Ucapan Angga menggantung karena Ricky langsung menyelanya.
"Tapi Anda telah memberikan selamat kepada orang yang salah, Dokter!" celetuk Ricky, ia sudah berlutut di sisi tempat tidur.
Tangan Ricky meraih tangan Deta yang masih belum tersadar dan menciuminya dengan lembut. "Terima kasih, Sayang, aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Tuan, bukankah Anda suaminya? Kenapa tuan Sanjaya yang -"
Dito langsung menarik tangan dokter itu dan tak membiarkan dia menyelesaikan pertanyaannya.
"Jangan ikut campur!" bisik Dito di telinga dokter cantik itu.
"Maaf ...," lirih dokter cantik itu.
"Kamu lihat, Ga! Deta selalu menjadi milikku!" sinis Ricky, bibirnya menyunggingkan seringai jahat.
Angga tersenyum hambar. "Astaga! Ternyata, waktu yang kuhabiskan selama lima tahun ini harus terkalahkan hanya dalam waktu kurang dari dua bulan."
Kedua sahabat lama itu kini saling berhadapan. Keduanya terlihat sama kuat dan kehancuran sudah pasti akan terjadi jika keduanya sampai di kuasai amarah.
BUG ...
Kepalan tangan Angga mendarat di wajah tampan Ricky dan mengejutkan semua orang termasuk Ricky sendiri.
"Aku mengembalikan itu padamu. Ingat! Kamu pernah memberikan itu padaku lima tahun yang lalu saat aku membawa Deta pergi darimu." ucap Angga santai. "Dan sekarang, aku mengembalikan semua yang pernah aku ambil darimu, termasuk Deta!" sambungnya.
Flashback off...
Butiran air mata membanjiri pipi Deta ketika pria yang selama ini ia cintai berjabat dengan adik laki-lakinya, dan di sambut oleh seruan "sah" dari saksi dan juga para tamu undangan yang hadir. Bahkan Dito yang terkenal dingin dan keras hati pun tak kuasa menahan haru hingga meneteskan air mata.
"Selamat, Kak," lirih Dito seraya menghambur memeluk sang kakak.
Rasa sayang Dito membuatnya tak mampu menahan rasa bahagianya melihat kakak tersayangnya akhirnya menemukan kebahagiaan yang selama ini sempat tertinggal. Begitu selesai menunaikan tugasnya menjadi wali nikah Deta, Dito langsung berdiri dan menghampiri kakaknya.
"Hei, kamu mendahuluiku!" seru Ricky, tangannya menepuk bahu Dito dengan cukup keras.
"Aku mendahului, tapi Kak Ricky yang selalu memiliki." jawab Dito, tapi tetap tak melepaskan pelukannya. "Jadi, biarkan aku memeluk kakakku tersayang sebelum kak Ricky menguasainya."
Semua orang yang hadir ikut tertawa mendengar celetukan yang keluar dari bibir pria dingin dan tegas seperti Dito.
"Kakak!!!"
Dania yang sedari tadi hanya diam pun akhirnya bergabung dan merentangkan tangannya untuk memeluk kedua kakaknya.
Setelah puas saling meluapkan kebahagiaan, Deta akhirnya melepaskan pelukan kedua adiknya. "Kalian berdua pasti sudah tahu, kan?"
Dito dan Dania tersenyum dan menampakkan deretan gigi mereka, kemudian mengangguk.
"Dasar kalian ini!" Deta menepuk pipi Dito dan Dania dengan lembut. "Kakak sayang kalian. Terima kasih sudah menjadi kekuatan untuk Kakak selama ini." lirih Deta.
Ketika Dito dan Dania berniat untuk memeluk Deta kembali, Ricky yang sudah sangat sabar menanti gilirannya pun tak ingin tinggal diam. Ia segera merengkuh tubuh mungil Deta dan mendekapnya dengan erat.
"Aku juga ingin memelukmu." ucapnya penuh cinta.
Deta segera membalas pelukan Ricky, tak ada lagi keraguan. Tak ada lagi ketakutan. Yang ada hanya kebahagiaan dan cinta yang selama ini sempat tertunda.
***
Aku mengarungi lautan dan melawan arus angin hanya untuk melupakanmu, tapi Poros Jodoh ini berputar ke tempat yang sama hingga membawaku kembali padamu...
- Deta Riady
Ribuan detik yang ku lalui tanpa dirimu, tak menyurutkan semangatku untuk terus memutar Poros yang sempat menjauhkan dirimu dariku...
__ADS_1
- Ricky Sanjaya
…… THE END ……