
Suasana ruang kerja Ricky menjadi sangat panas karena aura kemarahan yang di sebarkan oleh pak Firman. Wajah lucu dan senyum usil itu selalu menghilang ketika ia merasa bahwa putranya telah melakukan kesalahan yang fatal.
"Jadi?" tanya pak Firman dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Ricky menaikkan pandangannya dan menangkap kemarahan yang membara di wajah ayahnya. "Jadi apa, Pa?"
"Gentle sedikit lah, Boy! Kamu sudah bermain-main dengannya dan membuat cucuku menderita hidup tanpa ayah selama ini." Pak Firman menggebrak meja di hadapan Ricky.
"Pa! Rayyan itu bukan putranya Ricky," sanggah Ricky, ia tak habis pikir dengan cara berpikir ayahnya yang selalu saja salah paham kepadanya.
"Jangan berbohong, Boy!" tegas pak Firman dengan mata yang memicing.
Ricky menghela nafas, tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada ayahnya. "Pa, Deta sendiri sudah mengatakan bahwa Rayyan bukan cucu Papa. Dia anaknya Angga, Pa!"
Beberapa saat yang lalu...
"Maaf, Pak, tapi Rayyan bukan cucu anda!" tegas Deta, ia tak ingin menimbulkan masalah baru di hidupnya.
Pak Firman yang sedang di liputi kebahagiaan pun hanya bisa menatap heran ke arah Deta. "Apa maksudmu? Jangan mengatakan hal seperti itu dalam kemarahan! Lagi pula, bukankah kalian sudah menyelesaikan masalah kalian di atas ranjang?"
Wajah Deta memerah karena mengerti maksud dari ucapan pak Firman. Ia tak bisa mengatakan apapun lagi karena rasa malu yang menguasai dirinya.
"Pa ...," Ricky mencoba menjelaskan pada ayahnya, tapi pak Firman tak ingin mendengarkan apapun.
"Baiklah, Deta, tidak masalah anak ini bukan putranya Ricky, tapi kalian akan tetap bersama, bukan? Aku ingin segera menggendong anakmu, aku tebak tidak akan lama lagi kaus yang kau pakai itu akan pas di tubuhmu." seloroh pak Firman, ia menunjuk kaus Ricky yang melekat di tubuh Deta.
Tatapan mata Deta bertemu dengan Ricky saat pak Firman mengatakan hal itu. Sontak saja itu membuat Deta salah tingkah, tapi tidak dengan Ricky.
'Papa benar! Tidak lama lagi, perut itu akan di huni oleh anakku.' batin Ricky.
Flashback off...
"Anak Angga atau anakmu, yang terpenting dia di lahirkan oleh Deta. Kamu harus tetap menyayanginya, Boy!" ucap pak Firman dengan telunjuk yang mengarah ke wajah Ricky.
Lagi-lagi, Ricky menghela nafasnya. "Masalahnya, Pa, Rayyan tidak di lahirkan oleh Deta."
"Apa? Maksudmu ... anak itu bukan putranya Deta?" tanya pak Firman, ia ingin menegaskan apa yang ia dengar.
__ADS_1
Ricky menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari rasa terkejut ayahnya.
"Astaga!!! Permainan apa lagi ini?"
***
Di dalam kamar tamu, Deta baru saja selesai memandikan Rayyan. Ia mengganti pakaian Rayyan dengan pakaian yang di bawakan oleh Gibran atas perintah Ricky.
"Deta?" Suara lembut bu Rika membuat Deta teringat masa dimana ia belum bertemu dengan Ricky.
"Iya, Bu," jawab Deta, ia mendudukkan Rayyan di atas tempat tidur.
"Tidak bisakah kamu kembali kepada Ricky? Mama tahu kamu masih marah pada Ricky, tapi lima tahun ini sudah menjadi hukuman yang sangat berat baginya." Bu Rika menghela nafas. "Dan juga bagi kamu, tentunya." sambungnya.
Mata bulat Deta menatap tangan bu Rika yang menggenggam tangannya. "Maaf, Bu, saya tidak bisa."
"Kenapa?" tanya bu Rika, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Karena saya sudah menikah dan memiliki seorang putra," jawab Deta, ia berusaha setenang mungkin.
Bu Rika melepaskan genggaman tangannya dan menghampiri Rayyan kemudian menggendong bocah tampan itu. Di pandanginya wajah Rayyan untuk sesaat sebelum ia mendaratkan ciumannya di pipi gembul Rayyan.
Kening Deta mengerut mendengar ucapan bu Rika. "Bukankah tuan Sanjaya sudah menikah dan memiliki dua orang putri yang kembar?"
Dahi bu Rika tak kalah mengerutnya dengan dahi Deta. Ia bahkan membuat kerutan yang lebih dalam karena tak paham dengan apa yang Deta katakan.
"Ricky? Menikah? Dua orang putri?" ejah bu Rika, ia memiringkan kepalanya sambil menatap Deta.
Lalu, tiba-tiba bu Rika menurunkan Rayyan dan memanggil Gibran. "Gibran!"
"Saya, Nyonya besar," jawab Gibran, tak ada yang menyadari kapan ia memasuki kamar tamu.
"Tolong bawa Rayyan bermain! Dan sebelum itu, minta Ricky untuk kemari. Sekarang!" tegas bu Rika, sikap lemah lembutnya seketika menghilang.
"Bu, bolehkah saya membersihkan diri saya sebentar?" tanya Deta, ia mulai tak nyaman dengan penampilannya saat ini.
Bola mata bu Rika bergerak naik turun untuk mengamati Deta dari atas ke bawah. "Baiklah, jangan terlalu lama!"
__ADS_1
"Baik, Bu," ucap Deta, ia mengambil sebuah tas berisi pakaian ganti untuknya.
Selang beberapa saat setelah Deta masuk ke dalam ke kamar mandi, Ricky pun masuk ke dalam kamar tamu dan hanya melihat ibunya tengah menghubungi seseorang.
"Mama, menghubungi siapa?" tanya Ricky, matanya nyalang mencari sosok Deta yang tak ia temukan dimana pun.
"Diam! Dan tunggu saatnya kamu bicara." Bu Rika melirik ke arah pintu. "Dimana papa?" tanyanya kemudian.
"Papa? Bermain bersama Rayyan," jawab Ricky sembari menunjuk ke arah pintu.
Bu Rika mendengus kesal. "Papa ini! Lihat 'kan, Sayang, papa begitu ingin memiliki cucu darimu."
"Bukankah tuan Sanjaya sudah memberikan dua orang cucu?" celetuk Deta yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Tatapan Ricky terfokus pada Deta, hingga bu Rika berdehem untuk mengalihkan perhatiannya.
"Duduklah, Sayang, ada yang ingin Mama tanyakan." pinta Bu Rika pada Deta, ia menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Deta yang masih merasa sungkan pada bu Rika pun hanya diam dan menuruti perintahnya.
"Apa maksudmu mengatakan bahwa Ricky sudah memiliki dua orang putri?" tanya bu Rika lembut.
"Bukankah itu kebenarannya, Bu? Tuan Sanjaya sudah menikah dan memiliki dua orang putri kembar. Saya pernah bertemu dengan mereka di taman bermain, keduanya sangat cantik. Pasti ibunya juga sangat cantik." jelas Deta, tersirat sedikit kesedihan dan kekecewaan dalam kata-katanya.
"Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya bu Rika lagi.
Deta menoleh ke arah Ricky, tapi tak mengatakan apapun karena sesungguhnya hal itu sangat menyakiti hatinya.
"Ricky?" tebak bu Rika, yang langsung membuat Deta membelalakan matanya. "Benar Ricky, kan?" tegas bu Rika.
Tiba-tiba saja, bu Rika mendekati Ricky dan menepuk-nepuk pipi Ricky dengan lembut. Namun, tatapan matanya seolah hendak menikam putranya itu. "Sejak kapan kamu menjadi tidak dewasa seperti ini, Sayang?"
Deta yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa meringis melihat Ricky yang terus di tepuki oleh bu Rika. Ia hanya berharap agar ada yang menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi, hingga seseorang memasuki kamar itu dan berteriak.
"Uncle!!!"
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh