Poros Jodoh

Poros Jodoh
BUKAN MALAM PERTAMA


__ADS_3

*** YANG MERASA DI BAWAH UMUR LANGSUNG SKIP AJA YA ***


Hembusan nafas Ricky terasa hangat di wajah Deta. Setelah membaringkan Deta di atas tempat tidur, Ricky pun bergabung dan menahan tubuh Deta di bawahnya.


Untuk sesaat mereka hanya saling menatap, hingga Ricky sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Ia langsung melahap bibir mungil Deta dengan kedua tangannya menahan tubuh Deta agar tak bisa melarikan diri kemanapun.


Ciuman yang di awali dengan kelembutan, lama-lama semakin frontal dan menuntut. Tangan Ricky mulai meraba tengkuk Deta, menginginkan tubuh Deta lebih dekat dekatnya.


Deta memejamkan matanya, sadar ia tak bisa melakukan apapun. Ia sendiri sudah cukup memahami sikap Ricky, inilah yang akan terjadi jika sang tuan muda merasa seseorang sudah mengusik miliknya.


Ricky melepaskan pagutan bibirnya dan mulai menciumi leher Deta, namun gadis itu tetap bungkam dan enggan membuka matanya.


Naluri liar Ricky membimbingnya menemukan titik sensitif Deta. Ia mulai menciumi telinga Deta dan berbisik, "aku menginginkanmu."


Seketika tubuh Deta bergetar merasakan darahnya mendesir, ia pun membuka matanya dan melihat Ricky yang masih berada di atas tubuhnya.


Ricky menyeringai, ia merasa telah menemukan salah satu titik sensitif Deta.


Ia kembali menciumi telinga Deta dan sesekali menjilati dan menggigitnya perlahan.


"Ahh ...." Satu desahan lolos dari bibir Deta, membuat Ricky semakin bergairah.


Bibirnya kembali ******* bibir Deta dan memaksakan lidahnya untuk masuk dan merasakan kehangatan yang ada di dalamnya.


Setelah puas di sana, bibir Ricky bergerak turun menuju leher Deta dan meninggalkan "stempel kepemilikannya".


"Ahh ...." Lagi-lagi Deta kehilangan kendali atas dirinya.


Ricky menyadari bahwa tubuh Deta merespon setiap sentuhannya, ia semakin bergerak turun dan mulai membuka kancing baju Deta satu persatu.


Hari ini Deta menggunakan blouse panjang dengan kancing yang tersemat hingga bagian bawah blouse.


Dengan tidak sabar Ricky akhirnya menarik baju Deta hingga kancingnya terlepas dan berserakan di lantai.


Blouse tanpa kancing itu tak bisa lagi menutupi tubuh Deta, hingga tampaklah payudara Deta yang membulat dan hanya tertutupi bra saja.


Deta mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, namun ia kalah cepat dengan Ricky yang langsung menendang selimut itu hingga jatuh ke lantai.


Tatapan Ricky semakin sayu dan dipenuhi oleh kabut nafsu. Ia mulai mendekat dan menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Deta untuk membuka pengait branya.


'Jangan lakukan ini lagi, Pak! Jangan berikan aku alasan untuk membencimu!' Batin Deta.


Tak terasa air mata Deta mengalir dan membasahi mata bulatnya.


Ricky baru menyadarinya saat ia sudah berhasil melepaskan pengait itu dan kembali menatap Deta.


Melihat air mata Deta membuatnya tersadar dan langsung berdiri menjauhi Deta yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Ricky mengusap wajahnya kasar. Menyesali kebodohan yang baru saja ia lakukan.


"Kenapa, Pak? Anda sudah cukup bermain-main?" tanya Deta yang kini terduduk dengan tubuh bagian atas yang polos tanpa tertutupi apapun.


Rasa terkejut Ricky terlihat sangat jelas di wajahnya. 'Ada apa dengannya? Kenapa dia menantang "adikku" lagi?'


Ricky segera meraih selimut yang tergeletak di lantai karena di tendangnya tadi.


"Pakai ini dan tutupi tubuhmu!" Ricky memberikan selimut itu tanpa menatap Deta.


"Kenapa? Anda tidak jadi melakukannya?" tanya Deta dengan nada sedikit menantang.


Sebenarnya, ia takut jika Ricky benar-benar melakukannya. Tapi Deta tak ingin terlihat lemah di hadapan Ricky.


"Aku tidak akan melakukannya tanpa izin darimu." ucap Ricky penuh keyakinan.

__ADS_1


Deta mendengus dan tersenyum sinis. "Ini bukan yang pertama anda melakukannya pada saya, kenapa anda memerlukan izin dari saya?"


Ricky menoleh dan melihat tubuh Deta yang sudah tertutupi selimut.


"Apa maksudmu?" tanya Ricky bingung.


"Begitu banyak wanita yang bermain dengan anda, hingga anda melupakan malam dimana anda menanam bibit disini." ungkap Deta seraya mengusap perutnya.


Ricky mengerutkan keningnya. 'Sial! Aku lupa dengan permainanku sendiri.'


***


"Apa yang terjadi?" tanya Nino pada Angga yang duduk di sampingnya.


"Tidak ada." jawab Angga singkat.


"Lalu, kenapa Ricky memukulmu? Lagi!" tanya Nino kesal.


"Dia begitu serakah! Aku bahkan tidak boleh mendekatinya sedikitpun." Angga kembali mengusap wajahnya yang terasa nyeri.


"Aku akan meminta ganti rugi padanya untuk biaya operasi plastik wajahku." gumam Angga sambil terus memperhatikan wajahnya di pantulan ponsel.


"Terserah!!! Aku terlalu sibuk untuk mengurus kekusutan benang cinta kalian." ucap Nino.


"Tidak sekusut itu, hanya Ricky saja yang terlalu berlebihan." sanggah Angga tak setuju dengan ucapan Nino.


"Iya... iya, tapi kenapa kamu bisa bersama dengan Deta dan wanita ****** itu?" tanya Nino ingin tahu.


"Ketidak sengajaan."


***


Angga dan asistennya baru saja selesai makan siang dengan klien baru mereka di salah satu restoran yang berada di mall xx.


"Hei!!!" teriak Angga karena terkejut.


Ia menundukkan kepalanya dan melihat seorang gadis kecil yang hampir menangis karena ketakutan.


"Hati-hati, Dania! " Terdengar teriakan seseorang dari kejauhan.


Angga melihat Deta sedang berlari ke arahnya dan saat itulah ia baru ingat bahwa gadis kecil itu adalah adiknya Deta.


Ia langsung menggendong Dania dan tersenyum begitu Deta mendekat padanya. Namun, wajahnya langsung berubah muram ketika melihat sosok yang sangat tidak ingin ia temui.


'Mika?'


***


Ricky memilih untuk keluar dari kamar tidur utama dan menenangkan diri di ruang kerjanya.


'Hampir saja aku terjebak dengan permainanku sendiri.' pikir Ricky.


Kesalahpahaman pak Firman dan bu Rika tentang kejadian di hotel malam itu menjadikan alasan bagi Ricky untuk mengikat Deta di hidupnya.


Gadis itu benar-benar berpikir bahwa Ricky telah merenggut kehormatannya.


Menurut Ricky, tidak masalah Deta menganggapnya sebagai pria tak bermoral sekalipun asalkan gadis itu tetap berada di hidupnya.


Ricky menyandarkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya, hingga terdengar seseorang mengetuk pintu.


"Masuklah!" ucap Ricky.


"Ini pakaian yang anda minta, Pak," Gibran meletakkan sebuah tas di atas meja kerja Ricky.

__ADS_1


Ricky menatap sekilas tas itu. "Terima kasih," kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Gibran. "Sudah kamu lakukan yang aku minta kemarin?" tanyanya.


Gibran mengangguk. "Sudah, Pak, sementara ini nona Mikayla tidak akan mengetahuinya."


"Bagus!" ucap Ricky.


Ia kembali menyandarkan tubuhnya. "Semoga takdir mendukungku." gumamnya.


***


Setelah kepergian Ricky, cukup lama Deta terpaku di atas tempat tidur memikirkan apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Ricky.


Pria itu langsung pergi ketika Deta membahas tentang "malam pertama" mereka yang bahkan tak bisa di ingat oleh Deta.


"Apa aku mengatakan hal yang salah? Bukankah dia yang selalu mengatakan tentang menanam bibit?" Deta mengeratkan lilitan selimut di tubuhnya.


"Ah, terserah padanya." ucap Deta kemudian beranjak dari tempat tidur.


Ia berjalan dengan menyeret selimut menuju sebuah ruangan yang ternyata adalah walk in closet.


Deta terkejut melihat banyaknya pakaian yang tersusun rapih seperti di sebuah toko. Sebelumnya, ia mengira jika ruangan itu adalah sebuah toilet.


Kaki Deta melangkah perlahan melewati setiap susunan pakaian, sepatu, accessories, hingga peralatan make up.


"Tunggu dulu! Bukankah ini semua untuk wanita?" tanya Deta pada dirinya sendiri.


"Deta? Sayang?"


Terdengar suara Ricky yang memanggil namanya, sehingga Deta menghentikan pikiran nakalnya tentang alasan hadirnya make up di walk in closet milik Ricky.


Ia segera membuka salah satu almari yang ternyata berisi kemeja kerja Ricky. Dengan asal ia mengambil sebuah kemeja berwarna putih dan langsung memakainya.


Postur tubuh mungil Deta membuat kemeja Ricky hampir menutupi seluruh tubuhnya.


"Ini sangat besar!" gumamnya seraya mengayun-ayunkan lengan kemeja yang terlalu panjang.


"Deta? Dimana kamu?" Lagi-lagi Ricky memanggilnya.


Dengan cepat Deta menggulung lengan kemejanya dan menyelipkan bagian depan kemeja ke celananya.


Karena terburu-buru, ia melupakan tiga kancing teratas kemeja itu.


Dengan tergesa-gesa ia berjalan untuk menghampiri Ricky yang sedang menatap keluar jendela.


"Anda mencari saya, Pak?"


Ricky langsung berbalik dan membelalakan matanya.


'Kenapa kamu selalu menguji "adikku"?'


Hallo semuanya๐Ÿค—


Maaf ya kalo chapter kali ini agak hot (menurutku) ๐Ÿ˜


Semoga kalian suka dan bisa ikut nyemplung ke kehaluanku ๐Ÿคญ


Jangan lupa jempol ๐Ÿ‘dulu sebelum baca ya...


Dan jangan lupa juga tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ( boleh apa aja asal jangan bullying ya ๐Ÿ‘ say hallo sama author juga boleh siapa tau ada yang pengen kenalan ๐Ÿคญ๐Ÿคญ)


Mau ngasih vote??? Boooleehh banget ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


I โค U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2