
"Sayang, kenapa tidak kamu turuti saja kemauan papa?" Bu Rika mencoba membujuk putranya.
Ricky sebenarnya merasa bosan jika harus selalu membahas hal ini. Tapi karena tidak ingin menyakiti hati ibunya, ia terpaksa mengulang jawabannya setiap kali ibunya mencoba membujuknya seperti saat ini.
"Ma, apa pernah Ricky membantah Mama dan Papa? Dan apa pernah Ricky mengecewakan Mama dan Papa?"
"Tidak, Sayang, tidak pernah sekali pun."
"Maka biarkan Ricky tetap pada prinsip Ricky, Ma!"
"Tapi , jika kamu terus pada prinsipmu itu. Siapa yang akan menghabiskan uang Papa, Boy?" Pak Firman tiba-tiba muncul dan menimpali obrolan bu Rika dan Ricky.
Ricky memutar bola matanya dengan malas, dan menarik nafas dalam. Selama ini Ricky selalu menghindari topik pembicaraan seperti ini.
Pasalnya, pembicaraan ini akan berujung pada pemaksaan pak Firman untuk meminta Ricky menggantikan posisinya di perusahaan.
"Ada kak Fita yang akan menghabiskan uang Papa." jawab Ricky ketus.
Saat Ricky melihat pak Firman hendak membuka mulut, ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang dimana gadis yang bernama Deta itu, Ma? Kenapa aku tidak melihatnya sejak pagi?" Ricky bertanya tanpa menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa yang bersebrangan dengannya.
Mereka tengah menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga setelah makan siang. Sembari menunggu kedatangan Refita.
Pak Firman yang paham akan perilaku anaknya hanya berdecak kesal, kemudian berdiri dan meninggalkan ruang keluarga.
Bu Rika sudah sangat hafal dengan situasi seperti ini hanya bisa menggeleng pasrah.
'Keduanya terlalu keras kepala!!!' Batin bu Rika.
"Sayang ...," Bu Rika mencoba untuk membujuk Ricky kembali.
"Ma, tolong! Ricky tidak mau membahas hal ini terus menerus."
"Tapi, Ricky ...," Bu Rika menyebut nama Ricky, tanda ia sudah mulai kehilangan kesabarannya.
"Maaa ...," Ricky menatap ibunya. "Jika memang di perlukan, Ricky bisa membantu papa tapi bukan menggantikan papa!" tegasnya.
Bu Rika hanya bisa tersenyum. "Baiklah."
Hanya itu yang bisa keluar dari mulut bu Rika karena ia pikir akan mustahil memaksa Ricky untuk saat ini.
"Sekarang jawab Ricky! Dimana Deta?" Ricky semakin tidak sabar sepertinya.
"Ini akhir pekan, Sayang. Deta tidak datang pada akhir pekan."
"Kenapa?"
"Deta mengikuti kelas Paket C."
"Dia putus sekolah, Ma?" tanya Ricky tidak percaya.
Bu Rika hanya mengangguk dan hendak pergi tapi di tahan oleh pertanyaan Ricky.
"Kapan dia datang, Ma?"
Bu Rika memicingkan matanya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Hanya ingin tahu." jawab Ricky seraya memalingkan wajahnya.
***
Ricky menatap ikan-ikan di kolam yang berenang kesana kemari.
"Hei, kenapa kalian mondar - mandir seperti itu? Apa kalian juga sedang bingung seperti aku?" tanya Ricky konyol .
"Apa yang kamu lakukan? Berbicara dengan mereka?" Suara Fita yang muncul dari dalam rumah mengejutkan Ricky.
"Kakak!!! Kapan sampai?" Ricky duduk di pondok yang di ikuti oleh Fita.
"Baru saja. Ada apa?" Fita mencoba mencari tahu apa yang mengganggu pikiran adiknya.
"Tidak ada apa-apa," elak Ricky.
"Papa?" Ricky menggeleng.
"Kantor?" Ricky menggeleng lagi.
"Wanita?" Kali ini Ricky tidak menggeleng tapi juga tidak mengangguk. Ia hanya menatap kakaknya.
"Tanyakan saja!" Saran Fita saat Ricky tak juga bersuara.
"Ehemmm." Ricky berdehem merasakan ketidaknyamanan.
"Kak?"
"Iya?"
"Tahu. Kenapa? Kamu tertarik padanya?" Sumringah Fita membayangkan adik satu-satunya sedang kasmaran.
"Apa sih, Kak? Itu tidak mungkin!!! " ketus Ricky menolak pernyataan kakaknya.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, Kak. Bagaimana mungkin aku bisa tertarik padanya? Mendengar tentangnya saja baru hari ini."
Fita terbelalak mendengar ucapan Ricky.
'Kemana saja kamu selama ini? Benar-benar adikku ini, dia seperti berada di dunianya sendiri!!!' ejek Deta dalam hati.
Fita mencoba menguasai dirinya, menahan diri agar tetap bersikap normal.
"Apa yang ingin kamu ketahui?"
"Seperti apa dia?"
"Dia???" Fita mengerutkan keningnya.
Ricky berdecak. "Deta, Kak."
Fita memajukan bibir nya dan membentuk seperti huruf O.
"Deta itu gadis yang cantik. Tidak... Deta itu manis dan imut." Senyum merekah di wajah Fita membayangkan wajah Deta yang imut .
"Biasanya gadis manis itu berkulit hitam." ketus Ricky.
__ADS_1
"Deta tidak hitam, Ky."
"Putih?"
"Tidak juga," Mata Fita menerawang.
"Belang???" canda Ricky.
Fita menoyor kepala adiknya. "Aduh, Kak!"
"Anak nakal!!! Kamu pikir Deta itu zebra?"
Ricky terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Fita memandang adiknya. Kemudian ikut menertawakan lelucon adiknya.
***
"Deta itu gadis yang manis dan imut.
Matanya bulat dan jernih.
Sayangnya tidak semua orang bisa melihatnya."
Kata-kata Fita terus terngiang di telinga Ricky.
Bayangan bagaimana wajah Deta perlahan mulai terlukis di kepala nya .
'Menarik!!! Cih!!! Kenapa aku jadi memikirkan gadis OCD itu?'
Ricky mengacak-ngacak rambutnya. Berharap dapat mengusir bayangan Deta dari kepalanya.
Karena usahanya sia-sia, akhirnya Ricky memutuskan untuk menyejukkan dirinya di dalam kamar mandi.
Ricky memutar kran air, seketika air mengalir dari shower dan mulai membasahi tubuh atletisnya.
kesegaran air setidaknya bisa mengusir kepenatan di kepala Ricky. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut yang masih basah.
Ricky berjalan menuju almarinya, tiba-tiba ia tersenyum melihat isi almari nya. Semua pakaian tersusun rapih. Berdasarkan warna.
'Apa yang di katakan gadis itu di suratnya??
" Tidak merubah apapun "
Dia bahkan merubah semua posisi barang-barangku!!!' Batin Ricky yang terus mengomel.
"Cek... cek... cek ...." Ricky berdecak dan mengambil sebuah kaus.
"Ayolah, Deta. Segera temui aku! Aku menunggu pertanggung jawabanmu."
Ricky menyeringai. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Kira - kira Ricky punya rencana apa ya buat Deta π€
Tetap sabar tunggu kelanjutannya yaa π€
Jangan lupa tinggalkan jejak π£ kalian di siniπ
__ADS_1