
Kendaraan yang berlalu lalang di jalanan menjadi pemandangan rutin setiap hari di kota-kota besar. Tak terkecuali di kota tempat Deta menetap saat ini.
"Kak, kapan kita akan kembali ke kota xx?" tanya Dania, ia di buat penasaran oleh Deta yang tiba-tiba mengajaknya kembali ke tempat tinggal lama mereka.
"Tidak kembali, Dania, hanya singgah sebentar untuk menghadiri acara pernikahan kak Syafitri. Apa Dania ingat dengan kak Syafitri?" Deta menatap Dania yang sedang memutar bola matanya, mencoba mengingat sesuatu sepertinya.
Dengan polosnya Dania menggelengkan kepalanya, membuat Deta gemas dengan adiknya itu. Ia langsung mencubit hidung Dania. "Ya sudah, tidak apa kalau tidak ingat."
Mereka berdua berjalan menyusuri emperan toko yang berbaris rapih di tepi jalan. Suasana seperti ini sangat di sukai oleh Deta, karena ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari inspirasi.
Saat tengah asyik melihat barang-barang yang terpajang dengan indah pada etalase toko, tiba-tiba ponsel Deta berdering. Ia hanya menatap layar ponselnya tanpa berniat menjawab panggilan itu.
"Siapa, Kak?" tanya Dania, matanya mencuri-curi pandang pada layar ponsel Deta.
"Hantu." jawab Deta singkat, ia kembali menjilat es krimnya yang mulai mencair di tengah udara yang sangat panas.
"Hantu?" Dania mengerutkan dahinya, tidak mengerti maksud sang kakak.
Deta tersenyum pada Dania yang masih menunggu penjelasan darinya. "Editor, Dania," jelas Deta.
"Oh, editor." Dania manggut-manggut paham. "Tapi kenapa namanya hantu di ponsel Kakak?" tanya Dania kemudian.
Bukannya menjawab Deta justru tertawa terbahak-bahak, hingga tidak sengaja ia menjatuhkan es krimnya. "Astaga, sayang sekali," lirih Deta.
"Itulah balasan karena Kakak tidak mau menjawab pertanyaanku. Hahaha ...," lontar Dania.
"Baiklah. Maaf, Dania! Dinamakan hantu karena dia selalu menghantui Kakak untuk menanyakan naskah. Sedangkan, tidak tahu kenapa saat ini Kakak tidak punya ide apapun." jelas Deta, tatapannya menerawang ke depan. Entah apa yang ia pikirkan.
"Kakak butuh seseorang." celetuk Dania. Hal itu langsung menarik manik mata Deta untuk menatap adiknya.
"Maksudnya?"
"Iya, Kakak butuh seseorang untuk memberikan inspirasi agar Kakak bisa menulis kembali." tutur Dania santai sembari menjilati es krimnya.
'Benar juga, tapi siapa yang bisa memberiku inspirasi?' batin Deta.
Setelah memutuskan untuk meninggalkan Ricky, Deta mulai menata hidupnya di tempat yang baru. Tahun pertama, ia mengalami banyak kesulitan. Tapi Deta mampu melewati semuanya berkat bantuan keluarganya dan juga Angga.
__ADS_1
Untuk mengisi kekosongan di hatinya, Deta menuliskan semua perasaan yang tak bisa ia ungkapkan ke dalam sebuah catatan. Tanpa ia sadari, semua hal yang ia tuliskan berisi tentang Ricky dan semua kenangan manis mereka di masa lalu.
Semakin Deta ingin melupakan Ricky, semakin dekat Ricky di hatinya. Bahkan kini, ia tak akan pernah bisa melupakan Ricky Sanjaya karena pria itu sudah di abadikan Deta di atas kertas.
***
"Hai, Adik kecil!" Refita terlihat sangat senang dengan kedatangan adik satu-satunya itu.
"Aku sudah tua, Kak." sinis Ricky, kemudian menyusul kakaknya yang sudah duduk di sofa bersama seorang wanita cantik.
"Tapi kamu masih sangat tampan." ucap wanita cantik yang duduk bersama Refita.
Ricky tidak merespon sedikitpun ucapan wanita itu, bahkan ia tampak tak memperdulikan kehadirannya.
Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah wanita itu, yang mana membuat Refita langsung menegur Ricky.
"Ricky! Ada wanita cantik memujimu, kenapa kamu diam saja?" ucap Refita, tak menghiraukan tatapan jengah Ricky.
"Aku tidak memintanya untuk memujiku." ketus Ricky. Pandangannya berputar mencari sosok kedua ponakan kembarnya. "Dimana Nay dan Kay?" tanyanya.
"Mereka sedang bermain di atas." jawab Refita. "Tunggu dulu! Kamu mau kemana?" tanya Refita saat Ricky berdiri dan hendak pergi.
Refita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dingin adiknya. Sebenarnya, ini bukan kali pertama keluarga Sanjaya mencoba memperkenalkan Ricky pada beberapa wanita yang sederajat dengan mereka. Namun, Ricky selalu memiliki sejuta alasan untuk menolak mereka.
***
Ricky membuka sebuah pintu yang berada di ujung koridor. Matanya menatap cukup lama pintu itu. Menimbang-nimbang, apakah ia akan masuk atau tidak. Selama ini, Ricky selalu menjauhi kamar ini. Tapi ia sangat ingin menemui kedua ponakannya yang sangat menggemaskan.
Perlahan Ricky membuka pintu, ia langsung di suguhkan ingatan indah saat ia dan Deta berduaan di kamar ini. Kamar tempat dimana Ricky menginap saat Refita membawa Deta pergi dari rumahnya.
Tidak ada yang berubah dari kamar ini selain dekorasinya yang lebih dominan dengan warna merah muda.
" Uncle? Uncle (paman)!!!" teriak Nayla yang langsung mengejutkan Kayla, kembarannya.
"Hallo, Tuan putri." Ricky berjongkok dan memeluk kedua gadis kecil itu dengan penuh cinta.
"Siapa Tuan putrinya?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Keduanya." jawab Ricky, ia tak ingin menimbulkan pertengkaran di antara kedua ponakannya itu.
"Tidak. Jawab dengan benar, Uncle Kyky!" tegas Kayla yang di setujui Nayla dengan anggukkan kepala.
Wajah kembar itu membuat Ricky sangat gemas dan langsung mencubit kedua pipi mereka dengan lembut. "Kalian ini."
"Jawab, Uncle!" rengek keduanya secara bersamaan.
Senyuman Ricky mengembang. Senyuman yang jarang sekali terlihat sejak lima tahun lalu. "Tuan putri, Dania."
***
"Uhuk... uhuk... uhuk ...," Dania tiba-tiba saja tersedak saat sedang menghabiskan es krimnya.
"Hati-hati, Dania! Makanlah pelan-pelan, Kakak tidak akan mengambilnya." Deta terkekeh.
"Iya, aku takut Kakak akan merebutnya." dengus Dania. Memancing tawa Deta kembali.
Mereka masih berada di tepi jalan, sambil terus melihat-lihat beberapa produk yang terpajang di sana.
"Kak, kenapa Kakak tidak minta belikan saja pada kak Angga?" saran Dania, ketika ia melihat Deta menatap sebuah tas yang sangat cantik sejak tadi.
"Tidak. Kakak akan membelinya sendiri. Lagi pula, untuk sekarang itu tidaklah penting." sanggah Deta.
Dania yang beranjak belia, sudah mulai memahami keadaan yang sebenarnya. Hingga ia pun tak banyak lagi bertanya ketika sangat kakak bertingkah seperti itu.
"Kak, waktunya menjemput Rayyan. Dia pasti akan marah kalau kita sampai terlambat menjemputnya." ucap Dania yang baru saja melirik jam tangan Deta.
"Ayo, jangan buat dia menunggu!" seru Deta, matanya masih melirik ke belakang. Tidak rela harus berpisah dengan tas yang sangat cantik itu.
'Jangan pergi sebelum aku bisa membelimu, ya!' pikir Deta dalam hati.
Hallo semuanya 🤗
Salam manis terhangat dari POROS JODOH
Jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum atau sesudah membaca dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 dan juga votenya 👈 sebagai mood booster bagi author amburadul kesayangan kalian ini 😍😍
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh