Poros Jodoh

Poros Jodoh
DANINO


__ADS_3

Dania tergesa-gesa menyusul Angga dan juga wanita malang itu. Mereka berjalan dengan sangat cepat dan memasuki mobil Angga.


"Bagaimana aku mengejar mereka? Haruskah aku berlari? Tidak ... tidak! Aku ini hanya gadis kecil bukan seekor kuda yang bisa menyamai laju mobil." gumam Dania, mata sipitnya terus memperhatikan mobil Angga yang semakin menjauh.


Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Dania dan menghalangi penglihatannya.


"Kenapa mobil ini berhenti disini? Mengganggu saja!" keluh Dania.


Tidak lama kemudian, seorang pria keluar dengan wajah tampan dan sikap sok kerennya.


"Hai, Moony!" sapa pria itu, yang mendapatkan jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya karena Dania langsung menyerbu masuk ke dalam mobilnya.


"Tolong antar aku, Tuan!" pinta Dania sembari memasang safety belt untuk melindungi tubuhnya.


Pria itu masuk ke dalam mobil dan menatap wajah Dania yang terlihat panik. "Kamu mau aku antar kemana?"


"Tolong kejar mobil itu, Tuan!" Dania menunjuk ke depan, dimana ada banyak mobil berlalu lalang disana. Ia tidak sedetik pun menoleh untuk melihat siapa yang berada di sampingnya.


'Mobil yang mana?' batin pria itu. "Ah, baiklah!" jawabnya ragu.


Mobil melaju dengan cepat sesuai arahan Dania. Beruntung, mereka bisa menyusul mobil Angga yang ternyata berhenti di sebuah restoran.


Mata Dania terbelalak melihat Angga menuntun tangan wanita malang itu.


'Apakah kak Angga telah menemukan pengganti kakak?' pikir Dania.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya pria itu, membuyarkan lamunan Dania.


Dania membuka safety belt yang melilit tubuhnya sebelum menjawab, "tidak ada! Terima kasih sudah mengantarku, Tuan."


Betapa terkejutnya Dania ketika menoleh dan melihat pria itu sedang tersenyum menatapnya.


"Om pedofil!!!" teriak Dania, kulit putihnya semakin memutih karena aliran darahnya yang tiba-tiba saja berhenti ketika melihat siapa yang sedang bersamanya.


"Astaga! Aku bukan pedofil!" sanggah pria itu. "Namaku Nino ... Nino! Kau harus ingat itu, Moony!" tegasnya kemudian.


"Ba- Baiklah, Om Nino. Terima kasih sudah mengantarku!" ucap Dania terbata, tangannya bahkan gemetar ketika hendak membuka pintu mobil.


Nino yang menyadari hal itu langsung menarik senyum di bibirnya. Ia mengulurkan tangannya melewati tubuh Dania untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Silahkan!" ucap Nino begitu pintu mobilnya terbuka.


Dania yang baru tersadar langsung bergerak cepat untuk turun dari mobil Nino bahkan tanpa menoleh pada pria itu.


"Hei, tunggu dulu!" teriak Nino, ia menyusul Dania untuk masuk ke dalam restoran itu.


"Apalagi, Om?" bisik Dania, seolah takut akan ada yang mendengar suaranya.


"Kau belum membayar ongkosnya," bisik Nino, meniru cara bicara Dania.


"Apa aku harus membayarnya?" tanya Dania polos.


'Menggemaskan sekali!' batin Nino. "Tentu saja! Kamu pikir aku bisa membeli bahan bakar mobilku dengan ucapan terima kasih," sungut Nino, berpura-pura kesal pada Dania.


Tangan Dania merogoh tas kecil yang menyampir di pundaknya. "Maaf, Om, tapi aku hanya punya ini."


"Ini tidak cukup! Kamu lihat 'kan mobilku itu bukan mobil biasa." tolak Nino sembari mendorong tangan Dania.


"Lalu?" tanya Dania lagi, ia terlihat gelisah karena belum menemukan sosok Angga.


Nino memperhatikan tatapan Dania yang terus menatap ke dalam restoran. "Temani aku makan!" pinta Nino seraya menarik tangan Dania masuk ke dalam restoran.


Mereka akhirnya masuk ke dalam restoran dan mata Dania langsung menangkap sosok Angga yang sedang duduk berhadapan dengan wanita malang itu.


Nino mengerutkan keningnya. "Kenapa harus disana? Ini 'kan caramu membayar hutang, harusnya kamu yang mengikuti keinginanku bukan aku yang mengikuti keinginanmu."


"Terserah Om saja!" Dania mengerucutkan bibirnya dan berjalan menuju kursi yang ia inginkan.


"Dia mengatakan terserah, tapi dia tetap melakukan apa yang dia inginkan." Nino menggelengkan kepalanya, tak mengerti cara berpikir gadis itu.


Ketika Nino mengikuti langkah Dania, tiba-tiba saja gadis itu berbelok menuju ke arah meja pelayan.


"Hei, kenapa kau kesana?" tanya Nino, sedikit kesal dengan tingkah Dania.


"Memesan minum." Dania tetap melangkah tanpa menghiraukan Nino yang masih menatapnya heran.


Langkah Dania semakin dekat dengan Angga. Ia mendengar Angga membicarakan tentang putranya.


'Rayyan? Apa nyonya itu adalah ibu kandungnya Rayyan?' batin Dania. Ia tetap melangkah dan benar-benar memesan minuman secara langsung.

__ADS_1


Ketika Dania bermaksud untuk menghampiri Nino yang sedang menunggunya dengan wajah yang di tekuk, tiba-tiba telinga Dania menangkap sesuatu yang membuatnya seolah kehilangan nyawanya.


Kamu memang sama dengan kakakmu! Bermain, mengandung, melahirkan, lalu memberikan anakmu pada ayahnya tanpa memikirkan perasaannya. Seperti yang di alami oleh Dania, beruntungnya dia memiliki kakak tiri yang baik seperti Deta.


Kata-kata yang di ucapkan Angga seolah menarik paksa nyawa Dania dari raganya. Dania bahkan tak mampu memegang gelas yang ada di tangannya.


PRANG ...


"Dania?" pekik Angga, matanya membesar melihat sosok Dania yang berdiri tak jauh dari tempat.


"NINO!!!" Mika dan Angga sama-sama terkejut ketika melihat sosok yang sangat mereka kenal baru saja menghampiri Dania.


"Kau tidak apa-apa, Moony?" tanya Nino yang langsung menghampiri Dania ketika melihat Dania menjatuhkan gelas yang ia pegang.


Mendengar namanya di sebut, Nino seketika menoleh dan melihat dua orang yang paling ia benci dalam hidupnya. Entah itu dulu atau pun saat ini.


"Apa yang kalian lakukan disini? Tidak mungkin 'kan angin menerbangkan kalian sampai sini," sinis Nino, tatapan matanya begitu mencemooh Mika dan Angga.


Angga tidak menghiraukan Nino, fokusnya tertuju pada Dania yang berdiam diri di samping Nino.


"Dania? Bagaimana kamu bisa ada disini? Dimana kakakmu?" tanya Angga seraya membelai rambut Dania.


"Hei, jauhkan tanganmu darinya! Kamu sudah beristri! Jangan menggodanya!" Nino menepis tangan Angga yang berada di atas kepala Dania.


Tatapan kesal di lemparkan Angga pada sahabat lamanya itu. "Aku tahu! Aku tidak mungkin menggoda adik iparku sendiri, Nino!"


"Baguslah kalau kamu tahu, tapi apa maksudmu dengan adik ipar?" Nino bertolak pinggang dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya mengusap-usap dagunya.


"Kamu tidak tahu siapa dia?" Angga balik bertanya pada Nino yang langsung menggelengkan kepalanya. "Kamu terlihat begitu khawatir padanya, aku pikir kalian sudah saling mengenal."


"Ya, aku mengenalnya, tapi dia tidak memberi tahu padaku siapa namanya." sanggah Nino, ia menatap Dania yang tidak mengatakan sepatah kata pun.


Angga mendengus. "Dia Dania, adiknya Deta."


"Apa!!!"


Hallo semuanya πŸ€—


Kamis manis waktunya senyum tipis-tipis karena tingkah Deta dan bang Ricky yang romantis abis 😍

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡ sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2