Poros Jodoh

Poros Jodoh
MENYERAHLAH


__ADS_3

"Apakah Anda akan mengatakan semua kebenarannya kepada nona Mikayla, Pak?" tanya Gibran begitu ia menyampaikan apa yang tertulis di buku harian Anika.


"Mika itu keras kepala, dia tidak akan mau menerima semua kenyataan ini. Dia sudah terlanjur berpikir jika Anika adalah seorang korban." ucap Ricky pasrah. "Jauhkan saja dia dari keluarga Riady, terutama dengan ayahnya Deta!" lanjutnya.


"Baik, Pak," jawab Gibran.


"Satu lagi, pastikan dia tidak akan menghadiri acara pernikahanku! Aku tidak ingin dia mengacaukan segalanya." perintah Ricky.


Gibran menatap Ricky, sorot matanya menunjukkan keraguan. "Pak?"


"Tanya saja!" lontar Ricky.


"Kenapa anda tidak -"


"Mengatakannya saja pada Mika?" Ricky dengan tepat menebak pikiran Gibran. "Jika dia tahu sebelum pernikahanku, dia akan berusaha memisahkan aku dengan Deta. Aku bukannya ingin menutupi semua ini, aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Setidaknya, jika aku sudah menikahi Deta, Mika tidak bisa melakukan apapun pada Deta ataupun keluarganya karena mereka berada di bawah perlindunganku." jelas Ricky.


"Saya mengerti, Pak,"


***


Selama beberapa hari, Ricky terus menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Ia berharap, waktu yang ia berikan untuk Deta bisa membuat gadis itu memaafkannya.


Dengan susah payah Ricky menahan keinginan hatinya untuk menemui Deta, ia bahkan menjauhkan ponselnya agar tak tergoda untuk menghubungi Deta.


"Aku merindukanmu, Sayang," gumamnya.


Tok... tok... tok...


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan Ricky, membuat bayangan Deta lari dari pikirannya.


"Masuk!" teriak Ricky, ia kembali fokus pada pekerjaannya.


"Maaf, Pak, ada Tuan -" Dorongan dari belakang membuat sekretaris Ricky hampir jatuh tersungkur.


"Ricky!!!" teriak Nino dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa?" Ricky memutar bola matanya dengan malas, bosan dengan semua tingkah sahabatnya.


Ricky melirik ke arah sekretarisnya dan memberikan kode agar ia meninggalkan ruangannya.


"Deta! Dia ...." Nino sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Tingkah Nino membuat Ricky menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


'Dia pikir bisa mengelabuiku dengan membawa-bawa nama Deta!' pikir Ricky.


Baru saja Ricky akan menandatangani sebuah berkas, tiba-tiba Gibran masuk dengan tergesa-gesa. Ia membungkuk hormat kepada Ricky dan melirik sekilas kepada Nino yang terkulai lemas di sofa.


"Ada kabar buruk, Pak!" ucap Gibran penuh kekhawatiran. "Nona Deta dan keluarganya akan meninggalkan negara ini." tuturnya.


Mendengar penuturan Gibran, Ricky langsung berdiri dan tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Itu yang mau aku sampaikan tadi," timpal Nino yang kini sudah terduduk.


"Kenapa tidak kamu katakan sejak tadi!" ketus Ricky seraya melangkah dari ruangannya dengan di ikuti Gibran di belakangnya.


"Hei, mau kemana kalian!!!"

__ADS_1


***


Di bandara, Deta dan keluarganya sedang menunggu pesawat mereka take off.


"Kak, pikirkan ini sekali lagi sebelum terlambat." Bu Sarah membelai rambut Deta, mencoba membuat putrinya mengurungkan niatnya.


"Tidak perlu, Ma, tidak ada lagi yang bisa aku harapkan di sini." lirih Deta, harapannya sudah menguap bersama dengan angin yang berhembus kencang sore hari itu.


Tak terasa, air mata kembali mengalir di pipinya mengiringi setiap langkah yang ia tinggalkan di belakang.


Seorang pria terlihat berlari kecil ke arah mereka. "Nona, kenapa anda menunggu disini?" tanya pria itu.


"Memang dimana? Bukankah ini terminal untuk keberangkatan internasional?" Deta bertanya balik.


'Walaupun aku tidak pernah naik pesawat ke luar negeri, tapi aku tidak senorak itu.' sungut Deta dalam hati.


Pria itu tersenyum menanggapi sikap dingin dan jutek Deta. "Tuan muda sudah menyiapkan jet pribadi untuk keberangkatan kalian."


"Jet pribadi?" tanya Deta tak percaya.


***


Ricky mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berharap belum terlambat untuk menemui Deta.


"Bagaimana, Gibran? Kemana mereka akan pergi?" tanya Ricky tak sabar.


Gibran yang sejak tadi sibuk dengan ponsel dan tabnya terlihat bingung saat Ricky bertanya.


"Ini aneh, Pak, tidak ada satu pun nama anggota keluarga Riady yang ada dalam daftar penumpang hari ini." ucap Gibran.


Ricky menepikan mobilnya. "Apa kamu yakin?"


"Lalu, kemana mereka?" Ricky memukul kemudinya.


'Sial!!! Kemana kamu, Deta? Aku mohon jangan tinggalkan aku!!!'


"Hubungi Nino!"


***


"Angga?" Deta terkejut melihat Angga yang baru saja turun dari sebuah jet pribadi.


"Bagaimana kabarmu?" Angga menurunkan kacamata hitam yang menutupi tatapan tajam matanya.


"Baik," jawab Deta singkat. "Siapa sebenarnya dirimu?" tanyanya kemudian.


"Bagaimana kalau aku menjelaskannya di dalam kabin?" Angga merentangkan tangannya ke arah pintu masuk jet pribadinya.


Deta menoleh ke arah keluarganya yang langsung di setujui oleh mereka.


Satu persatu seluruh keluarga masuk ke dalam jet pribadi milik Angga, menyisakan Deta dan Angga di barisan terakhir.


Saat Deta akan melangkah, ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.


"DETAAA!!!"


Deta menoleh dan melihat Ricky sedang berlari ke arahnya. Pria itu langsung menyambar tangan Deta dan mendekap tubuh Deta dengan erat.

__ADS_1


Sesungguhnya, Deta sangat merindukan sosok Ricky. Pria yang hangat dan selalu membuat jantungnya berdebar. Namun, apa yang di lakukan Ricky sudah sangat mengecewakannya.


Deta berdiri mematung, ia tak berniat untuk membalas pelukan Ricky. "Lepaskan!" pintanya.


"Tidak!!! Aku tidak akan melepaskanmu!" kukuh Ricky, tangannya justru semakin erat memeluk Deta.


"Lepaskan istriku!" teriak Angga, kemudian menarik tubuh Ricky agar menjauh dari Deta.


Ricky menatap sahabatnya yang kini berdiri menantang di hadapannya. "Apa yang baru saja kamu katakan? Hah!!!"


"LE- PAS- KAN ISTRIKU!!!" Angga mengulangi ucapannya dengan penuh penekanan.


BUG!!!


Kepalan tangan Ricky langsung mendarat di wajah Angga.


"Deta milikku! Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku!!!" teriak Ricky, ia menarik kerah kemeja Angga dan kembali melayangkan pukulannya.


"Hentikan!!!" Deta mencoba melerai perkelahian dua pria di hadapan itu.


Mendengar keributan, asisten Angga yang sudah berada di kabin kembali keluar untuk memeriksa yang terjadi.


"Tuan!" teriak asisten Angga, kemudian berlari hendak menghampiri Angga, tapi Angga menahannya.


"Ini masalahku dengannya, jangan ada yang ikut campur!" ucap Angga.


Dua pria itu saling menatap, seperti dua ekor kumbang yang memperebutkan sekuntum bunga.


"Menjauhlah darinya!" teriak Ricky.


"Kamu yang seharusnya menjauhi istriku!" teriak Angga tak kalah keras.


"Berhenti mengatakan Deta adalah istrimu! Dia itu istriku -"


"Mantan calon istrimu!" sinis Angga.


"Sialan!!!" Ricky kembali memukul Angga yang sudah mulai kewalahan menghadapi kemarahannya.


"Hentikan, Pak!!!" Deta menarik tangan Ricky agar menjauhi Angga.


Sentuhan Deta membuat Ricky tersadar, ia menoleh dan melihat gadis yang ia cintai sudah berlinang air mata. Lagi-lagi karena dirinya.


Ricky mencoba untuk menghapus air mata Deta, tapi gadis itu menghindar dan berlari menghampiri Angga yang sedang meringis kesakitan.


"Ayo, bangun!" Deta memapah tubuh Angga dan membantunya berjalan untuk masuk ke dalam kabin.


"Tunggu!" Ricky menahan tangan Deta.


Deta menghentikan langkahnya. "Apa lagi?" tanyanya dingin.


Angga bisa merasakan ketegangan Deta dari cengkraman tangannya di bahu Angga. "Menyerahlah, Ky. Sekarang dia adalah istriku. " ucap Angga, mengulangi perkataan yang sama.


"Berhenti mengatakan hal itu! Aku tidak mempercayainya!!!"


Hallo semuanya🤗


Duhh aku double up terus nih supaya kalian senang😘 Jadi aku boleh dong minta dukungan kalian untuk cetak jempol👍 dan tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar serta vote nya juga😍😍

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2