
Suara ombak menerjang bibir pantai, sedikitnya membantu meredam isak tangis Deta sore itu.
Sinar matahari yang mulai temaram karena sudah memasuki peraduannya cukup membantu untuk menyamarkan wajah sembab Deta.
Seorang pria dengan sabar berdiri di sampingnya dan merangkul bahu Deta yang tak juga berhenti mengeluarkan emosinya.
"Apakah aku harus mencium bibirmu agar air matamu itu berhenti mengalir?" Seketika Deta menoleh dan pandangan matanya langsung bertemu dengan mata Ricky.
Mereka saling menatap cukup lama. Mengatakan segala hal yang tak bisa terucap di bibir.
Hingga akhirnya bibir mereka pun bertemu dan saling menumpahkan rasa bersama dengan tenggelamnya sang mentari.
Bibir seksi Ricky menguasai bibir mungil milik Deta. Namun, sayangnya Deta masih belum merespon setiap sentuhan yang di berikan Ricky.
Takut apa yang di lakukannya akan melukai hati Deta, Ricky melepaskan pagutan bibirnya dan mengelap bibir Deta dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa menahannya." ucap Ricky lembut.
Deta menatap mata Ricky yang penuh cinta dan kehangatan. Sangat berbeda saat ia menatap mata Angga yang di penuhi dengan ambisi dan arogansi.
Bayangan sikap Angga dan tatapan matanya membuat Deta kembali gemetar.
Saat berhadapan dengan Angga sebelumnya, Deta berusaha untuk kuat dan berani.Tapi begitu ia melihat Ricky, air matanya langsung tumpah dan membanjiri mata bulatnya.
Karena melihat cinta di mata Ricky, naluri Deta mendorong tubuhnya untuk memeluk Ricky.
Ricky yang memang menantikan hal itu lantas memeluk Deta dengan erat.
Itulah pelukan pertama mereka dan itupun terjadi di tepi pantai di iringi senja yang mulai berganti malam. Membayangkan semua keindahan itu membuat sudut bibir Deta tersenyum.
Rasa takutnya terhadap Angga kini berganti kehangatan yang di berikan oleh rasa aman karena berada di sisi Ricky.
'Haruskah aku menerimanya sekarang?'
***
__ADS_1
Terlalu menikmati suasana pantai dengan deburan ombak yang menenangkan pikiran, membuat Deta dan Ricky lupa waktu. Mereka masih duduk di bibir pantai hingga larut malam.
Semilir angin malam mulai menyelusup dan menusuk di tubuh, Deta yang hanya menggunakan kaus mulai merasa kedinginan. Ia memeluk lututnya kemudian menggosok-gosokkan telapak tangannya dan meniupnya agar terasa hangat.
Tiba-tiba Ricky berdiri untuk membuka jaketnya dan memakaikan jaketnya pada Deta yang hampir menutupi tubuh mungilnya.
Deta menyentuh jaket Ricky dan mendongakkan kepalanya untuk melihat Ricky. Ternyata, Ricky sedang membungkuk dan berniat ingin mencium puncak kepala Deta. Tapi karena tiba-tiba Deta mendongak, wajah mereka kembali bertemu.
Lagi-lagi tatapan mata itu ,tatapan yang sudah mulai bisa di pahami oleh Deta.
Menyadari Ricky yang merasa ragu saat ingin menciumnya, Deta pun tersenyum dan menyentuh pipi kiri Ricky dengan tangan kanannya.
Sebenarnya, Ricky ingin langsung ******* bibir Deta begitu Deta menyentuhnya. Namun, ia tidak ingin menyakiti Deta. Perannya sebagai seorang tuan muda tidak berlaku dalam hubungan seksualnya.
Ricky menginginkan kepuasaan bagi pasangannya. Ia tak ingin ada keterpaksaan yang akan berujung pada kekerasan.
"Bolehkah?" tanya Ricky, dengan suara yang hampir di telan ombak dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Deta.
Saat bibir mereka hampir bertemu, Deta memindahkan tangannya dari pipi ke mulut Ricky.
Deta menyentuh bibirnya dengan tangan sebelah kirinya.
Ricky menyentuh tangan Deta dan mencium nya. "Aku janji!!!"
Dan malam itu pun menjadi saksi, ciuman pertama mereka yang di lakukan dengan rasa cinta. Walaupun tanpa ungkapan cinta.
Bibir mereka berpagutan dengan posisi Ricky masih membungkuk dan Deta yang mendongakkan kepalanya.
Jaket Ricky yang menutupi tubuh Deta sudah terjatuh ke pasir karena kedua tangan Deta sudah melingkar di leher Ricky.
Semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut. Hingga membangunkan sesuatu dalam diri Ricky.
Dengan cepat Ricky mengangkat tubuh Deta dan dalam sekejap Deta sudah berada dalam pelukan Ricky.
Deta yang tersentak karena tubuhnya di angkat mulai merasakan kembali kesadarannya.
__ADS_1
"Turunkan aku!!!" teriak Deta.
"Diamlah, nanti kamu jatuh!"
Namun, Deta tak mendengarkan Ricky. Ia terus saja meronta dan memukul-mukul dada bidang Ricky.
Beruntung Ricky tetap bisa tenang dan menjaga keseimbangannya sehingga tidak terjatuh.
"Tenanglah, Sayang, aku tidak akan melakukan apapun tanpa izin darimu." ucap Ricky, meyakinkan Deta.
Ricky mengecup kening Deta dan menurunkan Deta di atas kakinya sendiri.
Terlalu takut dan terkejut membuat kaki Deta lemas hingga ia tak mampu berdiri dan hampir terjatuh. Namun, tangan Ricky yang sigap segera menahan pinggang Deta.
"Gadis nakal! Kamu membuatku panas dingin." bisik Ricky di telinga Deta yang membuat wajahnya bersemu merah.
***
"Kemana sebenarnya Ricky pergi?" Nino sudah puluhan kali mencoba menghubungi Ricky. Namun, tetap saja tidak bisa.
Alasannya terus menghubungi Ricky adalah karena ia mendapat kabar bahwa Angga dan Ricky bertengkar.
Dia sudah menemui Angga. Namun, pria itu mabuk berat dan tidak bisa di tanyai apapun.
"Ada apa ini? Kenapa mereka sampai bertengkar seperti ini? Apakah karena wanita sialan itu?" umpat Nino, ia sudah mulai kesal dan akan membanting ponselnya, tapi ia mengurungkan niatnya.
"Tidak... tidak... ponsel ini sangat mahal, aku tidak sanggup menghancurkannya." gumam Nino sembari menciumi ponsel keluaran terbarunya itu.
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like👍, comment, rate and vote🤭
Supaya aku lebih semangat berhaluu nya. okkkeeeyyy kesayangan-kesayanganku 😘
__ADS_1