
Mentari sudah mulai menghangat, menandakan hari yang sudah mulai siang. Mereka berempat masih bersenda gurau di tepi kolam renang yang berada di samping rumah utama.
Mika masih saja memperhatikan Dania yang sedang bermain air. Wajah Dania sangat mirip dengan Anika. Kakak kandungnya.
"Deta?" panggil Mika.
Deta yang duduk di samping Ricky langsung menoleh begitu Mika memanggilnya.
"Diam disini!" perintah Ricky pada Deta.
Ia mengeratkan kaitan tangannya saat Deta hendak berdiri dan menghampiri Mika yang sedang berdiri di tepi kolam.
"Mika memanggil saya. Mungkin dia butuh sesuatu." ucap Deta mencoba melepaskan tangan Ricky.
"Dia bisa memanggil bu Sri." bantah Ricky.
Deta menatap bola mata Ricky yang balik menatapnya kemudian tersenyum dengan manisnya.
"Ingin aku lepaskan?" Ricky mengangkat tangan mereka yang masih berkaitan.
Deta mengangguk pasti. "Tentu!"
Ricky menyeringai kemudian berbisik di telinga Deta. "Ayo, kita menanam bibit!"
Bisikkan Ricky membuat wajah Deta memerah, ia segera menjauhkan diri dari Ricky.
'Dasar mesum! ' Batin Deta kesal.
Tanpa di duga, tiba-tiba Deta menggeser posisi duduknya hingga mengurangi jaraknya dengan Ricky.
Tubuh mereka sangat dekat hingga hampir bersentuhan.
Ricky yang awalnya hanya ingin menggoda Deta merasa kewalahan oleh gairahnya sendiri. Berada di dekat Deta selalu membuatnya kehilangan akal sehat.
Jantung Ricky berdegup kencang. Ia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya.
'Astaga! Tubuh kami bahkan belum bersentuhan. Tenanglah, Adikku yang baik!' Batin Ricky.
Ia menatap sesuatu yang bereaksi di bagian bawah tubuhnya.
Sikap Ricky yang gelisah membuat Deta bingung. Ia segera menyentuh dahi Ricky.
"Kening Anda berkeringat, Pak." ucap Deta kemudian mengusap keringat di dahi Ricky.
Terdengar suara seseorang yang menahan tawa tak jauh dari tempat Deta dan Ricky duduk.
"Menjauhlah, Deta! Kamu membuat jantung Ricky berolahraga." Gelak tawa akhirnya keluar dari mulut Nino.
Sebenarnya, sejak tadi ia sudah memperhatikan tingkah temannya itu. Namun ia berusaha untuk tidak mengganggu kemesraan keduanya. Tapi melihat kepolosan Deta membuatnya tak tahan untuk menggoda Ricky.
"Anda terkena serangan jantung, Pak?" teriak Deta yang mengejutkan semua orang. Termasuk pak Firman dan bu Rika yang baru saja datang.
Apa????
***
Setelah kesalahpahaman tentang jantung Ricky terselesaikan, semua orang berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan siang mereka.
"Kenapa aku duduk di sini?" tanya Nino yang merasa tidak nyaman bersebelahan dengan Mika.
"Bukankah Anda sendiri yang ingin duduk di sana? Tak ada yang meminta Anda melakukannya." jawab Deta cuek.
__ADS_1
Awalnya semua orang menatap Deta tapi sedetik kemudian mereka tertawa.
"Kamu memang wanitaku." Ricky mengecup kening Deta.
Mendapat kecupan dadakan seperti itu menimbulkan rona merah di pipi chubby Deta.
Deta terkejut tapi ia terus menunduk tak berani menatap siapapun. Ia merasa apa yang dilakukan Ricky sangatlah tidak sopan.
"Pangeran, kenapa mencium Kakak tapi dia mencium aku?" tanya Dania yang duduk di antara Deta dan Ricky.
CUP.
Satu kecupan mendarat di puncak kepala Dania yang membuat gadis kecil itu tersenyum bahagia.
Mika yang sedari tadi terus memperhatikan Dania pun ikut tersenyum melihat kebahagiaan gadis kecil itu.
"Berapa usia Dania, Ta?" tanya Mika.
"Lima tahun." jawab Deta singkat.
Tiba-tiba Mika menjatuhkan sendoknya ke lantai. Tangannya terasa lemah seperti tidak memiliki kekuatan sedikitpun.
Ricky menatap Mika lekat bahkan tanpa berkedip. "Dania adalah adiknya Deta." ucap Ricky tegas.
Mendengar ucapan Ricky yang bernada penekanan membuat Mika tak berani memikirkan kemungkinan itu lagi.
"Aku tahu." lirih Mika.
Deta menatap Ricky yang terlihat tegang dan berganti menatap Mika yang terlihat sedih.
"Dania memang adikku. Tapi kamu bisa menganggapnya seperti adikmu sendiri." ucap Deta seraya meraih tangan Mika.
"Iya, Pak, tapi Mika boleh-"
"Tidak!"
***
"Kamu tahu sesuatu, Boy? " tanya pak Firman curiga.
Setelah makan siang, mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Deta, Mika, Dania dan bu Rika memilih untuk bersantai di halaman belakang.
Sedangkan Nino pergi keluar untuk melakukan rekaman lagu terbarunya.
Dan Ricky, sebenarnya ia ingin bersama dengan Deta. Tapi pak Firman membawanya ke ruangan yang rencananya akan menjadi ruang kerja Ricky.
Belum ada apapun di ruangan itu, hanya terdapat sebuah meja dan dua buah kursi disana.
"Tidak, Pa." jawab Ricky tanpa menatap ayahnya.
Ia sibuk mengawasi CCTV yang terhubung melalui ponselnya.
Pak Firman mengira jika Ricky sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia lantas menghampiri Ricky dan mengintip ponsel putranya itu.
Bukan pekerjaan atau apapun yang berhubungan dengan hal serius. Di layar ponsel itu justru menunjukkan apa yang sedang di lakukan oleh para wanita di halaman belakang.
Pak Firman berdecak. "Kamu mengintainya, Boy? "
Ricky menoleh dan melihat ayahnya yang begitu penasaran dengan ponselnya.
__ADS_1
"Aku hanya mencintainya, Pa," ungkap Ricky kemudian memeluk ayahnya.
Walaupun seorang pria dan sebagai penerus ayahnya. Ricky tidak pernah ragu menunjukkan kasih sayangnya kepada keluarganya.
Kekayaan tak menjadikan Ricky sebagai seorang tuan muda yang sombong. Karena didikan keras sang ayahlah yang membuatnya menghargai setiap hal yang ia miliki.
"Iya ... iya, Papa tahu." Pak Firman menepuk-nepuk bahu Ricky.
Ricky melepaskan pelukannya. "Pa ...," ragu Ricky untuk bicara.
"Katakan! Apa yang bisa Papa bantu?"
"Berjanjilah Papa tidak akan membiarkan siapapun mengganggu pernikahan Ricky dan Deta!" pinta Ricky.
Menyadari sesuatu telah terjadi, pak Firman menatap putranya.
"Berdirilah dengan tegak! Jangan pernah takut menghadapi dunia." ucap pak Firman penuh semangat.
"Ricky tahu, Pa, tapi jika Deta meninggalkan aku ...."
"Kamu tidak bisa hidup? Kamu akan mati?" tanya pak Firman dengan nada mengejek.
Bukannya menjawab, Ricky justru balik bertanya pada ayahnya. "Apa yang akan terjadi jika Mama meninggalkan Papa?"
Pak Firman berpikir sejenak, terlihat dari kerutan di keningnya.
"Papa akan kehilangan tempat berpijak." jawab pak Firman akhirnya.
Ricky tersenyum. "Itulah yang aku rasakan, Pa. Karena Deta aku menjalani hidupku yang sekarang. Menikmati semua kekayaan Papa. Jika Deta meninggalkan aku... mungkin aku akan kembali menjadi Ricky saja bukan Ricky Sanjaya."
***
"Jadi kapan Ricky akan melamar Deta, Tante?" tanya Mika antusias saat bu Rika membahas perihal acara lamaran.
"Semua tergantung Ricky saja." jawab bu Rika seraya tersenyum penuh bahagia.
Para wanita memang selalu suka membahas hal-hal yang penuh dengan romantika seperti ini. Sehingga membuat mereka terkadang larut dalam khayalan masing-masing.
"Kamu ingin gaun yang seperti apa, Ta?" Mika membentuk kotak dengan menggabungkan kedua tangannya seolah sedang membingkai tubuh Deta.
"Aku akan memakai apa saja." jawab Deta canggung.
Jangankan gaun untuk acara lamarannya. Deta bahkan masih memikirkan bagaimana keadaan orang tuanya.
Pembicaraan mereka terakhir kali berakhir dengan keributan yang membuat Deta berniat menolak lamaran Ricky.
'Apakah mama dan papa akan menerima lamaran pak Ricky?'
***
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian masih stay di sini ya dan menikmati ceritanya Deta dan bang Ricky 🥰
Sebelum baca jangan lupa like dan kalo boleh nih kalo boleh ya 😁 pleasse vote aku dong biar tambah semangat up nya🤭
Selesai baca jangan lupa juga tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar ya boleh apa aja ( saran, kritik atau ide cerita juga boleh tapi jangan membully ya 🙈)
Okeh ituh ajah 😁
I❤U readers kesayangan kuhh
__ADS_1