
Suara keriuhan mulai terdengar saat kelas usai. Terlihat Deta sedang terlibat percakapan yang cukup serius dengan Syafitri. Tanpa mereka sadari ada yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
"Ta, harusnya kamu berusaha agar bisa bertemu dengan anak bosmu itu!" Syafitri selalu berapi-api jika sudah menyangkut masalah Ricky Sanjaya.
"Untuk apa?" tanya Deta santai.
"Untuk di ceritakan padaku. Seberapa tampan dirinya? Seberapa keren dirinya? Aaiihh, aku sudah bisa membayangkan semua itu."
Syafitri menangkup kedua pipinya seraya terus tersenyum memikirkan hal yang tidak karuan.
"Kalo kamu sudah bisa membayangkannya, untuk apa lagi aku menceritakannya, Nona manis?" Deta tersenyum kaku dengan hidung yang sedikit di kerutkan.
"Memangnya kamu tidak penasaran seperti apa wajahnya?" tanya Syafitri sedikit menyelidik.
"Tidak."
"Bohong!!!" Syafitri yang tadinya berjalan di samping Deta tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Deta dengan kedua tangan di rentangkan. Menghalangi jalannya.
"Terserah. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting."
Deta sudah akan berbalik dan meninggalkan temannya itu. Tapi seseorang memanggilnya.
Karena terhalangi tubuh Syafitri, Deta tidak bisa melihat siapa yang memanggil namanya barusan.
Deta memiringkan sedikit kepalanya ke kiri untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
"Pak Angga?" gumam Deta terkejut.
Melihat keterkejutan Deta membuat Syafitri mengerutkan dahinya. Kemudian Syafitri berbalik untuk melihat ke arah Deta menatap .
"Itu 'kan pak guru tampan yang tadi. Mau apa dia?" Syafitri menutup mulutnya dengan kedua tangannya seraya melirik ke arah Deta.
Deta berdecak. "Mana aku tahu," Deta mengangkat bahunya acuh.
Terlihat seorang pria tampan sedang berjalan menuju ke arah Deta. Dengan garis wajah yang maskulin dan tatapan mata yang tajam. Serta tubuhnya yang proporsional membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Selamat sore. Bisa kita bicara sebentar?" Tatapan mata pria itu tak lepas dari Deta.
"Saya, Pak?" Deta meletakkan sebelah tangannya di dada. Untuk memastikan bahwa benar dirinyalah yang di maksud.
"Iya... mari!" Pria itu tersenyum kemudian merentangkan sebelah tangannya ke samping mempersilakan Deta berjalan lebih dulu.
"Maaf. Tunggu sebentar, Pak." Deta menatap Syafitri dan menaikkan kedua alisnya. Meminta pendapat Syafitri.
Syafitri yang mengerti lalu mengangguk dan melirik ke arah pria tadi kemudian menunjukkan kedua jempolnya.
'Astaga!!! Gadis ini pasti memikirkan hal yang tidak-tidak.'
Deta berjalan lebih dulu, di susul oleh pria tadi yang terus menebar senyum di setiap langkahnya.
Tiba-tiba Deta menghentikan langkahnya, membuat pria itu mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" tanyanya heran.
Deta berbalik dan menghampiri pria itu. "Maaf, Pak, Anda yang mengajak saya. Jadi, anda yang lebih tahu kemana kita akan pergi. Silahkan!"
__ADS_1
Deta menyingkir dan memberi jalan pada pria itu.
"Angga."
"Maaf, Pak?"
"Panggil saya Angga!" Angga berbisik di telinga Deta kemudian melangkah lebih dulu sesuai keinginan Deta.
***
Angga Pratama. Putra keluarga Pratama.
Seorang pria yang tegas dan penuh percaya diri. Tatapan matanya yang tajam menjadi daya tariknya tersendiri.
Kehidupan nya yang mewah membawanya terdampar di tempat ini. Ingin merasakan kehidupan kelas bawah.
Awalnya, Angga ragu untuk menerima tawaran temannya untuk mengelola tempat belajar miliknya.
Tapi tanpa di duga, hatinya sudah menetap di tempat itu saat melihat senyuman sehangat mentari.
Seorang gadis dengan mata bulatnya sedang tersenyum dan sesekali terlihat kesal kepada gadis di sebelahnya.
Itulah kali pertama Angga melihat Deta. Dan saat itu juga ia memutuskan untuk mengenalnya lebih jauh .
***
"Masuk!" Pinta Angga setelah membuka pintu mobilnya.
Deta sempat bingung saat Angga membawanya menuju parkiran. Tapi Deta tetap tak bersuara hingga Angga tiba-tiba membukakan pintu mobil untuknya.
'Aaiisshh. Bukankah ini adegan yang selalu ada dalam film? Apakah dia sedang berakting? Dimana kameranya?'
Melihat tingkah Deta membuat Angga semakin tak sabaran.
"Ehem ... apakah aku perlu menggendongmu?"
Pertanyaan Angga berhasil menarik perhatian Deta .
"Tidak. Terima kasih." tegas Deta.
Setelah menjawab , bukannya masuk ke dalam mobil. Deta justru menutup pintu mobil dan membuat Angga terkejut.
Angga terbelalak melihat ulah Deta yang di luar dugaannya.
"Jika anda ingin mengatakan sesuatu, silahkan katakan di sini! Hari ini ...." Deta menatap Angga dengan mata bulatnya yang jernih.
"Di sini?" tanya Angga tanpa memalingkan wajahnya dari mata bulat itu.
"Iya." jawab Deta yakin.
"Tapi aku lapar. Ayo, kita bicara sambil makan!" Angga mencoba membujuk Deta.
Angga kembali membuka pintu mobilnya, berharap kali ini Deta akan menurutinya. Jika tidak, maka harga diri Angga benar-benar jatuh di hadapan Deta.
"Maaf, Pak, hubungan kita tidak sedekat itu hingga bisa duduk satu meja untuk makan bersama."
__ADS_1
Mereka bertatapan cukup lama bagi Deta. Namun tidak dengan Angga. Rasanya ia ingin terus menatap mata itu.
"Sepertinya rasa lapar membuat Anda kehilangan kata-kata, Pak. Kalau tidak ada lagi yang ingin anda katakan. Saya permisi, pak. Selamat sore."
Deta menjauh meninggalkan Angga yang masih terpaku dengan penolakan Deta terhadap dirinya.
***
"Serius kamu nolak pak Angga?" Syafitri terus mengulangi pertanyaan nya dan membuat Deta bosan menjawabnya.
"Kenapa kamu tolak? Jawab Deta!" Syafitri mengguncang-guncangkan tubuh Deta.
"Ya ampun, Syafitri. Aku menceritakan semuanya kepada kamu agar aku lebih lega tapi kamu malah membuatku semakin pusing saja."
'Dasar gadis bodoh!!! Apa dia tidak menyadari bahwa dirinya sangat mempesona???
Setidaknya itu bisa merubah nasibnya.'
Syafitri membatin melihat tingkah Deta yang di anggapnya salah.
***
Pagi hari yang cukup sibuk di rumah besar Sanjaya. Semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan kecuali Ricky.
"Jagoan dimana, Ma? Sudah berangkat?" Pak Firman meminum kopinya sebelum mulai sarapan.
"Belum, Pa, Ricky belum keluar dari kamarnya sejak tadi." jawab bu Rika seraya menyerahkan sepotong roti yang telah di olesi selai.
"Ada angin apa anak itu belum berangkat sampai sesiang ini?" Refita melihat jam di tangannya untuk memastikan ucapannya.
"Entah. Akan Mama panggilkan, kalian sarapan duluan saja. "
***
Di dalam kamarnya, Ricky sudah menyiapkan "kejutan" untuk Deta.
"Baiklah gadis OCD, kita lihat apa yang akan kamu lakukan lagi di sini?" Ricky tertawa puas memandang kamar tidurnya.
"Gara-gara gadis itu aku harus rela sedikit terlambat ke kantor." gumam Ricky seraya terus menyiapkan "kejutannya" .
Ketukan lembut di pintu membuat Ricky menghentikan aktivitasnya. Ia segera mendekati pintu dan membukanya sedikit untuk melongokkan kepalanya.
"Kamu tidak ke kantor, Sayang?" tanya bu Rika khawatir .
"Sebentar lagi, Ma," jawab Ricky singkat dan hendak kembali menutup pintu kamarnya.
"Kamu sakit, Nak? " Bu Rika mengamati putranya dan menyentuh kening Ricky untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Tidak, Ma." Ricky langsung menutup pintu sebelum ibunya curiga.
Hallo semua 🤗
Selamat menduga - duga apa kejutan bang Ricky untuk Deta 🤭
Maaf ya jadwal up nya masih berantakan 🙏
__ADS_1
Masih mencoba mengatur jadwal 😁
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣