
"Jadi? Apakah kamu bersedia menikah denganku?" tanya Ricky.
Ia tiba-tiba berlutut dan membungkuk di hadapan Deta dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda dari saku celananya.
Ricky membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin yang sangat indah.
Cincin dengan desain yang sangat sederhana namun terlihat sangat istimewa dan juga berkelas.
Hanya ada satu berlian kecil di tengah-tengah cincin itu yang membuatnya jadi terlihat manis.
"Jangan menolaknya! Aku sudah mengukir nama kita berdua di sini." Ricky mengeluarkan cincin itu dari kotaknya dan memperlihatkan namanya dan Deta yang terukir rapih di sisi dalam cincin.
Deta terdiam. Ia bingung harus berkata apa.
"Kenapa kamu diam?" tanya Ricky.
Deta hanya mematung dan menatap Ricky yang masih berlutut di depannya.
"Hei, katakanlah sesuatu!" teriak Ricky.
"Saya sangat terkejut, Pak," jawab Deta.
"Aku tahu." Ricky menghela nafas. "Maksudku adalah apakah kamu menerimanya?"
Deta menatap Ricky sesaat kemudian beralih menatap Dania yang terlihat sangat bahagia.
"Baiklah," jawab Deta akhirnya.
"Apa?"
"Iya, saya bersedia, Pak."
"Bersedia apa?"
"Ya sudah tidak jadi." Deta sudah akan berdiri namun Ricky menahannya.
Ricky meletakkan kepalanya di kaki Deta dan bermanja seperti seorang anak kepada ibunya.
"Kenapa kamu ingin selalu menjauhiku?" lirih Ricky bertanya.
"Apa ... maksud Anda, Pak?" tanya Deta bingung.
Ricky mengangkat kepalanya dan mendongak menatap Deta yang sedang menunduk memperhatikannya. Pandangan mereka bertemu dan saling melemparkan tatapan penuh cinta.
Namun, entah apa yang mereka tunggu. Tak satupun dari mereka yang mencoba untuk mengungkapkan perasaannya.
Aku sangat mencintaimu, Detaku sayang. Batin Ricky.
Saya mencintai anda pak Ricky. Batin Deta.
Hembusan angin membawa pesan yang tertulis di mata Deta dan Ricky lalu membisikkannya pada daun-daun yang berguguran.
***
__ADS_1
Nino tergesa-gesa berjalan keluar dari apartemen mewah milik Angga.
"Sial! Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Mereka berdua memang suka menyiksaku." umpat Nino.
Ia setengah berlari saat akan memasuki lift. Begitu pintu lift terbuka, ia sangat terkejut melihat seseorang yang ia kenal.
"Mika?"
***
"Apa yang membawamu kesini?" Nino mengaduk secangkir kopi yang sebelumnya ia pesan.
Mika membawa Nino ke cafe yang berada di lobby apartemen dan berharap bisa bicara secara baik-baik dengan pria itu.
"Aku ingin meminta bantuanmu."
"Aku bukan regu penyelamat!"
Mika menghela nafas. Ia tahu akan seperti ini karena ia cukup mengenal sifat Nino dengan baik.
"Kalau begitu, tolong pertemukan aku dengan Angga."
Nino menatap wajah Mika. Wanita yang dulu pernah sangat penting dalam hidupnya.
Seketika, kenangan manis berkelebatan dalam ingatan Nino namun segera berganti dengan kenangan buruk yang di berikan oleh wanita itu.
"Kenapa tidak kamu temui sendiri!" Nino berusaha bersikap dingin pada Mika.
"Sudah kucoba. Tapi Angga mengatakan jika dia sudah mencintai wanita lain." jawab Mika lirih.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu padanya. Agar aku bisa tenang-" Kalimat Mika menggantung karena Nino tiba-tiba menyela.
"Kamu akan mati?" sela Nino.
Mika menatap Nino heran kemudian menggeleng.
Nino menghela nafas. "Lalu, kenapa kamu berkata ingin tenang? Membuat kaget saja."
"Aku hanya ingin bicara padanya dan menjelaskan tentang kepergianku. Apakah aku harus mati dulu untuk bisa melakukan semua itu?" ungkap Mika kesal.
Nino mendengus.
"Mungkin. Coba saja!"
***
Suara bel rumah terdengar cukup keras dan membuat bu Sri meninggalkan Dania yang sedang bermain untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi, Tuan. Anda ingin bertemu dengan siapa?" Bu Sri tersenyum dan mengangguk sopan.
"Ricky." jawab Nino singkat.
"Baiklah, sebentar, Tuan. Silahkan duduk." Bu Sri mempersilahkan masuk kepada Nino dan wanita di sampingnya yang tidak lain adalah Mika.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Ricky datang bersama Deta. Ia terlihat sangat bahagia dan tangannya terus saja menggenggam tangan Deta.
Begitu melihat Ricky muncul, Nino bersiap untuk meledakkan emosinya. Tapi dengan cepat ia mengurungkan niatnya ketika melihat seorang gadis manis berjalan bersama Ricky.
"Deta?" Tiba-tiba Mika berdiri dan langsung memeluk Deta.
Nino terlihat sangat kebingungan melihat kedekatan Mika dengan gadis itu.
Siapa namanya tadi? Deta? Batin Nino. "Shiitt, apakah dia gadis yang di sukai oleh Angga juga?" gumam Nino.
Ia terus menatap tajam Ricky yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Apakah kalian langsung berbulan madu?" Nino bertanya tanpa basa-basi.
"Hahaha ... Kamu pikir aku semesum itu!" jawab Ricky santai.
"Lalu apa yang dilakukan oleh gadis itu di sini? Bukankah kalian akan melangsungkan acara lamaran hari ini?" Nino bertanya dengan nafas menggebu-gebu karena memendam kekesalannya.
"Ada hal yang harus kami selesaikan. Tapi, lupakanlah! Bagaimana kamu tahu aku ada disini?" tanya Ricky heran.
"Aku tidak bisa menghubungi ponselmu. Jadi, aku menghubungi Gibran dan menanyakan keberadaanmu." Mata Nino masih terus menatap Deta yang sedang berbicara dengan Mika.
"Berapa usianya, brother? " tanya Nino tiba-tiba.
"Kita tumbuh bersama. Tentunya kamu masih ingat umurmu sendiri, kan?" ketus Ricky.
"Tentu saja! Tapi yang kumaksud adalah gadis itu. Siapa namanya tadi?" Nino terlihat berpikir dan mengingat-ingat nama gadis yang akan di nikahi oleh Ricky.
"Deta." ucap Ricky.
"Ah, iya. Deta." Nino tersenyum puas.
"21 tahun." jawab Ricky.
"Astaga! Benarkah? Dia terlihat masih seperti berusia belasan." Nino terkekeh.
"Dia itu memiliki baby face. Tidak sepertimu, oppah(kakek) face."
What???
***
NINO FERDINAN (24 tahun)
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya Deta sama bang Ricky ya 🥰
Dukung aku dong dengan meninggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like👍, comment, rate dan juga vote 🤭 pleasseee
Biar aku tambah semangat up nya setiap hari karena aku sayang kalian 💕
__ADS_1
I❤U readers kesayangan kuuhh 😘