
"Sudah selesai?" Ricky menatap Deta yang baru keluar dari kamarnya.
Deta mengangguk dan berjalan menuju dapur untuk berpamitan pada bu Sarah.
"Ma, Deta berangkat, ya!" Deta menghampiri ibunya yang sedang merapihkan dagangan.
"Iya, Kak," Bu Sarah menoleh. "Ehmm ... Kak?"
"Iya, Ma?"
"Jadi kekasih Kakak itu Ricky bukan Angga?" tanya bu Sarah hati-hati.
Deta tersenyum.
"Kira-kira Mama lebih suka pak Ricky atau pak Angga yang jadi menantu Mama?"
Bu Sarah mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud dari ucapan putri sulungnya itu.
"Mama saja bingung. Apalagi aku?? Hihihi ...." Deta terkikik seraya berjalan ke ruang tamu.
"Apa yang begitu lucu sampai membuatmu terlihat semakin menggemaskan seperti itu?" Ricky sudah berdiri dan memasukkan ponselnya ke saku jaket.
Sepertinya Ricky baru saja menghubungi seseorang dan tidak ingin Deta mengetahuinya.
'Pasti habis telepon dengan wanita yang bernama Mika itu!!!' pikir Deta.
Deta enggan menjawab pertanyaan Ricky dan terus berjalan tanpa menggubrisnya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Ricky menahan lengan Deta.
Deta menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Ricky yang terlihat kebingungan dengan sikap Deta.
Deta melepaskan tangan Ricky yang memegang tangannya. "Jika anda sibuk, Pak, anda tidak perlu datang kesini. Anda boleh pergi sekarang,"
"Aku tidak sibuk."
Tiba-tiba Ricky menyadari sesuatu. "Oh, my god, apakah kamu berpikir aku sedang sibuk karena aku baru saja menghubungi seseorang?"
Deta mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah karena malu sikap posesifnya muncul dan tidak pada tempatnya.
"Baiklah, tatap aku!"Ricky menyentuh dagu Deta dan membuat Deta menatapnya.
"Aku baru saja menghubungi bu Sri untuk menyiapkan segalanya sebelum kita menempati rumah itu." jelas Ricky beralasan.
Sebenarnya Ricky tidak sepenuhnya berbohong. Ia tadi memang menghubungi bu Sri sebelum menghubungi asistennya tepat sebelum Deta datang.
Deta mendengus, ia tak ingin mempercayai apa yang di ucapkan oleh Ricky.
"Siapa yang akan pindah, Kak?" Suara pak Danang yang berdiri di ambang pintu membuat Deta dan Ricky menoleh bersamaan.
Ricky tersenyum sopan dan menghampiri pak Danang.
"Selamat pagi, Pak, saya Ricky -"
"Teman Deta, Pa," Deta menyambar kalimat Ricky.
Ricky menatap heran Deta yang sedang tersenyum aneh dan menaik turunkan alis matanya.
'Apa lagi yang di inginkan gadis ini?' Batin Ricky bingung.
Namun, akhirnya Ricky memilih untuk mengikuti permainan Deta.
Pak Danang mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Ricky.
"Saya Danang, ayahnya Deta."
"SAH!!!" teriak Dania yang tiba-tiba muncul di belakang Deta dan mengejutkan semua orang.
Apa????
***
__ADS_1
"Turunlah!!!"
"Tidak mau!"
"Kenapa?"
"Saya sudah bilang ingin turun di luar gerbang. Bukannya di dalam gerbang seperti ini," keluh Deta.
Mobil Ricky sudah terparkir di depan sebuah ruko tempat Deta belajar.
"Memangnya kenapa kalau kamu turun disini? Apakah si Angga itu juga ada di sini?" Ricky memicingkan matanya.
'Benar!!! Pak Angga memang ada di sini.' sungut Deta dalam hati.
"Tidak, Pak, bukan begitu. Kalau anda mengantarkan saya sampai sini, anda jadi harus membayar biaya parkir 'kan, Pak? Hehehe ...," Lagi-lagi Deta memijat-mijat tangannya karena gugup dan sedang berbohong.
Ricky yang menyadari hal itu tiba-tiba saja tertawa dan membuat Deta merasa semakin gugup. "Apa kamu pikir aku tidak mampu membayar uang parkir di sini?"
Deta menggeleng seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
"Bukan begitu, Pak, tentu anda mampu." Deta memaksakan senyumnya.
"Kalau begitu bagaimana kalau sebaiknya aku beli saja tempat ini untukmu? Agar aku bisa lebih mudah mengawasimu." Ricky menekankan kata terakhirnya.
"Lakukan yang anda inginkan, Pak." Deta membuka pintu dan melangkah keluar dari mobil. Ia sudah kehabisan tenaga karena terus memperdebatkan hal-hal yang tidak penting dengan Ricky.
Ricky segera menyusul Deta. "De, tunggu!!!"
"Deta, Pak, tolong panggil nama saya dengan lengkap!" tegas Deta.
Deta melupakan peringatan Ricky dan memajukan bibirnya karena kesal.
Bukannya menjawab, Ricky justru merengkuh pinggang Deta dan mendekatkan tubuh mereka berdua.
Beruntung, suasana di sana masih sepi sehingga Deta tidak harus menjadi tontonan banyak orang.
Deta mencoba mendorong Ricky dan melepaskan tangannya dari pinggang Deta.
"Baiklah. Aku akan melepaskanmu tapi panggil aku dengan namaku saja!"
"Tidak, Pak, itu sangat tidak sopan."
'Dia bahkan masih bisa berdebat saat posisinya sudah terdesak seperti ini!' Ricky terus menatap Deta yang tetap terlihat tenang walau tubuhnya meronta.
"Mas Ricky?" Ricky berbisik di telinga Deta.
'Sepertinya aku harus mengalah kali ini.' Deta mencoba berkompromi dengan hatinya.
"Mas Ricky!!!" Deta menjerit tepat di telinga Ricky.
Sontak saja Ricky melepaskan kaitan tangannya dari tubuh Deta dan mengusap-usap telinganya.
"Kamu mengujiku, ya?"
Ricky memutar tubuh Deta dan mendorongnya hingga menempel ke mobil.
Mata bulat Deta seperti menghipnotis Ricky dan membuatnya lupa diri.
Ricky sudah akan mencium Deta hingga terdengar seseorang mendekat dan memanggil Deta.
Segera Deta mendorong Ricky yang mengumpat karena mendapat gangguan.
Ternyata Syafitri yang memanggilnya. Tidak seperti biasanya, ia berjalan dengan seorang pria.
'Siapa pria itu???'
Pikiran yang sama yang ada di kepala Deta dan Syafitri.
Syafitri berjalan mendekat dengan pria di sampingnya.
"Ricky!!!"
__ADS_1
"Jerry!!!"
Kedua pria itu saling menunjuk dan berpelukan.
Baik Deta maupun Syafitri hanya diam mematung melihat kedua pria itu yang ternyata saling mengenal.
"Jadi? Gadis ini yang mau kamu lamar? heh?" Jerry meninju pelan dada Ricky.
"Iya," Ricky menarik tangan Deta dan merangkulnya.
'Benar. Dia gadisnya!' Batin Ricky.
'Melamar atau memaksa?' umpatan Deta di hatinya.
Ricky dan Deta menoleh bersamaan dan membuat pandangan mereka bertemu.
"Hallllooooo ...." Jerry menjentik-jentikkan jarinya.
Deta segera memalingkan wajahnya yang memerah.
"Ada apa?" ketus Ricky.
"Tidak ingin memperkenalkan dia padaku?"Jerry tersenyum nakal.
" Tidak! Dia milikku." Tiba-tiba Ricky mengecup kening Deta.
Syafitri yang sedari tadi kebingungan mulai histeris dengan adegan yang terjadi di depannya.
"Aaaarrrrrrggghh ... apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba punya kekasih? Katakan, Deta!" Tubuh Deta di guncang-guncangkan oleh Syafitri.
"Aku bukan kekasihnya." ucapan Ricky menghentikan apa yang di lakukan oleh Syafitri.
"Tapi aku calon suaminya!"
***
Begitu situasi semakin memanas dan tidak terkendali. Ricky mendapat panggilan dari asistennya sehingga harus meninggalkan Deta bersama rasa penasaran Jerry dan Syafitri.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang saya inginkan?" Ricky menatap Gibran, asisten pribadinya.
"Semuanya ada di dalam, Pak," Gibran menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat yang berukuran cukup besar.
Ricky membukanya dan membaca semua hal yang tertera di sana dengan hati-hati karena tidak ingin ada yang terlewatkan.
Terdengar Ricky menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jadi Dania itu bukan putri kandung nyonya Riady?"
"Betul, Pak, nona Dania adalah anak dari hasil hubungan gelap Danang Riady dengan seorang wanita berdarah Tionghoa." jelas Gibran.
'Jadi itu sebabnya wajah Dania berbeda dengan Deta dan Dito.' Ricky mengangguk pelan.
"Lalu, bagaimana Dania bisa di terima di sana?"
"Belum di terima, Pak, hingga saat ini. Kecuali oleh nona Deta dan pak Danang tentunya."
"Deta?" Ricky menaikkan sebelah alisnya.
"Betul, Pak, nona Deta merasa berhutang nyawa pada nona Dania."
Hutang nyawa????
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa ya tinggalkan jejak 👣 kalian di sini berupa like👍, comment, rate and vote tentunya🤭
Aku sayang kalian semua yang sudah ikut nyemplung ke dunianya Deta dan bang Ricky 😘
Yang belum nyemplung....
Di tunggu yaaaaaaa 🤗
__ADS_1