
"Nona!!!" teriak Gibran ketika Dania berjalan mendahuluinya.
"Tinggalkan Dania, Tuan Gibran! Dania ingin sendiri." jawab Dania, ia sempat menoleh sekilas sebelum kembali berjalan menjauh.
"Don't wolly, Uncle! Aunty will be fine. (Jangan khawatir, Paman! Bibi akan baik-baik saja.)" celetuk Rayyan, ia menyadari kegelisahan Gibran.
"Tapi ibumu memintaku untuk menjaganya," ucap Gibran memelas.
Rayyan terkekeh mendengar ucapan Gibran. "No, Uncle! Mommy hanya ingin Uncle membawa pelgi kami agal kami tidak listen what mommy said with them."
Awalnya Gibran mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan Rayyan yang campur aduk seperti itu, tapi sedetik kemudian ia menyadari bahwa bocah tampan itu mengerti situasi yang sedang terjadi dengan orang tuanya.
"Kamu sangat pintar!" puji Gibran seraya mengusap puncak kepala Rayyan.
"Of course!" jawab Rayyan, menyombongkan diri.
***
Sementara, di apartemen Angga ketegangan masih terjadi ketika Ricky terus saja memeluk Deta. Ia bahkan tak memperdulikan tatapan tajam Angga padanya.
"Lepaskan aku!" bentak Deta, tubuhnya meronta agar Ricky mau melepaskannya.
"Jika kamu sudah tenang," jawab Ricky santai.
"Baiklah," ucap Deta seraya menarik nafas panjang, mencoba untuk menenangkan pikirannya.
Nafas Deta yang teratur membuat Ricky yakin untuk melepaskan pelukannya, tapi ia tak mau berjauhan dari Deta.
"Bisakah aku bertanya, apa yang membuatmu datang kesini?" tanya Deta datar, matanya tak lepas dari sosok Mika yang kini diam membisu di hadapannya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan merusak rumah tanggamu dengan Angga. Aku hanya ingin -"
"Jangan pernah memikirkan hal lain! Aku justru lebih senang jika kamu mengatakan kedatanganmu adalah untuk merebut posisiku sebagai istrinya Angga, tapi jika kamu datang untuk menggantikan aku menjadi ibunya Rayyan ... aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu inginkan!" sela Deta, ia tak mengizinkan Mika menyelesaikan ucapannya.
"Tujuanku hanya satu, Deta, aku ingin hidup bersama putraku." Air mata kembali membasahi wajah cantik Mika.
"Bolehkah aku tahu, apa yang membuatmu ingin hidup bersama putramu? Bukankah kamu yang telah memberikan Rayyan kepada Angga? Kamu tidak ingin mengurusnya, kan?" sindir Deta, wajah polosnya sudah pergi entah kemana.
Tiba-tiba Mika berlutut di kaki Deta dan membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bahkan Deta sendiri nyaris memundurkan tubuhnya agar tidak tersentuh Mika.
__ADS_1
"Kamu boleh menghukumku atas apa yang telah aku lakukan di masa lalu, tapi biarkan aku hidup bersama putraku. Dan biarkan dia mengetahui siapa ibu kandungnya." Tangan Mika menyentuh ujung sepatu Deta dan membuat Deta tidak nyaman.
"Jangan bersandiwara di depan kakakku!" bentak Dito, dengan kasar ia mendorong tubuh Mika agar menjauh dari Deta.
Dorongan Dito yang begitu kuat membuat tubuh kecil Mika terjungkal dan membentur kaki Angga. Pria dingin itu menunduk dan melihat wanita yang ia cintai kini sudah benar-benar tidak memiliki harga diri serta kehormatan.
"Dek!!!" teriak Deta, kesal dengan tingkah adiknya yang tidak bisa mengendalikan emosi.
"Kenapa, Kak? Aku hanya memberikan sedikit peringatan padanya agar tidak menyepelekan Kakak lagi ke depannya." hardik Dito, matanya masih menatap Mika yang sedang mengusap tubuhnya yang terasa nyeri akibat di dorong Dito.
Walaupun enggan, Deta tetap membantu Mika untuk berdiri dan mengesampingkan kemarahannya.
"Kamu lihat sendiri, Mika? Tidak ada yang ingin memberikan kesempatan padamu." sindir Deta, kata-katanya begitu menelusup di hati Mikayla.
Mika tersenyum getir. "Aku tahu, kamu tidak sejahat itu."
***
Di sebuah taman, Dania terus menangis tanpa henti. Air matanya begitu deras mengalir bersamaan dengan isak tangisnya yang begitu memilukan.
Dania tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari kejauhan sejak tadi.
Kegelisahan mulai menyelimuti hati orang itu, isak tangis Dania begitu memekakkan telinganya hingga rasanya ia sendiri ingin menangis.
"Ah, shit!!!" gerutu orang itu, kemudian melayangkan tinju ke pohon yang sedari tadi membantunya bersembunyi.
Dengan pertimbangan yang cukup alot, akhirnya orang itu memberanikan diri untuk melangkah dan mendekati Dania yang masih melanjutkan tangisnya.
"Kalau menangis seperti ini, kamu jadi terlihat seperti anak kecil!" ejek orang itu, ketika ia sudah duduk di samping Dania.
Mata sipit Dania membulat sempurna ketika menangkap sosok yang kini ada di sampingnya. "Om pedofil!!!"
"Husstt ...," Nino menempatkan telunjuknya di bibir. "Aku bukan pedofil!"
Dania tak mau ambil pusing, ia lantas berpaling dan menatap nanar ke depan.
'Syukurlah, setidaknya dia berhenti menangis sebelum matanya itu benar-benar hilang.' batin Nino. "Aku tahu, rasanya pasti sangat menyakitkan. Tapi kamu harus tahu, bahwa kamu beruntung memiliki Deta dalam hidupmu." ucap Nino.
Ucapan Nino membuat Dania menyadari sesuatu. "Apa Om juga tahu cerita tentang hidupku?"
__ADS_1
Nino menghela nafas. "Semuanya!"
***
Suasana di apartemen Angga kini terbagi menjadi dua kubu, karena Deta akhirnya menyerah dan memilih untuk menyerahkan Rayyan pada Mikayla.
"Kamu gila, Deta!" bentak Angga, ia melupakan pengorbanan Deta selama ini untuk menjadi ibu dari putranya.
"Hati-hati dengan bicaramu, Ga!" hardik Ricky, ia tak terima Deta di perlakukan seperti itu oleh Angga.
"Jangan ikut campur, Ky! Ini urusan rumah tanggaku dengan Deta, istriku!" tegas Angga, sorot matanya begitu menantang Ricky.
Hampir saja Ricky melayangkan tinjunya, jika Dito tidak menahan tangannya. "Kendalikan dirimu, Kak Ricky!"
Memahami sorot mata Dito, Ricky pun akhirnya menyerah dan mengendurkan tangannya hingga Dito pun bersedia untuk melepaskannya.
Deta mendengus kesal melihat perkelahian di antara kedua pria itu ,yang lagi-lagi di sebabkan karena dirinya.
"Jika kalian ingin bertarung, pergilah ke ring tinju. Disini, aku dan Mika sedang membicarakan masa depan Rayyan." sungut Deta kesal.
"Maaf!" ucap Ricky dan Angga bersamaan.
Melihat hal itu, senyuman hangat menghiasi wajah Mika.
'Aku sudah lama tidak melihat kalian kompak seperti itu.' batin Mika, matanya tak lepas memandangi sosok Ricky dan Angga.
"Baiklah, Mika! Berikan aku satu alasan agar bisa membuatku yakin untuk menyerahkan Rayyan padamu!" pinta Deta. "Jangan katakan bahwa kamu yang telah melahirkannya!" tegas Deta kemudian.
Mika tertunduk dalam, ia tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia berikan agar Deta mempercayainya.
"Aku menyesal telah melewatkan waktu berhargaku bersama putraku karena ketamakkanku di masa lalu, tapi kini aku ingin membahagiakan putraku dan memberikan apa yang selama ini tidak bisa aku lakukan." lirih Mika, sorot matanya menaruh begitu banyak harapan. "Bisakah aku mendapatkan kesempatan itu, Deta?" tanyanya.
"Rayyan yang akan menentukannya!"
Hallo semuanya ๐ค
Kamis manis waktunya Deta dan bang Ricky berbagi kisah tragis ๐คญ eh, manis๐
Jangan lupa di tap jempolnya ๐ dan tinggalkan jejak ๐ฃ๐ฃ kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga 'ya ๐ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐
__ADS_1
I โค U readers kesayangan kuhh