Poros Jodoh

Poros Jodoh
AKUI AKU


__ADS_3

Ricky terus tersenyum selama mengemudi begitu Deta duduk di sampingnya.


Mobil Ricky terus melaju dan memasuki sebuah kawasan perumahan elite.


Rumah-rumah besar berjajar di sepanjang jalan, baik Deta maupun Dania terlihat sangat takjub.


"Kakak, lihat! Ada banyak istana di sini." Dania menempelkan jari tangannya pada jendela mobil.


Deta hanya tersenyum melihat tingkah Dania.


"Menurutmu, istana mana yang paling indah, Tuan putri?" Ricky bertanya seraya menoleh kepada Dania.


"Semuanya indah," Dania tersenyum senang.


Saat Dania sedang menghitung semua rumah yang mereka lewati, tiba-tiba saja mobil Ricky berhenti di depan rumah paling besar.


Ricky membunyikan klakson dan pintu gerbang rumah itu langsung terbuka secara otomatis.


"Rumah siapa ini, Pak?"Deta menoleh kepada Ricky yang di jawab dengan senyuman.


Ricky dan Deta keluar dari mobil bersamaan, kemudian Ricky bergerak untuk membuka pintu mobil bagian belakang.


"Silahkan, Tuan putri, selamat datang di istana kita." Ricky mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh tangan Dania.


'Gadis kecil ini bahkan jauh lebih hangat dari kakaknya.' Ricky melirik Deta yang terlihat sangat senang melihat adiknya tersenyum seperti itu.


"Apakah ini istana kita, Pangeran?" Dania dengan suara kecilnya bertanya pada Ricky yang sedang menggandeng tangannya.


"Tepat sekali, Tuan putri." Mereka berdua tertawa bersama.


Sedangkan Deta yang mengikuti di belakang hanya menatap nanar adiknya.


Mereka memasuki sebuah rumah yang sangat besar bahkan lebih besar dari rumah keluarga Sanjaya.


Rumah bergaya Eropa yang di dominasi warna putih ini memang terlihat seperti sebuah istana dalam negeri dongeng.


Ada sebuah kolam renang yang cukup besar di bagian samping rumah, dan ada taman yang indah di halaman depan juga di halaman belakang rumah.


Pintu gerbang di sini di buat sangat tinggi sehingga dapat menghalangi pandangan dari luar.


Berbeda dengan rumah Sanjaya yang sepi tanpa pelayan, di rumah ini terdapat beberapa pelayan yang sudah berbaris untuk menyambut kedatangan sang pemilik rumah.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya," sapa seorang pelayan wanita yang kelihatannya adalah kepala pelayan disini.


"Oh, maaf, saya bukan ...," Deta melambaikan tangannya untuk menolak, tapi Ricky langsung menggenggam tangan Deta dan menciumnya.


"Ini Nyonya kalian, dan ini ...," Ricky menggendong Dania. "Gadis cantik ini adalah Nona muda rumah ini."

__ADS_1


Dania menatap Ricky dan tersenyum kemudian mencium pipi Ricky.


Deta yang terkejut dengan sikap Dania hanya bisa menganga tidak percaya.


'Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Seseorang, tolong jelaskan padaku!!!'


***


"Ma, apa Mama tahu Ricky membeli sebuah rumah?" Pak Firman yang baru saja sampai di rumah langsung bertanya pada istrinya.


"Apa, Pa? Ricky beli rumah?" Refita tiba-tiba sudah ada di belakang pak Firman.


"Iya, asistennya baru saja melaporkan hal itu pada Papa." jelas pak Firman.


"Astaga! Baru saja beberapa hari jadi wakil direktur, anak nakal itu sudah membeli rumah. Cek... cek... cek ...." Refita bergabung di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.


"Kenapa kalian terkejut? Bukankah ini yang kalian inginkan selama ini? Sekarang Ricky sedang menikmati kekayaan Papa yang selama ini selalu di sodorkan padanya, maka biarkanlah!" Bu Rika bersikap tenang.


"Tapi, Ma ...."


"Papa, selama ini kita sudah mendidiknya menjadi pria yang bertanggung jawab, bahkan Papa tidak pernah memanjakannya sedikit pun. Jadi Mama yakin apa yang Ricky lakukan kali ini pasti sudah dia pikirkan baik-baik."


Pak Firman dan Refita saling berpandangan kemudian mengangkat bahu mereka bersamaan.


***


Selama ini, gadis kecil itu tidak pernah sebahagia hari ini.


'Terima kasih, pak Ricky.' Deta tersenyum dalam hatinya.


"Nyonya, makanan sudah siap. Jika anda ingin makan di sini. Kami akan segera menyiapkannya." tanya bu Sri sopan.


Bu Sri adalah kepala pelayan di rumah besar ini, perawakannya yang tinggi besar dan sikapnya yang tegas membuat Deta sedikit segan kepadanya.


"Tidak perlu, Bu, kami akan ke ruang makan."


"Baiklah, Nyonya," Bu Sri sudah berbalik. Namun, Deta menghentikannya.


"Tolong jangan panggil saya Nyonya, Bu,"


"Maaf, Nyonya, itu adalah perintah Tuan." Mata bu Sri tertuju kepada Ricky yang sedang berjalan mendekat.


"Tapi saya belum menikah dengannya, Bu,"


"Memang belum, tapi akan. Benar begitu, Nyonya?"


***

__ADS_1


"Pak, bisa kita bicara?"


Deta mencoba memberanikan diri untuk mengajak Ricky berbicara berdua setelah mereka selesai makan.


"Bu Sri, tolong bawa nona muda bermain dan jangan sampai dia terluka." Ricky memberi perintah kepada bu Sri yang sedang berdiri tak jauh dari meja makan.


"Baik, Tuan," Bu Sri mengangguk sopan dan menuntun Dania untuk bermain di luar.


"Katakan!" Ricky beralih menatap Deta begitu bu Sri dan Dania sudah menjauh.


"Kenapa anda melakukan semua ini, Pak? Tolong jangan membuat lelucon seperti ini! Jika anda melakukan semua ini untuk membahagiakan Dania, saya sungguh-sungguh berterima kasih pada Anda. Tapi tolong, hentikan ini sekarang!" Deta menatap Ricky yang balas menatapnya.


"Kenapa matamu itu hanya berani menatapku saat di liputi oleh amarah?" Ricky mencoba membaca tatapan mata Deta.


'Pria menyebalkan!!! Dia selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan.' Deta menggerak-gerakkan bola matanya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan tentang aku? Apakah kamu sedang memaki aku dalam hatimu sekarang?" Ricky tersenyum sinis.


"Dengarkan ini baik-baik! Aku membeli rumah ini untukmu, sebagai bukti apa yang aku katakan padamu pagi ini saat di rumah kak Fita. Aku tidak pernah bermain-main. Setelah ini, aku akan membawamu menemui keluargaku."


Deta kesulitan untuk mencerna setiap kata yang di ucapkan Ricky karena hatinya selalu menolak semua itu.


"Aku akan menikahimu!"


Seketika kata-kata yang di bisikkan Ricky kembali terngiang di telinga Deta.


"Pembohong!" Deta bergumam seraya berdiri dan hendak menyusul Dania.


Namun, tangan Ricky dengan cepat menahan tangannya. Di tariknya tangan Deta dan membuat tubuh mungil Deta terduduk di pangkuannya.


Mereka saling berpandangan cukup lama, hingga Deta memalingkan wajahnya dan berusaha untuk turun dari pangkuan Ricky.


"Cih!!! Bisakah kamu tenang sedikit?Jangan paksa aku menjadi orang lain seperti ini!"


Deta mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan penuturan Ricky.


"Kenapa kamu harus selalu di perintah dan di teriaki baru kamu bisa menjadi gadis penurut? Aku tidak suka memperlakukan kamu seperti itu. Aku ingin kamu datang sendiri padaku tanpa paksaan. Bisakah?"


"Datang pada orang yang selalu menyembunyikan saya? Yang takut dunia akan mengejeknya karena berada di sisi saya? Tidak, Pak! Saya hanya akan datang pada seseorang yang bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya adalah gadis yang ia cintai."


Hallo semuanya 🤗


Semoga kalian suka ceritanya🥰


Dukung aku terus ya dengan meninggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like, comment dan vote 🤗


Makasih yang buaaanyaaakkk buat kalian😘😍

__ADS_1


__ADS_2