
Ricky memacu mobilnya membelah jalanan. Ia teringat perkataan Mika tadi di telepon yang membuatnya harus meninggalkan Deta.
"Angga sudah punya wanita lain, Ky."
"Siapa wanita yang di maksud Mika? Kenapa aku tidak tahu?" Ricky bergumam sembari menelusuri ingatannya tentang Angga beberapa bulan terakhir ini.
"Mungkin Nino tahu sesuatu." Ricky meraih ponselnya untuk menghubungi Nino.
Tut... tut...
"Hallo, Brother?" jawab Nino di seberang panggilan.
"Dimana, No?"
"Apartement Angga. Datanglah! Kami tunggu!"
Nino memutuskan panggilannya. Segera Ricky melaju menuju tempat yang di maksud oleh Nino.
***
"Kak, darimana saja tadi? Kenapa lama sekali?"
Bu Sarah bertanya pada Deta yang sedang merapihkan buku-bukunya untuk di bawa ke tempat belajar besok.
Deta menoleh kepada ibunya dan menghela nafas dalam.
'Haruskah kukatakan pada mama bahwa pak Ricky ingin menikahiku?' Batin Deta bimbang.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Deta langsung duduk di samping bu Sarah yang sudah menunggunya untuk bercerita.
Deta menatap wajah ibunya dalam-dalam. Wajah yang dulu selalu di penuhi dengan tawa dan senyuman. Yang selalu sempurna dengan polesan make up yang sesuai.
Namun, kini wajah ibunya terlihat sangat berbeda. Ada banyak kesedihan di matanya. Senyumnya perlahan menghilang walau kadang datang karena di paksakan.
'Apakah keinginanku untuk tetap membuat keluargaku utuh telah menyiksa mereka?' Deta merenung seraya mengusap tangan lembut ibunya.
Lagi-lagi air di mata Deta datang tanpa permisi. Mengalir dengan sembarangan tanpa meminta izinnya.
Bu Sarah yang melihat hal itu langsung merasa khawatir. "Kak? Kenapa? Ada apa?Apakah Ricky melakukan sesuatu yang buruk pada Kakak?"
Deta tersenyum di sela air matanya, ternyata ibunya telah salah mengartikan air matanya.
"Tidak, Ma, pak Ricky itu pria yang baik. Mama tanyakan saja pada Dania."
'Yaaa walau dia suka sekali mencicipi bibirku!!!' Batin Deta.
"Baiklah Mama percaya. Kalau begitu kenapa kamu menangis?" Bu Sarah mengusap air mata Deta.
"Tidak apa-apa, Ma, hanya merindukan Mama."
__ADS_1
Deta menghambur memeluk bu Sarah dan terisak di pelukan ibunya yang hangat.
***
Sebuah apartemen mewah milik keluarga Pratama kini sudah seperti terkena badai. Ricky yang baru saja datang bergabung tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Ada apa ini?" Ricky merentangkan tangannya dan menunjuk semua sudut ruangan yang terlihat berantakan.
"Tuan muda kita baru saja melampiaskan kemarahannya pada benda-benda mati yang tak bisa melawan itu." Nino bertepuk tangan.
Ricky yang tidak paham dengan sindiran Nino langsung mendekati Angga yang sedang duduk di bar mini apartemennya.
"Apa yang terjadi, Ga?" Ricky menepuk bahu Angga.
Angga hanya menggeleng dan meneguk minumannya.
"Apa ini semua karena Mika?"
Mendengar nama Mika di sebut membuat Angga kembali marah dan menepis tangan Ricky di bahunya.
"Siapa lagi kalau bukan wanita itu?" Nino mendekat dan duduk di samping Angga yang sudah mulai mabuk.
"Aku tidak mengerti. Bukankah selama ini kamu menunggunya? Dia sudah kembali tapi kenapa kamu terlihat sangat marah, Ga?"
Angga menggenggam gelasnya dengan erat hingga pecah, membuat Ricky dan Nino langsung menatapnya.
Ricky yang masih belum mendapatkan kejelasan mencoba mengorek informasi dari Nino.
"Katakan ada apa? Dan jangan menggunakan kalimat-kalimat sindiran yang membuatku bingung." Ricky mengacungkan jari telunjuknya memberi peringatan pada Nino.
"Baiklah. Aku rasa Angga hanya merasa kecewa pada Mika yang tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba datang sesuka hatinya."
"Tapi bukankah selama ini Angga selalu menunggu Mika?"
"Iya tapi itu dulu. Sekarang Angga sudah memindahkan hatinya." Nino merebahkan tubuhnya di sofa.
"Maksudmu ada wanita lain di hidup Angga selain Mika?" Ricky duduk di sofa yang bersebelahan dengan kepala Nino.
"That's right, Brother,"
"Sejak kapan?"
"Entahlah."
"Apa kamu tahu siapa wanita itu?"
"Tidak. Aku hanya tahu bahwa gadis itu adalah muridnya."
"Murid???"
__ADS_1
'Sejak kapan Angga menjadi seorang guru?'
***
Mentari sudah menampakkan sinarnya. Burung-burung berkicau bersahutan, membuat suasana pagi terasa sangat menyenangkan.
Deta merasa sangat malas untuk membuka matanya, tapi jadwalnya di akhir pekan adalah menuntut ilmu. Dan itu suatu kewajiban baginya.
Dengan semangat yang di paksakan, Deta melangkah gontai meninggalkan tempat tidurnya yang nyaman. Ia mematut dirinya di depan cermin.
Di raihnya ikat rambut berwarna merah muda dan menggulung rambutnya di atas kepala.
"Sepertinya kemarin aku hanya bermimpi." Deta menepuk-nepuk kedua pipinya.
Deta membuka pintu kamarnya dan meliuk-liukan tubuhnya untuk merenggangkan otot sambil memejamkan matanya malas.
Begitu membuka mata, Deta melihat Ricky yang sedang duduk di ruang tamu dan tersenyum melihat tingkahnya.
Deta membalikkan tubuhnya dan mencubit pipinya untuk memastikan bahwa ia sudah bangun dari tidurnya.
"Aaawwww, sakit! Artinya ini sungguhan?" Deta bergumam seraya berbalik dan melihat Ricky masih terduduk di sana dengan segala kharismanya.
Dan Deta????
Masih dengan wajah bantalnya yang bahkan belum di basuh air sedikitpun. Mungkin bekas air liur pun masih terlihat di wajahnya.
Segera Deta berbalik dan hendak masuk kembali ke kamarnya sebelum berbicara dengan Ricky, tapi Ricky menahannya.
"Mau kemana kamu?" Ricky bertanya dengan sikap yang dingin.
Ricky sudah memutuskan untuk bersikap sedikit arogan di hadapan Deta, karena hanya dengan cara seperti ini Deta akan tetap di sampingnya.
"Saya ingin mandi, Pak," Deta berbalik. Namun tak berani menatap Ricky.
"Jangan terlalu lama! Kita harus segera berangkat." perintah Ricky.
"Kenapa aku harus mematuhimu juga di sini? Ini 'kan rumahku!!!" Deta terus saja mengomel tanpa suara yang membuat Ricky terkekeh di belakangnya.
" Apa aku perlu memandikanmu?" Ricky menaikkan sedikit volume suaranya, mencoba untuk menggoda Deta.
"Tidak perlu!!!"
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian di sini berupa like 👍 , comment , rate dan vote yaaa 😁
Aku sayang kalian semua😘 Maka please sayangi aku juga. 😋
__ADS_1