
*** YANG MERASA DI BAWAH UMUR LANGSUNG SKIP AJA YA ***
"Sudah kukatakan, jangan pernah datang lagi!" bentak pak Danang pada Anika yang masih berdiri di depan mejanya.
"Aku merindukanmu, Mas," ucap Anika manja, ia melangkah untuk mendekati pak Danang.
Anika semakin mengurangi jaraknya dengan pak Danang, ia pun mendaratkan bokongnya di pangkuan pria idamannya itu.
Perlahan, ia membelai lembut wajah pak Danang. Namun, pak Danang tak bergeming sedikitpun. "Mas ....." panggil Anika mesra.
"Pergilah, Anika! Aku sudah berkeluarga. Jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" Pak Danang berniat mendorong Anika, tapi tangan Anika justru melingkar di lehernya.
"Aku ... merindukan tubuhmu," bisik Anika, yang langsung membangunkan kejantanan pak Danang yang berada di bawah tekanan tubuhnya.
Anika menyeringai. 'Hanya mulutmu yang menolakku, tapi tubuhmu tidak bisa.'
Akhirnya, hal yang tidak boleh terjadi itu pun kembali terulang. Tekad pak Danang untuk mengakhiri hubungan gelapnya dengan Anika terkalahkan oleh godaan dan nafsu sesaat.
Desahan dan erangan bersahutan memenuhi ruangan kerja pak Danang siang itu, beruntung ruangan itu kedap suara hingga tak satu pun orang bisa mendengar dosa yang mereka lakukan.
Tubuh Anika yang seksi dan wajahnya yang cantik selalu membuat pak Danang bergairah. Dan usia yang masih muda bisa membuatnya bertahan lama bermain dengan pria matang seperti pak Danang.
"Mas ... aku mau lagi," desah Anika begitu pak Danang melepaskan kungkungan tubuhnya.
"Ini di kantor. Bagaimana kalau ada yang masuk?" jawab pak Danang, kemudian memakai kembali pakaiannya.
"Memang sudah masuk," goda Anika, matanya tertuju pada milik pak Danang yang masih menegang.
"Anika!!!" bentak pak Danang, mencoba menutupi nafsunya yang kembali membuncah.
Anika memasang wajah masam, tapi ia juga sadar dimana dirinya berada. Dengan cepat ia merapihkan dirinya dan juga wajahnya yang sudah berantakan.
Ia tersenyum dan memeluk pak Danang dari belakang. "Mas, kamu tahu? Aku -" ucapan Anika menggantung, karena tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan pak Danang.
"Hallo, Pa," Wajah ceria putri pak Danang muncul dari balik pintu.
'Lihat, Sayang! Itu kakakmu.' Anika mengusap lembut perutnya.
Ia terus memperhatikan tingkah laku calon putri sambungnya itu, terlihat jelas bahwa gadis itu tidak menyukainya.
Namun, Anika tak ingin menyerah. Ia harus mendapatkan hati gadis itu agar ia bisa hidup bahagia dengan laki-laki yang ia cintai.
__ADS_1
"Aku Anika, sekretaris barunya pak Danang. Kamu pasti putrinya pak Danang, kan?" sapa Anika mencoba mencairkan suasana.
Sayangnya, putri pak Danang tak memperdulikannya. Bahkan, gadis itu meminta ayahnya untuk memecat Anika.
Anika menatap pak Danang, pria itu langsung mengalihkan perhatian putrinya. 'Aku tidak bisa menjauh darimu, Mas,' Batin Anika.
Melihat interaksi ayah dan anak itu menghidupkan harapan di hati Anika, jika suatu hari nanti ia dan pak Danang serta calon anak mereka akan hidup bahagia.
***
Pak Danang tertunduk malu menceritakan hubungan gelapnya dengan Anika, sekretaris pribadinya.
Ekspresi wajah anggota keluarganya berbeda-beda. Deta terlihat menahan nafas mendengar cerita ayahnya, sedangkan Dito sejak tadi berusaha keras untuk tidak memukul ayahnya.
Dan yang paling muak dan terluka disini, tentulah bu Sarah. Rasa cinta dan sayangnya kepada Deta dan Dito membuatnya mengesampingkan hal itu.
"Jadi, Papa mengenal tante Anika ketika ia menjadi sekretaris Papa? Dan Papa langsung jatuh hati padanya? Begitu juga tante Anika? Apakah dia tidak tahu jika Papa sudah berkeluarga?" Deta memberondong pak Danang dengan rentetan pertanyaannya.
"Dia sudah tahu, awalnya Papa pikir dia menganggap Papa ayahnya sendiri. Namun, dia justru jatuh cinta pada Papa dan tanpa Papa sadari rasa kasihan Papa terhadapnya juga mulai berubah." tutur pak Danang.
"Papa ...." Deta menutup mulutnya, air mata menggantikan kekecewaan yang tak bisa ia utarakan.
"Maaf, Kak, tapi sejak hari dimana Kakak bertemu dengannya. Papa sudah memutuskan semua hubungan Papa dengannya. Hanya saja ...."
"Papa tidak tahu kalau dia sedang mengandung Dania," sesal pak Danang.
"Cukup!!! Aku sudah muak mendengarnya!" teriak bu Sarah, ia memilih untuk mengurung diri di kamar.
Deta menghela nafas. "Lanjutkan, Pa!"
"Kakak!!!" bentak Dito, ia sudah berdiri dan matanya menatap tajam Deta yang masih terlihat tenang.
"Duduklah! Aku tidak ingin membagi keluarga ini menjadi dua kubu. Dengarkan Papa kali ini saja! Setelah itu, kita akan putuskan semuanya." tegas Deta.
Dito menurut, ia kembali duduk di tempatnya semula. "Ini demi Kakak!" sungutnya.
"Aku tahu," jawab Deta acuh.
Deta menggenggam tangan ayahnya, mata mereka bertatapan untuk sesaat. Bayangan masa kecilnya yang penuh tawa dan kebahagiaan kembali berputar dalam ingatan Deta.
'Aku percaya Papa. Hanya Papa pria terbaik di dunia ini, dan aku yakin Papa tidak akan membohongiku.' Batin Deta meyakinkan.
__ADS_1
"Awalnya Papa juga tidak yakin jika Dania adalah putri Papa, tapi tes DNA menyatakan bahwa Dania benar putri kandung Papa." Pak Danang mulai menangis, menyesali kesalahannya. "Tapi Papa benar-benar terkejut saat adiknya Anika menuduh Papa membunuh Anika. Karena sejak hari itu, Papa tidak pernah bertemu dengan Anika atau siapapun yang berhubungan dengannya lagi." sambungnya.
"Aku tahu, Pa," Deta memeluk ayahnya.
Menurut Deta, tidak ada gunanya lagi menyalahkan ayahnya. Semuanya sudah terjadi dan waktu tak bisa di putar kembali.
"Ayo, kita pergi dari sini dan memulai hidup kita yang baru!" ucap Deta, tiba-tiba saja pikiran itu timbul di hatinya.
***
"Begitulah ceritanya, Pa," Ricky menghela nafas, ia baru saja menceritakan kisah cinta kelam antara Anika dan pak Danang.
"Itu artinya, Anika tidak di perkosa?" tanya pak Firman.
"Tidak, Pa! Itu hanya kesalahpahaman, karena Anika tak mau mengatakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya saat itu." Ricky menyandarkan kepalanya.
"Lalu, bagaimana kalian tahu jika Tuan Riady adalah ayah biologis dari putrinya Anika?" Rasa penasaran pak Firman membuatnya terus mengorek kebenaran dari Ricky.
Ricky kembali menegakkan tubuhnya. "Tiga tahun yang lalu, pengasuhnya Dania yang memberi tahu Mika jika mendiang Anika menginginkan putrinya di besarkan oleh ayah kandungnya sendiri. Mika berpikir, Anika ingin menghukum pak Danang. Tapi bukan itu yang sebenarnya,"
"Apa maksudmu? Sepertinya masih ada yang tersembunyi dari masa lalu." selidik pak Firman.
Ingatan Ricky...
"Apa ini?" tanya Ricky pada Gibran yang baru saja meletakkan sebuah buku di mejanya.
"Buku harian nona Anika Sutomo." ucap Gibran datar.
Ricky menutup berkas yang sedang ia baca, matanya fokus menatap sebuah buku dengan sampul berwarna merah itu.
Selama beberapa saat, Ricky hanya menatap buku itu. Ia terlihat menimbang-nimbang akan membacanya atau tidak.
"Saya bisa memberi tahu anda isinya, Pak," saran Gibran merasakan kebimbangan Ricky.
Ucapan Gibran menarik manik mata Ricky untuk menatapnya. "Kamu membacanya?" tanya Ricky penuh emosi.
"Maaf, Pak, saya hanya berjaga-jaga jika anda tak ingin membacanya."
Hallo semuanya🤗
Wah, dikit lagi season 1 sudah mau habis nih 🥳 gimana ya nasib Deta dan bang Ricky 🥰
__ADS_1
Jangan lupa jempol 👍 sebelum atau sesudah membaca ya dan jangan lupa juga tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar atau vote juga boleh 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh