
"Kakak yakin akan pergi sendiri?" Pertanyaan yang sama dan sudah di lontarkan Dito berulang kali pada Deta.
Geram dengan sikap adiknya, Deta akhirnya berbalik dan menghadap adiknya yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya yang sedang bercermin. "Kakak sudah tua, Dek, tidak perlu kamu khawatir berlebihan seperti itu."
Dito mendengus mendengar ucapan Deta. "Tapi Kakak 'kan sudah lama tidak datang kesini dan sekarang Kakak akan berada di tengah-tengah keramaian. Aku takut ...."
Wajah Dito tertunduk, gurat ketegasan di wajahnya menghilang dan berganti kesedihan.
"Ini pernikahannya kak Syafitri, Dek, dia tidak mungkin ada di sana. Lagi pula Kakak tidak akan menemui pengantin, Kakak hanya akan memberikannya hadiah dan melihat sendiri wajah bahagia sahabat Kakak." jelas Deta, mencoba menghilangkan kegelisahan adiknya.
"Aku temani Kakak saja. Bagaimana?" saran Dito, wajahnya masih terlihat khawatir.
"Tidak. Orang-orang akan berpikir jika kamu itu pengawal Kakak dan wajah kakumu itu akan menarik perhatian." ejek Deta yang di akhiri tawa, sehingga membuat Dito pun ikut tertawa dan melupakan kegelisahannya.
***
Keheningan mulai terasa di gedung Sanjaya corporation. Hampir seluruh karyawan di pulangkan lebih awal karena General Manager mereka akan menikah hari ini.
"Pak, anda akan terlambat menghadiri pernikahan tuan Jerry jika tidak pergi sekarang." ucap Gibran, ketika ia melihat Ricky masih melamun di kursinya.
Ricky memandang keluar jendela kantornya yang sebagian besar terbuat dari kaca. Pemandangan kota di malam hari selalu menarik perhatiannya. "Kau tahu, Gibran, pernikahan selalu membuatku takut." lirih Ricky.
Gibran sangat memahami perasaan Ricky, kegagalan pernikahannya dengan Deta membuat pria itu banyak berubah dan enggan dekat dengan wanita manapun. Terlebih kenyataan jika wanita yang ia cintai itu ternyata menikah dengan sahabatnya sendiri bahkan sudah memiliki seorang putra.
"Tapi anda sudah janji pada tuan Jerry, jika anda akan menjadi saksi pernikahannya." bujuk Gibran, ia berpikir akan lebih baik jika bosnya itu pergi keluar dan bertemu dengan teman-temannya.
Ricky memutar kursinya dan menatap Gibran sesaat. "Baiklah, ayo kita pergi!"
***
"Kenapa!!!" teriak Deta pada Dito yang terus menatapnya dan menggeleng-gelengkan kepala tanpa alasan.
"Kakak sudah berubah total," lontar Dito. "Lihat, pakaian Kakak sudah seperti wanita-wanita bule di sana dan Kakak juga sekarang lebih banyak berteriak." ejek Dito, ia mengorek telinganya dengan jari seolah telah kemasukan sesuatu.
Deta kembali mematut dirinya di cermin. Memang benar yang di katakan Dito, pakaiannya sekarang lebih banyak menunjukkan bagian tubuhnya yang kini terlihat lebih ramping.
__ADS_1
'Apakah pakaian ini kurang sesuai untukku?' batin Deta sembari memutar tubuhnya.
"Berputar terus seperti gasing. Hahaha ...," ejek Dito yang langsung mendapat tatapan tajam dari Deta.
PLAK...
Satu pukulan mendarat di bahu kekar Dito, membuat pria itu meringis walaupun sebenarnya tidak kesakitan.
"Berhenti mengganggu Kakak!" ketus Deta, wajahnya berubah serius. "Haruskah Kakak menggantinya?" tanya Deta kemudian, sembari menarik ujung dress yang ia gunakan.
Dito menggosok-gosokkan jari telunjuknya di dagu sambil memperhatikan Deta dari atas ke bawah. "Sebenarnya Kakak terlihat tidak cantik. Tapi jika Kakak menggantinya, acara itu pasti sudah selesai ketika Kakak selesai berganti pakaian."
"Dito!!!" Deta bersiap akan memukul adiknya lagi jika Rayyan tidak tiba-tiba muncul.
"Mommy, you ale so beautiful (Ibu, kamu sangat cantik)." celetuk Rayyan, yang membuat Deta langsung berkaca-kaca dan menggendong bocah menggemaskan itu.
"Thank you, Darling. (Terima kasih, Sayang)." Deta menciumi pipi bulat Rayyan penuh sayang.
Dito memperhatikan wajah Deta yang di penuhi kebahagiaan saat memeluk Rayyan. Perasaan haru menyergapnya, membuat pria tegas dan disiplin sepertinya harus mengusap matanya yang terasa basah.
***
Deta memarkirkan mobilnya di lokasi yang sudah di tentukan oleh panitia. Wajahnya tak henti-henti mengulas senyuman ketika melihat foto sahabatnya yang terpasang di depan gedung.
"Hidupmu sudah jauh lebih baik, Syafitri." gumam Deta sembari membuka seat belt yang melilit tubuhnya.
Deta mengambil hand bag dan hadiah yang sudah ia siapkan untuk Syafitri. Dengan sedikit keraguan Deta keluar dari mobilnya, mobil Dito tepatnya. Di lihatnya keadaan sekitar yang sudah mulai ramai dan banyaknya wajah-wajah asing yang tidak ia kenali satu pun. Namun, ia sudah mantap untuk menemui sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui. Baru beberapa langkah Deta berjalan, sebuah mobil berhenti tepat di lobby dan menciptakan kerumunan orang-orang.
"Itu tuan Sanjaya."
Mendengar teriakan itu membuat Deta mematung, kakinya seolah tak bisa bergerak. 'Apakah yang mereka maksud itu dia? Diakah orang yang berada di dalam mobil itu?'
Tubuh Deta kaku hingga ia melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Pria yang membuatnya menangis sekaligus bahagia. Dan satu-satunya pria yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang seperti saat ini.
"Tidak. Tidak mungkin itu dia."
__ADS_1
Deta terus menggumamkan kalimat yang sama hingga tanpa ia sadari matanya bertemu dengan tatapan pria itu. Sontak saja, Deta langsung mundur dan berlari menjauhi pria yang meneriakkan namanya.
"DETA!!!"
***
"Gibran, apakah masih jauh?" tanya Ricky pada Gibran yang sedang fokus menyetir.
"Tidak, Pak, sebentar lagi kita sampai." jawab Gibran tenang. "Itu, Pak, kita sudah memasuki area hotel." tunjuk Gibran.
Ricky menoleh ke jendela, tepat di saat yang bersamaan ia melihat punggung seorang wanita yang yang baru saja keluar dari mobilnya. Pakaiannya sedikit terbuka. Dilihat dari penampilannya, wanita itu bukan berasal dari negara ini.
"Siapa yang mau kamu goda, Nona?" gumam Ricky ketika mobilnya melewati wanita itu. Bibirnya menyunggingkan sedikit senyuman.
"Anda mengatakan sesuatu, Pak?" tanya Gibran, ia melirik kaca spion yang memperlihatkan senyuman di wajah Ricky.
'Siapakah yang telah mengembalikan senyuman itu lagi?' batin Gibran.
"Tidak." jawab Ricky singkat.
Mobil berhenti di lobby dan langsung menciptakan kerumunan wartawan dan beberapa tamu undangan yang baru saja hadir. Dengan sigap Gibran keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ricky.
Kaki besar Ricky melangkah dan Ricky keluar dari mobil dengan aura pemimpin yang melekat di dirinya. Terdengar keriuhan para wartawan yang ingin mewawancarai Ricky, tapi langsung di halangi oleh Gibran. Karena tak bisa bergerak, Ricky menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita sedang berdiri menatap ke arahnya. Wanita itu sangat cantik, Ricky merasa seperti pernah melihatnya. Namun, penampilan wanita itu membuatnya sedikit ragu. Beberapa detik pandangan mereka bertemu. Hingga akhirnya wanita itu mundur dan memalingkan wajahnya.
"DETA!!!"
Hallo semuanyaπ€
Terima kasih untuk semua yang masih setia stay di dunianya Deta sama bang Ricky π
Jangan lupa tap jempolnya π dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar π sertakan votenya juga π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1