Poros Jodoh

Poros Jodoh
SWEET CHAPTER 4 (ENDING)


__ADS_3

Satu minggu kemudian ...


Di bandara, Dania terus menangis di pelukan Deta. Selama beberapa hari ia terus membujuk Dito agar mau membatalkan kepergiannya ke asrama, tapi semua orang tahu jika Dito sudah memberikan keputusan maka tidak akan ada yang bisa merubahnya.


"Jaga dirimu baik-baik, Dania! Ingat! Selalu hubungi Kakak," ucap Deta seraya menghapus air mata Dania.


Dania hanya mengangguk lemah, ia terlalu sedih untuk berpisah dengan kedua kakaknya.


Ricky yang tak tega melihat Dania bersedih pun mencoba untuk memberi semangat pada gadis manis itu. "Tuan putri, pergilah dengan bahagia dan raihlah cita-citamu! Jangan sia-siakan kerja keras kedua kakakmu! Aku yakin, kamu pasti bisa!"


Kedua tangan Dania melingkari pinggang Ricky. "Terima kasih, Pangeran,"


Dan begitulah perpisahan Dania dengan kedua kakaknya dan kakak ipar kesayangannya. Deta dan Dito melepas kepergian adik bungsu mereka dengan berat hati. Lambaian tangan Dania semakin lama semakin menghilang dan tak terlihat karena jarak yang semakin menjauh.


"Dania ...," lirih Deta, rasanya begitu berat berjauhan dari adik bungsunya itu.


"Ayo, Sayang, kita pulang! Kamu butuh istirahat!" ajak Ricky, ia merangkul bahu Deta untuk menuntunnya.


Begitu mereka berbalik, sosok Nino masih berdiri mematung dan menatap kepergiaan Dania dengan tatapan hampa.


"Kamu disini juga?" ketus Dito.


"Dek ...," Deta menahan tubuh Dito yang hendak mendekati Nino.


"Kenapa kalian mengirimnya pergi?" tanya Nino, entah ia bertanya pada siapa karena pandangannya menatap jauh ke depan.


"Kamu tahu, semua ini karena dirimu!" sungut Dito, ia mengarahkan telunjuknya ke wajah Nino.


"Jika aku yang bersalah, maka aku akan pergi, tapi biarkan dia tetap disini karena kebahagiaannya ada bersama kalian." tutur Nino penuh penyesalan.


Deta menatap Ricky sesaat, kemudian tersenyum dan menghampiri Nino. "Aku mengirim Dania pergi bukan untuk menjauh darimu, Kak Nino, tapi aku ingin Dania memantaskan diri untuk bersanding denganmu kelak."


"Kakak!!!" sergah Dito, ia begitu terkejut dengan ucapan Deta.


"Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita, Dek," hardik Deta lembut, namun penuh penekanan.


Nino menaikkan pandangannya untuk menatap Deta. "Apakah itu artinya kamu sudah memberikan lampu hijau untukku?"


"Merah untuk saat ini!" sanggah Deta, yang langsung menghilangkan senyum di wajah Nino. "Kamu tahu 'kan, Dania baru berusia sebelas tahun dan dia masih belum mengerti apapun. Itu sebabnya dia harus pergi untuk belajar dan memantaskan dirinya. Begitu pun dirimu, Kak Nino, kamu punya waktu sepuluh tahun untuk mengembangkan bisnismu sebelum Dania kembali." terang Deta.


Nino membelalakan matanya. "Sepuluh tahun?"


"Iya, kenapa? Kamu tidak sanggup menunggu Dania selama sepuluh tahun?" tantang Deta.


"Bukan itu! Tapi sepuluh tahun lagi, umurku memasuki kepala empat. Apakah saat itu Moony masih mau melihatku?" ucap Nino khawatir.


"Itulah! Sudah ku katakan bahwa kamu itu pria tua!" celetuk Dito.


"Dek ...," Deta memelototi Dito agar adiknya itu mau diam.


Helaan nafas Nino terdengar begitu berat. "Baiklah, aku akan menunggu Dania kembali dan akan menyiapkan kebahagiaan untuknya disini."


Deta kini bisa bernafas lega karena salah satu adiknya sudah menetapkan masa depannya walaupun itu masih bisa berubah.


Dan saat mereka semua akan kembali, Ricky melihat sosok yang begitu ia kenal di antara kerumunan orang.


"Angga?" gumamnya, kemudian berjalan untuk menghampiri sosok itu.


Ternyata benar. Pria itu adalah Angga yang tengah menggendong Rayyan dan di ikuti Mikayla juga Dhirgam.


"Kamu mau kemana, Brother?" tanya Ricky, matanya menatap koper yang di bawa oleh Dhirgam.


"Aku akan memulai hidupku yang baru tanpa merebut milik orang lain." jawab Angga sendu.


"Tapi tidak perlu pergi, kan?" sahut Deta yang baru bergabung.

__ADS_1


"Deta, bagaimana kabarmu dan juga kehamilanmu?" tanya Angga, tatapannya kini kepada Deta tak lagi sama.


"Aku baik." jawab Deta singkat. Ia beralih menatap Rayyan yang seolah tak mengenalnya. "Hei, Darling, tak ingin memelukku?"


Rayyan menggeleng dan memalingkan wajahnya. "No!"


Kekecewaan sempat menghinggapi perasaan Deta, tapi ia cukup memaklumi sikap Rayyan karena semua ini cukup mengejutkan bagi anak itu.


"Rayyan, jangan bersikap seperti itu!" tegas Angga, ia memutar tubuhnya agar Rayyan mau menatap Deta.


"Tidak apa, Ga. Tolong jaga Rayyan dengan baik!" pinta Deta, ia mengusap puncak kepala Rayyan. "I love you, Darling," bisiknya.


"Maaf, kami harus pergi." ucap Angga, ia melirik jam tangan mewah yang melingkar di tangannya.


"Baiklah, hati-hati dan semoga hidup kalian selalu bahagia." harap Deta, sekali lagi ia mengusap kepala Rayyan karena anak itu masih menolak untuk melihatnya.


Saat rombongan Angga semakin menjauh, Deta melihat Mikayla menoleh dan tersenyum padanya seolah mengucapkan terima kasih yang tak pernah bisa terucap dari bibirnya.


***


Malam harinya, Deta dan Ricky sudah kembali ke kediaman meraka. Dan mereka juga sengaja meminta Dito untuk ikut serta bersama mereka.


"Ada apa, Kak? Apa Kakak mau menyalahkan aku karena mengirim Dania pergi?" tanya Dito tak sabaran.


"Tidak!" sanggah Deta santai.


"Lalu?" tanya Dito penasaran.


"Sayang, jangan buat Dito penasaran seperti itu!" ucap Ricky lembut, ia masih setia di sisi Deta dan membelai rambutnya.


"Baiklah, dengarkan!" Deta menegakkan posisi duduknya. "Masalah Dania sudah selesai. Dan sekarang, Kakak juga sudah hidup bahagia bersama dengan Kak Ricky seperti yang kamu lihat. Jadi, Kakak ingin kamu juga menemukan pasangan hidup yang akan menemani kamu dalam suka dan dukamu." pinta Deta.


Dito memicingkan matanya hingga alis tebalnya menukik tajam. "Tidak semudah itu, Kak,"


"Dokter Shanum?" lontar Deta tanpa basa-basi.


"Kenapa? Dia sudah menikah?" sambar Deta.


"Iya, Kak, sebenarnya aku dan Shan ... kami sudah menikah." jelas Dito.


"Apa?"


***


Di dalam kamar tidurnya, kini Deta tengah bermanja dengan Ricky, suaminya. Kehamilannya ini membuat Deta sedikit berubah dan membuat orang di sekitarnya kebingungan.


Terkadang ia marah tiba-tiba, tapi terkadang ia menangis dan merengek seperti anak kecil.


"Terima kasih, Mas," ucap Deta lirih, ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Ricky yang sedang menjadi sandarannya.


"Kamu panggil aku apa tadi?" goda Ricky.


"Mas?" jawab Deta polos.


"Jadi, sekarang kamu panggil aku Mas?" tanya Ricky memastikan.


"Iya, kenapa? Kamu tidak menyukainya?"


"Tidak, Sayang, aku sangat menyukainya." ungkap Ricky.


"Sungguh?"


"Iya, aku hanya terkejut karena kamu tiba-tiba memanggilku seperti itu."


"Bukankah kamu yang memintanya dulu?"

__ADS_1


"Benarkah?"


Deta mengangguk pasti. "Saat kamu menyusulku ke rumah kak Fita."


Bola mata Ricky bergerak ke atas, mencoba mengingat kejadian yang di katakan oleh Deta hingga akhirnya ia pun tersenyum dan tak mampu menahan tawanya.


"Ternyata, kamu masih mengingatnya, Sayang?"


"Semua, Mas," jawab Deta manja.


"Aku sungguh beruntung." ungkap Ricky seraya memeluk tubuh mungil Deta. "Aku sangat mencintaimu, Nyonya Deta Sanjaya."


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas Ricky,"


***


Beberapa bulan kemudian ...


Di rumah sakit, tepatnya di depan ruang bersalin. Ricky terus saja mondar-mandir seperti setrika. Ia bahkan sudah membuat pak Firman sakit kepala hingga akhirnya dengan sangat terpaksa ia menarik telinga putra kesayangannya itu.


"Aduh, Pa, sakit!" keluh Ricky, ia mengusap telinganya yang memerah.


Pak Firman mendengus kesal. "Kalau begitu, duduk diam! Kamu membuat Papa sakit kepala saja!"


"Ricky khawatir, Pa," lirih Ricky.


"Kalau kamu khawatir, kenapa kamu tidak masuk dan menemani Deta di dalam? Kamu hanya tahu cara membuatnya, tapi tidak tahu cara mengeluarkannya!" sungut pak Firman.


"Papa!!!" teriak bu Rika, tak suka dengan ucapan suaminya yang memojokkan putra kesayangannya.


"Bukan Ricky yang tidak mau, Pa, tapi Deta yang melarang Ricky untuk menemaninya." ucap Ricky pasrah.


Di tengah kegelisahan yang semakin mendera, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang membuat semua orang bernafas lega. Mereka semua bersyukur. Bahkan, bu Rika menangis karena tak kuasa menahan haru.


Tak lama kemudian, dokter Shanum keluar dan menunjukkan wajah bahagianya. "Selamat, Kak Ricky, bayinya perempuan."


"Payang punya bidadari lagi!" sorak pak Firman bahagia seraya memeluk bu Rika yang masih beruraian air mata.


"Bagaimana istriku?" tanya Ricky panik.


"Kak Deta baik, tapi kondisinya masih lemah dan akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan." jelas Shanum.


Benar saja! Suara bed pasien terdengar dari dalam ruang bersalin dan memperlihatkan tubuh Deta yang terbaring lemah bersama dengan bayinya.


"Sayang ...," lirih Ricky, ia segera menggenggam tangan Deta dan berjalan di samping bed pasien.


"Putri kita, Mas," ucap Deta lemah.


Ricky hanya melirik sekilas kepada bayinya kemudian tersenyum. "Terima kasih, Sayang, tapi yang terpenting bagiku sekarang adalah dirimu."


Setelah Deta sudah di ruang perawatan, keluarga Sanjaya memenuhi ruangan yang sudah di hias sedemikian cantiknya untuk menyambut kedatangan anggota baru keluarga Sanjaya.


Ucapan selamat tak henti-hentinya mengalir untuk Deta dan Ricky. Tak lupa juga pujian untuk sang bayi yang di sebut-sebut mewarisi kecantikan sang ibu dan kharisma sang ayah yang begitu mempesona.


"Siapa nama cucu Payang yang cantik ini, Ky?" tanya pak Firman, ia terus memandangi wajah cucunya yang sedang tertidur.


Ricky menatap Deta sesaat. Ia teringat percakapan tentang nama untuk bayi mereka, karena Deta bersikukuh untuk tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak yang ada di dalam kandungannya.


"Aku serahkan nama anak kita sepenuhnya kepada Mas, karena Mas ayahnya. Tapi aku punya satu permintaan, aku hanya ingin ada nama mendiang mama di namanya jika dia bayi perempuan dan ada nama mendiang papa jika dia bayi laki-laki."


"Nama untuk putri cantikku adalah Sarah Lestary Sanjaya."


Semua orang di ruangan itu bersorak dan gema kebahagiaan pun memenuhi ruangan itu.


***

__ADS_1


Terkadang hidup memang begitu pahit, tapi percayalah bahwa kepahitan itu akan membuat kita semakin kuat dan mensyukuri manisnya hidup walaupun hanya setetes...


__ADS_2