
'ANIKA!!!'
Satu nama yang langsung menarik ingatan Deta, matanya langsung tertuju pada sosok ayahnya yang masih berdiri mematung dengan wajah yang memucat.
Ingatan Deta...
"Hallo, Pa," Wajah ceria Deta terpasang sempurna saat membuka pintu ruang kerja ayahnya.
Namun, begitu pintu terbuka Deta melihat ayahnya sedang bersama seorang wanita cantik bermata sipit.
Deta memicingkan matanya dan berjalan mendekati ayahnya. "Papa! Siapa tante ini?" tanyanya.
"Saya sekretaris baru pak Danang, perkenalkan nama saya Anika. Kamu pasti putrinya pak Danang?" sapa wanita itu ramah, tangannya terulur di hadapan Deta.
"Tante terlalu cantik untuk menjadi sekretaris Papa!" ketus Deta, ia menatap tajam ayahnya yang kini terlihat salah tingkah.
"Tapi aku suka menjadi sekretaris pak Danang," jawab Anika tenang, senyumnya masih bertahan di bibir tipisnya.
"Tapi aku tidak suka! Papa pecat saja -" Deta tak bisa melanjutkan ucapannya karena pak Danang menyela ucapannya.
"Bukankah kamu seharusnya pulang ke rumah? Jika kamu terlambat, kamu akan kena marah oleh mama. Lihat! Ada noda di seragammu," Pak Danang menunjuk sebuah noda jus di seragam Deta untuk mengalihkan perhatian putrinya itu.
"Ah, aku lupa!" Deta menepuk keningnya. "Inilah sebabnya aku datang kesini. Aku takut pulang ke rumah, Pa," rengek Deta.
Pak Danang tertawa melihat tingkah manja putri sulungnya. "Haruskah kita membeli seragam baru? Bukankah mama akan tahu dan akan lebih marah lagi?"
Deta mengerutkan keningnya, menimbang pilihan yang di berikan ayahnya. "Lalu?" tanyanya.
"Kamu harus mencucinya." saran pak Danang.
"Tidak bisa, Pa," rengek Deta seraya memajukan bibirnya.
"Belajarlah, Kak! Kamu 'kan sudah besar." Pak Danang mencubit pipi chubby Deta.
"Tapi, Pa," Deta mencoba mencari alasan agar tak perlu mencuci seragamnya yang terkena noda.
"Biar aku yang mencucinya," ucap Anika.
"Tidak per -"
"Terima kasih, Tante Anika." sela Deta, sebelum ayahnya menolak tawaran bagus itu.
Ingatan berakhir...
'Mungkinkah, Anika yang di maksud oleh Mika adalah tante Anika? Tapi dia wanita yang baik, tidak mungkin dia memiliki hubungan seperti itu dengan papa! Lalu, apa hubungannya antara pak Ricky, tante Anika, dan Dania?' pikir Deta.
Deta memperhatikan Mika yang masih berapi-api. Namun, Ricky masih diam dan tak nampak akan menjelaskan apapun.
"Jawab!!! Sejak kapan kamu mengetahuinya? Apa ini semua bagian dari rencanamu?" teriak Mika, tangannya masih memegangi jas Ricky.
__ADS_1
"Ini tidak ada hubungannya dengan Anika." jawab Ricky akhirnya.
"BOHONG!!!" sergah Mika.
"Mika, tenanglah! Katakan ada apa, Sayang?" Bu Rika sudah menghampiri Mika dan Ricky bersama dengan Refita.
"Iya, Mika. Jangan seperti ini! Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik." ucap Refita mencoba menenangkan Mika.
Mika melepaskan tangannya dari jas Ricky dan langsung berbalik menatap tajam pak Danang yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"DIA!!!" teriak Mika, telunjuknya sudah mengarah ke wajah pak Danang.
"Gibran!" Suara Ricky terdengar sangat berat dan penuh penekanan.
Gibran yang mengerti maksud Ricky, tanpa menunggu perintah selanjutnya dari Ricky langsung menarik tangan Mika dan menyeretnya untuk keluar dari lokasi pernikahan.
"Hei, ada apa ini?" bentak Refita pada Gibran. Namun, tak di gubris oleh Gibran.
"Lepas! Lepaskan aku!!!" Mika mencoba melepaskan tangannya.
"Gibran! Ada apa ini sebenarnya?" Pak Firman menghadang langkah Gibran yang menyeret Mika.
Gibran menghentikan langkahnya dan membungkuk hormat kepada pak Firman. "Maaf, Presdir, ini demi kebaikan tuan muda." tutur Gibran kemudian melanjutkan langkahnya.
Bu Rika dan Refita menatap pak Firman yang hanya berdiri menatap Ricky tanpa melakukan apapun.
'Karena aku sudah berjanji pada Ricky tidak akan membiarkan siapapun mengganggu pernikahannya.' Batin pak Firman.
"Berhenti, Pak Asisten!" pinta Deta saat Gibran melewatinya.
"Tapi, Nona,"
"Saya yang akan bertanggung jawab." ucap Deta yakin, matanya menatap Ricky yang masih berdiri dengan tangan mengepal menahan amarah.
Gibran menoleh pada Ricky yang menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.
'Badai ini memang sudah seharusnya terjadi dan tak bisa di hindari lagi.' Batin Ricky menyerah.
'Maafkan ketidakmampuan saya, Tuan muda.' Batin Gibran.
Gibran melepaskan tangan Mika. "Ini keinginan anda, Nona." ucapnya pada Deta.
"Terima kasih, Pak Asisten. Mika, katakan hal sepenting apa yang sampai membuatmu menghancurkan pernikahanku?" tanya Deta dengan wajah datar.
Mika menyeringai. "Pria yang kamu katakan ayahmu itu, dia adalah pria brengsek yang telah memperkosa dan membunuh kakakku!!!"
Deta merasakan seluruh tubuhnya menegang, kakinya terasa lemas. Tubuhnya seperti melayang, ia mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya.
"Hati-hati!" Sebuah tangan kekar menangkap tubuhnya. Begitu Deta menoleh, ia melihat Ricky yang terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Deta mencoba berdiri dengan bantuan Ricky. "Terima kasih, Pak," ucapnya dingin.
Ricky merasakan ada sebuah jarak antara dirinya dengan Deta dari nada bicara dan tatapan mata bulat Deta.
"Pergilah!!! Kehadiranmu tidak di harapkan di sini!" bentak Ricky pada Mika yang masih menatap Deta dengan penuh kebencian.
"Kenapa? Kamu takut kalau Deta mengetahui semuanya?" sinis Mika.
"Diamlah!!!" sergah Ricky dengan tatapan membunuh.
"Kenapa Mika harus diam? Bicaralah Mika!" Deta menepis tangan Ricky yang melingkar di pinggangnya.
"Kamu hanya perlu percaya padaku." Ricky meraih tangan Deta yang sudah akan melangkah menjauhinya.
"Hahahaha ...." Tawa Mika membahana di tengah-tengah ketegangan yang terjadi.
"Percaya bahwa kamu akan menghempaskannya begitu kamu mendapatkan putrinya kak Nika." lontar Mika dengan seringai di wajahnya.
Ucapan Mika sangat mengganggu Deta. Bukan karena Ricky akan meninggalkannya, tapi karena Mika mengatakan bahwa Ricky akan mengambil Dania darinya.
"Apa maksudmu?" tanya Deta, suaranya bergetar karena menahan segala emosi yang bergejolak di dadanya.
"Kasihan sekali! Kamu begitu polos, pantas saja Ricky bisa dengan mudah membodohimu." Mika tersenyum sinis. "Tapi mengingat kebaikan dan ketulusanmu pada putrinya kak Nika, aku akan memberi tahumu yang sebenarnya." sambung Mika.
"Jangan dengarkan dia, Sayang!" Ricky memohon pada Deta yang terlihat mulai terpengaruh dengan ucapan Mika.
"Jika memang anda tidak seperti yang di katakan Mika, maka tidak ada yang perlu anda takutkan." ucap Deta seraya menarik tangannya.
"Katakanlah, Mika! Katakan semua yang kamu tahu dan yang tidak aku ketahui!" Deta kembali menatap Mika.
"Ricky sangat mencintai kakakku, Anika. Walau usia kakak lebih tua darinya, tapi Ricky tak memperdulikan hal itu. Hingga saat dia mengetahui kakakku hamil dan pria brengsek itu meninggalkannya, saat itu Ricky berjanji akan menghancurkan orang yang sudah menyakiti kakakku." tutur Mika.
"Tidak!!! Itu tidak benar, Sayang." sanggah Ricky.
"Lanjutkan, Mika!" ucap Deta tak memperdulikan Ricky.
"Aku yakin, dari awal dia sudah tahu jika kamu adalah putrinya pria brengsek itu. Itu sebabnya dia ingin menikahimu untuk menyiksamu dan mengambil putrinya kak Nika. Karena -" ucapan Mika menggantung saat ia melihat Dania berlari ke arah Deta.
"Kakak!!!"
Hallo semuanya๐ค
Maaf atas keterlambatan up nya ya ๐
Semoga kalian masih stay di dunianya Deta dan bang Ricky ๐ฅฐ
Jangan lupa jempol ๐ dulu sebelum atau setelah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak ๐ฃ kalian di kolom komentar dan juga vote biar author makin semangat ya ๐
I Love U readers kesayangan kuhh
__ADS_1