
Langkah kaki Dito dan Dania saling bersahutan di koridor apartemen yang nampak sepi. Derap langkah Dito yang terdengar bising sedikitnya mengganggu pendengaran Dania.
"Kakak! Ini bukan medan perang. Kenapa berjalan seperti itu?" sungut Dania, kesal dengan suara nyaring yang di hasilkan dari sepatu Dito.
"Aku tidak berjalan seperti ini di medan perang, Dania! Bisa-bisa aku langsung di tembak musuh." ucap Dito datar. "Aku hanya sedang mengkhawatirkan kakak." lirihnya kemudian.
Dania yang mulai beranjak dewasa, lambat laun mengerti setiap hal yang di ucapkan kedua kakaknya meskipun selalu penuh teka-teki. Ia menghentikan langkahnya untuk berpikir sebelum menahan langkah Dito juga.
"Ada apa?" tanya Dito, ketika ia merasakan tangannya di tarik oleh Dania.
"Kak, apa yang terjadi? Apakah kak Deta harus berkorban lagi?" Mata sipit Dania semakin mengecil karena ia memicingkan matanya.
Dito menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kita lihat saja!"
***
Angin berhembus cukup kencang malam itu. Lampu-lampu kota menambah indah pemandangan yang berada di bawah hamparan mata yang basah akibat di aliri oleh air mata.
Deta menghapus air matanya sebelum mendekap tubuh mungilnya yang semakin mengecil selama beberapa tahun ini.
"Aku semakin kurus saja," lirih Deta ketika memijat-mijat tangannya seperti yang biasa ia lakukan dulu.
"Kakak!!!" Suara Dania terdengar dari dalam apartemen.
Deta yang sedang menikmati angin di balkon pun langsung berteriak untuk memanggil adiknya. "Kakak disini, Dania!"
Tak lama kemudian, Dania keluar dan bergabung dengan Deta yang sedang menatap gemerlapnya kota di bawah sana.
"Kak? Kenapa malam-malam Kakak duduk sendiri di luar sini?" tanya Dania, tangannya menyentuh bahu Deta yang bergerak naik turun.
Tanpa menoleh atau memastikan sekalipun, Dania sudah tahu jika Deta sedang menahan tangisnya, seperti biasa.
"Kakak ingat tidak, papa selalu mengatakan bahwa Dania lebih cantik daripada Kakak? Saat itu, Kakak hanya tersenyum karena tahu semua itu adalah kebohongan papa agar Dania senang." Dania menghela nafas. "Sekarang, Dania juga ingin melakukan hal yang sama. Dania ingin mengatakan bahwa Kakak sangat jelek ketika sedang menguras air mata seperti itu!"
Deta langsung menoleh kepada adiknya. "Menguras?"
"Iya!" Dania mengangguk yakin. "Kakak akan menangis sendiri dan mengeluarkan semua air mata yang Kakak tahan selama ini. Apa namanya kalau bukan menguras?" tanya Dania kemudian.
__ADS_1
"Kamu ini." Deta memaksakan senyumnya kemudian membelai rambut hitam dan panjang Dania.
"Kak? Dania memang masih kecil dan belum mengerti apapun, tapi Dania memiliki mata dan telinga. Dania bisa melihat kesedihan Kakak dan Dania juga bisa mendengar keluh kesah Kakak." Dania meraih tangan Deta yang sedang membelai rambutnya. "Selama ini, Kakak selalu melindungi Dania. Biarkan Dania membantu mengurangi beban Kakak!"
Kedewasaan Dania yang terlalu cepat membuat Deta merasa bersalah. Seharusnya, gadis seusia Dania masih bermain tanpa harus memikirkan masalah orang dewasa seperti ini.
"Tidak, Sayang! Kakak hanya terlalu merindukan kota ini. Terlalu banyak kenangan yang Kakak tinggalkan di sini." lirih Deta, tatapannya menerawang ke tempat lain.
"Kenangan tentang pangeran?" celetuk Dania, yang langsung membuat manik mata Deta terfokus padanya.
"Kamu mengingatnya?"
***
Sementara, di dalam ruang kerja Angga ketegangan baru saja terjadi karena Angga tiba-tiba saja memancing emosi Dito.
"Jangan bersikap sewenang-wenang terhadap kakakku!" teriak Dito, ia tahu ruangan itu kedap suara hingga ia tak perlu khawatir akan ada yang mendengarnya.
"Duduklah!" Angga menunjuk kursi yang baru saja di tinggalkan Dito. "Tenangkan dirimu, Dito!" pinta Angga lagi.
"Aku tidak akan bisa tenang, jika seseorang mencoba menyakiti kakakku!" Tatapan tajam dan aura membunuh Dito semakin terasa memenuhi ruangan.
Dito dan Dania memasuki apartemen Angga. Suasana apartemen yang sepi dan seolah tak berpenghuni membuat keduanya memilih untuk berpencar.
Dito berjalan menuju sebuah ruangan dan melihat Dhirgam baru saja keluar dari sana.
"Selamat malam, Tuan!" sapa Dhirgam ketika berhadapan dengan Dito.
Dito mengangguk untuk menjawab sapaan Dhirgam. "Dimana kak Angga?"
"Tuan ada di ruang kerjanya. Apa anda perlu saya antar?" jawab Dhirgam sopan.
"Tidak, terima kasih. Aku akan menemuinya seorang diri." Dito sudah akan membuka pintu, tapi ia teringat sesuatu. "Dimana Rayyan dan kak Deta?" tanyanya kemudian.
Dhirgam menaikkan pandangannya. "Nyonya sedang di balkon, Tuan, dan tuan muda sudah tertidur di kamarnya."
"Baiklah, kamu boleh pergi." ucap Dito di barengi dengan tangannya yang menggerakkan handle pintu.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, Dito melihat Angga yang sedang menghubungi seseorang. Tanpa menimbulkan suara, Dito menghampiri Angga dan duduk di hadapan pria itu.
"Ada apa?" tanya Dito, begitu Angga menyelesaikan panggilannya.
"Kenapa kamu terburu-buru sekali? Apakah aku sudah mengganggu waktumu, Adik ipar?" Angga membalas pertanyaan Dito dengan pertanyaan.
"To the poin**t saja, Kak! Apa yang kamu inginkan?" ketus Dito, sikap dinginnya kembali setiap kali ia berhadapan dengan orang yang tidak ia sukai.
Angga tersenyum sinis. "Kamu memang cerdas dan cukup memahami keadaan. Aku ingin kamu menjadi wali nikah dari Deta dalam pernikahan ulang yang akan kami adakan di kota ini."
"APA!!! Apa maksudmu? Apa kak Deta tahu tentang rencanamu ini?" tanya Dito tak sabaran.
"Tidak! Deta tidak tahu, karena aku ingin membuat kejutan untuknya." jawab Angga, ia masih terlihat tenang meskipun Dito sudah siap untuk menghajarnya.
"Kakakku tidak tahu dan kamu ingin aku untuk menjadi wali nikahnya? Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" Dito sudah melemparkan tatapan tajamnya pada Angga.
"Tidak ada. Aku hanya ingin meresmikan pernikahanku dengan Deta agar orang lain tahu bagaimana hubungan kami." jelas Angga dengan senyuman tersungging di bibirnya.
'Ini tidak boleh terjadi! Aku baru saja memberi jalan pada kak Ricky. Bagaimana kalau sebenarnya mereka berdua masih ingin bersama? Aku tidak ingin menghancurkan cinta kak Deta dan kak Ricky dengan tanganku sendiri.' batin Dito.
"Aku yakin bukan itu alasannya. Katakan padaku apa alasanmu yang sebenarnya!" sergah Dito, ia mulai jengah menghadapi sikap posesif dan arogan Angga terhadap Deta.
"Kamu sungguh luar biasa! Baiklah, karena kamu sudah tahu maka akan aku katakan yang sebenarnya," Angga menarik nafasnya dalam. "Aku tidak ingin Ricky merebut kakakmu itu dariku." jelasnya.
Flashback off...
"Aku tidak bermaksud menyakiti kakakmu, Dito! Aku hanya mencoba menyelamatkannya dari kehancuran." sanggah Angga, tak ingin menelan begitu saja tuduhan Dito.
"Kehancuran apa? Kamu tahu jika kakakku masih mencintai kak Ricky, iya, kan? Tapi kenapa kamu terus mengikatnya dan menggunakan Rayyan sebagai alat untuk menahan kak Deta?" Amarah semakin menguasai Dito.
"Kamu tidak akan mengerti karena kamu belum pernah jatuh cinta, Dito."
Hallo semuanya 🤗
Ketemu lagi sama author amburadul 😘 Terima kasih masih setia menanti dan ngintip-ngintip dunianya Deta sama bang Ricky 😍 udah gak sabar 'ya 🤭
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh