Poros Jodoh

Poros Jodoh
WANITA MISTERIUS


__ADS_3

Sebuah gedung bergaya klasik berdiri kokoh di tengah pusat kota yang di fungsikan sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak kelas atas di kota ini.


Deta baru saja memarkirkan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman yang melindunginya. "Dania tunggu di sini saja, ya!" pinta Deta.


Dania hanya mengangguk tanpa berpaling sedikitpun dari ponselnya. "Hemm ...."


'Dasar anak-anak jaman sekarang.' sungut Deta dalam hati, kemudian keluar dari mobil dan sedikit berlari masuk ke dalam gedung.


BUG...


Sesuatu baru saja membentur mobil Deta. Dania yang sedang asyik bermain ponsel pun akhirnya harus terganggu.


"Suara apa itu?" gumam Dania, ia memilih untuk mengintip dari kaca spion yang berada di sisi mobil.


Tubuh Dania gemetar, ia hanya bisa membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara yang dapat menarik perhatian orang yang berada di belakang mobil Deta.


Seorang wanita baru saja di siksa dan di lecehkan oleh seorang pria. Wanita itu bahkan tak bisa lagi melawan. Dania yang baru saja berusia sebelas tahun hanya bisa diam tak berdaya menyaksikan hal mengerikan seperti itu terjadi di hadapannya.


Ingin rasanya Dania berteriak, tapi mulutnya terkunci rapat. Ia hanya bisa menutup matanya dan baru berani membuka matanya saat ia mendengar langkah kaki seseorang yang menjauh.


"Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku menghubungi kakak?" gumam Dania, tangannya masih gemetar. Ia bahkan tidak bisa memegang ponselnya.


Di tengah kebimbangan Dania, tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari seseorang. Ragu-ragu Dania membuka pintu mobil dan melihat wanita malang tadi sedang menangis sambil bersandar di mobil Deta.


"Oh, God (ya,Tuhan). Are you ok, Madam (anda baik-baik saja, Nyonya)?" tanya Dania yang langsung menghampiri wanita itu.


Wanita malang itu mengangguk, wajahnya penuh luka lebam dan pakaiannya sudah berantakan. Dania memperhatikan wajah wanita itu, ia merasa seperti pernah bertemu dengannya.


"Where're you came from, Madam (Anda berasal darimana, Nyonya)?" tanya Dania lagi, ia yakin wanita malang itu tidak berasal dari negara ini ketika melihat wajahnya.


"Negara xx." jawab wanita itu lirih. Ia terus memeluk lututnya, seluruh tubuhnya gemetar.


"Astaga, itu juga negara asalku. Apa yang terjadi padamu, Nyonya? Kenapa Anda bisa sampai seperti ini? Siapa orang yang telah melakukan semua ini pada anda?" Dania memberondong wanita itu dengan pertanyaannya.

__ADS_1


Kehidupan yang berat yang di alami Dania dan Deta di negara asing, membuat Dania menjadi lebih dewasa dan sensitif terhadap keadaan yang terjadi di sekitarnya. Terkadang, hal itu cukup merepotkan bagi Deta ketika ia ingin membohongi Dania.


"Nyonya?" Dania menyentuh tangan wanita malang itu. Yang mana membuat wanita itu menaikkan pandangannya dan melihat wajah cantik dan teduh Dania yang sudah terlihat meski ia masih belia.


Ada perasaan hangat yang menyelimuti hati wanita itu. Ia terus saja memandangi wajah Dania hingga gadis itu salah tingkah dan akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangannya.


"Pria itu suamiku. Dia selalu bersikap seperti itu padaku tanpa mengenal tempat dan situasi." tutur wanita itu. Pandangannya kosong, seperti sudah tak memiliki alasan untuk hidup.


"Kenapa anda mau menikahi pria kejam seperti itu? Kenapa anda tidak melawan? Ah, geram sekali aku mendengarnya." oceh Dania, ia tidak sadar jika wanita itu terus menatap wajahnya.


"Mungkin ini adalah balasan atas perbuatanku di masa lalu." Satu butir air mata lolos dari pelupuk mata wanita malang itu.


Entah mengapa, rasanya Dania tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian. Apalagi membayangkan wanita itu akan kembali ke rumah suaminya yang kejam. Membuatnya ikut merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Nyonya, bagaimana kalau anda ikut denganku. Aku yakin kakakku tidak akan keberatan." bujuk Dania pada wanita itu.


Wanita itu terus menatap mata Dania, ia mencari ketulusan yang selama ini ia butuhkan sejak dunianya hancur dan orang-orang yang menyayanginya pergi menjauh.


"Ayolah, Nyonya!" bujuk Dania lagi, tangannya sudah menggenggam tangan wanita itu.


'Benar juga.' pikir Dania. "Baiklah, Nyonya, hubungi aku jika anda butuh sesuatu."


Dania masuk kembali ke dalam mobil, ia merobek secarik kertas dan menuliskan nomor ponselnya disana. Ia juga mengambil jaketnya yang tertinggal di mobil, jaket yang biasa ia gunakan saat musim dingin.


"Ini, Nyonya," Dania menyerahkan jaket dan juga nomor ponselnya.


"Terima kasih. Siapa namamu?" tanya wanita itu, setelah sebelumnya melihat kertas yang di berikan Dania hanya bertuliskan nomor ponsel tanpa nama.


"Ah, aku lupa. Namaku -" ucapan Dania terpotong saat Rayyan tiba-tiba memanggilnya dari lantai dua sekolahnya.


"Aunty (bibi)!!!"


***

__ADS_1


Deta berjalan menyusuri lorong sekolah yang teramat panjang baginya. Suara riuh anak-anak saling bersahutan memenuhi telinga Deta di setiap langkahnya.


"Sungguh masa kecil memang masa yang paling membahagiakan." gumam Deta, wajah cantiknya terus menyunggingkan senyuman.


"Mrs. Pratama (Nyonya Pratama)!" Suara seseorang memanggil Deta dari kejauhan.


Deta menoleh dan melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang cukup seksi sedang berjalan menghampirinya. "Dia lagi." gerutu Deta.


"Hallo, Nyonya Gunawan." sapa Deta dengan senyuman hambar yang terlihat sangat jelas di wajahnya.


"Kenapa kamu masih berbicara seperti itu? Kita ini sedang berada di negara asing. Bersikaplah seperti wanita-wanita itu!" Nyonya Gunawan menunjuk kepada beberapa wanita bule yang sedang berbincang di halaman dalam sekolah.


"Saya bukan bule, Nyonya Gunawan. Lagi pula hanya tubuh saya yang pindah dan hidup disini, bukan hati saya." sergah Deta, ia sendiri cukup terkejut dengan ucapannya.


Benarkah hatinya masih disana? Itukah sebabnya ia selalu merasa asing berada di negara ini?


"Tapi suamimu sudah sangat sukses disini. Apakah kalian tidak akan menetap disini untuk selamanya?" tanya nyonya Gunawan, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang berlebihan.


'Pasti dia butuh bahan untuk bergosip.' batin Deta. "Maaf, Nyonya Gunawan. Saya sedang terburu-buru untuk menjemput Rayyan." Deta beralasan. Rasanya ia ingin segera menjauhi wanita bermulut besar itu.


"Tunggu dulu, Mrs. Pratama!" Tangan Deta di tahan oleh nyonya Gunawan.


Dan begitulah akhirnya, Deta harus mendengarkan nyonya Gunawan selama hampir setengah jam hingga ia merasa kesal dan memutuskan untuk meninggalkan nyonya Gunawan yang masih sibuk memamerkan tas yang baru saja ia beli.


'Aku memiliki lebih banyak dari itu, Nyonya. Tapi aku tidak norak sepertimu.' sungut Deta dalam hati sembari melangkah menjauhi nyonya Gunawan dan menuju ke kelas Rayyan.


Begitu sampai di sana, ternyata kelas sudah bubar. Deta sibuk mencari sosok Rayyan di tengah kerumunan anak-anak yang merangsek keluar.


Hingga akhirnya Deta bisa menemukan sosok Rayyan saat mendengar bocah itu berteriak dari jendela. "Aunty!!!"


Hallo semuanya 🤗


Jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum membaca atau sesudah membaca dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇 juga votenya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😍😘

__ADS_1


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2