
"Dania!!!Kakak pulang." teriak Deta.
Suara Deta menggema ke seluruh rumah. Ukuran rumah yang tidak terlalu luas membuat suara Deta bisa di dengar sampai ke halaman belakang rumahnya.
Tak lama kemudian langkah kaki kecil Dania terdengar dengan sangat jelas begitu ia memasuki rumah.
"Hap!" Deta mengangkat tubuh kecil Dania yang menubruk kakinya.
"Kamu darimana?" Mata bulat Deta menatap wajah adik kecilnya itu.
"Dania di belakang, Kak. Bantu mama membuat kue." jelas Dania dengan suara kecilnya.
"Anak pintar."
Deta mencubit pipi Dania yang justru tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari kakaknya.
"Ayo, kita bantu mama!" Deta menurunkan Dania dari gendongannya.
Mereka berjalan bergandengan tangan menuju halaman belakang rumah tempat bu Sarah berada.
"Kakak sudah pulang?" tanya bu Sarah ketika melihat Deta sedang menuntun Dania.
Deta hanya mengangguk dan terus berjalan mendekati ibunya.
"Masih lama, Ma?"
"Tidak. Ada apa, Kak?" Bu Sarah menjawab tanpa melihat Deta.
"Deta ingin bicara, Ma." Nada bicara Deta melemah.
Bu Sarah menaikkan pandangannya dan melihat kegelisahan di mata putrinya itu.
"Ayo, masuk! Kita bicara di dalam." Bu Sarah segera berdiri dan memasuki rumah yang di ikuti oleh Deta dan Dania.
***
Angga dan Nino masih menatap Ricky tak percaya. Akhir-akhir ini terlalu banyak kejutan yang di berikan oleh Ricky.
"Kamu tidak ingin berubah pikiran, brother? " Nino mencoba menghasut Ricky.
"Tidak!!! Aku sudah sangat yakin." Ricky menjawab dengan pasti.
"Kalian baru saja bertemu, kan? Apa kamu yakin Deta adalah gadis yang tepat?" Angga yang sebelumnya bersikap acuh kini mulai bersuara.
"Betul, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya." sungut Nino.
"Aku akan mempertemukanmu dengan Deta saat dia sudah menjadi milikku sepenuhnya." Ricky tersenyum usil.
Nino yang mengerti dengan maksud Ricky hanya mendengus kesal dengan tingkah temannya itu.
Ricky beralih menatap Angga yang sedang meneguk minumannya.
"Aku yakin Deta yang terbaik, Ga. Aku tahu kamu juga berpikir seperti itu, kan?" tanya Ricky.
"Deta memang gadis yang baik." Wajah Deta berkelebatan dalam ingatan Angga.
Melihat pandangan Angga yang menerawang. Tentu saja Ricky dapat dengan mudah menyimpulkan apa yang ada dalam pikiran temannya.
"Pikirkan Mika!!! Jangan memikirkan wanitaku!!!"
Seketika Angga menoleh kepada Ricky dan memicingkan matanya.
__ADS_1
"Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku!" bentak Angga.
"Kenapa?"
"Wanita itu sudah meninggalkan aku. Sudah tidak ada tempat baginya di hatiku!"
"Tapi dia punya alasan, Ga."
"Alasan apa yang membuatnya sampai harus meninggalkan aku? Meninggalkan impian kami berdua? Seharusnya aku tidak mempercayainya dari awal. Dia bisa menyakiti Nino. Tentu dia bisa dengan mudah menyakitiku juga." Angga tersenyum sinis dan kepalanya ambruk di meja bar mini miliknya.
"Apa kamu juga masih berpikir seperti itu, No?" Ricky beralih menatap Nino yang sedari tadi hanya diam menyaksikan semuanya.
"Entahlah, Ky. Aku hanya merasa seharusnya wanita itu tidak melakukan hal yang sama pada Angga." Nino menatap kasihan pada temannya yang kini tak sadarkan diri.
"Kalian tidak tahu kenapa Mika melakukan hal itu. Aku pikir kalian harus bicara pada Mika."
"Tidak perlu, Ky. Aku sudah tidak punya tempat bahkan hanya untuk namanya saja."
***
Bu Sarah terus menatap putrinya yang hanya bisa diam dan menundukkan kepala.
"Katakan yang sejujurnya! Apa yang sudah kalian lakukan?" Bu Sarah berbicara dengan suara yang hampir berteriak.
Dania yang berada di samping Deta sudah merangsek ke pelukan Deta karena takut akan kemarahan bu Sarah.
"Tidak ada, Ma, itu hanya sebuah lamaran. Mama bisa menolaknya. Deta janji akan menerima semua keputusan Mama." Deta berusaha bicara dengan tenang.
Ia tahu betul, sejak kedatangan Dania. Ibunya lebih mudah marah dan sulit mengontrol emosinya.
Sangat berbeda saat hidup mereka begitu bahagia sebelum datangnya badai yang menerjang kebahagiaan keluarganya.
Ingatan tentang hari itu datang kembali. Dan tiba-tiba membuat dada Deta terasa sesak. Ia menatap Dania yang berada di pelukannya.
Batin Deta berkecamuk.
Belum sempat ia berpikir, pertanyaan bu Sarah sudah mengejutkannya.
"Kamu menyukai Ricky?" Bu Sarah mencoba mencari jawaban dari mata bulat Deta.
Sama seperti saat Mika bertanya padanya. Kali ini juga Deta tak dapat menjawabnya.
Hanya ucapan Mika yang terus menari-nari di dalam pikirannya.
"Ricky sangat mencintaimu."
***
Seluruh keluarga Riady sudah berkumpul malam itu di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga.
Sudah lama sejak badai tiga tahun yang lalu, mereka tidak pernah berkumpul seperti ini lagi.
Deta menatap wajah orang tuanya bergantian. Mensyukuri kehadiran mereka di setiap langkah dalam hidupnya.
Dito yang belum di beri tahu. Mulai merasa tidak nyaman duduk bersama dengan Dania dan ayahnya.
Ia selalu menghindari tatapan ayahnya. Dan Dito lebih ingin menjauh dari Dania yang duduk di sampingnya.
"Ada apa, Kak? Kenapa kita berkumpul seperti ini?" tanya Dito tidak sabaran.
"Sabar, Dek. Aku sedang menyusun kata-kata untuk menyampaikan hal ini pada kalian semua. Khususnya pada Papa." Deta melemparkan senyuman pada ayahnya.
__ADS_1
"Wanita itu memang sulit di mengerti dan sedikit merepotkan." celoteh Dito.
"Saat kamu bertemu dengan wanita yang kamu cintai nanti. Kakak yakin kamu akan melupakan apa yang kamu katakan hari ini."
"Ya ... ya ... ya .... " Dito memutar bola matanya dengan malas.
"Ada apa, Kak? Katakan saja! Papa mendengarkan." Pak Danang sudah memahami adanya kesenjangan di dalam keluarganya.
Jika saja bukan karena Deta. Ia pasti sudah berpisah dengan istri yang sudah menemaninya selama dua puluh tahun terakhir.
"Pa ... Deta mau meminta izin pada Papa." Ragu Deta ingin berbicara.
"Izin apa, Kak? Selama itu hal baik, Papa akan selalu memberikan izin untuk Kakak."
"Papa jangan marah ya!" Deta menatap ayahnya yang masih duduk dengan tenang.
"Papa tidak akan marah. Tapi aku yang marah karena kesal menunggu Kakak bicara!!!" Dito sudah bangun dari kursi.
"Deeekkk ... sebentar saja." Deta memohon pada adiknya dengan mata bulat dan tatapannya yang polos.
Itulah kelemahan Dito. Ia tak bisa untuk berkata tidak pada kakaknya itu. Terkadang ia merasa bahwa kakaknya bersikap seperti seorang adik daripada seorang kakak.
"Baiklah.Aku akan mencoba menaikkan level kesabaranku." Dito duduk kembali dan memasang wajah masam.
"Baguslah. Terima kasih tampan." Deta terkekeh yang bermaksud untuk menggoda Dito.
Pak Danang dan bu Sarah hanya tersenyum melihat tingkah kedua buah hatinya yang sudah dewasa namun masih saja sering bertengkar.
Semua itu mengingatkan mereka pada hari-hari bahagia yang mereka lewati bersama.
Ketika pandangan mereka bertemu. Dengan segera bu Sarah mengalihkan pandangannya.
"Aku sudah duduk dengan tenang, Kak. Menanti pengumuman darimu. Jangan buat bokongku ini semakin tidak nyaman!" Dito mengusap bokongnya sekilas.
"Iya, Adikku sayang," Deta mencium pipi Dito.
"Kakak!!!" teriak Dito seraya mengusap pipinya.
"Sudah ... sudah. Kalian ini selalu saja seperti itu. Cepat katakan, Kak! Ini sudah larut, waktunya kita beristirahat." Bu Sarah mencoba menengahi percekcokan kakak beradik itu.
"Iya, cepat katakan!" Dito menimpali
"Katakan saja, Kak! Papa sudah siap mendengarkan."
"Kenapa Kakak lama sekali?" Dania menguap dan mengucek matanya karena menahan kantuk.
Deta menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ia menatap wajah orang-orang yang ia cintai satu persatu. Bayangan ia akan meninggalkan keluarganya begitu Ricky menikahinya, membuat Deta mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Hei, cepat katakan!" Dito berteriak di telinga Deta.
"Aku akan menikah!!!" Deta ikut berteriak karena terkejut.
"Apa????" Seluruh keluarga terkejut kecuali bu Sarah.
Hallo semunyaš¤
Semoga kalian suka ceritanya š„°
Jangan lupa tinggalkan jejak š£ kalian dengan likeš, comment, rate dan vote tentunya š¤
__ADS_1
Iā¤U readers kesayangan kuuhh