Poros Jodoh

Poros Jodoh
RIVAL


__ADS_3

"Darling!!!" Deta berjalan menghampiri Rayyan yang masih melambaikan tangannya pada Dania yang berada di bawah.


"Mommy, come hele (Ibu, kemarilah)!" Rayyan mengibas-ngibaskan tangannya untuk meminta Deta agar mendekat.


"Ada apa?" tanya Deta, kedua alisnya hampir menyatu melihat tingkah Rayyan.


"Look at that (lihat itu)!" Rayyan menunjuk ke arah bawah ketika Deta sudah mendekat padanya. Deta pun segera mengikuti arah tangan Rayyan dan melihat Dania sedang berdiri dengan seorang wanita di belakangnya.


"Siapa wanita itu?" gumam Deta, wajah wanita itu tidak terlihat jelas dari atas.


"Hah, who is she (siapa dia)?" tanya Rayyan tiba-tiba, membuat Deta terkejut karena ia berpikir Rayyan tidak mendengar gumamannya.


"Aku tidak tahu, Darling. Maybe (mungkin), itu temannya aunty." jawab Deta sembari mengangkat kedua bahunya.


***


"Explained to me, Aunty (jelaskan padaku, Bibi)!" rengek Rayyan untuk yang kesekian kalinya pada Dania.


Deta yang mengemudi pun melirik ke arah bangku penumpang di belakang yang sudah ribut sejak tadi. "Ada apa ini?"


"Ini, Kak, Rayyan ribet! Selalu ingin tahu urusan Dania." keluh Dania, wajahnya sudah di tekuk karena kesal dengan tingkah Rayyan.


"No, Mommy! I just ask to Aunty (aku hanya bertanya pada bibi), who is she (siapa dia)?" elak Rayyan. Ia tak terima di adukan oleh Dania kepada Deta.


"She (dia\=wanita)? Who (siapa)?" Deta mengulangi perkataan Rayyan yang membuat Dania semakin terpojok.


Dania menghela nafas dan menceritakan siapa wanita yang ia temui tadi dan apa yang ia lihat di parkiran sekolah Rayyan.


"Kasihan sekali! Mungkin dia salah satu orang tua murid, bisa jadi anaknya bersekolah di sana juga. Siapa namanya?" tanya Deta saat Dania selesai bercerita.


"Itu dia, Kak, Dania lupa tanya siapa namanya." jawab Dania, di akhiri senyuman hambar yang membuatnya terlihat aneh.


"Stupid (bodoh)." celetuk Rayyan. Dania ingin sekali menoyor kepala bocah tengil itu jika Deta tidak berada di sana.


"Rayyan! Tidak baik bicara seperti itu pada orang yang lebih tua. Sekarang minta maaf pada Aunty!" titah Deta pada Rayyan yang sudah mulai merajuk.


Rayyan menghela nafas. "Solly, Aunty (maaf, Bibi)." ucap Rayyan menggemaskan.


"Never mind (tidak usah dipikirkan)." Dania mengedipkan sebelah matanya, menanggapi permintaan maaf Rayyan.


"Menyebalkan!!!" sungut Rayyan.

__ADS_1


"Apa?" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Deta dan Dania secara bersamaan ketika mendengar celetukan Rayyan.


***


Deta masuk ke dalam rumah dan mendapati tas yang ingin ia beli sudah ada di ruang keluarga .


"Siapa yang meletakkan tas itu di sini?" teriak Deta yang langsung membuat para pelayan berkumpul.


Beberapa pelayan sudah berbaris rapih dan menundukkan kepala di depan Deta. Semua orang tahu jika Deta marah, maka itu artinya mereka sudah melakukan kesalahan yang fatal.


"Siapa yang membawanya?" tanya Deta pada pelayan yang berdiri paling depan.


"Tas itu di antarkan langsung dari toko atas pesanan tuan Angga, Nyonya," jawab pelayan itu dengan tenang.


Deta menghembuskan nafasnya dengan kasar, kesal dengan sikap Angga yang masih tidak menghargai prinsipnya. "Letakkan itu di tempat biasa!"


"Baik, Nyonya," Seorang pelayan wanita membawa tas itu dengan hati-hati ke sebuah ruangan yang berisi barang-barang mewah lainnya.


"Ada apa dengan nyonya Deta, kenapa ia tidak pernah menggunakan barang-barang ini?" pikir pelayan itu, matanya berbinar melihat ratusan barang mewah tertata rapih disana.


***


Deretan gedung pencakar langit berbaris rapih di tepi jalan, suatu pemandangan yang sudah cukup lama di lupakan oleh Angga. Hari ini, karena ulah Ricky ia terpaksa harus kembali ke kota ini dan meninggalkan Deta di negara asing.


"Apa dia membelinya?" tanya Angga dengan tatapan penuh harap.


"Tidak, Tuan,"


"Sudah ku duga." Seringai tipis terlukis di wajah Angga. "Beli tas itu dan kirim ke rumah sekarang juga." sambungnya, memberi perintah pada Dhirgam yang di jawab anggukan kepala oleh asistennya itu.


***


"Dania, ini ulah kamu, kan?" Deta langsung menuduh adiknya ketika ia memasuki kamar Dania.


Dania menatap bingung kakaknya yang terlihat sangat marah. "Maksud Kakak?"


Deta menarik kursi belajar Dania dan membawanya ke hadapan Dania. "Kamu yang mengadu pada Angga kalau Kakak ingin membeli tas di toko xx tadi. Iya, kan?" tanya Deta seraya menduduki kursi yang di tariknya.


"Tidak, Kak. Sumpah demi mama dan papa bukan Dania!" sanggah Dania dengan mata yang berkaca-kaca.


'Dia sudah menyebut mama dan papa, itu artinya dia tidak berbohong.' batin Deta. "Jadi siapa?" tanya Deta lagi. Namun, Dania hanya bisa mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


***


"Selamat malam, Tuan, silahkan tunggu disini! Sebentar lagi tuan Sanjaya akan datang." Seorang pelayan dengan sopan menunjukkan tempat duduk untuk Angga.


Malam ini, akhirnya Angga akan menemui Ricky setelah lima tahun bersembunyi dari kejaran sahabatnya itu. Angga bukannya tidak tahu jika Ricky terus mencari keberadaan dirinya dan Deta selama ini, tapi Angga sengaja menutup semua jalan untuk Ricky agar tidak bisa lagi berhubungan dengan Deta.


Terlalu lama menunggu membuat Angga mulai merasa bosan, ia memutar-mutar jarinya di atas gelas piala yang masih kosong, hingga tiba-tiba ponselnya berdering dan langsung menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Hallo, Sayang?" ucap Angga begitu wajah cantik Deta memenuhi layar ponselnya.


"To the point (langsung ke intinya) saja, Ga! Untuk apa kamu membelikan ini untukku?" tanya Deta, kini layar ponsel beralih menunjukkan sebuah tas berwarna hitam yang sangat cantik.


Angga menghela nafas, mulai jenuh menghadapi sikap Deta yang seperti ini. "Kamu menyukainya bukan? Jadi, aku membelinya untukmu."


"Iya, tapi aku akan -"


"Membelinya sendiri." sela Angga, wajahnya sudah memerah karena menahan amarah.


"Kalau kamu sudah tahu, kenapa kamu masih -" Gambar di ponsel Angga mulai tidak karuan. Sepertinya seseorang baru saja merebut ponsel Deta.


"Hallo?"panggil Angga, ia mulai merasa cemas.


"Daddy!!!" Kini layar ponsel Angga di penuhi oleh wajah bulat dan menggemaskan Rayyan.


"Hallo, Darling. What are you doing now (apa yang sedang kamu lakukan)?" tanya Angga, ia mengusap layar ponselnya karena mulai merasakan kerinduan terhadap Rayyan.


"I am (aku sedang) -" Lagi-lagi gambar di layar ponsel Angga tidak karuan. Namun, kali ini Angga tersenyum karena ia bisa menebak apa yang sedang terjadi.


"Rayyan, tidak baik menyela pembicaraan orang tua. Kamu bisa bicara dengan Daddy saat aku sudah selesai bicara. Mengerti?" Angga bisa mendengar suara Deta yang sedang memarahi Rayyan dengan sangat jelas.


"Yes, Mommy, solly." lirih Rayyan. Angga masih tersenyum dan menatap layar ponselnya yang kini menampakkan sebuah pintu yang terbuka.


'Aku merindukan kalian.' batin Angga.


"Apa dia anakmu?" Suara seseorang yang baru saja memasuki ruangan, mengejutkan Angga yang masih mendengarkan keributan yang di ciptakan oleh Rayyan.


'Sejak kapan Ricky disini? Apa dia melihat Deta?' batin Angga. Ia melirik ponselnya yang sudah dalam keadaan mati.


Hallo semuanya šŸ¤—


Mohon maaf jadwal up kembali amburadul karena kegiatan author di dunia nyata semakin bertambah 🤧 Tapi author tetap berusaha untuk rajin up hanya saja tidak bisa up setiap hari seperti sebelumnya šŸ™

__ADS_1


Semoga readers kesayangan author tetap stay di dunianya Deta dan tetap dukung author yang amburadul ini 😘


Iā¤U readers kesayangan kuhh


__ADS_2