Poros Jodoh

Poros Jodoh
JANGAN MENYENTUHNYA


__ADS_3

Matahari bersinar terik di atas kepala menandakan hari sudah sangat siang.


Mobil mewah Ricky berhenti di depan kediaman keluarga Riady.


Deta menarik nafas dalam dan membuka sabuk pengaman yang melindunginya sepanjang perjalanan.


Melihat kegelisahan Deta membuat Ricky merasa tidak nyaman. Karena dirinyalah Deta berada di situasi seperti ini. Sebagai pria yang baik, Ricky merasa bahwa ia harus bertanggung jawab.


"Anda mau kemana, pak?" Deta yang heran melihat Ricky ikut melepaskan sabuk pengamannya.


"Aku akan ikut masuk bersamamu." Ricky menoleh sekilas.


Ketika Ricky hendak membuka pintu mobil, Deta menahannya dengan menyentuh tangan Ricky.


Sontak saja hal itu membuat Ricky langsung menoleh dan bertatapan dengan Deta.


"Ah, maaf pak!" Dengan cepat Deta menjauhkan tangannya.


"Lakukan lagi! Aku menyukainya." Goda Ricky dengan mengedipkan sebelah matanya.


Dasar pria!!!


Umpat Deta dalam hati.


"Anda tidak perlu turun, pak." Deta memakai tas yang berada di pangkuannya.


"Kenapa? Aku tidak ingin kamu di marahi orang tuamu seorang diri. Aku akan bertanggung jawab!"


Mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Ricky membuat Deta merasa risih. Ia lantas membelalakan matanya karena terkejut.


"Apa aku salah bicara?" Heran Ricky melihat ekspresi Deta.


"Tidak, pak. Hanya pemilihan kata yang kurang tepat."


"Bagian mana yang kurang tepat? Akan aku perbaiki."


"Bagian " bertanggung jawab" itu terdengar seperti Anda sudah melakukan sesuatu yang salah terhadap saya."


"Tapi aku memang bersalah. Karena aku yang membuatmu tidak bisa pulang semalam."


"Iya, pak. Tapi itu bukan... Sudahlah, kenapa kita membahas hal ini? Sungguh, pak. Tidak akan terjadi apapun. Anda juga sudah lelah dan harus beristirahat, pak. Selamat siang."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Ricky, Deta langsung keluar dari mobil.


Dia bahkan tidak menoleh.


Geram Ricky melihat sikap acuh Deta.


"Tunggu!!!" Ricky segera menyusul Deta.


"Ada apa, pak?"


"Kamu melupakan balonmu." Ricky tersenyum dan menyerahkan balon yang ia belikan untuk Deta sebelumnya.


***


Alasan sebenarnya Deta tidak mengizinkan Ricky ikut masuk ke rumahnya adalah karena ia tak ingin Ricky melihat kekacauan yang sedang terjadi di dalam rumahnya.


Keheningan. Hal pertama yang Deta rasakan begitu memasuki rumahnya.


"Dimana semua orang?" Gumam Deta seraya berjalan menuju dapur.


"Balon ini merepotkan saja!!!" Di pukul nya beberapa balon yang sedang ia pegang karena tersangkut di ambang pintu.


"Ma... Pa... Dito... Dania..." Deta mengabsen seluruh keluarganya tapi tak ada jawaban yang di dapatkan.


Hingga kakinya berhenti di depan kamar tidur Dania.


"Dania... Kamu kah itu?" Deta mengetuk pintu dengan lembut.


"Kakak!!!" Suara pelan dari dalam kamar yang sangat di kenali Deta.


"Dania!!! Iya ini kakak. Buka pintunya, Dania!" Deta menaik turunkan handle pintu mengira Dania sudah menguncinya dari dalam.


"Dania tidak bisa membuka pintunya, kak. Hiks... Hiks..." Dania kembali terisak.


"Tenanglah,Dania.Apa mama yang mengurung kamu di sini?" Deta memukul-mukul pintu berharap agar segera terbuka.


"Bukan mama. Aku yang melakukannya." Tiba-tiba Dito muncul dari luar.


"Deeekkk....Apa yang kamu lakukan? Cepat buka!!!"


Dito hanya mendengus dan melangkah untuk membuka pintu.

__ADS_1


Saat pintu terbuka, Dania yang malang langsung bangkit dan berlari memeluk Deta.


Mereka berdua menangis tanpa bisa mengatakan apapun. Dito yang melihat hal itu pun ikut merasa terharu.


Setelah cukup lama saling bersahutan air mata. Tiba-tiba saja Dito merusak suasana haru yang sedang terjadi.


"Apakah kakak berjualan balon di pasar malam?"


***


Di perjalanan pulang, Ricky menerima panggilan dari Nino yang memintanya untuk datang ke apartemen milik Angga.


Dengan malas dan masih tersisa sedikit kemarahan di hatinya. Ricky melajukan mobilnya ke apartemen Angga.


Tidak seperti malam sebelumnya, hari ini keadaan di dalam apartemen Angga cukup terkendali.


Ricky dan Angga duduk berhadapan dan saling menatap dengan tajam. Seperti dua ekor singa yang siap bertarung.


Nino yang masih belum tahu permasalahan di antara kedua temannya hanya bisa memperhatikan mereka dari jarak yang cukup aman.


"Jangan sentuh wanitaku!!!" Ricky membuka mulutnya.


"Tidak pernah. Tapi aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku darinya." Angga tersenyum sinis.


"Jangan pernah menatapnya lagi!!!" Ricky mulai tersulut emosi.


Angga mendengus dan bergumam."Dasar pelit!!!"


Mereka kembali bertatapan kemudian tertawa.


"Hei... Hei... Hei... Apakah yang sebenarnya kalian bicarakan? Bukan... Bukan... Tapi siapa yang kalian bicarakan?"


"Deta!!!" Jawab Ricky dan Angga bersamaan.


Hallo semuanya🤗


Semoga kalian suka ceritanya 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like👍 , comment, rate dan vote 😍


Biar aku tambah semangat nulisnya 🤭

__ADS_1


Yang mau kepoin ig ku boleh di @deawahyunita


__ADS_2