
"Aku hanya ingin melakukan satu pembelaan, Ky." Nino menghela nafas. "Bahwa aku ... bukan pria tua!" tegasnya.
Ricky berdecak kesal mendengar pembelaan yang di utarakan Nino. "Kamu salah fokus, No!"
"Tidak! Aku tidak akan menyangkal apapun yang di katakan oleh calon kakak iparku yang tampan ini, tapi aku hanya tidak bisa menerima ketika aku di sebut pria tua." sanggah Nino, wajah usilnya membuat Dito bergidik ngeri.
'Apa dia bilang? Kakak ipar? Dia bahkan lebih tua dariku.' batin Dito mengoceh.
Melihat interaksi yang begitu sengit antara Nino dan Dito melalui sorot mata mereka, membuat Ricky terkekeh sendiri. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis kecil yang mengikat dirinya dan Deta akan memiliki kisah cinta yang unik.
Ricky menepuk bahu Dito. "Aku tidak bisa mengatakan apapun, karena Dania adalah tanggung jawabmu, Dito. Tapi kamu juga harus ingat bahwa aku telah menjadi suami kakakmu, dimana aku juga berhak mengutarakan pendapatku."
Dito menyetujui ucapan Ricky dengan satu anggukan kepala.
"Baiklah, kalau begitu. Kita harus meminta pendapat istriku mengenai kisah cinta yang unik ini."
***
Ketika keluar dari ruang kerjanya, Ricky tidak menemukan Deta di ruang tamu tempat semua keluarganya berkumpul tadi.
"Dimana semua orang?" gumam Ricky.
Tak berbeda jauh dengan Ricky, Nino dan Dito juga kebingungan mencari sosok yang menjadi pusat hidup mereka kini.
'Dimana, Moony?' batin Nino.
'Dimana dia? Sudah aku ingatkan, jangan sembarangan keluyuran!" batin Dito.
Tiba-tiba seorang pelayan berjalan mendekat ketika ia melihat Ricky melambaikan tangannya.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?" tanya pelayan itu.
"Dimana semua orang?" tanya Ricky datar.
"Di kamar utama, Tuan, beberapa saat yang lalu nyonya mual dan sedikit pusing. Jadi, tuan dan nyonya besar membawa nyonya ke kamar untuk di periksa dokter." jelas pelayan itu.
Tanpa menunggu perintah, ketiga pria itu berlari menuju kamar tidur Ricky.
"Sayang?"
"Moony?"
__ADS_1
"Shan?"
Seru ketiga pria itu begitu mereka berhasil masuk ke dalam kamar utama yang di penuhi oleh keluarga Sanjaya. Dan, ketiga wanita yang di maksud tadi pun menoleh dengan tatapan keheranan.
Pak Firman, bu Rika, Refita, Yoga, dan juga si kembar langsung menepi ketika Ricky datang dan terburu-buru untuk menghampiri Deta yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
Dokter Shanum yang sempat terkejut karena Dito menyebut namanya pun mulai kembali ke dunia nyata dan segera memberi ruang untuk pengantin baru yang akan menjadi calon orang tua muda itu.
Sedangkan Dania, ia hanya melemparkan tatapan polosnya pada Nino yang tengah tersenyum lega melihat wanita kecilnya baik-baik saja.
"Sayang ...," Ricky sudah berdiri di tepi tempat tidur dan memegangi tangan Deta yang terasa dingin. "Maafkan aku," lirihnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Deta berusaha menarik senyum tipis di sudut bibirnya.
"Kak Deta tidak apa-apa, Tuan, hanya sedikit dehidrasi karena kekurangan cairan." jelas Shanum.
Mata Dito seketika terbelalak ketika mendengar panggilan yang di berikan Shanum untuk Deta.
'Aku baru meninggalkannya sebentar, tapi dia sudah sedekat itu dengan kakak.' batin Dito, ia terus menatap Shanum tanpa berkedip.
Mata Ricky menatap Deta nanar sebelum ia beralih menatap Shanum. "Terima kasih, Shanum, bisakah aku memanggilmu begitu?"
"Tentu, Tuan," jawab Shanum sumringah.
'Ada apa ini? Sepertinya ada yang aku lewatkan?' batin Deta, ia sudah memperhatikan gerak-gerik suami dan juga adiknya itu sedari tadi.
"Baik, Kak Ricky, mohon maaf sepertinya kita semua harus keluar karena Kak Deta butuh istirahat." ucap Shanum, bibirnya mengulas senyum tipis yang membuat siapapun terpesona.
"Kamu benar, Nak," sahut bu Rika, kemudian menarik tangan pak Firman yang enggan keluar dari kamar Ricky.
"Jaga adik dan calon keponakanku, ya, Ky! Awas, jangan sampai mereka tersiksa karena ulahmu!" ancam Refita sebelum ia keluar bersama keluarga kecilnya.
"Berisik! Keluar sana!" usir Ricky, yang mendapat sahutan tawa dari Refita.
Kini hanya tinggal Dito, Shanum, Nino, dan juga Dania yang masih ada di kamar itu.
"Kenapa kalian masih disini?" tanya Ricky, ia merasa si awasi oleh kedua pasangan yang belum jelas itu.
"Maaf, Kak," ucap Dito, ia segera berjalan keluar dan di ikuti oleh Shanum.
Ricky mendesah kesal. "Dan kamu, No. Apa aku harus memanggil petugas keamanan untuk mengusirmu?"
__ADS_1
"Haih, kamu begitu pelit berbagi kisah manismu, Ky." sungut Nino, matanya masih tak bisa lepas dari sosok Dania.
"Kamu hanya mengganggu! Pergilah!" usir Ricky, wajahnya kembali dingin dan menyeramkan.
"Baik ... baik ...," ucap Nino santai. Ia beringsut mendekati Dania. "Ayo, kita keluar dan biarkan mereka di mabuk cinta!"
Dania sebenarnya tidak ingin meninggalkan Deta, tapi ia tahu bahwa kini Deta berada bersama orang yang tepat dan di tempat yang tepat juga.
"Ayo, Om!" ajak Dania, ia berjalan mendahului Nino.
"Tunggu, Moony! Kenapa kamu meninggalkan aku?" sungut Nino, ia setengah berlari untuk menyusul Dania.
Melihat tingkah konyol sahabatnya membuat Ricky terkekeh dan tidak menyadari bahwa Deta sedang memperhatikannya sejak tadi.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Sayang?" tanya Ricky, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Katakan padaku, apa yang kamu bicarakan dengan Dito dan juga Nino?" selidik Deta, ia teringat ketika sedang berkumpul tadi tiba-tiba Ricky menghilang.
Ricky memutar bola matanya. Mencoba mencari alasan yang paling tepat untuk mengelabui Deta, tapi hatinya tak ingin berpihak padanya.
'Sial!!!' batin Ricky. "Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku harap kamu tidak terlalu memikirkan hal ini." ucap Ricky hati-hati.
"Katakan!" pinta Deta, suaranya masih lemah.
Dan mulailah Ricky menceritakan tentang Nino dan Dania. Tak ketinggalan ia juga menceritakan tentang kecurigaannya terhadap hubungan Dito dan juga Shanum yang terlihat aneh baginya.
"Jadi, menurut kamu Dito dan dokter Shanum ...," Pertanyaan pertama yang ditanyakan Deta begitu Ricky selesai bercerita.
"Exactly! Aku yakin, jika Dito dan Shanum memiliki hubungan spesial walau Dito menyangkalnya." sergah Ricky.
Bola mata Deta bergerak ke kiri dan ke kanan. "Jika itu benar, maka Dito harus segera memastikan hubungannya dengan dokter Shanum sebelum ada yang mendahuluinya."
"Aku setuju, Sayang," sahut Ricky. Ia masih setia menggenggam tangan Deta. "Dan, bagaimana dengan Nino dan juga Dania?" tanya Ricky hati-hati.
"Dania akan tetap pergi ke asrama sesuai dengan keinginan Dito karena aku yakin itu adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini, tapi ...."
"Tapi apa, Sayang?" tanya Ricky penasaran.
"Aku punya pendapat lain tentang kisah cinta unik ini."
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇 sertakan votenya juga 'ya 👈 sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh