
"PANGERAN!!!"
Lengkingan dari teriakan Dania tak hanya membuat pria yang ia maksud terkejut, tapi semua orang yang berada di sana pun ikut terkejut dan menduga-duga siapa gadis kecil yang berani mendekat kepada CEO mereka yang terkenal dingin dan acuh tersebut.
Dania yang mewarisi separuh sikap ceria Deta pun, tanpa ragu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Ricky dan membuat pria itu tersadar lamunannya.
"Tuan putri?" Ricky mengusap puncak kepala Dania. "Ini benar kamu?" tanya Ricky lagi untuk memastikan.
Ricky melepaskan pelukan Dania, dan sedikit berjongkok agar bisa menyamai tinggi gadis itu. "Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
Dania mencubit kedua pipi Ricky cukup keras hingga Ricky berteriak kesakitan.
"Arrggh ... sakit, Tuan putri!" keluh Ricky, kedua tangannya mengusap kedua pipinya.
"Tidak sesakit yang di rasakan oleh kakakku!" ketus Dania, wajah menggemaskannya sudah berganti menjadi wajah serius layaknya seorang wanita dewasa.
Dahi Ricky berkerut hingga kedua alisnya menukik tajam. 'Ada apa dengan kedua adik iparku ini? Mereka berdua menyalahkanku untuk rasa sakit yang aku juga ikut menanggungnya.' batin Ricky. "Baiklah aku minta maaf, tapi bisakah Tuan putri menceritakan padaku ada kisah apa selama lima tahun ini?"
"Tentu! Akan aku ceritakan sebuah kisah yang belum pernah kamu dengar sebelumnya."
***
"Dimana, Dania?" tanya Deta pada seorang pelayan yang sedang menyiapkan sarapan.
"Maaf, Nyonya, saya tidak melihat nona Dania." jawab pelayan itu.
Pagi-pagi Deta sudah membuat keributan karena hilangnya Dania. Ia sudah menghubungi Dito berkali-kali untuk memastikan keberadaan Dania, tapi Dito tak juga menjawab panggilannya.
"Angkat, Dek!" Deta menekan layar ponselnya berulang-ulang.
"What did you do, Mommy? (Apa yang kamu lakukan, Ibu?)" tanya Rayyan sembari mengucek kedua matanya.
Rayyan yang terbangun karena keributan yang di buat oleh Deta pun hanya bisa menatap bingung ke arah Deta.
"I am sorry, Darling," Deta menggendong Rayyan dan mengecup kening bocah kecil itu.
"Mommy, cali something?" tanya Rayyan, ia mulai menyukai bahasa yang di gunakan oleh Deta.
"Yes, Darling, aku mencari Dania. Entah pergi kemana dia sepagi ini?" keluh Deta, ia lupa jika lawan bicaranya adalah seorang anak kecil yang bahkan masih meraba apa yang ia ucapkan.
"Aunty?" tanya Rayyan polos.
Deta menoleh dan menganggukkan kepalanya. Wajah menggemaskan Rayyan selalu membuatnya melupakan segala amarah dan juga rasa sakit yang ia derita.
"Calm down, Mommy! I am sule aunty will be fine.(Tenanglah, Ibu! Aku yakin tante akan baik-baik saja)." ucap Rayyan, ia menarik kedua pipi Deta dengan lembut hingga bibirnya membentuk senyuman. "Smile for me, Please ...." (Tolong, tersenyumlah untukku.)
Siapa yang bisa menahan bujukan dari seorang pria kecil berwajah tampan ini. Dengan sekali gerakan, ia sudah membuat Deta kembali tersenyum.
__ADS_1
Di tengah suasana hangat yang terjadi antara Deta dan Rayyan, tiba-tiba Dhirgam datang dan membuat Deta terkejut dengan apa yang ia sampaikan.
"Apa kamu bilang? Dania pergi ke Sanjaya Corporation? Apa kamu tidak salah?" tanya Deta tak sabaran.
"Tidak, Nyonya, menurut orang-orang saya nona Dania sudah meninggalkan apartemen sekitar satu jam yang lalu." jelas Dhirgam.
Deta mendengus mendengar penjelasan Dhirgam. "Jika kamu tahu kapan dan kemana adikku itu pergi, kenapa tidak kamu cegah? Dan kenapa kau kesini bukannya menjemput adikku? Lain kali, tidak perlu memerintahkan siapapun untuk menguntit Dania ataupun diriku. Tidak ada gunanya!"
Angga yang baru saja keluar dari ruang kerjanya menatap tajam ke arah Deta yang sedang meluapkan kekesalannya terhadap sikap posesif Angga. Sayangnya, selama ini ia tak berani menyampaikannya secara langsung kepada Angga.
"Apa yang tidak berguna?" tanya Angga sembari menghampiri mereka bertiga.
"Selamat pagi, Tuan," Dhirgam membungkuk hormat kepada Angga. "Apakah anda sudah siap?" tanyanya kemudian.
"Tunggu, Dhirgam! Aku ingin tahu, apa yang membuat dia kesal sepagi ini?" tanya Angga, penasaran dengan akar dari permasalahan ini.
Deta tak berniat menjelaskan apapun, begitu pun dengan Rayyan yang tak tahu harus mengatakan apa. Jadi, Dhirgam berinisiatif untuk menjelaskannya kepada Angga.
"Nona Dania menghilang, Tuan, dan salah satu orang suruhan saya mengatakan bahwa nona Dania pergi ke Sanjaya Corporation." jelas Dhirgam.
Bola mata Angga membulat sempurna. "Apa kamu yakin? Untuk apa Dania kesana?"
"Itu benar, Tuan, tapi untuk alasan kepergiannya masih belum di ketahui." jawab Dhirgam tenang.
Deta memutar bola matanya, mencoba mencari alasan apa yang mendorong Dania pergi menemui Ricky hingga ia ingat apa yang dikatakan Dania di balkon malam sebelumnya.
"Kenangan tentang pangeran?" celetuk Dania yang langsung membuat manik mata Deta tertuju padanya.
"Kamu mengingatnya?" tanya Deta tak percaya. Ia menelaah ke dalam bola mata Dania, mencoba mencari keberadaan Ricky di dalam sana.
Anggukan kepala Dania sudah memupuskan harapan Deta jika adik kecilnya itu hanya sekedar melontarkan kata-kata, tapi sayang sungguh sayang ternyata Dania masih ingat setiap inchi dan setiap detik yang ia habiskan bersama pangeran tampan yang ia sayangi dulu.
"Tentu Dania ingat, Kak! Pangeranlah orang pertama yang membuat Dania tersenyum lepas dan merasa sangat di sayangi." tutur Dania, tapi ia segera menyadari air muka Deta yang berubah. "Tapi Kakak adalah orang yang selalu menyayangi Dania." ucapnya lembut.
'Kamu benar, Dania! Ricky adalah orang pertama yang membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu. Juga hidupku ....'
Ingatan berakhir...
"Aku tahu alasannya menemui Ricky." celetuk Deta, ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
"Apa maksudmu?" tanya Angga bingung.
Pertanyaan Angga menggantung begitu saja karena Deta langsung meninggalkannya tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi.
***
Gedung Sanjaya Corporation menjulang tinggi di hadapan Deta. Tangannya gemetar, rasa takut serta gugup yang pernah ia rasakan dulu ketika akan memasuki rumah besar Sanjaya untuk pertama kalinya kembali ia rasakan.
__ADS_1
"Aih, aku merasa de javu." keluh Deta, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berharap hal itu akan mengurangi beban di hatinya.
"Mommy?" Tarikan di tangannya membuat Deta menunduk dan melihat Rayyan yang sedang menengadah kepadanya.
Karena terlalu panik, Deta lupa jika dirinya masih menggendong Rayyan dan membawanya untuk mencari Dania.
"Sorry, Darling, aku lupa jika aku membawamu bersamaku." ucap Deta lembut sembari mengusap kepala Rayyan. "Ayo, Darling! Kita cari aunty!"
Setelah melewati berbagai macam halangan di lobby, akhirnya Deta di perbolehkan memasuki ruang kerja Ricky yang berada di lantai paling atas. Ternyata disana, Deta sudah di tunggu oleh Gibran di depan pintu ruangan CEO Sanjaya Corporation.
"Selamat datang, Nyonya!" sapa Gibran hormat.
"Terima kasih, Pak Asisten, bagaimana kabarmu?" Deta memasang wajah datarnya.
"Seperti yang anda lihat, Nyonya," jawab Gibran tenang, meski ia tahu jika Deta tidak setenang yang terlihat.
Deta tersenyum kikuk. "Baguslah, setidaknya kamu hidup dengan baik setelah membantu pembohong untuk membodohiku."
Ucapan Deta tak mampu di tepis oleh Gibran karena Deta langsung melangkah melewati Gibran untuk bertemu dengan Ricky.
"Dania?" panggil Deta begitu memasuki ruangan Ricky.
Sebuah kursi memutar dan memperlihatkan wajah tampan Ricky yang sedang duduk dengan penuh wibawa.
"Selamat datang, Sayang!"
Hallo semuanya π€
Minggu ini 3 bab dulu ya karena author masih sibuk dengan dunia nyata π
Sambil menunggu Deta dan bang Ricky kembali, silahkan mampir ke novelku yang lain πππ
**Yakin gak mau ikutan kesel π€ yukk buruan nyemplung ke sana juga πππ
Jangan lupa di tap jempolnya πdan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar π sertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
SEE YOU NEXT WEEK ππ**
__ADS_1