
"Kamu berhutang penjelasan padaku!" Syafitri memukul meja dan memicingkan matanya.
Sontak saja, hal itu membuat beberapa pasang mata yang ada di dekat mereka langsung menoleh ke arah mereka berdua.
"Maaf... maaf ...," Deta menyatukan kedua tangannya dan menunduk ke beberapa orang yang juga sedang berada di kantin.
"Kebiasaan burukmu itu kapan hilang?"
"Apa?"
"Kecilkan suaramu!!!"
Bukannya meminta maaf, Syafitri justru menekuk wajahnya.
"Baiklah. Aku beri tahu kamu satu hal, tapi berjanjilah kamu tidak akan berteriak." Deta menunjukkan jari kelingkingnya kepada Syafitri sebagai sebuah tanda perjanjian.
"Janji!!!" Syafitri langsung mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Deta.
Deta berdehem.
'Apa yang harus kukatakan padanya?Sebelumnya saat dia bertanya, aku mengatakan bahwa aku tidak pernah bertemu dengan pak Ricky, tapi sekarang tiba-tiba aku akan menikah dengannya.' Batin Deta.
"Sakit!!!" teriak Deta, ia mengusap lengannya yang di cubit oleh Syafitri.
"Salahmu sendiri! Aku menunggu, tapi kamu malah melamun." sungut Syafitri.
"Aku bingung!"
"Kenapa?"
"Harus cerita darimana?"
"Begini saja. Aku bertanya dan kamu menjawab. Jadi kamu tidak perlu bercerita hanya perlu menjawab dengan jujur!" saran Syafitri.
"Baiklah." pasrah Deta.
"Siapa pria itu?"
"Kamu 'kan sudah tahu tadi. Namanya pak Ricky." jawab Deta malas.
Terdengar Syafitri berdecak. "Maksudku Ricky siapa?"
Deta memutar bola matanya dengan malas. "Ricky Sanjaya."
"Apaaaa???" Lagi-lagi Syafitri berteriak dan membuat semua orang memperhatikannya. "Hehehe ... lanjutkan makan kalian. Jangan hiraukan aku!" ucapnya kikuk.
"Sudah kukatakan sebelumnya jangan berteriak." Deta terkekeh melihat Syafitri yang salah tingkah.
"Leluconmu tidak lucu! Katakan yang sebenarnya siapa pria itu?"
Deta menarik nafas dalam, mungkin memang seharusnya dia menceritakan hal ini pada seseorang.
Sejak Ricky "melamarnya", Deta belum memberitahukannya pada siapapun. Dan hal itu seperti menjadi ganjalan di hatinya.
"Pria itu adalah Ricky Sanjaya. Putra mahkota keluarga Sanjaya. Pria yang sangat ingin kamu temui." jelas Deta, ia mengangkat tangannya saat Syafitri akan membuka mulut. "Biarkan aku bicara!" sambungnya.
Begitu melihat kebimbangan di mata sahabatnya, Syafitri langsung menggenggam tangan Deta untuk memberinya dukungan.
"Lanjutkan!" Syafitri tersenyum, mencoba memberi kekuatan pada Deta.
"Terima kasih."
***
Pagi itu, suasana di ruko tempat belajar Deta tidak terlalu ramai seperti biasanya.
Angga memarkirkan mobilnya di tempat yang memang di sediakan untuknya. Matanya berkeliling mencari sosok yang sangat ingin ia temui.
'Mungkin dia ada di kantin.' pikirnya.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju kantin, semua orang menatapnya dan beberapa dari mereka mencoba untuk menyapanya.
"Pagi, Pak,"
"Pagi,"
"Pagi, Pak,"
"Pagi,"
Dan terus seperti itu sampai Angga memasuki kantin dan melihat dua orang gadis sedang terlibat percakapan yang cukup serius.
"Aneh. Sepertinya mereka bertukar peran hari ini." gumam Angga, kemudian tersenyum simpul.
Ia melangkahkan kakinya dan mendekati meja tempat Deta dan Syafitri sedang mengobrol.
***
"Kamu serius? Dia ingin menikahimu?" Syafitri segera membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Apa yang kalian lakukan sehingga ia terburu-buru seperti itu?" Kali ini Syafitri bertanya dengan sedikit berbisik.
"Tidak ada."
"Bohong!!! Lalu kenapa dia memutuskan untuk menikah hanya dalam waktu satu minggu?"
"Aku ...."
"Siapa yang akan menikah?" Angga datang tiba-tiba dan membuat Deta mengurungkan niatnya untuk bicara.
Syafitri dan Deta menoleh bersamaan kemudian saling berpandangan.
'Jangan katakan apapun!!!'
Begitulah kira-kira yang tertulis di mata Deta. Beruntung, Syafitri langsung memahaminya.
"Tidak, terima kasih. Aku ingin bicara dengan Deta." Angga mengalihkan pandangannya pada Deta yang tak menghiraukan kehadirannya.
"Bisakah Deta?" tanya Angga.
"Ah, tentu. Silahkan!" Deta mengarahkan tangannya ke kursi yang di ikuti tatapan mata Angga.
"Tidak di sini!" tegas Angga.
Deta melihat jam di tangannya. "Tapi sebentar lagi kelasnya akan di mulai."
Angga tidak menjawab. Namun, ia langsung menarik tangan Deta yang membuat Deta terpaksa mengikutinya.
Syafitri yang menyaksikan hal itu hanya diam mematung karena terlalu terkejut, tapi beberapa detik kemudian ia tersadar dan menghubungi seseorang.
"Deta dalam masalah."
***
"Menurutmu apa yang membuat Detaku merasa berhutang nyawa pada Dania?" Ricky mengetuk-ngetuk jarinya di antara dagu dan bibirnya.
Ia sudah mulai menyatakan kepemilikannya terhadap Deta dengan mengatakan "Detaku".
"Itu sepertinya hanya nona Deta yang tahu jawabannya, Pak," Gibran mencoba memberi jawaban sebisanya.
"Terkadang cara berpikirnya memang selalu melawan arus." Ricky tersenyum membayangkan wajah Deta.
'Cih!!! Kenapa aku selalu merindukan dirinya?
Tapi apakah dia juga merindukanku? Dia selalu saja bersikap dingin!' Ricky membatin seraya memutar ingatan tentang Deta di kepalanya.
Tiba-tiba ponsel Ricky bergetar. "Jerry?" Ricky mengerutkan keningnya.
'Pasti dia masih penasaran! Rasakan kamu, Jer!!!' ejek Ricky dalam hatinya.
__ADS_1
Ricky menolak panggilan Jerry berkali-kali, hingga ia mendapatkan sebuah pesan yang membuatnya langsung berdiri dan meninggalkan Gibran di sana.
***
Sementara, di tempat lain. Angga masih menarik paksa tangan Deta tanpa memperdulikan tatapan bingung orang-orang yang melihatnya.
"Tolong lepaskan tangan saya, Pak!" Deta menggoyang-goyangkan tangannya dan memukuli tangan Angga dengan sebelah tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Angga, tapi usahanya sia-sia karena kalah tenaga dengan Angga.
Sebenarnya Angga sudah merasakan sakit di tangannya akibat luka pecahan gelas semalam, tapi ia sudah bertekad tidak akan melepaskan Deta.
Walaupun Deta sudah memohon tapi Angga tidak mau mendengarkannya dan terus saja berjalan menuju mobilnya.
Angga membuka pintu mobil untuk Deta. "Masuk!!!"
"Maaf, Pak, kita akan bicara di sini atau tidak sama sekali." Deta menatap Angga dengan tatapan menantang.
Angga menatap bola mata Deta. Tidak ada ketakutan ataupun keraguan di sana.
'Apakah aku benar-benar tidak ada di sana?' Batin Angga.
"Jadilah milikku!" Kalimat yang terdengar seperti gemuruh di telinga Deta.
"Apa?" Deta berharap ia salah dengar.
"Jadilah wanitaku! Dan tinggal di sampingku!"
"Anda sudah tidak waras, Pak!" Deta mendengus dan menggelengkan kepalanya.
Saat Deta berbalik, Angga langsung menarik tangannya dan membuat Deta berada dalam pelukannya.
"Lepaskan saya!!!"
"Tidak akan!!!"
"Angga!!!" Deta berteriak dan mendaratkan tangannya di wajah Angga.
Kemarahan telah memberikan Deta kekuatan untuk melawan. Meskipun ia sendiri juga terkejut dengan apa yang ia lakukan.
Terlihat Angga yang justru tersenyum setelah mendapat tamparan dari Deta. Ia mengusap pipinya yang terasa panas.
Melihat senyuman Angga, membuat Deta waspada dan mundur beberapa langkah, tapi Angga tidak melepaskannya begitu saja. Ia juga melangkah untuk mengurangi jaraknya dengan Deta.
Tubuh Deta membentur dinding pembatas parkiran. Ia sudah tersudut dan tak bisa lari. Sedangkan Angga semakin mendekat dan menatapnya dengan tatapan aneh.
'Matanya seperti mata pak Ricky ketika akan menabrakkan bibirnya padaku.' Pikiran Deta yang sudah ketakutan.
Di saat seperti ini, seharusnya seorang gadis akan ketakutan, tapi Deta justru melakukan hal yang sebaliknya. Ia melangkah maju dan menghilangkan jarak antara dirinya dan Angga.
Mereka saling bertatapan dan Angga sudah memiringkan kepalanya agar lebih dekat dengan bibir Deta.
BUG!!!
Sebuah kepalan tangan mendarat di wajah Angga. (Kasihan wajah ganteng bang Angga kena pukul dua kali 🤭)
Pukulan yang cukup keras hingga membuat Angga jatuh tersungkur.
Deta segera menoleh dan melihat Ricky yang sudah di kuasai amarah.
Angga bangkit dan ingin melihat siapa orang yang berani memukulnya.
"Ricky???"
Hallo semuanya 🤗
Semoga kalian suka ceritanya🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian berupa like👍, comment, rate and vote. okay👌
Aku sayang kalian jadi please sayangi aku juga 😘
__ADS_1