Poros Jodoh

Poros Jodoh
POSESIF


__ADS_3

Bu Rika berjalan dengan sangat cepat meninggalkan pak Firman di belakangnya.


"Ma, kenapa buru-buru sekali?" teriak pak Firman.


Mendengar teriakan suaminya, bu Rika segera berbalik dan menghampiri suaminya.


"Papa ini selalu seperti itu. Semua hal selalu di anggap lelucon." Bu Rika menatap kesal suaminya yang justru tersenyum menampakkan deretan giginya.


"Bukan begitu, Sayang. Tapi apa yang Mama takutkan itu, Papa yakin seratus persen tidak akan terjadi. Tapi, jika Mama masih ragu. Ayo, kita kesana!" Pak Firman menggandeng tangan istrinya yang masih memasang wajah kesal.


***


Mika memeluk Deta dengan erat. Ada perasaan lega di hatinya ketika melihat Deta.


"Ada apa, Mika?" tanya Deta.


Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Mika. Wanita itu seperti menanggung beban yang sangat berat.


"Bisakah kita mengobrol?" tanya Mika seraya meraih tangan Deta.


Deta melihat kearah Ricky yang masih terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan pria yang datang bersama Mika tadi.


"Tidak apa. Mereka butuh waktu yang cukup lama jika sudah seperti itu." Mika menarik tangan Deta dan membawanya melalui pintu kaca yang terhubung dengan halaman belakang rumah.


"Rumah ini besar juga. Ternyata dia benar-benar serius denganmu, Deta." ucap Mika seraya tersenyum bahagia.


Wajah Deta merona menanggapi ucapan Mika. Memang benar, Ricky sudah membuktikan keseriusannya pada Deta.


Deta menatap cincin yang melingkar di jari manisnya kemudian tersenyum sendiri.


"Apakah itu dari Ricky?" Mika memperhatikan Deta yang terlihat bahagia sembari terus memandangi tangannya.


"Iya," jawab Deta malu.


"Selamat ya. Aku sangat bahagia untukmu, Deta." Mika memeluk Deta lagi.


"Hei, kenapa kamu terus memeluknya?" Ricky berjalan menghampiri Deta dan Mika dengan di ikuti Nino di belakangnya.


"Kenapa? Aku suka memeluknya." Mika kembali memeluk Deta.


'Sial! Aku saja jarang memeluknya. Kenapa Mika bisa dengan mudah memeluknya?'


Ricky mengumpat dalam hati.

__ADS_1


"Sudah, lepaskan!" Ricky segera menarik Deta dan merangkul bahunya agar tidak bisa melarikan diri.


"Posesif! " ketus Mika.


Ricky hanya berdecak melihat tingkah Mika. Baginya sudah terbiasa mendapat sikap seperti itu dari Mika.


"Apa kamu tidak akan mengenalkannya padaku, Ky?" tanya Nino yang merasa di acuhkan.


"Ah, iya aku lupa. Say-" Kalimat Ricky menggantung karena ia melihat Deta menggelengkan kepalanya.


Gadis itu tak suka jika Ricky memanggilnya dengan sebutan yang mesra seperti itu.


Ricky menghela nafas. "De, kenalkan ini Nino temanku. Dan Nino, inilah gadis yang sangat ingin kamu temui."


"Hai ... kamu pasti sudah mengenalku, kan?" Nino tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Iya, Anda temannya pak Ricky." Deta membalas uluran tangan Nino.


"Maksudku apakah kamu tidak merasa sering melihatku?" tanya Nino antusias.


Deta menggeleng. "Tidak."


"Sungguh?" tanya Nino tak percaya.


"Coba kamu perhatikan wajahku! Bukankah wajahku ini sangat familiar? " paksa Nino.


Deta mengerutkan keningnya dan menatap Nino dengan raut wajah yang tak menentu.


"Saya tidak mengenal Anda, Pak," jawab Deta yakin.


"Apakah kamu tidak punya televisi atau ponsel? Aku ini sangat terkenal." ucap Nino dengan penuh percaya diri.


"Tidak. Lagipula kenapa saya harus mengenal Anda?" tanya Deta dengan polosnya.


Ucapan Deta yang terdengar sangat natural itu membuat Ricky dan Mika tertawa.


"Rasakan." ejek Ricky seraya mengacungkan ibu jarinya.


***


Ricky masih saja menertawakan Nino yang masih kesal pada Deta karena tidak mengenalinya.


"Tertawalah ... setelah menikah kamu akan sulit tertawa." omel Nino.

__ADS_1


"Aku akan bahagia setiap hari." sergah Ricky.


Mereka berjalan mengikuti Deta dan Mika. Kedua wanita itu berjalan ke arah Dania yang sedang bermain.


Melihat kedatangan kakaknya, Dania langsung berlari ke arah Deta.


Mika memperhatikan gadis kecil yang sedang berlari menuju ke arahnya. 'Kak Nika.'


Bayangan kakaknya yang sedang tertawa dan berlari ke arahnya tiba-tiba saja terbayang di kepala Mika.


Ia tidak melepaskan pandangannya dari Dania yang kini memeluk Deta dengan sangat erat.


Deta berjongkok dan membersihkan wajah Dania yang terkena sedikit kotoran saat bermain.


"Kakak, siapa Kakak cantik itu?" Dania menunjuk Mika yang masih mematung di samping Deta.


"Kakak ini temannya kak Ricky. Namanya kak Mika." jelas Deta seraya berdiri.


"Mika, kenalkan ini adikku, Dania."


Mika tidak bergeming. Ia bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya dari Dania.


"Mika?" Deta menyentuh bahu Mika.


Mika tersentak, ia langsung menatap Deta dan Dania bergantian.


"Ini adikmu?" Mika memicingkan matanya.


"Iya," jawab Deta ragu.


"Kenapa wajah kalian sangat berbeda?" tanya Mika seraya terus memperhatikan wajah Dania.


"Mereka itu kakak beradik, bukan kembar identik." Tiba-tiba Ricky menimpali.


Mika berdecak mendengar jawaban Ricky.


***


Hallo. semuanya 🤗


Maaf ya up nya cuma sedikit 🙏


semoga tetap bisa menghibur kalian semua😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini ya 😍


__ADS_2