Poros Jodoh

Poros Jodoh
ANAK SIAPA


__ADS_3

"Uncle!!!" teriak si kembar begitu melihat sosok Ricky yang sedang di hukum oleh ibunya.


Tatapan mata Deta tak lepas dari dua sosok gadis kembar yang menghambur memeluk Ricky.


"Mayang, kenapa memukul uncle?" tanya si sulung Kayla, wajahnya di tekuk sebagai aksi protes atas sikap sang nenek terhadap paman kesayangan mereka.


"Tidak, Sayang! Mayang tidak memukul uncle, tapi Mayang sedang menghukum uncle karena telah membohongi aunty cantik itu." jelas bu Rika, ia menunjuk Deta yang sedang duduk memperhatikan interaksi mereka.


'Membohongi? Kebohongan apa lagi? Ternyata aku masih bodoh seperti dulu.' batin Deta.


"Aunty? Bukankah Aunty yang kami temui di taman bermain saat itu?" tanya Nayla, ia bergegas menghampiri Deta.


"Betul, Sayang, ternyata kalian masih mengingat Aunty." Senyuman tulus terukir di wajah Deta.


"Tentu saja! Aunty sangat cantik." celetuk Nayla, matanya tak berkedip saat menatap Deta.


"Hei, kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Deta, tak tahan terus di tatap oleh Nayla.


Nayla menempatkan jari telunjuknya di kening seperti seseorang yang tengah berpikir keras. "Aku seperti pernah melihat Aunty, tapi aku tidak ingat."


Semua orang yang ada di dalam kamar itu terkekeh melihat tingkah Nayla. Tak ayal Deta pun tersenyum karena ulahnya.


"Aku ingat!" teriak Nayla, ia menjentikkan jarinya tanpa menimbulkan suara. "Aku selalu melihat Aunty di setiap tempat yang di datangi uncle. Benar 'kan, Kay?" tanya Nayla pada kembarannya.


"Uncle? Uncle yang mana yang kalian maksud?" tanya Deta, ia bergantian menatap Kayla dan Nayla.


Kedua anak kembar itu menoleh dan melihat ke arah Ricky yang menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat. Namun sayangnya, bu Rika melihat hal itu dan meminta kedua cucunya untuk menjawab pertanyaan Deta.


"Tentu saja uncle Ricky!" jawab mereka kompak.


Deta semakin tidak mengerti dengan keadaan ini. "Uncle? Bukankah dia itu ayah kalian?"


"Bukan!!!" sergah seseorang yang baru saja memasuki kamar.


"Mommy!" panggil Nayla, ia berebut memeluk Refita dengan Kayla.


Refita yang datang bersama Yoga langsung memeluk kedua putrinya. "Mereka adalah putriku, dan inilah ayah mereka." Refita mengusap pipi Yoga yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Tapi, tuan Sanjaya mengatakan bahwa -"


"Bahwa mereka adalah putrinya," sela Refita. Ia tak menggubris Ricky yang terus memelototinya. "Tidak, Deta! Kay dan Nay adalah putriku dan perlu kamu ketahui bahwa Ricky belum menikah. Dia bahkan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun sejak kepergianmu." tukas Refita.


"Kakak!" sergah Ricky, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu.


"Sudahlah, Ky! Kalian sudah lama tidak bertemu, kenapa harus berpura-pura dan menambah masalah jika kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan mudah?" lontar Refita.


Hati Deta berbunga-bunga mendengar penjelasan dari Refita. Ia merasa begitu di cintai oleh Ricky. Namun, sedetik kemudian Deta menyadari bahwa dirinya sudah tak mungkin bersama dengan Ricky.


"Ternyata kamu masih belum dewasa, Tuan Sanjaya. Anda masih saja suka berbohong dan mempermainkan perasaan saya." sinis Deta, ia sudah bersiap untuk pergi.


"Tidak, Sayang, bukan begitu!" sanggah Ricky, dengan sigap ia menahan pergelangan tangan Deta. "Dengarkan aku dulu!" bujuk Ricky.


Rasa sakit di hati Deta membuatnya kembali mengingat kejadian lima tahun lalu dimana Ricky membohongi dirinya. "Jika kamu masih belum puas berbohong, silakan pergi dan menjauh dariku karena hatiku sudah di penuhi oleh kebohongan dirimu."


Setelah mengatakan hal itu, Deta menghempaskan tangan Ricky di hadapan keluarganya. Dan hal itu membuat mereka cukup terkejut karena Deta yang mereka kenal tidak akan melakukan hal seperti itu.


Tepat ketika Deta akan pergi, Ricky langsung mengangkat tubuh Deta dan membopongnya. "Ma, tolong jaga Rayyan!"


Ricky beranjak keluar dari apartemennya dan tak menghiraukan kebingungan keluarganya.


***


Tepat saat Dania akan melangkah untuk memasuki gedung itu, tiba-tiba Dania melihat sosok wanita yang ia temui kemarin. Dania ingin menghampiri wanita itu, tapi ia teringat pesan Dito untuk menjauhi wanita itu meskipun Dania tak tahu alasannya.


"Lebih baik aku tidak mendekati nyonya itu. Kalau tidak, kak Dito pasti akan memasukkan aku ke sekolah militer." kekeh Dania, membayangkan betapa menyeramkannya wajah tampan Dito ketika sedang marah.


Dania memutuskan untuk berbalik dan meninggalkan Sanjaya Corporation, tapi matanya langsung terbuka lebar ketika ia melihat Angga menarik tangan wanita itu.


"Kak Angga? Kenapa dia menarik-narik tangan nyonya itu? Ah, aku lupa menanyakan nama nyonya itu." keluh Dania, ia merutuki kebiasaannya melupakan sesuatu yang penting.


***


"Apa yang kamu lakukan, Ga?"


"Seharusnya, aku yang bertanya padamu! Apa yang kamu lakukan di depan kantor Ricky, Mika?" tanya Angga, ia memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat wajah Mika.

__ADS_1


Sesungguhnya, kondisi Mika saat ini membuat batin Angga mencelos. Wanita yang ia cintai ternyata tidak hidup dengan baik setelah ia membiarkannya memilih jalan hidupnya sendiri.


"Aku ingin menemui Ricky. Aku harus mendapatkan maafnya agar dia mau membantuku mendapatkan putraku kembali." Mika menghapus air matanya yang sudah kurang ajar menunjukkan kelemahannya di hadapan Angga.


"Putramu? Hah! Kamu sudah membuangnya! Untuk apa kamu mencarinya lagi?" ketus Angga, wajah memelas Mika membuatnya terjebak dalam perasaannya.


"Aku tidak membuangnya, Ga!" hardik Mika dengan wajah penuh penyesalan. "Aku hanya memberikannya kepada ayahnya," lirih Mika.


"Aku sudah menerimanya. Jadi, aku harap kamu tidak akan pernah muncul di hadapan putraku!" Angga sudah bersiap untuk meninggalkan Mika.


Pria angkuh dan dingin itu berjalan melewati wanita yang pernah sangat ia cintai. Angga bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Mika yang menaruh harapan besar padanya.


"Tunggu dulu, Ga! Aku ini ibunya. Aku berhak menemui putraku." teriak Mika, ia tak memperdulikan banyak mata yang memandanginya.


Angga membawa Mika ke sebuah restoran yang terletak tak jauh dari Sanjaya Corporation setelah ia mendapati Mika hendak menemui Ricky.


Langkah kaki Angga terhenti ketika mendengar ucapan Mika. Ia berbalik dan melihat mata sipit itu sedang menatapnya dengan amarah.


"Kamu bukan ibunya! Deta adalah ibunya dan akan selalu seperti itu." tegas Angga.


"Tapi aku yang sudah melahirkannya." sanggah Mika, sekuat tenaga ia berusaha agar bisa menemui putranya.


Angga berdecak. "Kamu memang sama dengan kakakmu! Bermain, mengandung, melahirkan, lalu memberikan anakmu pada ayahnya tanpa memikirkan perasaannya. Seperti yang di alami oleh Dania, beruntungnya dia memiliki kakak tiri yang baik seperti Deta."


PRANG...


Angga dan Mika menoleh ke arah suara itu berasal dan melihat seseorang baru saja menjatuhkan gelas yang ia pegang.


"Dania?"


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Wahhh sudah 100 chapter ๐Ÿ˜ Author terharu ๐Ÿคง gak nyangka bisa sampe sebanyak ini author berhaluu ๐Ÿ˜‚ Terima kasih banyak untuk semua dukungan kalian๐Ÿ˜˜


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘ dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆsebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


SEE YOU NEXT WEEK ๐Ÿ˜


__ADS_2