
"Apa dia anakmu?"
Sebuah suara di seberang telpon yang membuat jantung Deta berdebar kencang. Suara itu bukan milik Angga, suara itu milik pria yang sudah lima tahun ini sangat Deta rindukan.
Dengan cepat Deta memutuskan sambungan telponnya. Hanya mendengar suaranya saja bisa membuat Deta seperti ini, bagaimana jika ia harus berhadapan langsung dengan pria itu?
"Astaga, apakah itu dia?" gumam Deta, wajahnya memucat seperti kehabisan darah.
Tak pernah terbayangkan oleh Deta jika dirinya akan kembali mendengar suara pria itu, walau kini tak ada kelembutan dalam suaranya. Namun, Deta tahu bahwa pria itu masih sama seperti dulu. Perasaannya masih sama seperti dulu saat mereka berpisah, tak pernah ada yang dapat menggantikan posisi pria itu di hatinya. Hanya dia seorang, Ricky Sanjaya.
***
Suasana cukup mencekam ketika Ricky duduk di hadapan Angga dengan tatapan yang tidak bersahabat sama sekali. Kekompakan dan kebersamaan mereka selama ini seolah tak pernah ada. Bahkan kedua asisten setia mereka pun saling menatap seperti bersiap untuk saling menerkam.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ricky memecah keheningan di antara dirinya dan Angga. Sebenarnya ia hanya ingin mencari tahu mengenai Deta melalui Angga, karena apa yang ia lakukan telah berhasil memancing Angga keluar dari lubang persembunyiannya.
"Aku?" Seringai tipis muncul di wajah tampan Angga. "Aku sangat baik dan bahagia." tambahnya.
Ricky melipat kedua tangannya di dada. "Benarkah?" Kedua alis Ricky terangkat menuntut penjelasan.
"Kamu bisa melihatnya sendiri. Kami memiliki seorang putra yang pintar dan tampan. Apa lagi yang kami butuhkan?" Angga tersenyum puas. "Ah, kami butuh seorang putri untuk melengkapi hidup kami yang sempurna." tambahnya.
Ricky menegang, hatinya terbakar mendengar ucapan Angga. "Kalau begitu, buatlah seorang putri. Jika wanitamu mau melakukannya."
__ADS_1
Kali ini Angga yang terbakar, Ricky nyaris menebak kehidupannya dengan Deta selama lima tahun ini.
'Apakah Ricky sudah tahu yang sebenarnya?' batin Angga.
"Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana cara membuat bayi? Bukankah kalian sudah berhasil membuat satu? Maka lakukanlah seperti sebelumnya." Serbuan pertanyaan terlontar dari bibir Ricky, di akhiri tawa yang kentara sekali hanya sebagai ejekan.
'Kita lihat, sampai sejauh mana kamu akan menyembunyikan wanitaku, Angga.'
***
Deta sangat gelisah malam itu, ia berpikir untuk membatalkan kepergiannya ke kota xx. Itu artinya Deta tidak akan bertemu dengan sahabat lamanya, dan Deta juga tidak akan bisa bertemu dengan Dito. Kerinduannya pada adik laki-lakinya itu sudah sangat besar, tak mungkin Deta menundanya lagi.
"Kak, kita jadi pergi atau tidak?" tanya Dania, tangannya masih tertumpuk di atas koper kosong yang baru saja di turunkan pelayan.
Dito Riady memilih menjadi tentara militer di negaranya sendiri. Itulah sebabnya, setelah menyelesaikan pendidikannya Dito kembali ke negara xx untuk menetap disana sekitar satu tahun yang lalu.
"Dania rindu kak Dito?" Deta justru balik bertanya pada Dania yang masih menatap kopernya dengan hampa.
Dania mengangguk sebagai jawabannya. Wajah cerianya hilang, tangannya yang biasa sibuk memainkan ponsel kini hanya sibuk memain-mainkan ritsleting koper.
Deta menghela nafas panjang. Sepertinya ia tak punya pilihan lain. "Baiklah, kita jadi pergi."
"Benar, Kak? Kakak tidak berbohong, kan?" Mata sipit Dania membulat sempurna, ia menatap Deta tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Sayang," Cubitan sayang mendarat di pipi putih Dania dan meninggalkan sedikit warna merah di sana.
"Kota xx, I am coming (aku datang)!" teriak Dania kegirangan. Ia segera membuka kopernya dan berlari ke arah lemari untuk merapihkan pakaian yang akan ia bawa.
"Aunty... aunty... where're you wanna go (kemana kamu akan pergi)?" Rayyan berlari ke dalam kamar, wajahnya di penuhi glitter dan juga coklat.
"Travelling (jalan-jalan)." jawab Dania santai sembari memasukkan pakaian-pakaian yang ia butuhkan.
Rayyan memperhatikan sang aunty yang terlihat begitu bahagia. "Mommy, why aunty look so happy (Ibu, kenapa bibi terlihat sangat bahagia)?"
Deta berjongkok untuk menyamai tinggi badan Rayyan. Ia menatap wajah menggemaskan itu kemudian memeluknya sesaat.
"Rayyan, apa kamu menyayangiku?" tanya Deta yang baru saja melepaskan pelukannya pada Rayyan.
"Of coulse, Mom (tentu saja, Bu)." Rayyan kembali memeluk tubuh Deta dan menciumi pipi Deta.
"Kalau begitu, ayo ikut aku!" Senyuman hangat menghiasi wajah Deta yang di balas anggukan setuju oleh Rayyan.
Hallo semuanya 🤗
Author mohon maaf atas keterlambatan up yang sangat terlambat ini 🙏 seperti yang author katakan sebelumnya, author tidak bisa up setiap hari seperti sebelumnya karena jadwal author yang bertambah 🤧
Semoga para readers tetap sabar menunggu ya 🤭😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh