
Tangisan Deta semakin kencang, air matanya mengalir semakin deras membuat Ricky semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku! Kumohon ...." ucap Ricky tertatih.
Tangannya masih memeluk Deta, seperti enggan melepaskan kontak di antara mereka.
"Tangismu menyakitiku, Sayang," lirih Ricky.
Rasa sesak di dada Deta merasuki relung hatinya dan menelusup ke dalam pikirannya.
"Aku... aku ...." Deta berusaha bicara. Namun, bibirnya masih bergetar karena perasaan yang ia sendiri tak mengerti.
"Huss ...," Ricky mengusap lembut rambut Deta. "Lihat aku!" Ricky melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Deta.
"Jangan bicara, dengarkan aku saja!" pinta Ricky seraya menatap mata bulat Deta.
"Aku tidak tahu apa yang menyakitimu, tapi aku yakin itu karena sikap atau perkataanku yang salah. Jadi, aku mohon maafkan aku!" tutur Ricky, kemudian menciumi air mata yang masih mengalir di pipi Deta.
Perasaan hangat menyelimuti hati Deta, setiap kata yang di ucapkan oleh Ricky selalu dapat menenangkannya.
"Jangan tinggalkan aku!" ucap Deta langsung memeluk Ricky.
***
"Katakan! Apa yang kamu ketahui?" Pak Firman menatap tajam Gibran yang masih tertunduk di hadapannya.
Ia menerima laporan dari beberapa bawahannya yang ia tugaskan untuk mengawasi Ricky, bahwa putranya itu sedang melakukan sesuatu yang besar.
"Katakan!!!" bentak pak Firman.
"Maaf, Presdir, saya tidak mengetahui apapun." jawab Gibran mantap.
"Kamu mulai berani melawanku! Hah?" Pak Firman sudah berdiri dan menarik kerah kemeja Gibran.
Ia mulai tidak sabar menghadapi keteguhan Gibran dalam menutupi rahasia Ricky.
"Saya tidak tahu apapun, Presdir," Jawaban yang sama yang di berikan Gibran.
"Katakan! Atau aku akan memecatmu!" ancam pak Firman, ia sudah putus asa karena tidak mendapatkan apapun dari Gibran.
__ADS_1
"Silahkan, Presdir! Kepentingan dan kepercayaan tuan muda adalah prioritas saya." tutur Gibran tenang, walaupun pak Firman sudah menekannya.
Pak Firman menatap manik mata Gibran, ia mencoba mencari jawaban di dalam sana.
'Benarkah dia begitu setia pada Ricky?'
Setelah cukup lama menatap Gibran, akhirnya pak Firman melepaskan tangannya dari kemeja Gibran.
"Baiklah, tetap di samping Ricky dan jaga dia!" tegas pak Firman seraya menepuk bahu Gibran.
'Aku percayakan Ricky padamu.'
***
Tanggal pernikahan semakin dekat, segala persiapan pun sudah selesai di persiapkan sesuai dengan rencana.
Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, semua hal berjalan dengan sangat baik dan lancar.
Gaun pengantin telah siap, gedung pernikahan juga sudah selesai di dekorasi. Tak ketinggalan, undangan pun sudah di sebar ke semua teman serta kerabat Sanjaya.
Deta memilih untuk tidak mengundang siapapun, kecuali Syafitri.
Kalaupun mereka hadir pada pernikahan Deta, mereka hanya akan menghina Dania dan pak Danang.
Sebenarnya, Deta menginginkan sebuah pernikahan yang sakral dan sederhana. Tak begitu banyak orang, cukup orang-orang terdekat saja.
Tetapi, apa yang bisa ia lakukan. Karena pria yang akan ia nikahi bukanlah orang biasa.
Pernikahan putra mahkota Sanjaya sangat di nantikan oleh keluarga besar Sanjaya serta para pemegang saham.
"Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, dan aku ingin semua orang mengenalmu serta ikut berbahagia bersama kita."
Alasan Ricky membuat Deta tak bisa menolak keinginannya.
"Masih bisakah aku melarikan diri?" gumam Deta yang mulai bosan dengan segala perawatan yang sudah dilakukannya sejak pagi.
Sementara, Ricky masih di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang belum ia selesaikan.
Gibran kembali meletakkan beberapa berkas lagi di hadapan Ricky yang langsung membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari sang tuan muda.
__ADS_1
"Ini yang terakhir, Pak," ucap Gibran paham dengan tatapan Ricky.
Ricky menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, dan mulai memejamkan matanya.
"Aku akan menikah besok, tapi dunia seolah tak mendukungku!!!" teriak Ricky dan mengusap wajahnya kasar.
Gibran yang di ajak bicara oleh Ricky hanya bisa menatap nanar atasannya itu.
'Kasihan anda, Pak, karena terlalu mencintai nona Deta hingga membuat Anda selalu berdiri di tepi jurang.' Batin Gibran.
Ricky merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel dari sana, ia tersenyum saat melihat layar ponselnya yang terpasang potret Deta.
"Pipimu sangat menggemaskan!" Ricky mengusap layar ponselnya, membayangkan Deta yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba saja Ricky merindukan Detanya dan ingin sekali mendengar suaranya. Tanpa berpikir lagi, ia langsung menghubungi Deta.
"Hallo, Sayang," ucapnya mesra begitu Deta menjawab panggilannya.
"Iya," jawab Deta datar.
"Kamu sedang apa?"
"Sedang melakukan hal yang menyebalkan!" jawab Deta dengan nada yang terdengar sedikit asing di telinga Ricky.
"Apa itu?" tanya Ricky penasaran.
"Belajar membuatmu senang,"
Tuing...
Pikiran mesum Ricky langsung menguasainya.
Hallo semuanya🤗
Semoga kalian suka ceritanya 🥰
Jangan lupa jempol 👍 dulu sebelum membaca ya dan jangan lupa juga tinggalkan jejak 👣 kalian di kolom komentar dan vote sebagai bentuk dukungan kalian padaku 😘
__ADS_1
I ❤ U readers kesayangan kuhh