
Begitu pintu terbuka, Refita langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar tamu.
Tapi Ricky langsung menahannya.
"Ada apa?" Refita memicingkan matanya karena merasa curiga dengan sikap Ricky.
"Kakak tidak boleh masuk!" Ricky sudah akan kembali masuk dan menutup pintu.
"Hei, ini rumahku!!! Kenapa aku tidak boleh masuk?" Refita mendorong pintu agar terbuka lebih lebar.
Tapi Ricky menahan pintu yang berusaha di dorong Refita dengan kakinya, karena Deta sedang bersembunyi di balik pintu.
"Tapi saat ini aku sedang menempati kamar ini. Kakak harus tahu tata krama melayani tamu!" Ricky langsung menutup pintu.
Refita yang di tinggalkan di depan pintu masih terpaku dengan sikap adiknya.
BRAK!!!
Refita memukul pintu dengan kesal."Aduuhhh tanganku!" Ia mengibaskan tangannya yang terasa nyeri. "Dasar anak nakal!!! Sepertinya kamu mulai tahu caranya bersikap menjadi tuan muda ya!!!" teriaknya di balik pintu. Namun, tak di gubris oleh Ricky.
Deta yang sedari tadi bersembunyi hanya bisa diam mendengarkan.
Tanpa aba-aba satu bulir air meluncur dari matanya menuju ke pipinya yang chubby.
'Dia mengatakan akan menikahiku, tapi dia bahkan menyembunyikan aku dari kak Fita. Seharusnya aku tidak melambung setinggi ini!!!'
Deta merasakan nyeri di dadanya ketika mengingat beberapa menit yang lalu Ricky membisikkan sesuatu yang membuatnya bahagia dan merasa terbang ke awan.
Tapi hanya karena sebuah ketukan pintu, Deta merasakan kakinya seperti di tarik untuk kembali ke tanah.
Karena sibuk mengganti pakaiannya, Ricky tidak memperhatikan Deta yang sedang menangis.
"Aku akan pergi ke kantor, ada urusan yang harus kuselesaikan. Saat makan siang nanti aku akan datang untuk menjemputmu." Ricky memakai jam tangan dan berbalik untuk menghampiri Deta.
"Tidak perlu, Pak, saya akan pulang hari ini." Deta berusaha berbicara dengan normal dan tetap menundukkan kepalanya.
"Deta! Bukankah sudah kukatakan? Angkat kepalamu saat sedang berbicara denganku! Jangan bersikap seolah-olah bahwa dirimu sangat rendah!"
"Saya memang rendah, Pak,"
"Berhenti merendahkan dirimu! Akan kubuat kau berani mengangkat kepalamu di hadapan semua orang!" Ricky berteriak kemudian keluar dan meninggalkan Deta seorang diri.
***
__ADS_1
'Aaaarrrgghhhh!!!!
Apakah aku sehina itu???
Dengan mudahnya dia mencium dan memelukku.
*Dia bersikeras bahwa aku bukan pelayan, t*api dia bersikap seperti seorang tuan muda!
Sesaat dia sangat lembut, sesaat kemudian dia berteriak padaku.
Dan kenapa aku selemah ini???
Bodoh... bodoh... bodoh kamu, Deta!!!'
Deta menangis tanpa suara dan jatuh bersimpuh di lantai.
***
"Ya ampun, Tata. Kamu dari mana saja?" Refita yang melihat Deta menuruni tangga langsung mendekatinya.
"Maafkan saya, Kak Fita."
"Kamu kenapa? Mata kamu bengkak, kamu menangis?" Refita terkejut saat menyadari mata Deta yang terlihat sembab.
"Oh, maafkan aku, ya. Aku tidak memikirkan hal itu." Refita menggenggam tangan Deta. "Baiklah, kamu boleh pulang sekarang. Akan kuhubungi jika aku butuh kamu."
"Terima kasih, Kak,"
Deta melirik jam dan melihat masih banyak waktu sebelum makan siang, dan ia harus bergegas sebelum Ricky kembali kesini.
***
Ricky tiba di rumah Refita sebelum makan siang dan memarkirkan mobilnya di luar pagar.
Ting... tong...
Ricky memencet bel berulang namun tidak ada yang membukakan pintu.
Ia kembali ke mobilnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Tut... tut... tut...
"Sial!!! Kenapa kak Fita tidak menjawab teleponku?"
__ADS_1
Ricky memukul-mukul kemudi melampiaskan kekesalannya. Tak lama kemudian ponselnya berdering.
"Hallo, dimana, Kak?"
"Kenapa?" Suara Refita di seberang panggilan.
"Aku di depan rumah Kakak."
"Aku tidak rumah, baru saja kembali dari rumah Deta dan akan ke -"
"Mau apa kakak ke rumahnya?" Ricky langsung memotong ucapan kakaknya begitu mendengar nama Deta.
"Mengantar Deta pulang. Apalagi?" Refita mendengus kesal.
"Kenapa dia pulang?"
"Tidak tahu."
"Dimana dia tinggal? Berikan aku alamatnya!"
"Tidak tahu."
"Cih!!! Kalau begitu berikan aku nomor ponselnya!"
"Tidak tahu."
"Kakak!!!" Ricky berteriak dan membuat Refita langsung memutuskan panggilannya.
Ricky kembali mencoba untuk menghubungi Refita. Namun, kakaknya itu justru menolak panggilannya berkali-kali.
"Kak, jangan main-main!" Hal pertama yang Ricky ucapkan begitu panggilannya kembali tersambung.
Di seberang panggilan Refita justru terkekeh mendengar kepanikan adiknya.
"Baiklah... baiklah... ceritakan dulu ada apa?"
"Akan kuceritakan nanti!"
Hallo semuanya🤗
Maaf ya masih susah konsisten untuk jadwal upnya 😔 tapi di usahakan up setiap hari 😁
Semoga kalian suka ceritanya🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian ya biar aku tambah semangat 😘😘