
Deta keluar dari kamar Ricky dengan pikiran yang tidak karuan. Ucapan Ricky yang mengatakan bahwa dirinya sudah membuat putra mahkota Sanjaya itu "gila" terus mengganggu pikirannya.
Di tambah lagi setelah mengatakan hal itu tiba-tiba saja Ricky meraih tengkuk Deta dan mengenalkan bibirnya dengan bibir Deta yang sudah menggodanya sejak pertemuan pertama mereka sebelumnya.
Ingatan Deta...
"Tidak.Tapi kamu membuatku gila."
Kali ini Ricky tidak bisa menahannya, ia langsung memegang tengkuk Deta dan menariknya untuk mendekat dan menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Deta.
Deta yang terkejut hanya membelalakkan matanya tanpa bergerak sedikit pun. Karena tidak mendapat respon Ricky segera menyudahi "perkenalannya".
Mereka berdua menjadi salah tingkah, namun Deta yang lebih bisa menguasai emosinya langsung memilih untuk pergi.
Tapi tangan Ricky menghalanginya. "Aku serius. Kamu membuatku gila. Mulai sekarang jaga itu hanya untukku."
Ingatan berakhir...
Refita mengguncang-guncangkan tubuh Deta yang sedang termenung di depan kamar Ricky.
"Tata!!! Kamu sakit?" Suara Refita terdengar sangat jauh bagi Deta.
Tiba-tiba pintu kamar Ricky terbuka dan memperlihatkan sosok Ricky yang sudah mengenakan jasnya.
"Kamu belum berangkat?" Refita menatap Deta dan Ricky secara bergantian.
Ricky tidak menjawab, ia hanya terus menatap Deta yang masih terlihat limbung.
"Hello ... I am here." jerit Refita di telinga Ricky.
Ricky berdecak kemudian mengusap telinganya yang berdengung.
"Sudahlah, aku berangkat." Ricky berjalan dengan berat hati meninggalkan Deta yang masih termenung.
***
"Ma, jangan-jangan Ricky sudah melakukan "itu" pada Deta." Refita sedang melaporkan apa yang ia lihat tadi pagi kepada ibunya.
Bu Rika yang sedang mendengarkan Refita tiba-tiba mengalihkan perhatiannya ketika melihat Deta yang sedang berjalan.
"Tidak mungkin, Sayang,"
"Mungkin saja, Ma, tadi aku melihat Deta keluar dari kamar Ricky sambil melamun. Lalu tidak lama kemudian Ricky juga keluar dari kamarnya." tutur Refita.
"Tapi Ricky itu anak baik, Mama dan papa tahu apa saja yang dia lakukan dan dengan siapa dia berteman. Dan Deta adalah perempuan pertama yang Ricky sentuh." Bu Rika mencoba meyakinkan Refita atau mungkin dirinya sendiri.
"Menyentuh?" Refita terlihat sangat terkejut.
"Kecilkan suaramu!!!" Bu Rika meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Ups ...." Refita menutup mulutnya dengan tangan.
"Ada apa ini, Ma? Mama hanya mengatakan bahwa sepertinya Ricky menyukai Deta. Mama tidak mengatakan bahwa Ricky pernah menyentuh Deta. Kapan itu, Ma?" tanya Refita setengah berbisik karena takut terdengar oleh Deta.
Bu Rika menceritakan apa yang ia lihat di dapur sebelumnya.
"Benarkah?" Refita terlihat tidak percaya dengan cerita ibunya.
"Ini aneh, Ma, Ricky belum pernah bertemu Deta sebelumnya tapi dia langsung bersikap agresif seperti itu. Hemm, ada apa ini?"
__ADS_1
"Mama sudah menanyakannya pada Ricky?" tanya Refita lagi.
"Belum, Mama menunggu Ricky menceritakannya sendiri. Lagi pula kalau dia tahu Mama memergokinya sedang berduaan dengan Deta, dia pasti akan sangat marah." Bu Rika terkekeh membayangkan wajah marah sekaligus malu putranya.
"Kalau begitu, kita harus mencari tahu."
***
Sore hari saat Ricky kembali ke rumah, ia tidak menemukan Deta di sana.
Ingin rasanya Ricky bertanya pada ibunya, tapi ia takut ibunya merasa curiga jika ia terus bertanya tentang Deta.
Bukannya Ricky malu atau hanya ingin bermain-main dengan Deta. Tapi ia ingin memastikan dulu perasaannya dan juga perasaan Deta sebelum memberitahu keluarganya.
Karena tak juga menemukan Deta, Ricky langsung berjalan ke kamarnya dan memilih untuk membersihkan diri.
Begitu masuk ke dalam kamar mandi, di sana sudah tergantung handuk dan baju ganti.
Ricky tersenyum karena sudah tahu siapa yang melakukannya.
Ricky membasahi tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.
Ingatannya saat mencium bibir Deta terus saja menggangunya sepanjang hari ini, dan membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
'Bibirnya sangat manis. Aku ingin mencobanya lagi. Bolehkah?'
Ricky memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri. Tapi justru wajah Deta yang bersemu merah yang muncul di pikirannya, dan membangunkan sesuatu di tubuhnya.
***
"Ma, dimana kakak dan kak Yoga?" tanya Ricky begitu sampai di ruang makan dan tidak melihat kakaknya.
"Fita sudah pulang tadi siang dengan Deta, karena Yoga ada urusan bisnis jadi Fita meminta Deta untuk menemaninya di rumah." jelas bu Rika seraya memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Ricky.
"Untuk menemani Fita, Sayang. Ayo, makan!" Bu Rika mencoba bersikap seolah tak tahu maksud pertanyaan Ricky.
"Kakak bisa tinggal di sini seperti biasa, Ma, kenapa harus membawa Deta kesana?"
"Untuk membantu kakakmu juga, Sayang, saat ini kakakmu sedang melakukan program kehamilan jadi dia butuh banyak istirahat. Lagi pula kita tidak terlalu membutuhkan Deta. Kamu sendiri tahu bagaimana sulitnya membujuk Fita untuk melakukan ini. Setelah bertahun-tahun menikah akhirnya dia mau melakukan program kehamilan. Kita harus mendukungnya!" Bu Rika tersenyum dan mulai menyantap makanannya.
'Kata siapa kita tidak membutuhkan Deta? Aku membutuhkannya!' Ricky mengumpat dalam hati.
"Jadi, berapa lama Deta di rumah kakak?"
"Mungkin sampai Fita mengandung atau mungkin sampai melahirkan."
Ricky hampir saja tersedak makanan yang baru saja ia masukkan ke mulutnya.
"Pelan-pelan, *B*oy!" Pak Firman yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bersuara.
Bu Rika segera mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Ricky.
"Terima kasih, Ma," ucap Ricky setelah merasa baikan.
"Makanlah perlahan! Tidak akan ada yang merebut makananmu." Pak Firman terkekeh yang hanya di jawab Ricky dengan mendengus.
***
Setelah makan malam, Ricky tidak bisa tertidur, ia terus mondar-mandir di kamarnya.
__ADS_1
Semua panggilan di ponselnya ia abaikan. Hingga masuk sebuah panggilan dari seseorang yang sudah menghubunginya puluhan kali.
"Ada apa?" Ricky langsung bertanya begitu menjawab panggilannya.
"Hei, brothers! Kenapa galak sekali? Apa kamu sedang patah hati? Hehehe ...." Suara seseorang di seberang panggilan.
"Aku sudah jatuh sebelum aku cinta."
"Hah???"
***
Suara bel berbunyi di sebuah rumah minimalis berlantai dua milik Refita Sanjaya.
Deta yang masih terjaga segera menekan layar kecil yang ada di dinding untuk memeriksa siapa yang datang.
"Benar seperti ini, kan? Aku lupa bagaimana tadi kak Fita melakukannya?" Deta bergumam sembari meraba ingatannya untuk menggunakan alat yang menurutnya sangat luar biasa.
KLIK!!!
Layar menunjukkan wajah tampan Ricky yang semakin tampan dengan pencahayaan yang minim.
Deta segera membukakan pintu. Terlihat Ricky yang mengenakan jaket hoodie dan celana jeans yang sangat cocok dengannya.
"Silahkan masuk, Pak, kak Fita sudah tidur. Apa perlu saya bangunkan?"
Deta mencoba tersenyum namun tetap tidak berani menatap Ricky.
Ricky yang kesal mendengar Deta memanggil Refita dengan "Kak Fita" tapi memanggilnya dengan sebutan "Pak" segera meraih pinggang Deta.
Deta terpekik karena terkejut, namun Ricky malah tersenyum dengan manisnya.
"Kenapa kamu memanggil kakakku dengan sebutan "kak" tapi memanggilku dengan sebutan "pak"? Ini tidak adil!" Suara Ricky sangat pelan namun terdengar sangat mengintimidasi bagi Deta.
"Itu ... itu kak Fita yang memintanya sendiri." Deta mencoba melepaskan dirinya dari pelukan tangan besar Ricky.
Bukannya melepaskan, Ricky justru semakin mempererat rangkulan tangannya di pinggang Deta.
"Kalau begitu, jangan panggil aku "pak". Aku merasa sangat tua."
"Baiklah, Kak."
"Tapi aku bukan kakakmu."
"Lalu?"
"Panggil namaku!"
"Kak Ricky." Terasa kaku lidah Deta menyebut nama Ricky untuk yang pertama kalinya.
"Cukup Ricky saja!"
"Itu tidak sopan."
Ricky mendengus dan melepaskan rangkulannya.
"Bagaimana kalau Mas Ricky?"
Hallo semuanya 🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan 👣 kalian di sini ðŸ¤
Semoga kalian suka ceritanya 🥰