
Langkah kaki panjang Ricky perlahan menuruni satu persatu anak tangga.
Ia menatap tajam ke arah Mika yang sedang membicarakan Angga dengan Deta. Hatinya selalu memanas jika mendengar Detanya menyebut nama pria lain.
"Sejak kamu menghancurkan impiannya!" lontar Ricky seraya berjalan mendekati kedua gadis itu.
Manik mata Deta dan Mika langsung terfokus pada sosok Ricky yang terlihat sedikit tegang.
"Jangan membicarakan pria lain di belakangku!" Satu kecupan mendarat di bibir Deta menegaskan perintah Ricky.
Sontak saja hal itu langsung menimbulkan rona merah di pipi Deta.
"Bucin!" ketus Mika dengan wajah cemberut.
"Diamlah! Dan kenapa kamu masih disini?" tanya Ricky dengan sebelah alisnya yang di naikkan ke atas.
"Mika ingin mengobrol sebentar dengan saya." jawab Deta mewakili Mika yang masih memasang wajah masam.
"Kalau yang di bicarakan tidak penting, kamu boleh pergi sekarang!" ucap Ricky kemudian memakaikan tas pada Mika.
"Oh, karena sekarang ada Deta jadi kamu membuangku!" bentak Mika tepat di depan wajah Ricky.
"Bukan begitu, Mika. Tolong jangan salah paham! Kalian bisa bicara dan aku akan pulang dengan Dania." Deta sudah menggendong Dania yang mulai memejamkan matanya.
Ricky menahan tangan Deta. "Tetap di tempatmu!" perintahnya.
Tanpa menjawab, Deta langsung duduk kembali di tempatnya semula.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Ricky beralih menatap Mika.
"Tentang kakak."
***
Deta menatap hampa punggung Ricky yang menjauhinya, pikirannya mulai meracau kemana-mana.
Banyak pertanyaan dan pernyataan yang berjejalan di kepalanya, meminta untuk segera di keluarkan.
'Kenapa raut wajahnya langsung berubah mendengar Mika menyebutkan tentang kakaknya?'
Deta mengerutkan keningnya, mencoba menerka jawaban dari pertanyaannya.
'Apa ada sesuatu yang begitu rahasia sehingga aku tidak boleh mengetahuinya?'
Kerutan di keningnya semakin dalam, merasa ada hal yang tidak benar sedang terjadi.
'Itu artinya aku tidak memiliki tempat yang istimewa di hatinya.'
Memikirkan kemungkinan itu membuat dadanya terasa sesak.
Ia menatap Dania yang sudah terlelap dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
'Kamu begitu bahagia sekarang.'
__ADS_1
Deta mengusap rambut Dania dan mengecup kening gadis kecil itu.
'Bagaimana jika pak Ricky tahu yang sebenarnya tentang dirimu?'
"Semoga dia akan tetap menjadi pelangimu." harap Deta.
***
Mika di paksa Ricky untuk mengikutinya ke ruang kerja.
"Kenapa kita kesini? Kita bisa membicarakannya di hadapan Deta." sungut Mika setelah sampai di ruang kerja Ricky.
"Aku tidak ingin Detaku mendengar apapun mengenai Anika." sergah Ricky.
"Ehmm ... jangan katakan kamu masih menyukai kak Nika?" selidik Mika dengan jari telunjuk yang di arahkan ke dada Ricky.
"Tidak!" tegas Ricky yang membuat Mika langsung membelalakan matanya.
"Setelah bertemu Deta, aku baru menyadari bahwa aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Anika. Perasaan yang di timbulkan oleh Deta sangat berbeda," tutur Ricky dengan seutas senyum di sudut bibirnya.
"Benarkah?" tanya Mika mencebik.
Ricky menghela nafas. "Kamu tahu, aku tidak pernah menyentuh wanita manapun. Tapi dengan Deta, aku selalu ingin bersamanya dan sentuhannya ...."
"Mesum!" Mika menyentil kening Ricky hingga meninggalkan bekas di sana.
"Cih! Kebiasaanmu itu muncul lagi." Ricky mengusap-usap keningnya yang terasa panas.
Mika terkekeh melihat Ricky yang kesakitan di barengi dengan mulutnya yang terus mengoceh.
Ricky langsung melupakan rasa sakitnya, ia memegang kedua bahu Mika. "Benarkah? Darimana kamu mendapatkan informasi itu?" tanya Ricky panik.
Ia khawatir jika Mika sudah mengetahui kebenarannya dan akan menghancurkan semua mimpinya.
"Dari suruhanku, tapi dia baru menemukan tempat bekerja pria brengsek itu. Aku meminta dia untuk mengikutinya terus agar aku tahu dimana dia tinggal dan bisa menemukan putrinya kakak." tutur Mika penuh keyakinan.
Ricky menggeretakan giginya. "Apa yang akan kamu lakukan jika sudah menemukannya?"
Mika menepis tangan Ricky dan berbalik menatap jendela. "Aku akan membawanya pergi," seringai jahat muncul di wajahnya. "Dan aku akan menghancurkan kebahagiaan keluarga pria brengsek itu sekali lagi!" sambungnya.
***
CKIIITT!!!
Suara ban yang di paksa mengerem secara mendadak terasa ngilu di telinga.
"Hati-hati, Pak!" Deta menyentuh tangan Ricky yang masih menggenggam kemudi.
Merasakan sentuhan Deta di tangannya membuat Ricky langsung mengerjap dan tersadar dari lamunannya.
Karena tidak fokus mengemudi, Ricky hampir saja menabrak seorang pejalan kaki.
Deta membuka kaca mobil dan melihat orang itu sedang memaki-maki ke arah mereka.
__ADS_1
Ia berniat untuk keluar dari mobil, tapi tangan Ricky menahannya. "Biar aku saja." ucap Ricky dengan wajah datar.
Deta melihat Ricky berkali-kali menyatukan tangannya dan membungkuk untuk meminta maaf.
Dari dalam mobil Deta tersenyum, merasa bahagia akan memiliki seorang suami seperti Ricky.
Kekayaan dan kekuasaan tidak menjadikannya pribadi yang angkuh dan suka merendahkan orang lain. Ditambah lagi dengan ketampanannya, Deta benar-benar merasa sungguh beruntung.
Hanya memikirkannya saja, membuat wajah Deta bersemu merah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara Ricky mengejutkan Deta.
Ia menatap Ricky yang sudah berada di balik kemudi. "Ah, tidak ada." elaknya kemudian menatap kedepan.
Pejalan kaki yang hampir di tabrak tadi sudah tidak ada lagi.
"Kemana -"
"Orang tadi?" sela Ricky, yang dijawab anggukkan kepala oleh Deta.
"Sudah pergi," jelas Ricky kemudian kembali melajukan kendaraannya.
"Pak ...," panggil Deta ragu.
"Berhenti memanggilku "pak"! Panggil Ricky saja." bentak Ricky yang mengejutkan Deta.
Merasa adanya perubahan pada sikap Ricky membuat Deta sedih.
Air mata sudah menggenang di mata bulatnya, menunggu perintah untuk mengalir di pipi Deta yang chubby.
Ia terdiam dan memilih menatap ke arah jalanan melalui jendela mobil.
Untuk beberapa saat, tercipta keheningan yang cukup mencekam. Ricky belum menyadari kesalahannya yang lagi-lagi telah membuat Deta menangis.
Hingga mobil Ricky sampai di depan rumah keluarga Riady, ia baru menoleh kepada Deta yang sedang membuka sabuk pengaman sambil terus menundukkan kepalanya.
"Biar ku bantu," Tangan Ricky sudah mencapai tali sabuk pengaman.
"Tidak usah!" Deta langsung menepis tangan Ricky.
Bersamaan dengan penolakannya, air mata yang sudah susah payah ia bendung pun akhirnya meluncur bebas ke pipinya.
"Hei, ada apa?" Ricky langsung meraih kepala Deta dan membenamkannya di dada bidangnya.
Deta tak ingin bicara, ia sendiri pun tak mengerti apa yang terjadi. Kenapa dirinya selalu selemah itu di hadapan Ricky.
'Mungkinkah aku sudah bergantung padanya?' Batin Deta.
Hallo semuanya š¤
Masih stay kan di dunianya Deta dan bang Ricky š
Jangan lupa jempol š dulu sebelum membaca dan jangan lupa juga tinggalkan jejak š£ kalian di kolom komentar sebagai penyemangat aku šŖšŖš
__ADS_1
Mau jejaknya di kolom vote aja thor ( bolleeehhh banget šš)
Iā¤U readers kesayangan kuhh