
Hari itu Ricky benar-benar di buat kesal oleh tingkah ayahnya.
Rencana awal ia datang ke perusahaan hanya untuk membantu ayahnya. Tapi ternyata, ayahnya sudah menyiapkan "jebakan" untuknya.
Mereka tiba di perusahaan dan pak Firman langsung membawa Ricky ke ruang meeting.
"Pa, kenapa kita tidak ke ruangan Papa?" tanya Ricky bingung.
"Ada masalah sedikit, jadi Papa harus menemui para pemegang saham. Hanya sebentar," Pak Firman tersenyum penuh arti.
Di mata Ricky, senyuman ayahnya itu memiliki arti yang berbeda.
'Pasti ada yang tidak beres!!!' pikirnya.
Sepanjang jalan menuju ruangan meeting pikiran Ricky terbelah dua. Di satu sisi ia menerka-nerka apa yang di rencanakan ayahnya. Dan di sisi lain, ia memikirkan Deta yang sangat ia harapkan kehadirannya.
Tanpa di sadari Ricky, mereka sudah sampai di ruangan yang di maksud. Ketika asisten pak Firman membukakan pintu terlihat beberapa orang sudah berdiri dan membungkukkan tubuh hormat.
Pak Firman memasuki ruangan dengan di ikuti Ricky dan asistennya. Ricky menatap wajah-wajah di hadapannya satu persatu. Mereka semua tersenyum dan memberi hormat kepada Ricky yang mana membuat Ricky merasa semakin tidak nyaman.
"Selamat pagi, Semuanya. Maaf, sudah membuat kalian menunggu. Ini semua karena saya mengalami negosiasi yang cukup alot dengan wakil direktur kita." Pak Firman menyapa semua orang di ruangan kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Ricky.
Ricky terkejut dan membelalakan matanya ketika ayahnya menyebut "Wakil direktur".
Semua orang di ruangan itu terkekeh mendengar ucapan pak Firman, kecuali Ricky tentunya.
"Perkenalkan, ini adalah "Jagoan" saya yang selama ini "bertapa", Ricky Sanjaya. Dia yang nantinya akan menggantikan posisi saya di sini." Pak Firman menepuk-nepuk punggung Ricky.
Suara tepukan tangan bergemuruh di ruangan itu, menyambut kedatangan sang "putra mahkota".
Memang selama ini semua orang sangat penasaran dengan sosok Ricky Sanjaya. Dan begitu mengetahui bahwa dirinya akan masuk ke perusahaan, maka semua hal pun langsung di persiapkan.
"Tersenyumlah! Atau kamu harus memimpin rapat selanjutnya, Boy." bisik pak Firman saat Ricky terdiam mematung menyaksikan ulah ayahnya.
Mau tidak mau Ricky pun mengikuti semua keinginan ayahnya, karena ia sudah masuk ke dalam jebakan ayahnya itu.
***
Ricky berjalan terburu-buru memasuki rumahnya. Dengan sengaja ia berjalan menghentak-hentakkan kakinya, bermaksud agar ayahnya tahu bahwa ia sedang marah.
Pak Firman yang melihat tingkah kekanak-kanakan Ricky hanya terkekeh di belakangnya.
Dengan kesal Ricky menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia terus menatap ayahnya yang kini duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
Ricky merubah posisinya menjadi duduk bersandar dan memicingkan matanya ketika melihat ayahnya yang terus tersenyum kemudian mengatakan, "kena kau!!!Hahahahaha ...."
Ricky mendengus dan membiarkan ayahnya menikmati kemenangannya kali ini.
__ADS_1
"Lihat! Saham kita langsung naik. Sungguh hebat kamu, Boy." Pak Firman menyodorkan laptopnya kepada Ricky.
'Benar!!! Sepertinya orang-orang itu sangat terpengaruh dengan "kemunculanku"'
Ricky terus memperhatikan laptopnya. Tanpa di sadari olehnya, Deta sedang melihat punggungnya dari balik dinding.
"Papa harus kembali ke kantor, ada urusan yang harus di selesaikan." Pak Firman bangkit dan mendekati Ricky.
Ricky mendongakkan kepalanya dan menatap ayahnya.
"Hati-hati, Pa."
"Kamu juga ikut. Ayo!!!"
"Pa...!!!" Ricky terlihat sangat kesal.
Pak Firman tersenyum puas dan berjalan meninggalkan Ricky seorang diri.
Entah mengapa, pak Firman sangat suka menggoda putranya itu.
"Cih!!! Aku jadi haus karena terus meladeni papa." Ricky mengusap tenggorokannya yang terasa kering.
"Ma, tolong buatkan aku minum!!!" teriak Ricky.
Tidak ada jawaban.
'Aku lupa mama pasti belum pulang.' Batin Ricky.
Karena terlalu serius Ricky tidak memperhatikan bahwa ada yang mendekatinya. Sampai ada yang meletakkan minuman dingin di meja.
Saat Ricky menoleh, terlihat seorang gadis manis dengan rambut yang tergulung ke atas baru saja berbalik dan menuju dapur.
"Apakah itu dia?" Ricky menepuk keningnya.
Segera ia berjalan menuju dapur untuk menyusul gadis itu.
Begitu sampai di dapur, terlihat gadis itu sedang menepuk-nepuk pipinya dan bergumam.
"Ayolah, Deta!!! Dia bahkan tidak menyadari keberadaanmu. Jangan bermimpi dia akan menatapmu!!!"
Ricky tersenyum mendengar gumaman gadis itu yang dapat dengan jelas ia dengar.
"Bermimpilah!!! Aku suka mimpimu."
***
Deta sangat terkejut melihat Ricky. Selama bekerja di rumah itu, ia hanya mendengar tentang Ricky tanpa pernah melihat wajahnya ataupun mendengar suaranya.
__ADS_1
Karena Deta tetap mematung, Ricky melangkah untuk mendekatinya.
Dan tanpa di duga, Deta justru bergerak mundur menjauhi Ricky.
'Aku merasa seperti pernah mengalami hal ini sebelumnya. Apakah aku terlalu mengidamkan gadis ini hingga membawanya ke dalam mimpiku?' Batin Ricky terus mengoceh.
Di tatapnya Deta yang kini menunduk, tak lagi menatapnya seperti tadi.
'Sial!!! Dia mencoba menyembunyikan matanya itu.' umpat Ricky dalam hati.
Ricky mencoba mengurangi jaraknya dengan Deta, namun Deta semakin mundur menjauhi Ricky. Hingga akhirnya tubuh Deta membentur dinding.
Ricky tersenyum dan tetap terus melangkah untuk mendekati Deta.
Tiba-tiba Deta juga melangkah maju dan membuat Ricky sedikit terkejut namun mampu ia tutupi.
"An- Anda butuh sesuatu, Pak?" Suara Deta terdengar sedikit gemetar.
"Tatap aku!" Perintah Ricky dengan suara normal. Ia tahu bahwa Deta sudah ketakutan.
Satu detik... dua detik... dan tiga detik...
Tidak terlihat Deta akan menatapnya dan itu
terasa sangat lama bagi Ricky. Dengan tidak sabar ia meraih pinggang Deta dengan satu tangannya dan mendekatkan tubuh mungil Deta dengan tubuhnya.
"Aaahhh ...." Suara Deta tercekat.
Deta menaikkan pandangannya yang langsung bertemu dengan pandangan mata Ricky.
"Ini yang ingin aku lihat." Ricky tersenyum menatap mata bulat dan jernih itu.
Naluri Ricky membawa tangannya untuk menyentuh wajah Deta.
Melihat Deta yang terus memejamkan mata terasa sangat menggemaskan bagi Ricky.
Tatapan Ricky turun ke bibir mungil milik Deta. 'Sangat menggoda.'
Ingin rasanya ia berkenalan dengan bibir itu, tapi Ricky tidak mau meninggalkan kesan pertama yang kurang baik pada Deta.
Hingga ia memutuskan untuk mencubit pipi Deta yang chubby.
"Embeemmm"
Hallo semuanya π€
Selamat menikmati ceritanya π
__ADS_1
Semoga kalian suka π₯°
Jangan lupa tinggalkan jejak π£ kalian berupa likeπ, comment, rate dan vote π€