
"Ini semua data yang Anda inginkan, Pak," Gibran baru saja meletakkan sebuah amplop berukuran cukup besar bersama sebuah tas di atas meja.
Ricky membuka amplop tersebut, seketika matanya terbuka lebar saat melihat sebuah dokumen yang tersimpan di dalamnya. "Ini tidak mungkin."
"Maaf, Pak, tapi menurut hukum tuan muda Rayyan adalah putra dari nyonya Deta dan tuan Angga Pratama." jelas Gibran seraya menunjuk dokumen yang berada di tangan Ricky.
"TIDAK MUNGKIN!!! Aku sudah memastikannya, jika Deta bukanlah ibu dari anak itu." sergah Ricky dengan kilatan amarah yang terlihat jelas di matanya. "Lakukan tes DNA!" lanjutnya.
"Tapi, Pak, dokumen ini -"
"Ini hanya sebuah dokumen, Gibran. Siapapun bisa memalsukannya, tapi aku tahu pasti jika Deta tidak pernah melahirkan anak manapun karena dia hanya akan melahirkan anakku." ucap Ricky penuh keyakinan.
Gibran sangat mengerti maksud Ricky. Karena dia bisa melihat sendiri kondisi bosnya sekarang yang hanya menggunakan handuk mandi dan wajah yang terlihat tidak cukup tidur.
"Baik, Pak, semua akan berjalan seperti yang anda inginkan."
Tepat setelah Gibran mengatakan hal itu, Deta baru saja keluar dari kamar mandi dengan air yang masih menetes dari rambutnya. Aroma shampo yang segar langsung tercium di seluruh ruangan. Deta tak tahu jika Gibran ada disana juga sehingga ia melenggang dengan santai menuju tempat tidur.
"Pergilah!" titah Ricky pada Gibran yang baru saja menundukkan pandangannya.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Gibran langsung keluar dan membawa dokumen yang sempat membuat Ricky marah.
Setelah kepergian Gibran, Ricky menghampiri Deta yang sedang mengetuk-ngetukkan ponselnya ke tangan. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Suara Ricky mengalihkan perhatian Deta untuk sesaat, tapi tak cukup untuk membuat Deta mau berbicara padanya. Deta kembali fokus pada ponselnya yang sudah rusak karena di lemparkan oleh Ricky semalam.
Merasa tak di hiraukan Deta, Ricky pun merebut ponsel itu dan kembali membuangnya ke lantai. Besar harapannya agar Deta mau bicara padanya, karena diamnya Deta begitu menyakitkan bagi Ricky. Namun, kemarahan masih menyelimuti hati Deta. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan kemarahannya pada Ricky agar pria itu mengerti dan tak mempermainkan perasaannya lagi.
"Tatap aku!" Ricky menahan lengan Deta, ketika wanita itu mencoba menjauhinya.
Deta menoleh dan menatap manik mata Ricky yang dulu selalu takut untuk ia lakukan, tapi kini dengan penuh keyakinan Deta berani melakukannya. Seolah rasa yang dulu pernah ada sudah menguap bersama angin.
Tatapan mata Deta begitu menggoda, meski kini mata itu tak lagi sama. Tak ada lagi cinta yang pernah Ricky lihat sebelumnya, ia hanya melihat amarah dan kebencian Deta yang begitu besar kepadanya.
Satu tangan Ricky meraih pinggang Deta agar mendekat padanya, kebiasaan yang dulu sering ia lakukan. Tubuh mereka berdua sudah saling menempel hingga Deta pun bisa merasakan sesuatu yang mengganjal di antara mereka.
Deta meronta dan memukul-mukul dada bidang Ricky. "Lepaskan aku!!!"
__ADS_1
Suara Deta yang lantang dan tatapannya yang begitu menantang membuat Ricky kembali bergairah dan ingin menaklukan Deta lagi. Ia mendorong tubuh Deta hingga membentur dinding dan tak bisa melarikan diri kemanapun. Tanpa aba-aba, Ricky langsung menyergap bibir Deta dan ********** tanpa ampun. Rasa manis bibir itu selalu tersimpan dalam ingatan Ricky selama lima tahun ini. Tak pernah ada bibir lain yang ia cicipi selain bibir mungil Deta yang menjadi candu baginya.
Sementara Ricky tenggelam dalam cinta dan nafsunya. Deta justru semakin dalam terjatuh dalam jurang kebenciannya terhadap penerus keluarga Sanjaya itu. Dalam hatinya ia merasa jika Ricky hanya sedang bermain-main dengannya. Dulu, ia hanya seorang pelayan dan begitu mudah di perdaya oleh Ricky. Namun, kini Deta sudah berubah. Ia tidak ingin menjadi mainan Ricky lagi.
Sekuat tenaga Deta mendorong Ricky, kebencian dan kemarahan memberinya kekuatan untuk melawan. Ia juga menggigit bibir Ricky agar pria itu melepaskannya.
"Hah... hah... hah ...," Nafas Deta terengah-engah setelah ia berhasil melepaskan pagutan bibirnya dengan Ricky.
Deta mengusap bibirnya dengan kasar, berharap dengan melakukan hal itu akan membersihkan jejak Ricky di bibirnya. Sementara Ricky sedang merasakan bibirnya berdenyut karena gigitan Deta.
"Ah ...." Ricky menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah. Mata Deta langsung tertuju pada Ricky ketika ia mendengar pekikan pria itu.
'Apa aku sudah keterlaluan?' batin Deta.
Tidak tega melihat kondisi Ricky, dengan berat hati dan sedikit menurunkan egonya. Deta menghampiri Ricky yang hanya berjarak beberapa langkah darinya. Dengan lembut Deta menyentuh bibir Ricky yang terluka kemudian mengambil tasnya yang berada di atas nakas.
Untung saja Deta selalu membawa plester dan juga cairan antiseptik di dalam tasnya kemana pun ia pergi, karena Rayyan sering terjatuh ketika sedang bermain. Seperti mengobati luka Rayyan, Deta menuangkan cairan antiseptik itu di atas kapas dan mengulasnya di atas bibir Ricky yang terluka.
"Aisshh ...," Rasa perih langsung terasa di bibir Ricky saat Deta mulai mengobatinya.
Ucapan Deta sedikitnya menyinggung perasaan Ricky dan langsung membuat ekspresi wajah pria itu berubah. Saat akan menempelkan plester di bibir Ricky, tangan Deta langsung di tahan oleh Ricky. "Jangan tempelkan itu!"
Deta mengernyit. "Kenapa?"
"Nanti kamu tidak akan bisa merasakan manisnya bibirku lagi." goda Ricky seraya menempelkan jari Deta di atas bibirnya.
Sontak saja hal itu membuat pipi Deta langsung merona merah. Sekali lagi, ia tidak bisa menolak panah asmara yang di tembakkan Ricky. Panah itu begitu cepat melesat dan menghujam hati Deta hingga tertancap begitu dalam dan sulit untuk di lepaskan.
Melihat Deta yang sepertinya mulai melunak, membuat Ricky kembali bersemangat untuk mengejar cintanya. Ricky menangkup wajah Deta dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku! Seharusnya aku mengatakan hal ini sejak dulu." Ricky berhenti sejenak untuk menatap mata Deta dan mencari keberadaan dirinya di dalam sana. "AKU MENCINTAIMU, DETA RIADY." ucap Ricky penuh semangat.
Sudut mata Deta terasa panas. Ia ingin sekali menangis dan memeluk pria yang kini berdiri di hadapannya. Pria yang selalu Deta cintai meski ia tak pernah mengatakannya.
Manik mata mereka berdua saling bersahutan. Menjawab segala pertanyaan yang selama ini tersimpan. Deta memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
"Aku ...."
"Iya." Ricky dengan sabar menanti Deta mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
"Aku ...."
"Katakan, Sayang! Aku mendengarkanmu." Tangan Ricky berpindah dan memegangi kedua bahu Deta.
Deta menarik nafas cukup dalam dan berteriak, "AKU MEMBENCIMU!!!"
Rasanya tangan Ricky langsung lemas setelah mendengar kenyataan bahwa Deta membencinya. Wanita yang ia cintai ternyata membencinya. Ricky hanya bisa menatap Deta, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sayang?" Ricky mencoba memeluk Deta. Namun, Deta langsung menepis tangan Ricky dan mundur beberapa langkah untuk menjauhi Ricky.
"JANGAN PANGGIL AKU SEPERTI ITU! AKU BUKAN SAYANGMU!" teriak Deta, matanya terus saja di banjiri air mata.
Inilah yang paling Deta benci dari dirinya. Ia begitu lemah saat berhadapan dengan Ricky. Jika yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Angga, ia pasti akan bersikap lebih tenang dan tidak akan terpancing seperti ini.
"Sayang?" panggil Ricky lembut, ia tak menggubris ucapan Deta.
Ricky menganggap apapun yang dikatakan Deta tidak benar karena ia sedang di liputi amarah kepada Ricky. Pria yang baru saja memaksakan dirinya pada Deta. Ia tetap mencoba mendekati Deta meski wanita itu terus menjauhinya.
"JANGAN MENDEKAT!!! AKU SANGAT MEMBENCIMU!!!" Deta semakin tidak terkendali, tapi hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Dalam hati Deta banyak sekali hal yang ingin ia katakan pada Ricky, tapi bibirnya begitu jahat dan tidak bisa berkompromi dengannya.
Saat Deta mulai lengah, Ricky dengan cepat menggapai tubuh mungil Deta dan mendekapnya dengan erat. "Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!"
Ricky memeluk Deta meskipun Deta terus saja meronta dan menolak setiap kelembutan yang di berikan Ricky. Dengan sabar Ricky menahan setiap pukulan dan cakaran di tubuhnya akibat kemarahan Deta yang semakin tidak terkendali.
"Aku membencimu!" lirih Deta, ia mulai kehabisan tenaganya dan tak mampu lagi berteriak.
Dengan lembut Ricky membelai rambut Deta yang masih berada di dalam pelukannya. "Iya, Sayang, bencilah aku jika itu bisa membuatmu bahagia, tapi aku mohon jangan pernah pergi lagi dariku!"
Permohonan Ricky begitu menyentuh relung hati terdalam Deta yang selama ini membeku, tapi ingatan akan hari itu kembali memadamkan api cinta di hati Deta. Bisakah Ricky mengalahkan kebencian di hati Deta dan kembali membuat Deta berada dalam pelukannya?
Hallo semuanya π€
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh
__ADS_1