Poros Jodoh

Poros Jodoh
SWEET CHAPTER 2


__ADS_3

Semua mata kini tertuju pada pasangan pengantin baru yang sedang menuruni tangga dengan santainya.


"Kenapa dengan wajah kalian?" tanya Ricky begitu mereka sudah bergabung dengan yang lainnya.


"Kamu tanya kenapa? Lihat! Jam berapa ini? Kami hampir saja dehidrasi karena menunggumu!" sungut Refita kesal.


"Aku tidak meminta kalian menungguku." sergah Ricky dengan wajah sumringah.


Semua orang bahagia melihat Ricky telah kembali menjadi dirinya, dan wajah Deta pun tak kalah bahagianya dengan Ricky.


"Dek, siapa wanita cantik ini?" tanya Deta ketika pandangannya menangkap sosok asing yang berada di samping Dito.


"Saya -" Wanita itu hendak memperkenalkan diri, tapi di tahan oleh Dito.


"Dia temanku, Kak, salah satu dokter militer." ucap Dito sedikit gugup.


"Benarkah?" selidik Deta.


"Benar, Sayang, dokter ini yang kemarin membantuku mendapatkan kembali cintamu." ucap Ricky penuh romansa.


"Tidak, Tuan, saya hanya membantu memeriksa keadaan nyonya Deta." sanggah dokter cantik itu.


"Itu benar, tapi jika aku terlambat mengetahui keberadaan anakku. Maka aku akan menyesal seumur hidupku." ucap Ricky, suaranya bahkan sampai bergetar.


Satu bulir cairan bening menetes dari mata bulat Deta. Ia tak pernah menyangka jika hidupnya akan kembali berputar ke tempat dimana ia pernah meninggalkannya.


"Hei, kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Ricky panik seraya menghapus air mata Deta.


Wajah Deta mengulas senyum tipis. "Aku hanya terlalu bahagia dan tidak mampu berkata-kata."


"Astaga!" Ricky segera merengkuh tubuh Deta dan mendekapnya dengan erat. "Aku sangat mencintaimu, Sayang." ungkapnya.


"Haih, kalian memang pasangan yang tidak berperasaan!" celetuk Nino yang baru saja memasuki rumah Ricky.


Mendengar celetukan Nino membuat Deta malu dan mencoba untuk melepaskan pelukan Ricky.


"Diamlah, Sayang! Anggap saja dia itu nyamuk pengganggu!" sindir Ricky, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.


Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa melihat tingkah mereka, hingga Dania datang dari arah dapur dan membawa beberapa camilan.


"Moony?" seru Nino, ia menghampiri Dania dan mengambil alih nampan di tangan gadis belia itu. "Biar aku saja." ucapnya.


"Bagaimana Om pedofil bisa ada disini?" tanya Dania polos.

__ADS_1


"Jangan memanggilku seperti itu! Sudah ku katakan bahwa namaku -" Nino tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.


"Nino, kan?" sela Dania, mata sipitnya membuat wajah Dania semakin menarik bagi Nino.


"Betul! Panggil aku Nino!" bisik Nino.


"Baiklah, Om Nino! Tolong bantu Dania membawa ini!" lontar Dania sebelum berlari menghampiri Deta.


'Kenapa jadi seperti ini? Dimana sebenarnya para pelayan? Tidak mungkin rumah sebesar ini tidak memiliki pelayan, kan?' umpat Nino dalam hati.


"Terima kasih, Om Nino," ejek Ricky ketika Nino meletakkan nampan berisi makanan itu meja.


Nino pun tersenyum licik. "Sama-sama, Tuan muda,"


"Terima kasih sudah membantu Dania, Om Nino," ucap Dania dengan mengulas senyum tipis.


Wajah Nino yang awalnya kesal karena ejekan Ricky pun berubah menjadi ceria ketika ia beralih menatap Dania. "Tidak masalah, Moony,"


Tanpa disadari Nino, dua pasang mata sudah mengamatinya sejak tadi dengan tatapan yang sangat tajam.


'Ada yang tidak beres dengan Nino?' batin Ricky.


'Aku harus berhati-hati terhadap pria ini.' batin Dito. "Dania! Kamu ingat 'kan pembicaraan kita semalam?" ucap Dito, yang langsung merubah raut wajah Dania.


Dania menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak! Dania hanya sedih harus berpisah dengan Kakak."


"Oh, astaga! Kamu bisa tinggal disini bersama Kakak, Dania. Kakak yakin, Kak Ricky juga tidak akan keberatan." ucap Deta lembut, ia melemparkan tatapan penuh harap kepada Ricky.


Memahami maksud sang istri, Ricky pun membelai rambut Dania. "Betul, Tuan Putri! Kamu bisa tinggal disini dan memilih kamar mana pun yang kamu sukai."


Bukannya tersenyum dan bahagia, tapi Dania justru menangis dalam pelukan Deta.


"Dania? Kenapa menangis, Sayang?" tanya Deta panik.


Kekhawatiran juga menghinggapi Nino, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena Dito tiba-tiba menghalangi langkahnya.


"Dania tidak membutuhkan orang lain!" ketus Dito, matanya menatap tajam ke arah Nino.


"Kalau begitu, aku pastikan tidak akan ada orang lain di hatinya selain diriku." sergah Nino, wajahnya menyiratkan keseriusan.


"Kau!!!" Telunjuk Dito mengarah ke Nino, tapi ia segera menurunkannya karena menyadari dimana mereka sedang berada saat ini. "Kau memang seorang pedofil! Ingat! Aku tidak akan membiarkanmu mendekati adik kecilku! Walaupun hanya untuk melihat senyumannya." ancam Dito.


Ricky yang tidak sengaja menoleh pun akhirnya melihat ketegangan di antara sahabat dan juga adik iparnya, ia pun segera menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Ayo, ikut denganku!" pinta Ricky, ia berjalan mendahului kedua pria yang tengah bersitegang itu.


***


Ruang kerja Ricky berada tak jauh dari ruangan tempat keluarganya berkumpul. Ia langsung membuka pintu besar itu dan meminta Nino serta Dito untuk mengikutinya.


"Bisa kalian katakan apa yang sedang terjadi?" tanya Ricky, ia menaikkan sebelah alisnya sebelum duduk di kursinya.


Seorang tentara seperti Dito, sudah terbiasa mengalami situasi seperti ini hingga Dito pun hanya berdiri dan menatap Ricky dengan penuh keyakinan.


"Maaf, Kak, bukan maksudku untuk merusak kebahagiaanmu dan juga kak Deta, tapi aku hanya tidak ingin pria ini mengganggu -" Belum selesai Dito berucap, Ricky sudah memotong ucapannya.


"Dokter cantik itu, kan?" sambar Ricky. Ia tersenyum penuh arti. "Sudah Kakak duga, jika dokter itu adalah kekasihmu."


Dito berdecak cukup keras. "Bukan, Kak! Aku tidak sedang membicarakan Shanum."


"Jadi, dokter cantik itu namanya Shanum? Wah, Deta pasti senang mendengarnya." ucap Ricky.


Melihat kesalahpahaman di antara Ricky dan Dito, memancing gelak tawa Nino.


"Lihat! Kakaknya ke arah timur, sedangkan adik iparnya ke arah barat." oceh Nino di sela tawanya.


"Diam kamu! Harusnya kamu malu karena sudah menggoda anak di bawah umur!" sergah Dito geram.


"Maksudnya apa, Dito?" tanya Ricky, ia bergantian menatap Nino dan Dito.


Dito mencebik. "Pria tua ini, dia selalu mencoba untuk mengganggu Dania."


Mata Ricky terbelalak seolah ingin melompat keluar ketika mendengar ucapan Dito. "Ka- Kamu tidak salah, Dito?"


"Tidak, Kak! Awalnya, aku pikir dia hanya kebetulan lewat dan berada di tempat yang sama dengan Dania ketika Dania bercerita bahwa dia bertemu dengan om menyebalkan, tapi anak buahku mengatakan jika pria tua ini sudah beberapa kali mendekati Dania." jelas Dito, ia terlihat begitu emosi ketika melihat Nino.


"No, apa kamu tidak ingin membela diri?" tanya Ricky, sebab Nino hanya diam sejak tadi.


"Aku hanya ingin melakukan satu pembelaan, Ky." Nino menghela nafas. "Bahwa aku ... bukan pria tua!" tegasnya.


Hallo semuanya ๐Ÿค—


Sweet Chapter datang lagi๐Ÿ˜


Jangan lupa di tap jempolnya ๐Ÿ‘ dan tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃ kalian di kolom komentar ๐Ÿ‘‡sertakan votenya juga 'ya ๐Ÿ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini๐Ÿ˜˜


I โค U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2