Poros Jodoh

Poros Jodoh
MENCEGAH BADAI


__ADS_3

"Aku akan melamar Deta besok." tutur Ricky kepada seluruh keluarganya.


Semua anggota keluarga Sanjaya dengan ditambah kehadiran Mika, sudah berkumpul di ruang santai rumah baru Ricky.


Sebelumnya, Ricky sudah mengantar Deta dan Dania pulang ke rumah mereka. Karena ia ingin Deta beristirahat sebelum hari penting mereka.


"Kenapa besok?" tanya Mika dengan nada sedikit kecewa.


"Lebih cepat, lebih baik." jawab Ricky datar.


"Iya, Sayang. Benar yang di katakan Ricky," Bu Rika menyetujui ucapan putranya.


"Tapi, Tante ...," Mika terlihat ragu.


"Kenapa, Sayang?" Bu Rika membelai rambut Mika yang terurai.


Ricky menatap tajam ke arah Mika. Menunggu jawaban yang keluar dari mulut wanita itu.


"Aku ada jadwal pemotretan besok, Tante," tutur Mika kecewa.


Seulas senyum tipis tertarik di sudut bibir Ricky mendengar jawaban Mika.


"Kamu bisa 'kan *r*e-schedule jadwal kamu, Sayang?" tanya bu Rika bermaksud menghibur Mika.


Mika menghela nafas. "Sayangnya, tidak bisa, Tante."


'Honor setinggi itu dan popularitas yang menjanjikan untuk masa depanku, tidak mungkin aku tolak.' Batin Mika bimbang.


"Kalau begitu, setelah pekerjaan kamu selesai. Kamu bisa datang ke acara lamarannya Ricky dan Deta." Lagi-lagi bu Rika mencoba menghibur Mika.


Mika tersenyum kecut. "Tidak mungkin, Tan," di genggamnya tangan bu Rika. "Lokasinya cukup jauh dan berada di luar kota. Aku mungkin tidak akan kembali dalam dua sampai tiga hari ini." sambungnya.


"Baik, pergilah. Tapi pastikan kamu bisa hadir pada acara pernikahan mereka." lontar Refita yang berada di seberang sofa.


"Aku usahakan, Kak." lirih Mika akhirnya.


***


Setelah pak Firman keluar dari ruang kerjanya, Ricky segera meraih ponselnya dan menekan tombol untuk menghubungi seseorang.


"Hallo, selamat siang, Pak!" Suara seseorang di seberang panggilan.


"Siang. Aku ingin kamu melakukan sesuatu," ucap Ricky tanpa basa-basi. Tidak adanya jawaban dari orang yang berada di seberang panggilan membuat Ricky melanjutkan kalimatnya. "Buat dia tidak bisa menghadiri acara lamaranku, bagaimana pun caranya. Tapi ingat! Jangan sampai melukainya!"


"Baik, Pak."


Tut...


Ricky menutup sambungan teleponnya kemudian menatap ke luar jendela.


'Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kehilangan dirinya.'

__ADS_1


***


Kekhawatiran Deta akan restu orang tuanya harus tertunda karena Mika terus saja mengganggunya perihal gaun yang akan ia kenakan pada acara lamarannya.


"Aku tidak tahu, Mika. Aku akan memakai pakaian yang ada dalam almariku saja." jawab Deta akhirnya setelah Mika terus mendesaknya.


"Tidak bisa begitu, Deta! Ini adalah hari yang sangat penting. Kamu harus membeli gaun baru untuk acara lamaranmu." sergah Mika seraya terus menatap Deta dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


Ia masih saja membingkai tubuh Deta dengan kedua tangannya. "Gaun seperti apa yang sesuai untukmu, ya?"


"Gaun yang sederhana saja, Sayang. Tante yakin Deta tidak menyukai hal-hal yang terlalu rumit." teriak bu Rika dengan senyum yang terlukis wajah teduhnya.


"Sederhana, tidak rumit, dan ...," Mika memutar tubuh Deta. "Manis," lanjut Mika antusias.


Mika menoleh pada bu Rika yang sedang memperhatikan kedua gadis manis yang sama pentingnya bagi dirinya.


"Bagaimana kalau gaun yang seperti itu, Tante?" tanya Mika sedikit berteriak.


Bu Rika hanya tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Kamu suka warna apa, Ta?" Mika bertanya seraya memainkan tabnya.


"Aku suka warna yang cerah tapi tetap lembut dan tidak mencolok," jawab Deta. "Ah, dan ... tidak terlalu memperlihatkan tubuhku." sambung Deta dengan sedikit rona merah di pipinya.


"Baiklah," Mika menjawab tanpa melihat Deta karena masih sibuk dengan tabnya.


Melihat Mika yang sepertinya sedang sibuk, Deta pun memilih untuk menghampiri bu Rika yang sedang bermain dengan Dania.


"Bu -" Deta hendak mengatakan sesuatu.


"Tapi ...,"


"Tidak ada tapi." jawab Rika lembut.


Deta tersenyum kaku, ia bingung harus bersikap bagaimana terhadap bu Rika ke depannya.


***


Mika masih sibuk dengan tabnya, hingga ia tak menyadari jika Deta sudah meninggalkannya seorang diri.


"Bagaimana kalau gaun yang ini, Ta? Aku rasa ini sangat cocok untukmu." Mika membalikkan tabnya ke arah dimana Deta berdiri sebelumnya.


Namun ia tak menemukan sosok Deta di sana. "Eh, dimana dia?"


Matanya nyalang mencari keberadaan Deta, hingga ia menemukan sosok Deta yang sedang tersenyum kepada bu Rika.


Saat akan melangkah menghampiri Deta, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo?" ucap Mika begitu menjawab teleponnya.


"Mikayla Sutomo?" tanya seseorang di seberang panggilan.

__ADS_1


"Iya, benar. Dengan siapa saya bicara?"


"*S*aya dari perusahaan xx ingin menawarkan kontrak iklan pada Anda. Jika anda tertarik, kita bisa langsung menandatangani kontrak resminya di kantor kami."


Mika terdiam. Tawaran dari perusahaan tersebut memang sudah lama ia nantikan.


'Kontraknya pasti bernilai tinggi, belum lagi popularitas yang bisa aku dapatkan setelah bekerja sama dengan mereka. Aku tak boleh melewatkan kesempatan emas ini.' Pikir Mika.


"Hallo? Apa Anda mendengarkan, Nona Mikayla? "


"Ah, iya. Aku setuju. Kapan rencananya pemotretan itu di lakukan?"


"Besok,"


"Apa? Kenapa mendadak sekali?" tanya Mika terkejut.


"Karena atasan kami baru saja memilih Anda dan beliau tidak suka menunggu. Apakah jadwal Anda sudah penuh?"


'Aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas seperti ini.' Yakin Mika. "Tidak! Aku setuju." jawabnya.


***


Senyum Ricky merekah, ia bisa bernafas lega karena Mika tidak akan menghadiri acara lamarannya dengan Deta.


"Duh, yang mau menikah terlihat bahagia sekali," goda Refita melihat adiknya sedang tersenyum.


Ia berpikir jika Ricky terus tersenyum karena bahagia akan segera menikah.


Memang benar Ricky bahagia akan segera mempersunting Deta, gadis yang bisa membuatnya menerima kenyataan bahwa dirinya bukan orang biasa.


Tapi kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya saat ini adalah lebih karena ia berhasil mencegah badai yang bisa saja menghancurkan kebahagiaan dan mimpinya untuk bisa hidup bersama dengan Deta.


"Tentu saja!!! Aku sangat bahagia." ungkap Ricky seraya terus menyunggingkan senyumnya.


"Maaf, aku tidak bisa menemanimu. Tapi aku sungguh bahagia untukmu." lirih Mika kemudian memeluk Ricky.


'Maafkan aku, Mika. Aku melakukannya demi kebaikan kita semua.'


Terselip perasaan bersalah di hati Ricky karena menghalangi Mika untuk datang ke acara bahagianya.


'Aku berharap tidak ada badai yang lebih besar.'


Hallo semuanya🤗


Maaf atas kemoloran jadwal up nya ya 😔


Semoga kalian gak move on dari dunianya Deta sama bang Ricky 🥰


Jangan lupa untuk mencetak jempol dulu sebelum baca 😁


Dan jangan lupa juga untuk meninggalkan jejak 👣kalian di kolom komentar ya ( boleh kritik,saran,atau ide cerita tapi jangan membully ya 🙈) biar aku tahu kalian hadir untuk mendukungku 😘

__ADS_1


Satu lagi yang paling aku harapkan dari kalian 😁 vote aku dong, pleaseee....


I❤U readers kesayangan kuhhh


__ADS_2