
Ricky mengumpat kesal karena seseorang dengan beraninya telah mengganggu kebersamaannya dengan Deta.
Ia berjalan untuk membuka pintu, sementara Deta dengan cepat berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Saat pintu terbuka, Ricky memutar bola matanya dengan malas karena melihat Mika sedang berdiri di sana dengan senyum usilnya.
"Ada apa?" tanya Ricky malas. Ia masih memegangi handle pintu, menjaga agar Mika tidak menerobos masuk.
"Dimana Deta?" tanya Mika seraya melongokkan sedikit kepalanya ke dalam kamar tidur Ricky.
Ricky mendorong kembali kepala Mika agar tidak bisa melihat apapun. "Pergilah!" titah Ricky.
Mika berdecak kemudian memicingkan matanya. "Apa yang kalian lakukan?" selidiknya.
"Bukan urusanmu!" bentak Ricky.
Tepat di saat Mika akan pergi, ia melihat Deta sedang berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Deta!" panggilnya seraya melambaikan tangan.
Deta tersenyum dan merapihkan pakaiannya. Ia memakai tasnya dan berjalan menghampiri Mika yang masih di jaga oleh Ricky.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Deta yang sudah berdiri di belakang Ricky.
"Keluarlah! Kita tidak bisa bicara saat ada penghalang seperti ini." sindir Mika pada Ricky yang berdiri di antara mereka berdua.
Menyadari keberadaannya tidak di inginkan oleh para gadis itu, Ricky berbalik dan mencium kening Deta. "Bicaralah dengannya! Aku masih ada pekerjaan dengan Gibran." ucap Ricky kemudian melangkah keluar.
Setelah Ricky pergi, Mika langsung memaksa masuk ke dalam kamar tidur Ricky.
"Astaga!!!" teriak Mika.
Deta segera menyusul Mika dan mengikuti arah pandangan matanya.
Ternyata ia melihat ke arah tempat tidur yang masih berantakan, dengan selimut yang terjatuh di lantai dan sepatu Ricky yang terpisah dari pasangannya.
"Bisakah aku mengetahui apa yang terjadi di sini?" goda Mika begitu Deta mendekatinya.
Wajah Deta memerah, ia sangat malu. Dan ini bukan yang pertama kalinya ia di buat malu karena kelakuan Ricky.
"Tidak ada yang terjadi." elak Deta seraya memungut selimut dan melipatnya dengan asal.
"Benarkah?" Mika tersenyum usil.
Ia mendekati Deta yang terlihat salah tingkah. "Kalau begitu, serangga apa yang telah meninggalkan bekas gigitannya ini?" tanya Mika dan menunjuk tanda merah di leher Deta.
***
"Maaf, Pak, saya tidak tahu jika nona Mikayla datang." tutur Gibran penuh penyesalan. Lagi-lagi ia kecewa dengan hasil kerjanya sendiri.
"Tidak masalah, Gibran. Dia memang selalu seperti itu. Itu sebabnya aku memintamu mengawasinya dengan lebih ketat. Ia sangat mahir melarikan diri. Angga saja tidak bisa mengejarnya." ucap Ricky dengan pandangan menerawang.
Ingatan Ricky ...
Sudah hampir dua tahun ini tuan muda keluarga Pratama mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari sang kekasih yang tiba-tiba menghilang.
Ia terus mencarinya tanpa lelah, walau seluruh keluarganya telah melarang tapi ia tak memperdulikannya.
__ADS_1
Yang ia inginkan, hanyalah kembalinya wanita yang sangat ia cintai.
"Sudahlah, Ga. Aku yakin Mika pasti akan kembali. Berikan dia waktu." ucap Ricky seraya menepuk-nepuk bahu Angga.
"Dia tidak akan kembali! Apa yang sudah dia tinggalkan, tidak akan dia raih kembali." ketus Nino seraya meneguk minumannya.
Angga menatap Nino dengan pikiran yang kacau, entah sudah berapa banyak minuman yang mereka habiskan. Hanya Ricky satu-satunya yang masih sadar di antara mereka bertiga.
"Beginikah rasa sakit yang kamu rasakan? Apakah aku sedang terkena karma karena telah merebutnya darimu?" Angga meracau dengan langkah gontai dan mendekati Nino.
Tawa Nino menggema. "Hahaha ...," ia bangkit dan menghampiri Angga yang sudah kehilangan keseimbangannya.
"Lebih sakit dari yang kamu rasakan! Dia sampai layu dan mati!!!" teriak Nino seraya memukul-mukul dadanya.
Ricky yang masih sadar sepenuhnya hanya bisa menatap kedua sahabatnya itu dan berharap mereka berdua bisa melupakan Mika dan segala kenangan buruk yang ia tinggalkan.
Ingatan berakhir ...
"Pak!" Gibran menyentuh bahu Ricky.
"Hah?" Ricky mengerjap dan menatap Gibran.
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Gibran memastikan.
Ricky mengusap wajahnya kasar. "Iya, aku baik-baik saja." jawabnya gusar.
"Gibran?" panggil Ricky sedikit lirih.
"Iya, Pak,"
"Aku bukan pengecut, tapi sejujurnya aku takut jika takdir tidak mendukungku."
***
Saat melewati dapur, tiba-tiba Mika menarik tangan Deta dan membawanya ke dapur.
"Aku ingin minum teh." ucap Mika di barengi dengan senyuman termanis di wajahnya.
Deta balas tersenyum dan meletakkan tasnya di atas meja yang terletak di dekat dapur.
"Tunggu sebentar, akan aku buatkan!" Deta mulai membuat teh untuk mereka berdua.
Dengan cepat, dua gelas teh sudah tersaji di meja tempat Mika menunggu.
"Terima kasih." ucap Mika saat Deta meletakkan tehnya.
Deta bergabung dengan Mika dan duduk di samping wanita itu. "Sama-sama." jawabnya.
"Deta, bolehkah aku bertanya?" tanya Mika sambil terus mengaduk-aduk tehnya.
"Silahkan." jawab Deta tanpa menatap Mika.
"Apakah kamu sedang hamil?"
"Uhuk... uhuk... uhuk...." Deta langsung tersedak mendengar pertanyaan Mika.
Mika menepuk-nepuk punggung Deta. "Kamu baik-baik saja? Maafkan aku!" ucap Mika merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Deta tersenyum dan menyentuh tangan Mika.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Deta begitu ia bisa mengendalikan dirinya.
Mika terdiam, ia terlihat bingung. Namun raut wajahnya menunjukkan banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Jika kamu bertanya seperti itu karena apa yang kamu lihat hari ini, aku berani bersumpah jika tidak terjadi hal seperti yang kamu bayangkan." jelas Deta saat Mika tetap diam.
"Bukan... bukan itu maksudku!" sanggah Mika.
"Tenanglah, tidak masalah." Deta kembali meminum tehnya. "Tapi aku juga tidak bisa memastikan jika aku tidak hamil." sambungnya.
Pupil mata Mika membesar mendengar pernyataan Deta. "Ap- Apa maksudmu?" tanyanya tak percaya.
Deta menghela nafas dalam. "Aku juga tidak yakin, tapi sepertinya kami memang sudah pernah melakukannya." ucap Deta ragu.
***
Dania berlari masuk ke dalam rumah, ia melihat Deta dan Mika yang sedang mengobrol di dapur.
"Kakak!" teriak Dania yang langsung memeluk Deta.
"Sudah bermainnya?" tanya Deta begitu Dania sudah berada di pangkuannya.
"Aku sudah lelah. Ayo, kita pulang!" pinta Dania di barengi mulutnya yang terbuka lebar karena mengantuk.
Mika dan Deta tertawa melihat tingkah lucu Dania.
"Kamu sangat lucu!" Mika mencubit gemas hidung Dania.
Setiap kali berada di dekat Dania, Mika selalu merasakan kenyamanan seperti saat bersama dengan kakaknya.
"Aku memang lucu." celoteh Dania yang membuat senyum Mika semakin lebar.
"Oh, iya. Aku lupa ingin bertanya tentang Angga padamu." ucap Deta yang langsung menarik tatapan Mika padanya.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama." Wajah Mika berubah serius.
"Silahkan. Kamu lebih dulu." pinta Deta.
"Baiklah, ada hubungan apa kamu dengan Angga?" tanya Mika tanpa basa-basi lagi.
"Aku?" Deta menunjuk wajahnya. "Aku hanya muridnya Angga."
"Murid?" tanya Mika bingung.
"Iya. Aku sedang mengikuti kelas kejar Paket C, dan Angga adalah salah satu pembimbingnya." jelas Deta.
"Sejak kapan Angga menjadi guru?" Mika semakin bingung dengan penjelasan Deta.
"Sejak kamu menghancurkan impiannya!"
***
Hallo semuanya 🤗
Setiap hari aku selalu menyapa kalian, coba dong sekali-kali readersku tersayang sapa author tersayang kalian ini 🤭🤭 ( aku tunggu di kolom komentar ya)
__ADS_1
Jangan lupa jempol👍 dulu sebelum membaca 😊 dan tinggalkan jejak 👣 kalian biar aku semakin semangat karena kehadiran kalian semua 🥰🥰 Apalagi kalo jejaknya di tambah vote 😘😘😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh