Poros Jodoh

Poros Jodoh
SEBUAH BUKU


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Ricky, tatapan matanya penuh harap.


"Yang Kak Ricky dengar tentunya." jawab Dito santai, tangannya meraih ballpoint yang tergeletak di atas meja.


Sebenarnya Ricky bisa mendengar jelas apa yang Dito katakan sebelumnya, tapi ia ingin memastikan bahwa apa yang di tangkap telinganya tidaklah salah. Ricky memperhatikan Dito yang memutar-mutar ballpoint yang ada di tangannya.


"Katakan, Dito! Apa maksud ucapanmu?" Nada bicara Ricky mulai berubah, ia sudah tidak sabar untuk mengetahui kebenaran isi hati Deta.


Sudut bibir Dito tertarik membentuk senyuman. "Santai, Kak," Dito menatap Ricky yang mulai gelisah. "Hah! Cinta memang rumit. Baiklah, dengarkan aku!"


***


Sudah hampir satu jam lebih Dania memandangi Deta, matanya seolah tidak merasa lelah sedikitpun.


"Cukup, Dania!" bentak Deta, ia mulai merasa risih dengan sikap Dania.


Decakan kecil terdengar dari mulut Dania. "Kalau begitu, jawab pertanyaanku! Kenapa Kakak membungkus tubuh Kakak seperti ini?" selidik Dania, matanya memicing dan menatap Deta dengan curiga.


'Membungkus? Dia pikir aku permen.' batin Deta, tapi senyum tetap merekah di bibirnya.


"Kita bukan di LN, Dania. Akan menjadi suatu hal yang aneh jika Kakak memakai pakaian yang biasa Kakak pakai disana." elak Deta, berharap adiknya itu akan menelan mentah-mentah alasannya tanpa bertanya lagi.


Lagi-lagi Dania memicingkan matanya, membuat mata sipitnya seolah sedang terpejam. "Benarkah? Tapi kemarin Kakak masih memakai pakaian terbuka, dan ... dimana pakaian yang Kakak pakai kemarin?"


Inilah yang paling tidak Deta sukai dari Dania. Gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis belia yang pintar dan sangat teliti dalam segala hal, lebih parahnya lagi Dania juga tidak mudah di bohongi.


Deta memutar bola matanya, mencoba mencari alasan paling tepat apa agar bisa mengelabui Dania. "Kakak memberikan pakaian itu ke petugas loundry karena kemarin Kakak terkena tumpahan jus strawberry."


Akhirnya Deta bisa bernafas lega ketika Dania tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda ia percaya dengan ucapan Deta.


***


Suasana di gedung Sanjaya corporation kini sedikit berubah setelah Dito keluar dari ruangan CEO mereka.


Di dalam kantornya, Ricky terus saja tersenyum tanpa henti. Sekali lagi, ia kembali menemukan alasan untuk memiliki Deta. Meskipun Deta belum mengatakan isi hatinya, tapi Ricky yakin jika Deta hanya mencintainya seorang.


"Kakak tidak pernah sungguh-sungguh menikah dengan kak Angga. Mereka menikah hanya untuk mendapatkan hak asuh penuh atas Rayyan. Pernikahan itu pun terjadi satu tahun setelah kami pergi. Kakak memang tidak pernah mengatakannya, tapi aku tahu jika dia masih mencintaimu. Berusahalah! Jika Kak Ricky memang masih mencintai kakak."


"Terima kasih, Dito," gumam Ricky, ia menatap sebuah buku yang di berikan Dito.

__ADS_1


Buku itu memang hanya sebuah novel biasa, tapi sampul buku itu begitu menarik perhatian Ricky. Seorang pria sedang menatap ke atas langit dimana ada awan yang menunjukkan wajah sang kekasih menjadi gambar dari sampul buku itu.


"Ini adalah buku pertama yang kakak tulis sejak kami pergi dari sini. Awalnya kakak hanya menulis untuk melupakanmu, tapi ternyata ada banyak orang yang menyukai tulisannya hingga buku ini beredar di pasaran dan sedikitnya merubah hidup kakak."


Ricky menghela nafas dalam sebelum membuka buku itu. "Mari kita lihat, apa yang kamu tulis di dalamnya, Sayang?"


Ketika tangan Ricky baru saja akan membuka halaman pertama buku itu, tiba-tiba saja Refita datang bersama dengan kedua anak kembarnya.


"Uncle!!!" Panggil kedua anak kembar itu dengan kompak. Tubuh mungil mereka langsung menghambur memeluk Ricky yang masih duduk di kursinya.


"Muah... muah ...."


Satu persatu Ricky menciumi kedua anak cantik yang berwajah sama itu. "Kenapa kalian datang tidak memberi tahu Uncle?'


"Kejutan!!!" teriak kedua gadis itu kemudian kembali memeluk Ricky.


"Oh, astaga! Uncle sangat terkejut." Ricky memasang wajah terkejutnya agar kedua keponakannya itu bahagia.


Benar saja. Kedua gadis itu tersenyum bahagia dan meminta Ricky untuk menemani mereka berdua bermain.


"Uncle harus bekerja, Sayang, kalau tidak grandpa akan marah pada uncle." tolak Ricky halus, sebenarnya ia hanya ingin membaca buku yang di berikan Dito karena Ricky sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang sudah di tulis oleh Deta.


Kerutan yang cukup dalam terbentuk di dahi kedua gadis menggemaskan itu hingga akhirnya mereka menemukan solusi yang sangat baik menurut mereka.


Mendengar usulan dari kedua putrinya membuat Refita terkejut sekaligus tergelak. Ia tahu jika Ricky tidak akan bisa menolak keinginan anak kembarnya, tapi ia tak menyangka jika dirinya akan di korbankan oleh kedua anaknya itu.


"Baiklah, Mommy akan bekerja agar kalian bisa bersenang-senang bersama dengan uncle." ucap Refita seraya meletakkan tas mewahnya di atas meja kerja Ricky.


"Tapi, Kak -"


"Pergilah! Atau mereka akan marah kepadamu." sela Refita, saat Ricky berniat menolak pergi.


"Apa boleh buat." keluh Ricky, wajah pasrahnya memancing tawa Refita.


"Ya, pergilah! Siapa yang tahu jika kamu bertemu dengan jodohmu." bujuk Refita, ia mencoba menarik tangan Ricky agar pria itu bangkit dari kursinya.


Dengan malas, Ricky melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia lupa jika buku yang diberikan Dito masih ada di atas meja kerjanya.


***

__ADS_1


"Mommy? Mommy?" Suara Rayyan terdengar ke seluruh rumah yang langsung membuat Deta datang menghampiri putranya.


"Hai, Darling!" Deta baru saja menuruni tangga dan melihat Rayyan yang berada dalam gendongan Angga.


"I miss you, Mom." Rayyan langsung memeluk Deta, ketika Deta sudah berdiri di hadapan Angga.


"I miss you too, Darling." Deta mengambil Rayyan dari gendongan Angga dan tak henti-henti menciumi pipi bulat Rayyan yang menggemaskan.


Angga yang belum mengatakan apapun sejak tadi hanya memperhatikan Deta dari ujung kepalanya hingga ke ujung kakinya. Angga ingin sekali bertanya pada Deta, tapi ia tahu jika itu bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu karena Rayyan sedang bersama mereka.


"Mommy, I wanna play with you. (Ibu, aku ingin bermain bersamamu)." rengek Rayyan, ia bahkan berpura-pura menangis agar Deta mau menurutinya.


"Ok, Darling. Come on!" seru Deta, langkahnya penuh semangat. Namun, tangannya langsung di tahan oleh Angga.


"Apa kamu akan memakai pakaian seperti ini?" Alis tebal Angga hampir menyatu karena kerutan di dahinya yang semakin dalam.


"Apa ada yang salah dengan yang aku pakai?" sinis Deta, sikapnya pada Angga tidak pernah berubah meski mereka sudah hidup bersama.


Angga tersenyum kecut. "Tidak, selama kau nyaman."


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke taman bermain!" sorak Deta, yang langsung mendapat dukungan dari Rayyan.


***


Sementara di tempat lain, Ricky kewalahan menangani kedua keponakan kembarnya. Mereka sedang meributkan tempat tujuan bermain mereka.


"Aku ingin ke mall, Kay,"


"Tidak. Kita akan pergi ke perpustakaan, Nayla!"


Perdebatan itu sudah terjadi sepanjang perjalanan dan membuat Ricky bingung untuk melajukan arah mobilnya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain saja, Tuan putri kembarku?"


Kedua gadis kembar itu terlihat menimbang-nimbang saran dari Ricky, hingga akhirnya mereka pun bersorak.


"Taman bermain, kami datang!!!"


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa di tap jempolnya 👍 dan tinggalkan jejak kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga ya 👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❤ U readers kesayangan kuhh


__ADS_2