
"DANIA!!!"
Teriakan Dito sudah menggema mendahului cahaya mentari. Wajah gelisahnya membuat Dania tergesa-gesa ketika menuruni tangga.
"Ada apa, Kak?" tanya Dania, matanya masih enggan terbuka sempurna.
"Aku harus pergi ke markas. Jaga rumah baik-baik! Dan jika ada sesuatu yang mendesak, segera hubungi aku atau kak Deta!" Ricky menunjukkan telunjuknya ke arah Dania yang sedang menguap.
"Iya, Kak," jawab Dania dengan suara serak khas orang mengantuk.
Dito hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya dan bersiap untuk pergi, tapi ia teringat sesuatu ketika tangannya hampir menjangkau handle pintu.
"Satu lagi, jangan menemui wanita itu lagi!" titah Dito penuh penekanan.
Dania mengerutkan keningnya. "Wanita yang mana, Kak?"
"Yang kamu temui di depan kantor Sanjaya Corporation,"
Flashback on...
Dito mempercepat langkahnya untuk menyusul Dania karena gadis belia itu tak kunjung datang untuk menemuinya. Ia takut adik semata wayangnya mengalami masalah yang membuatnya tidak bisa menemui dirinya.
Ketika Dito baru saja keluar dari mobilnya, ia melihat Dania terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. Namun, saat Dito berniat untuk menghampiri Dania ia melihat wanita yang menabrak Dania itu membuka kacamatanya yang menunjukkan wajah yang sangat di benci oleh Dito.
"Mikayla ...."
Flashback off...
"Oh, wanita itu? Dia wanita malang yang -" Dania tidak menyelesaikan kalimatnya karena Dito langsung menyelanya.
"Kakak tidak perduli! Jangan pernah menemui wanita itu lagi! Dia bukan wanita baik-baik, Dania." sergah Dito, matanya di penuhi amarah yang membuat Dania gemetar ketakutan.
"Tapi ... kami hanya bertemu secara tidak sengaja, Kak," lirih Dania, bibirnya bergetar menahan tangis.
"Aku tahu! Dan untuk ke depannya, jangan pernah bicara dengannya lagi! Dimana pun dan kapanpun! Apa kamu mengerti?" tegas Dito, sifat kepemimpinannya terbawa hingga ke urusan pribadinya.
Dania hanya mengangguk lemah sebagai jawaban kepada Dito karena bibirnya tak mampu lagi menahan tangis.
'Sebenarnya, apa yang salah dengan nyonya malang itu? Dia hanya butuh teman, dan dia juga tidak berniat untuk melukaiku.'
__ADS_1
***
Suara riuh terdengar dari luar kamar ketika Deta dan Ricky masih larut dalam kebersamaan mereka. Olahraga pagi yang mereka lakukan, membuat Deta kesulitan untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Setelah Ricky mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya terhadap Anika, perlahan Deta mulai membuka hatinya dan mau menerima Ricky. Namun, bibir Deta masih terkunci rapat untuk mengatakan perasaannya terhadap Ricky.
"Siapa yang datang?" keluh Ricky, ia mengucek matanya sementara kakinya mencari-cari keberadaan sandal rumah yang ia letakkan di sisi bawah tempat tidur.
Sebelum keluar dari kamar, Ricky memeriksa Deta yang masih terlelap dengan kondisi tubuh yang masih polos. Ia menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Deta hingga ke leher. Tak lupa satu kecupan ia daratkan di kening Deta sebelum ia keluar dari kamar tidurnya.
"Siapa yang sudah berani me -" Mata Ricky terbelalak melihat kedua orang tuanya sudah ada di dalam apartemen miliknya. "Mama? Papa? Kenapa kalian ada disini? Dan bagaimana kalian bisa masuk?" Rentetan pertanyaan Ricky membuatnya terlihat seperti seorang pesakitan.
Pak Firman menghampiri putranya, guratan di wajahnya semakin menegaskan wibawa serta usia yang tak muda lagi. "Ingat! Papa ini masih bosmu. Mendapatkan akses masuk kesini sama mudahnya dengan membeli kacang rebus. Hahaha ...."
Tawa pak Firman membahana di seluruh ruangan dan membuat Ricky kesal pada sikap ayahnya itu.
"Sayang, apa kabar?" tanya bu Rika. Berbeda dengan suaminya, wajah bu Rika masih sama seperti dulu dan semakin cantik saja.
Ricky menyambut uluran tangan bu Rika dan segera masuk ke dalam pelukannya. "Aku baik, Ma, bagaimana liburan Mama dan -"
"Ricky?" Suara seseorang memanggil Ricky yang langsung menjadi pusat perhatian.
Pandangan semua orang langsung tertuju pada Deta yang baru saja keluar dari kamar tidur Ricky. Dan yang membuat kedua orang tua Ricky lebih terkejut adalah pakaian yang di gunakan Deta. Ia hanya menggunakan kaus oblong Ricky yang kebesaran di tubuhnya. Sementara, tangannya sibuk mengikat rambutnya ke atas dan memperlihatkan leher putihnya yang di penuhi stempel kepemilikan Ricky.
Kedua orang tua itu saling menatap sebelum menatap tajam ke arah Ricky.
"Apa ini, Sayang?" tanya bu Rika, tangan lembutnya mengarah ke Deta yang masih berdiri dengan salah tingkah.
"Jawab, Boy! Siapa wanita cantik ini?" Pak Firman menimpali pertanyaan istrinya.
Ricky yang tertangkap basah tanpa persiapan hanya bisa tersenyum dan menampakkan deretan giginya. "Dia ... dia adalah wanita yang selalu Ricky cintai."
"Deta?" tanya pasangan Sanjaya itu dengan kompak.
Jawaban tepat orang tuanya mendapatkan anggukkan kepala dari Ricky. Manik mata pak Firman dan bu Rika langsung terfokus kepada Deta yang masih mematung di tempatnya.
Bu Rika berjalan menghampiri Deta. "Benarkah ini Deta?"
Pertanyaan yang di ucapkan dengan lirih dan suasana haru yang tiba-tiba tercipta membuat semua orang yang ada di ruangan itu meneteskan air mata, termasuk Deta.
__ADS_1
"Iya, Bu, ini Deta. Bagaimana kabar, Ibu?" jawaban dan pertanyaan Deta menjadi alasan semakin derasnya air mata yang mengalir di pipi bu Rika.
Dekapan hangat langsung di rasakan Deta ketika bu Rika memeluknya. "Maafkan Mama, Sayang,"
Deta melepaskan pelukannya. Sorot matanya berhenti pada Ricky yang mematung menyaksikan kebersamaan dirinya dan mantan calon ibu mertuanya.
"Tidak, Bu! Jangan meminta maaf!" sergah Deta, ia tak menyadari pandangan bu Rika yang terus terfokus pada pakaian dan juga lehernya.
Bu Rika tersenyum, senyuman yang sama selalu Deta lihat lima tahun yang lalu. "Kalau begitu, terima kasih karena sudah datang dan mau kembali bersama Ricky."
Deta menatap bingung wajah bu Rika dan Ricky secara bergantian. "Maaf, Bu, tapi saya tidak kembali untuk bersama dengan tuan Sanjaya."
"Tapi -" Kata-kata bu Rika menggantung ketika terdengar suara seorang anak yang berteriak.
"MOMMY!!! Whele ale you? (Dimana kamu?)" teriak Rayyan dari dalam kamar.
Tanpa aba-aba, pak Firman dan bu Rika mengikuti langkah Deta dan Ricky yang memasuki kamar tidur tamu.
"I am here, Darling, (Aku disini, Sayang,)" ucap Deta, ia segera memeluk Rayyan dan menciumi puncak kepalanya.
"Are you okay, Boy? (Apa kamu baik-baik saja, Nak?)" tanya Ricky, tangannya mengusap punggung Rayyan.
"Astaga!!! Apakah dia cucuku?" celetuk pak Firman, ia menepuk-nepuk bahu Ricky. "Hebat kamu, Boy! Akhirnya aku memiliki cucu laki-laki." celoteh pak Firman, tanpa menunggu penjelasan dari Ricky.
Sementara, bu Rika hanya menatap nanar ke arah Deta yang sedang menenangkan Rayyan.
'Apa saja yang sudah kamu lalui selama lima tahun ini? Pasti kamu kesulitan membesarkan cucuku seorang diri.'
TARAAA....
Akhirnya setelah sekian purnama 😁 Akhirnya author bisa menemukan visual yang cocok untuk Dito 😍tentunya sesuai dengan ekspektasi author😂 tapi readers tetap bebas berimajinasi😘 Terima kasih author ucapkan untuk salah satu reader setia yang sudah memberikan author pencerahan untuk visualnya Dito😂 dan terima kasih juga untuk semua yang masih setia nungguin Deta sama bang Ricky balik meskipun cuma seminggu sekali 😁
DITO RIADY (25 tahun)
Hallo semuanya 🤗
Kamis tiba waktunya kita berjumpa 😍
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya 👍dan tinggalkan jejak 👣👣 kalian di kolom komentar 👇sertakan votenya juga 'ya👈sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘
I ❤ U readers kesayangan kuhh