
YANG MERASA DI BAWAH UMUR LANGSUNG SKIP AJA YA ๐
Darah Deta membeku, karena tanpa menoleh pun Deta sudah tahu siapa yang memeluknya. Aroma parfum pria itu masih sama dan juga deru nafasnya masih sama. Sama-sama memompa darah Deta lebih cepat dari biasanya.
Pria itu memeluk Deta semakin erat seolah takut Deta akan melarikan diri darinya. Tubuh mungil Deta bahkan hampir tenggelam di dalam tubuh kekar pria itu.
"Maaf, Tuan, sepertinya anda salah orang." ucap Deta, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Aku tidak pernah salah mengenali wanitaku." bisik pria itu, yang langsung membuat Deta merinding.
Walaupun Deta berusaha sekuat tenaga, tapi tenaganya tidak akan bisa melawan tenaga pria itu. Dan pria itu, semakin Deta mencoba melepaskan diri semakin erat pelukannya di tubuh Deta.
Pria itu menyingkap rambut Deta dan langsung memperlihatkan punggung serta tengkuk Deta yang putih mulus. Dengan lembut, pria itu menciumi setiap inchi tengkuk dan punggung Deta tanpa ada yang terlewat. Sepertinya ia sangat tahu betul titik sensitif Deta, dengan mudah ia membuat Deta mengerang dan Deta sekuat tenaga menahan bibirnya untuk terbuka.
Deta semakin lemah dan tak sanggup lagi menahan setiap sentuhan pria itu. Ia mencoba membalikkan badannya, tapi kedua tangannya di tahan di atas kepalanya. Dan satu tangan pria itu mulai menyasar di bagian tubuh depan Deta. Darah Deta mendesir, tubuhnya terasa panas. Hingga akhirnya Deta tak sanggup lagi menahannya. "Ricky!!!"
Ricky yang sejak tadi menikmati permainannya pun langsung membuka mata saat Deta menyebut namanya. "Sebut namaku lagi!" bisik Ricky di telinga Deta.
Deta hanya menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. Ia menyebut nama Ricky karena itu terlontar begitu saja dari mulutnya saat Deta merasakan sesuatu baru saja keluar dari area pribadinya.
"Jadi seperti ini caramu bermain dengan Angga?" singgung Ricky di tengah gelora asmara yang membara di antara mereka berdua.
Seketika saja, api cinta yang baru saja menyala di hati Deta kembali padam karena ucapan Ricky. Kesadaran membuat Deta kembali memiliki tenaga dan langsung mendorong tubuh Ricky yang sejak tadi menempel dengannya.
"Anda tahu saya sudah bersuami. Kenapa anda bersikap kurang ajar kepada saya?" tegas Deta tanpa menatap Ricky. Ia sibuk merapihkan pakaiannya.
Ricky langsung meraih pinggang Deta dan membawanya mendekat ke tubuh Ricky. "Kurang ajar? Bukankah kamu juga menikmatinya?"
Rona merah terpancar di wajah Deta. Tak bisa di pungkiri jika Deta juga menikmati setiap sentuhan Ricky, bahkan ia telah sampai pada puncak dirinya.
"Apakah suamimu tidak memberimu kenikmatan seperti yang aku berikan?" bisik Ricky. "Ini baru pemanasan, Sayang." lanjutnya.
Tanpa peringatan, Ricky langsung menggendong Deta dan menurunkan Deta di atas tempat tidur besar yang sangat nyaman. Sementara ia membuka dasinya dan melemparkannya ke sembarang arah.
Deta terdiam membisu, masih sangat terkejut dengan apa yang sedang terjadi hingga ponsel yang berada di hand bagnya berbunyi. Dengan cepat Deta bangkit dan mengambil ponselnya. Ternyata Angga yang menghubunginya. Ricky langsung merampas ponsel Deta dan menjatuhkannya ke lantai.
"Ponselku?"
"Aku akan menggantinya."
"Bagaimana jika Rayyan mencariku?"
__ADS_1
"Siapa Rayyan?"
"Dia putraku."
Rahang Ricky tiba-tiba saja menegang. Sorot matanya berubah tajam. Ia ingat pernah membahas tentang putranya Deta bersama Angga.
'Jadi kamu benar-benar mengkhianatiku?' batin Ricky. Kemarahan sudah memenuhi hatinya. Ia sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.
Dengan kasar, Ricky memaksa Deta untuk melayaninya. Ia berpikir jika Deta sudah terbiasa melakukan hubungan suami istri seperti ini. Namun, kenyataannya Deta sangat ketakutan. Ia bahkan mencoba melawan saat Ricky merobek *m*ini dress yang ia kenakan.
Kebencian dan amarah menutupi mata Ricky. Ia tak melihat jika Deta tersiksa dengan sikap dan perlakuannya. Setelah lima tahun terpisah, justru perlakuan kasar seperti ini yang Deta dapatkan dari pria yang selalu mengisi hatinya.
Dengan paksa Ricky memasuki tubuh Deta, tapi terasa sulit. Deta bahkan sampai menjerit kesakitan. Ia memegangi ujung seprai untuk menahan rasa sakit yang di timbulkan oleh Ricky. Dahinya mengeluarkan peluh dan berlomba dengan air mata yang keluar karena rasa sakit dan kekecewaan yang di berikan Ricky.
Meski dalam kemarahan, Ricky juga juga cukup menyadari jika ada sesuatu yang salah. Ia menatap Deta yang berada di bawah kungkungan tubuhnya, wanita itu mengerang kesakitan. Deta tidak terlihat menikmati permainan Ricky. Namun, ego Ricky membuatnya tidak memperdulikan hal itu. Ia melanjutkan permainannya hingga merasa puas dan mencapai puncak dirinya.
Ricky menghapus peluh di dahi Deta dan menciumi air mata yang mulai mengering di sudut mata Deta. Dengan nafas yang masih terengah-engah Ricky membisikkan sesuatu di telinga Deta yang terlihat sangat lelah.
"Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya."
***
"Dimana kamu, Deta?" Angga masih terus mencoba menghubungi Deta yang belum juga kembali dari pesta pernikahan Syafitri.
Ingatan Angga...
"Tuan, nyonya baru saja meninggalkan kediaman tuan muda Riady." bisik Dhirgam pada Angga yang tengah memimpin rapat.
"Dengan siapa dia pergi? Dan kemana?" tanya Angga tanpa menatap Dhirgam.
"Pesta pernikahan teman lamanya, Tuan, dan nyonya pergi seorang diri."
"Rayyan?"
"Bersama nona Dania dan tuan Dito."
"Baiklah."
"Tapi, Tuan ...."
"Ada apa, Dhirgam?" Angga menoleh pada Dhirgam yang terlihat gelisah.
__ADS_1
"Hotel tempat pesta itu berlangsung adalah hotel milik tuan Sanjaya dan beliau di perkirakan akan hadir dalam acara pernikahan itu sebagai saksi dari mempelai pria yang merupakan sahabat sekaligus general manager di Sanjaya corporation." tutur Dhirgam.
Angga yang mendengar hal itu langsung berdiri dari kursinya dan sempat membuat rapat terganggu.
"Rapat ini penting, Tuan," Dhirgam mengingatkan Angga yang sudah bersiap untuk pergi.
"Sialan! Ini pasti salah satu rencana Ricky." umpat Angga saat rapat kembali berlangsung.
Ingatan berakhir...
Angga baru saja tiba di kediaman Dito dan ia tak mendapati keberadaan Deta di sana.
"Dimana, Deta?" tanya Angga begitu Dito membukakan pintu.
"Kakak belum kembali. Dia mengatakan jika Kak Angga sudah tahu." jawab Dito kebingungan.
Angga mengusap wajahnya kasar. "Ricky juga di sana, Dito."
"Apa?" Dito membelalakan matanya, ia mengkhawatirkan keadaan Deta.
'Bagaimana reaksi kakak jika mereka benar-benar bertemu?' batin Dito.
'Mereka tidak boleh bertemu.' batin Angga.
"Tuan?" Dhirgam masuk dan memecah keheningan.
"Katakan!"
"Menurut rekaman CCTV, nyonya sudah meninggalkan acara sekitar tiga jam yang lalu. Namun, keberadaan mobil yang di kendarai nyonya tidak terlacak, Tuan." jelas Dhirgam.
"Kemana kamu, Deta?" gumam Angga, kedua tangannya mengepal kuat menahan emosi.
"Aku akan mencoba menghubunginya." usul Dito saat melihat keadaan yang mulai tidak terkendali.
Angga menyandarkan tubuhnya di kursi. "Aku sudah mencobanya ratusan kali, tapi ponsel Deta tidak bisa di hubungi. Sebelumnya aku bisa menghubungi Deta, tapi kemudian ponselnya mati."
'Dimana kamu, Kak? Semoga kakak baik-baik saja.'
Hallo semuanya ๐ค
Jangan lupa tap jempolnya ๐dan juga tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ๐sertakan votenya juga ๐ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini ๐
__ADS_1
I โค U readers kesayangan kuhh