
Mode masa lalu di aktifkan...
"Adik kecil, berhentilah menangis!"
Deta sudah hampir ikut menangis karena tak juga bisa menenangkan gadis kecil yang di bawa oleh seorang wanita tua ke rumahnya.
"Ada apa, Kak?" Pak Danang menghampiri Deta yang sedang menimang "adik barunya" di teras.
"Pa ... dia terus menangis sejak tadi. Deta bingung tidak tahu harus berbuat apa."
Pak Danang menatap putrinya yang sudah hampir putus asa. Namun, tak pernah mengeluh apalagi menyalahkannya.
"Dimana mama?" Mata pak Danang berkeliling mencari sosok bu Sarah.
"Mama belum pulang, Pa,"
"Sejak kemarin?" Deta mengangguk.
'Itu artinya Deta yang menjaga anak ini sejak kemarin. Pantas ia terlihat sangat lelah. Ini semua salahku! Maafkan Papa, Nak!' Batin pak Danang mencelos.
"Pa!!!" Deta menepuk bahu ayahnya.
"Ah, iya, Kak."
"Bagaimana dengannya?"
Pak Danang segera mengambil gadis kecil itu dari gendongan Deta.
Di tatapnya wajah gadis kecil itu, wajahnya mengingatkan pak Danang akan dosa masa lalunya.
"Bagaimana, Pa?" ulang Deta karena tak juga mendapat jawaban.
Pak Danang menghela nafas dalam, mencoba mencari solusi terbaik untuk keluarganya dan juga anaknya.
"Titipkan saja anak pembawa sial itu di panti asuhan!" saran Dito yang berjalan melewati ayah dan kakaknya.
"Deeekkk ...." Deta memeloti adiknya itu.
"Dia memang pembawa sial, Kak, mama pergi dari rumah. Kakak jadi tidak bisa sekolah karena harus mengurus dia. Aku benci anak itu!!!" teriak Dito.
Setelah mengeluarkan kekesalannya, Dito menuntun sepedanya keluar pagar dan mengayuh sepedanya tanpa berpamitan.
"Dasar anak itu!" Deta memukul angin seolah sedang memukul adiknya.
"Pa, Dito masih kecil jadi pikirannya terkadang aneh. Papa tahu, kan? Maafkan Dito, ya, Pa!"
"Dito benar, Kak, sebaiknya kita titipkan saja anak ini ke panti asuhan."
"Tapi, Pa, kalau Papa melakukan hal itu yang ada Papa hanya menambah dosa Papa!"
Pak Danang menunduk mendengar putrinya membahas kesalahannya di masa lalu.
"Maaf, Pa, Deta hanya ...."
"Kamu tidak salah, Kak, Papa yang salah. Yang terbaik untuk saat ini adalah menjauhkan anak ini dari keluarga kita."
"Baiklah. Kalau itu sudah jadi keputusan Papa."
__ADS_1
"Tolong jaga dia untuk hari ini ya, Kak, besok kita akan mengantarkan dia ke panti asuhan." Pak Danang menyerahkan gadis kecil yang sudah tenang itu kepada Deta.
Deta memandang "adik kecil" yang baru satu hari jadi adiknya itu.
'Kasihan sekali kamu, Anak cantik!"
***
Setelah kepergian pak Danang, gadis kecil itu kembali menangis dan membuat Deta kewalahan. "Katakanlah! Apa yang kamu inginkan?"
Deta memberikan semua boneka yang ia miliki, tapi gadis kecil itu tetap menangis dan tidak tampak akan berhenti menangis.
"Apa kamu lapar?"
Tiba-tiba gadis kecil itu terdiam dan menatap Deta dengan mata penuh harap.
"Aha! Ternyata kamu lapar, ya?Baiklah, ayo kita ke dapur!" Deta pergi ke dapur, tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Ia menyesal karena selama ini selalu menolak bantuan ibunya ketika di dapur.
'Maafkan Deta, ma.'
Tak terasa air mata mengalir di wajahnya.
"Coba kalau ada mama." gumamnya. "Sudahlah, biarkan mama menenangkan diri dulu! Ayo belajar mandiri Deta!" lanjutnya.
Deta mengepalkan tangannya memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Ehmm ... apa yang akan kita buat? Bagaimana kalau bubur? Apa kamu menyukainya?" tanyanya pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu pun mengangguk. "Baiklah. Ayo kita buat bubur!" ucap Deta.
"Kita harus menunggu sekitar tiga puluh menit. Itu cukup untuk membaca beberapa lembar novel. Hihihi ...."
Deta menggendong adik kecilnya dan membawanya ke ruang keluarga. "Diam disini, Adik kecil! Kakak akan ke atas untuk mengambil buku dan kembali lagi kesini. Mengerti?"
Gadis kecil itu menatap Deta yang di artikan Deta sebagai sebuah persetujuan.
Deta memasuki kamarnya dan mencari novel yang belum sempat ia baca.
Namun, karena sifat pemalasnya. Deta membiarkan semua barangnya berserakan dan itu membuat ia selalu kesulitan ketika mencari sesuatu.
Karena terlalu sibuk mencari novel yang ia inginkan, Deta lupa bahwa ia sedang membuat bubur di dapur. Hingga terdengar suara seorang anak menangis dengan keras.
Deta mengerutkan keningnya, dan tersadar bahwa ia meninggalkan adik kecilnya di bawah seorang diri.
Ketika melihat jam di dinding, Deta baru sadar jika ia sudah berada di kamarnya selama satu jam lebih.
"Astaga!!! Bubur!!!" teriaknya.
Deta segera berlari. Namun, kakinya tersangkut seprai yang menjuntai di lantai karena belum ia rapihkan.
Kepala Deta terbentur lantai, kakinya juga terasa sedikit nyeri, tapi ia tidak menghiraukannya.
Deta bergegas untuk berdiri dan sebelum keluar dari kamarnya ia sempat menoleh ke belakang.
'Astagaaaaaa!!! Setelah ini aku akan menjadi anak rajin. Aku janji!!!'
Deta buru-buru menuruni tangga dan terlihat asap sudah mengepul dari dapur dan hampir memenuhi ruangan di lantai bawah.
__ADS_1
Pikiran Deta langsung tertuju pada gadis kecil yang sedang menangis dan terbatuk-batuk karena asap.
Di rengkuhnya tubuh gadis kecil itu. "Terima kasih... terima kasih... aku berhutang nyawaku padamu."
Deta menangis dan segera berlari keluar dari rumahnya.
"Kebakaran!!! Toloooooong!!!!"
***
Di kantor, pak Danang sedang menghadapi kesulitan. Beberapa investor tiba-tiba saja ingin menarik kembali semua investasi mereka.
Entah siapa yang sudah menyebarkan rumor buruk tentang dirinya. Hingga para investor yang sudah susah payah ia yakinkan, kini justru meninggalkannya.
"Apa yang harus kulakukan?" Pak Danang memijat kepalanya yang menyandar di kursi.
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunan Pak Danang.
"Papa... hiks, hiks, hiks ...," Suara Deta di seberang panggilan membuat pak Danang menegakkan tubuhnya.
" Ada apa, Kak? Kenapa Kakak menangis?"
"Rumah, Pa, rumah kita ...."
" Kenapa rumah kita, Kak?"
"Rumah kita kebakaran, Pa ...."
Seketika kaki pak Danang terasa lemas, untung saja ia sedang duduk sehingga ia tidak harus terjatuh.
'Apakah semua ini hukuman untukku?'
Mode masa lalu di non aktifkan...
***
"Jadi mereka kehilangan segalanya?" Ricky bertanya pada Gibran, begitu asistennya itu selesai bercerita.
"Betul, Pak,"
"Apa yang terjadi selanjutnya? Kenapa Dania masih bersama mereka? Bukankah mereka berencana menitipkannya di panti asuhan?"
Ricky memberondong Gibran dengan semua pertanyaannya. Beruntung,Gibran adalah pria yang tenang. Sehingga ia bisa menjawab semua rasa penasaran bosnya itu.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Pak, karena nona Deta merasa berhutang nyawa pada nona Dania." jelas Gibran.
Ricky mengerutkan keningnya. Menurutnya, tidak ada bagian dari cerita Gibran yang menunjukkan bahwa seorang gadis kecil berusia dua tahun sudah menyelamatkan seorang gadis muda yang berusia delapan belas tahun saat itu.
'Bagaimana cara berpikir Detaku itu???'
Hallo semuanya🤗
Masih stay dengan kelanjutan kisah manisnya Deta sama bang Ricky kan gaaeesss 😁
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini berupa like👍, comment, rate bintang 5 and vote 🤭 ( maksa yaaa 😋)
Semoga kalian suka ceritanya🥰
__ADS_1