Poros Jodoh

Poros Jodoh
PANAS


__ADS_3

Tercipta keheningan di ruang makan pagi itu. Entah karena mengikuti suasana hati Ricky atau karena semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


'Gadis dingin.' Dengus Ricky dalam hatinya setelah Deta kembali ke dapur setelah meletakkan susunya.


Pak Firman dan bu Rika saling berpandangan melihat tingkah putranya.


'Bagaimana ini, Pa?' Mata bu Rika bertanya pada pak Firman yang sedang menatapnya.


'Biarkan Fita yang mengurusnya.' Pak Firman melirik Fita yang sedang mengunyah rotinya.


Bu Rika ikut menoleh ke arah Fita. Sedikit kesal karena anak perempuannya itu tetap bertingkah acuh walau sudah tahu semuanya.


Bu Rika berdehem. Namun tidak di gubris baik oleh Refita ataupun Ricky yang sedari tadi masih saja mengoles rotinya.


Karena merasa di acuhkan, bu Rika berdehem kembali namun kali ini suaranya cukup keras. Bukan Refita yang menyadari tapi justru Yoga suaminya.


Yoga menyentuh tangan Refita yang seketika menoleh kepadanya.


"Ada apa, Y?" Refita meletakkan rotinya di piring.


Yoga tidak menjawab. Ia hanya menunjuk bu Rika dengan ekor matanya yang di ikuti dengan pandangan Refita.


"Iya, Ma?"


Lagi-lagi tanpa jawaban. Bu Rika hanya memandang Ricky yang masih saja "memainkan" sarapannya.


Refita mengerti maksud ibunya. Segera ia tersenyum kemudian menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk seperti huruf O.


"Ky, kamu sedang diet?" Basa-basi pertama Refita.


Ricky menggeleng.


"Ingin selai yang lain?"


Ricky menggeleng lagi.


"Lalu kenapa tidak di makan? Apa rasanya tidak enak?" Kali ini Refita menggigit roti di piringnya. "Ini enak seperti biasa." sambung Refita seraya mengunyah roti.


Ricky hanya memandang kakaknya kemudian menggeleng.


"Apa kamu tiba-tiba menjadi bisu?" Raut wajah terkejut yang di buat-buat oleh Refita bisa di lihat dengan jelas oleh Ricky.


"Diamlah, Kak!!!" Ricky menjawab malas yang membuat Refita terkekeh.


"Syukurlah, aku fikir kamu tiba-tiba menjadi bisu setelah di publikasikan oleh Papa."


Ricky menghembuskan nafas kasar. Kehabisan kata-kata menghadapi kakaknya.


"Ta!!! Ta... ta!" Refita memanggil Deta dengan nada bicara yang lucu.


'Sedang apa kakakku yang aneh ini?' Ricky menatap bingung kakaknya tapi enggan bertanya.


Tidak lama terdengar langkah kaki yang terburu-buru dari arah dapur.


"Iya, Kak, apa Kak Fita butuh sesuatu?" Suara di belakang membuat Ricky menoleh. Ia melihat Deta sedang tersenyum kepada Refita.


'Kak Fita? Dia memanggil kakak seperti itu.


Tapi kenapa dia memanggilku "pak"?' umpat Ricky dalam hati.


"Mulai hari ini, kamu bekerja di rumahku, ya!" ucap Refita sembari melirik Ricky yang langsung terkejut dengan ucapan kakaknya.


"Baik, Kak," Deta menjawab tanpa berpikir lagi.


Jawaban Deta menarik mata Ricky untuk kembali menatapnya. Menyadari hal itu, Deta langsung menunduk sebelum tatapan mereka bertemu.

__ADS_1


Karena tak bisa lagi menahan emosinya yang aneh, Ricky segera berdiri dan hendak pergi.


"Kamu belum sarapan, Sayang." Suara bu Rika menghentikan Ricky.


"Tidak berselera, Ma," ketus Ricky.


Ia sudah berjalan melewati Deta yang masih menunduk.


"Setidaknya minum dulu susunya!" teriak bu Rika yang langsung menghentikan langkah Ricky.


Ricky berbalik dan melihat Deta yang kini sedang menatapnya dengan wajah kecewa.


Terlukis senyum di sudut bibir Ricky, mengetahui Deta sedang menatapnya. Namun sedetik kemudian Deta kembali menurunkan pandangannya begitu tatapan mereka bertemu.


'Cih!!!'


Ricky mengumpat dalam hatinya kemudian melangkah kembali ke meja makan untuk meminum "susu specialnya" yang di buatkan oleh Deta untuk pertama kalinya.


TAKKK!!!


Ricky meletakkan gelas kosong di meja dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


"Aku berangkat."


Ricky berjalan dan melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Mobilmu, Boy," teriak pak Firman.


"Aku akan naik kereta, Pa," jawab Ricky yang sudah meninggalkan ruang makan.


"Tidak cocok wakil direktur naik kereta!!!"


"Kalau begitu aku tidak akan jadi wakil direktur. Hahahaha ...." Ricky tertawa menirukan tawa ayahnya.


Deta bergegas menyelesaikan semua pekerjaannya karena akan pergi ke rumah Refita.


Sembari menunggu semua majikannya selesai sarapan, Deta memilih membersihkan kamar Ricky. Karena Deta hanya membersihkan setiap kamar di rumah ini begitu penghuninya sudah pergi.


Karena berpikir Ricky sudah pergi, Deta langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Begitu pintu terbuka, terlihat Ricky sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di almari. Deta sangat terkejut namun tetap berusaha bersikap normal.


"Maaf, Pak, saya pikir kamar ini kosong. Permi -" Deta hendak pergi tapi tangannya langsung di tarik oleh Ricky.


Ricky segera menutup pintu tanpa melepaskan tangan Deta.


Deta merasa seluruh tubuhnya lemah. Ia bahkan tidak memiliki tenaga walau hanya untuk bertanya apa yang sedang di lakukan oleh tuan mudanya ini.


Ricky yang menyadari keterkejutan Deta, ia segera menatap Deta yang masih saja menunduk.


'Kenapa sepertinya dia hanya tidak mau menatapku? Apa aku kurang tampan baginya???' pikir Ricky.


Ricky terus memperhatikan Deta. Ia mulai memiringkan kepalanya, mencoba melihat bola mata Deta yang menatap ke bawah.


'Astaga!!! Kenapa aku sangat gugup?'


Deta sudah merasakan keringat dingin di tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Ricky dengan nada bicara yang di buat seolah sedang marah.


Sesungguhnya, entah mengapa dalam hatinya Ricky merasa sangat senang melihat Deta ada di kamar tidurnya.


"Ma- maaf, Pak, saya pikir anda sudah pergi." jawab Deta sedikit terbata.


"Oh, aku memang sudah akan pergi. Tapi aku melupakan sapu tanganku. Karena ulah seseorang aku jadi kesulitan menemukan barang-barangku." Ricky menekankan kata "ulah seseorang".

__ADS_1


Hal itu sontak saja membuat Deta mendongakkan kepalanya dan membuat tatapannya bertemu dengan Ricky.


"Maaf, Pak," ucap Deta lirih seraya menundukkan kembali pandangannya.


'Harus ku apakan gadis ini?'


Ricky menyeringai begitu terlintas pikiran ingin mengerjai Deta.


"Baiklah, jika kamu ingin aku maafkan, sekarang tolong carikan sapu tanganku!"


Deta mengangguk tapi tetap diam di tempatnya.


"Kenapa masih diam di sini?"


Deta diam dan hanya menggerakkan tangannya yang masih di pegangi oleh Ricky.


Sebenarnya Ricky enggan melepaskan tangan Deta, tapi ia harus melepaskannya untuk saat ini.


Deta berjalan menuju almari Ricky dan membuka pintu almari yang besar dan langsung menampakkan pakaian Ricky yang sudah setengah berantakan.


'Benar-benar tuan amburadul!!!' Deta menarik nafas dalam.


"Itu karena kamu merubah semua susunannya, aku jadi kesulitan mencari pakaianku." Ricky tersenyum usil sembari memandang tubuh Deta dari belakang.


'Sial! Kenapa aku kepanasan???'


Ricky menurunkan suhu pendingin ruangan dan membuka satu kancing kemejanya.


Deta yang tidak menyadari hal itu tetap mencari sapu tangan Ricky sembari merapihkan pakaian yang berserakan.


"Ini sapu tangan anda, Pak," Deta berbalik dengan sapu tangan berwarna putih di tangannya.


Deta terkejut melihat Ricky sedang tidur terlentang dengan kemeja yang sedikit terbuka.


Ricky segera duduk dan tersenyum melihat wajah Deta yang bersemu merah.


Ricky berdiri dan menghampiri Deta yang masih berdiri terpaku di depan almari yang belum tertutup.


"Wooww, kamu merapihkan ini. Lagi? Berdasarkan warna? Apakah kamu menderita OCD???" Ricky takjub namun sedikit penasaran melihat cara Deta merapihkan pakaian dan seluruh kamarnya.


Deta menatap Ricky sekilas,kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Apa itu OCD?" tanya Deta polos.


"OCD itu Obsessive Compulsive Disorder. Seperti gangguan mental yang membuatmu selalu ingin bersih-bersih secara berulang-ulang dan membuatmu gelisah jika tidak melakukannya. Ya, seperti itulah."


Deta mencoba mencerna yang di katakan oleh Ricky.


Ricky terus memperhatikan wajah Deta yang sedang berpikir. Mata bulat yang jernih, pipi yang chubby, di tambah bibir tipis yang mungil membuat tubuh Ricky semakin kepanasan.


'Sial!!! Apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhku? Kenapa aku tiba-tiba demam seperti ini???'


"Maksud anda saya gila, Pak?" Pertanyaan Deta membuyarkan lamunan Ricky.


"Tidak. Tapi kamu membuatku gila."


Hallo semuanya🤗


Maaf yaa jadwal up nya masih amburadul 🤭


Selamat menikmati kegerahan bang Ricky eh maksudnya cerita bang Ricky sama Deta 🤭


Semoga kalian suka ceritanya🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 kalian disini ya biar aku semakin semangat up nya 😘

__ADS_1


__ADS_2