PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Zia


__ADS_3

" Duh yang asik main ga inget sama mami padahal disini juga ada daddy lo, kasihan kita dad dicuekin sama ices cantik kita hiks hiks hiks." Laras pura pura menagis didada Tama untuk menarik perhatian Zia yang masih asik bercanda dengan aunty dan uncle nya.


"Iya ya mi kasihan kita ni mana daddy sakit dicuekin." tambah Tama curi curi kesempatan memeluk Laras.


Zia yang mendengar mami dan daddy nya mengeluh langsung minta Aldo menurunkanya dari gendongan, dan mendekati mami dan daddynya.


"Cup mami no no no jangan nangis cup mami." ucap Zia, mulutnya sangat kecil pipinya gemil membuat Tama gemas ketika melihat putrinya berbicara Tama terus menatap wajah cantik putrinya yang mengelus pipi maminya dan mendiamkan maminya yang pura pura menangis.


"Daddy mami sedih." kembali Laras pura pura menangis didada Tama, Laras suka sekali menggoda putrinya, Perhatian Zia hanya berpusat pada maminya, Laras memang sengaja agar Tama bisa melihat lebih dekat


wajah putrinya tanpa menangis.


"Mami cup no jangan nanis mami, Zia cayang mami." ucap Zia Laras mengankat wajahnya yang dia sembunyikan didada Tama dari tadi.


"Beneran ga boong." Zia menggeleng dan tersenyum manis padanya.


"Ohhh kesayangan mami sini." Laras menarik tubuh Zia agar mendekat padanya.


"Ini siapa dek inget ga?" tanya Laras sambil menunjuk ke arah Tama.


"Daddy." jawaban polos Zia sukses meluncurkan air mata Tama lagi, dipeluknya erat erat gadis mungil itu dia menumpahkan segala kerinduan yang ada, Laras membantu Tama mengusap air matanya, seakan merasakan kerinduan yang sama Zia pun memeluk erat daddy nya.


"Dad Ssttt." pinta Laras, meski mengerti Tama masih belum bisa menghentikan tangisanya bahkan air mata itu semakin deras keluar dari kelopak matanya, Aldo mengambikan minum untuk abangnya dan Sharon mengambil kan tisu dan memberikanya pada Laras.


"Minum dulu dad, biar enakan." Tama mengangguk dan meminum air itu menerima tisu yang Laras sodorkan sedangkan tangan satunya masih memeluk Zia.


"Daddy no jangan nanis." ucap Zia tangan kecil nya memegang kedua pipi Tama.


"Enggak sayang daddy ga nangis." jawab Tama.


"Tanya dong dad liburanya seru ga dirumah opa, cerita dek rumah opa besar ya?" Laras mulai memancinga Zia agar cerita.


" Lumah opa besal dad ada buyung manyak." ucap Zia.


"Dia ngomong apa mi?" tanya Tama pada Laras.


"Rumah opa besar dad ada burung banyak." jawab Laras, Tama pun tertawa ketika mengerti maksud putrinya.


"Adek udah maem?" tanya Laras, Zia menggeleng.

__ADS_1


"Loh kok belum kenapa?" tanya Laras sambil merapikan rambut Zia.


"Maaf bu katanya mau maem sama ibu."jawab mbak pengasuh Zia.


"Oo ga papa sus bawa kan makananya." jawab Laras.


"Bawa bu." jawab Mbak Sus Zia, dia pun menyiapkan makanan Zia dan memberikan nya pada Laras.


"Mam daddy." pinta Zia.


"Dad mau maem nya sama kamu, tapi dek tangan daddy sakit itu ada jarumnya tuu." bujuk Laras.


"Ga papa mi sini biar daddy yang suap." Tama pun mengambil mangkok makanan Zia dan mulai menyuapi putri kecilnya, mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia, Aldo Sharon dan mami Arini juga hanyut dalam suasan mereka, kadang mereka bercanda saling menggoda dan menjaili Zia yang manja, tak lupa mami Arini mengambil momen langka ini dan mengirimkan nya pada suami tercintanya yang tak ikut menyaksikan kebahagiaan putra dan anak mantunya.


*****


Siang itu...


Aldo dan Sharon sudah pulang bersama dengan mami Arini, Laras juga meminta tolong pada ibu mertua nya untuk menjaga Zia sementara waktu, karena Zia tak diperbolehkan terlalu lama berada dirumah sakit, disamping sudah menjadi peraturan dirumah sakit tersebut mereka juga takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada kesehatan Zia.


Suasana kembali hening ketika disebuah ruangan hanya ada sepasang suami istri yang masih menahan gengsi, Tama dengan keberanianya mengutarakan keingin tahuannya terhadap penjulikan Zia.


"Iya mas."


"Sini dekat dekat." Laras memaruh ponselnya di meja kecil disebelah sofa tempatnya duduk, kemudian dia beranjak dan berjalan mendekati Tama.


"Mas mau apa, mas laper?" tanya Laras.


"Enggak mas pengen cium kamu." jawab Tama, Laras bingung dia harus jawab apa, karena saat ini dia diharuskan menjaga dirinya agar tak tertular penyakit sedangkan saat ini Tama sedang kurang sehat.


"Apa mamas marah jika Laras menolak?" tanya Laras.


"Tidak hanya saja mas jadi sedih sayang, mas kangen sama kamu." jawab Tama sambil menyembunyikan wajah sedihnya.


Laras naik keranjang Tama dan duduk didepan suaminya.


"Mas jangan marah ya kalau untuk sementara ini Laras ga mau dicium sama mamas, soalnya mamas belum fit kan." jawab Laras.


"Mamas ga sakit lo Ras hanya lemas kurang makan aja." jawab Tama masih berusaha mendapatkan ciuman Laras.

__ADS_1


"Iya Laras tau, Laras pegang tangan nya aja ya."


"Kamu ma ga asik Ras, mas kangen." rengek Tama.


"Heemm, nanti kalau sembuh boleh pokonya boleh apa aja juga boleh." janji Laras.


"Yang itu juga boleh?" tanya Tama.


"Boleh." jawab Laras.


"Kan kita udah??"


"Dibilang ga mempan."


"Kok bisa."


"Ya bisa lah Laras kan hebat." Tama bingung tapi juga curiga.


"Kamu belum cerita sama mamas soal penculikan Zia, dan bagaimana cara kamu menemukanya.?" Tama mengutarakan rasa penasaranya lagi.


"Sebenernya bukan Laras yang berhasil membawa Zia kembali mas, tapi papa bahkan papa yang pertama kali punya feeling bahwa bayi yang kita kebumikan itu bukan putri kita, waktu itu keluarga mamas menolak otopsi kan, tapi papa malah melakukan tes DNA." ucap Laras.


"Pas mamas usir Laras setelah pemakaman papa dateng menemui Laras dirumah psikiater yang merawat Laras, kemudian Laras ikut papa ke rumah papa di Singapur dan Laras dikurung disana sama papa, tak tau bagaimana prosesnya tiba tiba papa datang bawa Zia." Laras menceritakan apa yang dia ketahui tentang perjalanan penculikan putrinya.


"Maaf Ras mamas ga kepikiran sampai sana bahkan papa Robin juga ga pernah bicara apa apa soal Zia pada mamas."


"Laras yang minta upppsss." Laras menutup mulutnya karena keceplosan.


"Jahatnya.." seru Tama.


"Enggak sayang kan Laras udah minta maaf dan mamas udah tau semua kan alasanya, yang penting kita sekarang udah kumpul lagi, kita jadikan masalah kemarin sebagai pelajaran ya mas jangan ada lagi perpisahan antara kita hanya karena kesalah pahaman, Laras juga minta sama mamas bersikaplah lebih dewasa jangan marah marah terus." pinta Laras sambil mengelus tangan suaminya.


"Iya Ras mamas jugq berfikir demikian, sifat pemarah dan labil nya mas inilah yang bikin ruyam keadaan maafin mamas ya Ras."


"Janji ya mamas ga marah marah lagi."


"Iya sayang mamas janji." ucap Tama kemudian Laras memberanikan dirinya mencium pipi Tama, mereka pun saling menatap dan tersenyum penuh cinta.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2