
Pak Bram segera kemarkas ketika mendengar bahwa kesatuanya di serang, Pak Bram tak mungkin tinggal diam saat ketenanganya keluarganya diusik.
Pak Bram geram melihat kedua anak nya babak belur, dia juga terkejut melihat ada seorang gadis yang tak dia kenal bisa masuk kedalam markasnya.
"Siapa dia?" tanya Pak Bram sambil menunjuk kearah Sharon.
"Saya Sharon om sepupunya Ryan." jawab Sharon.
"Dia wanita jadi jadian pi." saut Aldo.
"Hah wanita jadi jadian maksudmu dia waria." jawab Pak Bram.
"Ck, bukan pi, jangan dengerin Aldo mereka memang musuhan." jawab Tama, Sharon melirik ke arah Aldo, Aldo juga membalas itu dengan tatapan permusuhan, Pak Bram tertawa pelan , dia pun paham.
"Baiklah jika itu situasinya, papi harap kalian jangan lama lama musuhanya hati hati lo Al benci bisa jadi cinta bener ga Tam?" tanya Pak Bram pada Tama.
"Iya pi." jawab Tama.
"Heem, yang udah ngalamin." balas Aldo.
"Gue ga pernah benci ya ama bini gue." tambah Tama tak terima.
"Heemmm ngayal." balas Aldo.
"Sudah sudah, oke gadis kamu mau ga jadi mantu om." goda pak Bram, semakin membuat panas suasana hati Aldo.
"Apaan sih pi ogah Aldo sama lampir satu ini." jawab Aldo ketus, Sharon kembali meliriknya.
"Maaf om saya sudah bertunangan bulan depan Insya Allah kami akan menikah." jawab Sharon.
"Hah, serius lo bulan depan kawin, apes bener calon laki lo lampir hahaha." Aldo tertawa lepas, andai disini ga ada orang tua ama abang lo udah gue tonjok muka sialan lo itu musang, Sharon mengekspresikan perasaanya hanya dengan tatapan tajamnya.
"Huss kamu tu lo dek." pak Bram memberi peringatan pada putra bungsunya.
"Pi om Irvan kuasa hukum ayah kata nya sekarang sakit, info yang Tama dapat beliau susah untuk berkomunikasi mengingat sakit yang dia derita sudah komplikasi, tadinya kami berencana kesanabpi, tapi ditengah jalan kami diserang." ucap Tama.
" Papi sudah tau itu, mengenai kuasa hukum Herman apa dia tidak memiliki anak yang mengerti tentang seluk beluk pekerjaanya?" tanya pak Bram.
"Ada pi namanya Dion sahabatnya Ryan dan Sharon ini adalah salah satu tim Dion di firma nya." tambah Tama.
__ADS_1
"Oke, dimana Dion sekarang?" tanya pak Bram.
"Beliau sedang bulan madu diBrunai om selasa ini baru pulang ke Indo." jawab Sharon.
"Apakah dia akan marah jika waktunya ini kita ganggu sebentar, telpon atau email saja barang kali tanyakan, kelaman kalau tunggu sampai selasa, takutnya musuh kita sudah menyusun rencana yang lebih parah dari ini." ucap pak Bram.
"Biar saya yang coba hubungi om, bolehkan saya tau data data yang mungkin bisa saya jelaskan ke pak Dion." pinta Sharon.
"Mari ikut saya keruang kerja."
"Baik om." jawab Sharon.
Aldo menatap ringan kearah Sharon, ada perasaan tak rela ketika Sharon mengatakan akan menikah sebulan lagi, perasaan apa ini batin Aldo. Aneh memang tapi inilah yang dia rasakan.
Pak Bram memberikan beberapa berkas pada Sharon dengan teliti dia pun mempelajarinya.
"Sepertinya kasus ini sudah lama terjadi ya om, setau saya berkas berkas ini sudah om Irvan serahkan pada wali ibu Laras ketika beliau selesai menikah." Sharon jawab sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Berarti benar pi, om Antok menikahkan paksa Laras supaya dia bisa menguasai aset Ayah Herman tanpa ada kecurigaan dari pihak manapun." jawab Tama.
"Bisa jadi, harusnya dia serahkan sendiri ke Laras bukan ke Antok." jawab pak Bram.
"Memangnya siapa dia?" tanya Pak Bram.
"Robinson Widana om." jawab Sharon.
"Robin???" Pak Bram terduduk lemas, mereka melihat bingung kearah Pak Bram.
"Ada apa pi?" tanya Tama.
"Jika urusanya sama dia biar papi yang urus, kalian pulanglah." jawaban pak Bram, sikap Pak Bram kali ini benar benar membuat mereka curigan.
"Oia jangan bilang sama mami kalian jika papi berangkat ke singapur malam ini."
"Kenapa pi?" tanya Aldo, Pak Bram tak menjawab pertanyaan putra bungsunya.
"Bisa kita bicara berdua bang." ucap Pak Bram.
"Tentu pi, kenapa tidak." jawab Tama, Aldo dan Sharon pu mengerti mereka pun keluar ruangan Pak Bram.
__ADS_1
Tama duduk didepan meja kerja papinya, pak Bram terlihat makin cemas.
"Ada apa sebenernya pi, kenapa papi tampak cemas?" tanya Tama.
"Papi bingung Tam, papi sudah berjanji tidak akan ceritakan ini pada siapapun, tapi jika masalahnya seperti ini mau ga mau papi harus kasih tau pria tua itu." ucap Pak Bram.
"Apa pi, papi merahasiakan apa dari kami?" desak Tama.
"Robin adalah.." pak Bram sebenernya masih ragu tapi dia tak mungkin membawa mati rahasia besar ini, karena bagaimanapun ini menyangkut masa depan mantu dan putranya, jika masalah ini dia biarkan bisa bisa nyawa Laras akan melayang ditangan orang tua kandung nya sendiri.
"Adalah apa pi." Tama mendesak lagi.
"Robin adalah ayah kandung Laras." Tama membelalakan matanya tak percaya ketika pak Bram membuka jati diri Laras yang sebenernya.
"Papi serius?" tentu saja Tama tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
"Apa kamu pikir kami bohong." ucap Pak Bram, Tama menatap lekat wajah papinya.
"Laras sebenernya adalah anak dari Hana adik dari bundanya Laras, Hana diusir dari rumah keluarga besarnya ketika mengandung Laras, dan Lusi menyembunyikan Hana diruang bawah tanah rumahnya agar siapapun tak mengetahui kehamilanya bahkan Herman pun tak tau jika ada Hana di rumah mewah nya, singkat cerita saat usia kandungan Hana menginjak usia 8 bulan, Hana mengalami sesuatu yang sama sekali tidak diduga Lusi, Hana memutuskan bunuh diri dia ingin mati bersama bayinya, saat itulah Herman sadar bahwa Hana adek iparnya ada dirumahnya dan sedang mengandung, saat dibawa kerumah sakit tim dokter hanya mampu menyelamatkan putri Hana, Hana tak sanggup bertahan karena dia banyak kehilangan darahnya waktu itu." Tama mendengarkan cerita papinya dengan sangat baik, dia berusaha mencerna apa yang papi nya ucapkan.
"Ini gila pi, bagaimana papi bisa tau ini?" tanya pak Bram.
"Ayah Laras sendiri yang cerita." jawab Pak Bram.
"Apakah Robin tau jika dia punya putri pi?" tanya Tama.
"Papi Rasa tidak karena setahu dia Hana sudah meninggal karena kecelakaan." jawab Pak Bram.
"Ini gila pi benar benar gila, bagaimana reaksi Laras jika tau semua ini." Tama menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
"Sebaiknya kamu kerumah sakit bang biar papi yang atasi ini sendiri." ucap pak Bram.
"Tidak pi boleh kah Tama ikut bersama papi " pinta Tama, Tama merasa ini adalah masalahnya, tak mungkin dia menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada orang tuanya.
"Baiklah, tolong bawalah sehelai rambut Laras jika Robin tak percaya kita bisa buktikan dengan itu, mengerti." ucap pak Bram.
"Baik pi."
Bersambung...
__ADS_1