
Tua tua keladi makin tua makin jadi rasanya ungkapan itu sangat pas buat om Robin, pagi pagi sekali dia sudah nongkrong didepan rumah tante Arini, bahkan tante Arini baru saja selesai mandi.
"Pagi pak." sapa tante Arika disebrang telpon.
"Pagi juga sayang, buka pintu dong." pinta Om Robin.
"Buka pintu emang bapak dimana?"
"Didepan rumahmu."
"Astaga ini baru setengah enam bapak."
"Biarin orang kangen mau gimana?"
"Dih bisa lah begitu orang taaruf ma dilarang kangen pak, dilarang ketemu berduaan juga nanti ya ketiga setan lo." goda tante Arika.
"Ya udah kalau gitu, kamu keluar kamar aja aku mau kamu lihat aku dari atas."pinta om Robin, kali ini dia ga akan nekat karena dia harus tetap menjaga batasan nya, dia tak ingin membuat kecewa siapapun yang percaya padanya termasuk Tama dan keluarganya, Arika pun nurut dia pun keluar kamarnya dan berdiri dibalkon sehingga Robin bisa melihatnya dari bawah, Robin melambaikan tanganya ketika melihat pujaan hatinya tersenyum manis padanya.
"Kamu baru selesai mandi sayang?" tanya om Robin masih setia dengan panggilanya.
"He em."
"Kamu cantik banget."
"Ga ngrayu ya."
"Enggak sayang aku serius." om Robin makin serius dengan kata katanya.
"Bapak jadi pulang?" tanya Arika kalau boleh jujur dia ingin bilang jangan pulang.
"Jadi sayang kamu mau ikut?"tanya Robin.
"Ga mau belum halal." jawab Arika menggoda.
"Hehehe, tunggu ya minggu besok aku datang lagi buat nglamar kamu." ucap om Robin, bener bener terdengar sweet ditelinga Arika.
"Ditunggu." jawab Arika memberi harapan.
"Siap sayang, kamu mau mahar apa buat pernikahan kita?" tanya Robin mulai tak sabar.
"Seperangkat alat sholat aja sama uang seratus ribu itu udah cukup." jawab Arika.
"Hemat banget." jawab om Robin.
"Ga papa yang pengennya sah dimata agama dan hukum, kita nikah nya sederhana aja ya pak," pinta tante Arika terdengar dewasa.
"Kenapa kamu malu?"
"Bukan, aku hanya ingin sederhana saja."
"Baiklah sayang apapun yang kamu mau."
"Bapak lama pulang nya?"tanya tante Arika malu malu.
"Kenapa takut kangen ya." goda om Robin.
"Hehehehe."
"Aku jalan dulu ya sayang." om Robin berpamitan.
"Oke, hati hati ya kalau udah sampai kabari." pinta tante Arika.
"Siap istriku." jawab om Robin. tante Arika terlihat tersenyum dan melambaikan tangan nya, om Robin pun membalas lambaian tangan dengan senyuman tampanya mereka terlihat sangat manis.
__ADS_1
*****
Lima hari berlalu....
Aldo merasa dibuat gila boleh perasaan kangen nya pada Sharon, muka dan penampilan Aldo sangat tidak bagus bahkan boleh dibilang berantakan dan acak acakan, malam itu Izal main ketempatnya dia sangat terkejut melihat penampilan sahabatnya.
"Bro kenape lo, ancur banget dah macam orang patah hati aja." goda Izal.
"Ga papa gue cuma lagi males aja." jawab Aldo.
"Ngapain lo dimari ganggu aja." umpat Aldo.
"Udah lima hari gue kagak liat lo, bos nanyain oia tante lo mau merit udah dikabarin belum?" tanya Izal.
"Tante, tante siapa?"
"Emang tante lo ada berapa?"
"Tante Arika maksud lo?"
"Iye."
"Serius lo?"
"Dih dibilangin, orang semalem lamaran." jawab Izal.
"Dari mane lo tau?"
"Ya kan gue yang nganter bos, pas nyampek sono gue kagak dikasih pulang suruh ikutan makan." jawab Izal.
"Kok gue kagak tau apa apa ya, dapet orang mana dia?"
"Singapur kabarnya, tajir bro." ucap Izal.
"Serius lo?"
"Kebiasaan buruk lo bro kalau sembunyi handphone aja di matiin, dasar aneh." umpat Izal.
"Brisik lo." balas Aldo
Benar saja ketika ponsel itu mulai aktif banyak sekali pemberitahuan panggilan tak terjawab, dan pesan teks yang masuk. Aldo membaca pesan itu satu persatu, betapa terkejutnya mengetahui siapa yang akan menikah dengan tantenya, dia adalah musuh terbesar mereka tanpa membuang waktu dan langsung mengkonfirmasi kabar ini pada Tama.
"Hallo bang."
"Ngilang kemana lo, kebiasaan mami cariin no dosa lo bikin mami nangis nangis." umpat Tama.
"Bang seriusan ini tante Arika mau kawin sama mafia yang hampir bikin kita mati?"
"He em, tapi lo jangan salah ternyata dia sahabat papi dan orang nya baik kok."
"Hah, jadi?"
"Yang lo pikir benar boy dia juga bantuin kita ngambil aset Ayahnya Laras dari tangan paman dan bibinya." jawab Tama.
"Serius bang, dia ga lagi pura pura?" Aldo masih curiga.
"Enggak, bahkan sertifikatnya udah dikasih e abang, cuma abang belum bisa ngomong sama kakak mu takut shock dia." jawab Tama.
"Ya okelah." jawab Aldo.
"Al semalem Ryan chat gue doi mau nikah lo mau dateng ga?" tanya Tama.
"Kapan?"
__ADS_1
"Dua minggu lagi." jawab Tama.
"Kalau tante?"
"Tante kayaknya senin depan."
"Cepetnya."
"Mereka udah umur biarin aja."
"Emang mereka pacaran bang."
"Kagak aku sama Laras jodohin hahaha."
"Dasar kalian."umpat Aldo.
"Lo udah ada cewek belum?"
"Belum, malah gue."
"Kenapa?"
"Bikin ribet." jawab Aldo, seketika Tama tertawa kencang, dia ingay bahwa dirinya dulu juga seperti itu.
"Hahahahaha, kenapa virus gue nular ke elo."
"Tau ah bang, Aldo mau balik ke Jepang aja, sumpek disini." jawab Aldo.
"Roman roman nya patah hati ni." goda Tama.
Aldo diam, Seketika Tama tau bahwa ada yag tak beres dengan adeknya.
"Lo lagi patah hati beneran Al?"
"Ga bang gue baik baik aja."jawab Aldo.
"Baiklah kalau ada apa apa lo cerita. jangan dipendem sendiri pulang gi mami lo kangen tu sama anak cengengnya." goda Tama lagi.
"Dasar."balas Aldo.
"Oke daaa..."
"Daaa.."
Klik.
"Gimane bro bener kan?" tanya Izal.
"He em bener tante mau kawin." jawab Aldo.
"Kita berdua kapan ya bro?" canda Izal.
"Tau lah pusing gue, cewek incaran gue kabur ga tau kemana?" jawab Aldo, nah lo bener kan doi lagi patah hati pantesan berantakan tak beraturan, Izal tersenyum meledek karena sahabatnya ini sungguh berbeda dengan penampilan biasanya yang perfec, lah ini udah kumis ga dicukur rambut dibiarin panjang pakai baju asal asalan persis orang parah hati, gitu aja ditanya ga ngaku.
"Sakit ya bro jatuh cinta?" tanya Izal.
"He em." Aldo mematap lantai dengan tatapan kosong, Izal paham dengan tatapan itu dia pernah merasakanya.
"Sabar bro, kalau dia jodoh elo pasti bakalan ketemu." ucap Izal menguatkan.
"Insya Allah." jawab Aldo pelan, disudut hatinya tersimpan nama yang mengusik jiwanya, rindu menggelitik sanubari yang mulai peka terhadap rasa cinta, hati Aldo patah sebelum memulai, sabar ya mas Al.
Bersambung....
__ADS_1